Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Paman menenangkan Danu


__ADS_3

Berarti udah pergi dia." ujar Paman lagi sambil menatap ke arah Danu.


Danu mengangguk.


"Ya dia sudah pergi" jawab Danu sambil menatap Pamannya.


Dia kemudian pamit kepada Paman untuk kembali ke ruangannya. Dia masih penasaran dengan kedua staffnya yabg kompak mengambil libur. Danu curiga kalau mereka berdua pergi liburan tanpa dirinya.


"Kalau mereka liburan tanpa gue berarti mereka bener bener nggak ngehargain gue." ujar Danu sambil duduk di kursi kerja Ivan.


Danu terlihat benar benar kesal dengan apa yang dilakukan oleh kedua staff sekaligus sahabatnya itu. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Ranti, kalau dia sempat bertemu dengan Ivan dan Iwan di kota J.


Danu kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia mencari nomor Iwan. Danu kemudian melakukan panggilan video dengan Iwan. Danu menunggu sambungan telpon itu sampai menjadi berdering sesuai dengan keinginan Danu. Tapi sayangnya panggilan pertama tidak terhubung dengan Iwan. Danu mencoba kembali panggilan kedua untuk menghubungi Iwan.


"Sambungannya berdering, kok dia nggak angkat? Kemana mereka sebenarnya?" ujar Danu makin curiga dengan Iwan dan Ivan yang tetap tidak mengangkat panggilan telpon darinya.


"Apa ada sesuatu yang mereka tutup tutupin dari gue ya?" ujar Danu lagi yang mulai curiga dengan apa yang dilakukan Ivan dan Iwan.


"Coba gue sepintar Ivan memakai alat teknologi, bisa jadi gue udah tau dimana keberadaan mereka yang sebenarnya sekarang." lanjut Danu berbicara sendirian.


Danu kemudian beranjak berdiri dari duduknya. Dia kemudian berjalan ke dalam ruangan. Danu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Paman.


Saat Danu sedang serius mengerjakan pekerjaannya, Danu melihat ada sebuah notifikasi pesan masuk ke dalan email pribadinya. Danu kemudian membuka fhoto itu.


"Hah? Jadi mereka berdua sedang dengan Vina dan siapa wanita yang satu itu?" ujar Danu saat melihat pesan yang dikirim seseorang ke email dirinya.


Danu memperbesar tampilan fhoto tersebut, Danu bisa melihat posisi dimana fhoto itu diambil.


"Oooo. Kabupaten Pes pulau S." ujar Danu sambil melihat dimana foto itu diambil.

__ADS_1


Danu melihat nama pengirim fhoto itu.


"Ranti? Apa maksud kamu coba." ujar Danu saat tau siapa yang mengirim email yang berisi fhoto itu kepada dirinya.


Danu kemudian membereskan meja kerjanya. Dia harus pergi menemui Vina yang sekarang sedang di pulau S bersama kedua staffnya yang mengaku sakit dan ada urusan keluarga.


"Mereka berani sekali membohongi gue." ujar Danu dengan sangat murka. Danu sekarang benar benar marah. Dia ingin langsung bertemu dengan Ivan dan Iwan yang telah berani membohongi dirinya.


Danu kemudian meraih ponsel miliknya. Dia kemudian menekan tombol panggilan atas nama paman presdir. Danu menunggu panggilan itu untuk tersambung dengan Pamannya.


"Hallo Danu, Ada apa?" tanya Paman yang tidak tau kalau Danu sudah tau dimana keberadaan Ivan dan Iwan serta dengan siapa mereka sekarang.


"Paman aku izin untuk dua hari ke depan." ujar Danu menjawab pertanyaan Pamannya.


"Kenapa Dan?" tanya Paman yang mulai curiga kenapa tiba tiba Danu meminta izin selama dua hari.


Danu tidak tau kalau semua yang dikatakan oleh Danu sudah di rekam oleh Pamannya itu.


"Maksud kamu nemperjuangkan cinta bagaimana? Bukannya kamu sudah putus dengan Vina?" ujar Paman berusaha memabcing Danu agar berbicara jujur kepada dirinya tentang apa yang dirasakan Danu sebenarnya saat ini.


Danu hening sejenak. Perkataan Pamannya ada benarnya juga. Dia memang sudah putus dengan Vina. Apalagi yang mau diperjuangkannya.


"Dan, kamu masih ada di sana?" tanya Paman yang sudah yakin kalau Danu mulai meragu.


"Danu saran Paman sekarang ya. Itupun kalau kamu mau mendengar." ujar Paman yang sudah bisa membayangkan bagaimana raut wajah Danu saat ini.


"Apa Paman?" tanya Danu yang juga penasaran dengan saran yang akan diberikan oleh Paman kepada dirinya.


"Kamu lebih baik selesaikan permasalahan kamu dengan Ranti terlebih dahulu. Percuma kamu mengejar kembali Vina, kalau urusan kamu dengan Ranti sama sekali belum selesai. Apa kamu mau usaha kamu akhirnya sia sia?" tanya Paman berusaha kembali merusak perasaan dan pemikiran Danu.

__ADS_1


Danu terdiam sejenak. Dia memikirkan perkataan Pamannya yang ada benarnya juga.


"Danu, apalagi yang membuat kamu takut untuk mengurus surat perceraian kamu dengan Ranti? Atau jangan jangan kamu juga mencintai Ranti secara diam diam?" ujar Paman mengorek perasaan Danu.


Percakapan mereka masih di rekam oleh Paman. Paman ingin mengirimkan ini kepada Vina untuk menjadi bahan pertimbangan bagi Vina mengambil keputusan kalau Danu dan Ranti berpisah nanti.


"Paman aku sudah lama tidak mencintainya lagi. Apalagi semenjak ada Vina dalam hidup dan pikiran ku. Semua terpusat hanya pada Vina." ujar Danu menjawab tuduhan yang diberikan oleh Paman kepada dirinya.


"Paman tau bagaimana aku bukan? Aku tidak pernah ingin main main dalam satu hubungan Paman. Sayangnya hubungan aku dengan Vina muncul disaat aku masih tidak bisa mengambil keputusan akan jalan hidup yang akan aku pilih." lanjut Danu bercerita kepada Pamannya itu.


"Saat aku akan mengambil keputusan, mendadak Deli sakit yang membuat aku harus menghilang lama. Deli dan Vina sama sama penting dalam hidup aku paman." kata Danu yang masih juga mencurahkan isi hatinya. Mengatakan apa yang dirasakannya. Beban berat yang ditanggungnya selama ini, dikeluarkan semuanya oleh Danu kepada Paman.


"Deli sebagian dari nafasku Paman. Vina sebagian dari hidupku. Sekarang hanya Deli yang ada Vina pergi dan tidak mau kembali. Aku seperti hidup tapi mati Paman." lanjut Danu yang masih belum mau berhenti.


"Jadi, sekarang mau kamu apa?" tanya Paman yang ingin memastikan apa yang dikehendaki oleh Danu.


"Aku ingin Vina kembali." jawab Danu dengan pasti.


"Kalau kamu ingin Vina kembali, tolong selesaikan dulu permasalahan kamu dengan Ranti. Jangan berikan Vina harapan palsu saja." ujar Paman memberikan nasehat kepada Danu.


"Oke Paman. Makasi udah mau mendengar keluh kesah aku." ujar Danu yang baru sadar telah mengeluarkan apa yang dirasakannya kepada Pamannya itu.


"Tidak apa apa Dan. Sekarang jadi juga kamu ke pulau S?" tanya Paman memastikan apakah Danu akan tetap ke sana atau tidak.


"Tidak Paman. Aku akan membiarkan Vina bersenang senang. Lagian ada Ivan dan Iwan yang menjaga dia. Aku tidak mau saat dia melihat aku di sana dia akan kabur lagi." ujar Danu yang memang sudah memutuskan.


"Oh baiklah. Sekarang lanjut kerja. Paman juga ada meeting di luar." ujar Paman mengakhiri pembicaraan panjang mereka itu.


Danu memutuskan panggilan. Setelah itu dia kembali bekerja. Sedangkan Paman akan pergi meeting

__ADS_1


__ADS_2