Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ivan Baganyi


__ADS_3

Ivan dan Iwan masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali ke ibu kota siang hari ini. Pesawat komersil yang tiketnya dibeli Ivan secara mendadak yang hanya meninggalkan dua kursi kelas bisnis. Ivan tanpa memikirkan harga satu tiket langsung memesan dua tiket kelas bisnis itu untuk dirinya dan Iwan. Setelah berada di dalam pesawat dan sudah duduk di kursi untuk dia, Ivan kemudian mematikan ponsel miliknya. Dia memasukkan ponsel itu ke dalam tas.


Setelah merasa nyaman dengan posisi duduknya dan memasang seltbelt, Ivan langsung mengambil posisi untuk tidur. Dia benar benar sedang kesal. Jadi untuk menghilangkan kadar rasa kesal dirinya, Ivan lebih memilih untuk tidur. Sedangkan Iwan yang tau Ivan sedang dalam keadaan tidak baik, memilih untuk diam saja selama penerbangan itu. Iwan tidak ingin menambah kadar kemarahan Ivan dengan pertanyaan dan tanggapan yang diberikan oleh dirinya.


Pramugari kemudian maju ke barisan paling depan. Mereka memperagakan bagaimana melakukan tindakan penyelamatan saat terjadi sesuatu terhadap pesawat. Semua penumpang kelas bisnis rata rata sudah memahami semua yang diperagakan oleh pramugari. Bahkan mereka sudah hafal di luar kepala mereka semua gerakan yang diperagakan pramugari itu.


Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan pacu. Monconf pesawat sudah mulai naik. Semua roda pesawat juga sudah masuk ke dalam body pesawar. Pesawat yang ditumpangi oleh Ivan dan Iwan beegerak meninggalkan kota J. Kota yang membuat kemarahan Ivan muncul karena keinginan kekasih dan adiknya untuk pulang ke ibu kota memakai bus malam. Padahal pesawat perusahaan ada di kota J.


Iwan yang merasa pesawat sudah terbang dengan normal mulai memejamkan matanya. Dia akan menghilangkan rasa suntuknya dengan menikmati tidur siang di atas pesawat dengan perjalanan bisnis. Sebuah perjalanan yang tidak pernah dinikmati oleh Iwan selama ini.


"Ternyata bersahabat baik dengan anak bos itu enak juga. Gue yang nggak berani bermimpi naik pesawat kelas bisnis akhirnya bisa menikmati perjalanan dengan terbang memakai kelas bisnis." ujar Iwan dengan pelan. Dia tidak ingin terdengar norak karena mengatakan hal itu. Apalagi terdengar oleh penumpang yang lainnya.


Iwan kemudian memilih untuk ikut tidur selama perjalanan seperti yang dilakukan Ivan saat dari mulai masuk ke dalam pesawat. Tetapi sayangnya setelah memejamkan matanya, Iwan tetap tidak bisa tertidur. Matanya tetap memilih untuk terjaga. Akhirnya Iwan memilih untuk menonton dan menikmati semua fasilitas yang disedikan pesawat untuk penumpang kelas bisnis.


Perjalan selama satu setengah jam itu dilalui Iwan sambil menonton televisi dan memakan snack yang diberikan oleh pramugari. Iwan selama penerbangan dengan kelas bisnis itu telah menambah kopi sebanyak dua kali.


"Wah ini bener bener keren. Coba kalu berjam jam pasti nasi dengan sambal yang luar biasa enak disajikan maskapai. Semoga besok besok Ivan mengajak pergi lagi dengan penerbangan bisnis." ujar Iwan berkata sendirian.


Tak terasa penerbangan telah selesai. Pesawat telah mendarat dengan sempurna tanpa adanya goyangan berarti. Ivan yang sudah bangun dari setengah jam yang lalu, mangambil barang barangnya. Ivan dan Iwan kemudian turun dari pesawar.


"Bang pesan taksi online Bang. Ponsek gue mati" ujar Ivan yang ingat belum memesan taksi online.


Iwan kemudian memesan taksi online seperti permintaan Ivan. Iwan memasukjan tujuan adalah apartemen Ivan.


"Gue numpang nginep semalam Van" ujar Iwan saat sudah berada di dalam taksi online.


"Selama lamanya boleh juga Bang." jawab Ivan.


"Selama lamanya tanda elo marah itu." ujar Iwan mulai mengajak Ivan bercanda.


"Ya nggak apa apa bang. Lagian kami juga berdua aja tinggal. Ngapain abang harus ngontrak." ujar Ivan.


"Emang boleh sama Ayah?" tanya Iwan yang mulai tertarik untuk tinggal bersama Ivan di apartemen.


"Ayah mah setuju aja. Asal jangan untuk yang aneh aneh." jawab Ivan.


"Nanti gue pindah eeeee loe juga pindah Van." ujar Iwan yang ingat Ivan akan pindah.


"Bang. Kalau gue pindah. Ayah juga pindah. Lie ambil aja aparteneb itu untuk loe." jawab Ivan dengan gampangnya memberikan sebuah apartemen kepada Iwan.


"Loe ngadi ngadi. Ayah aja ntah setuju mtah ndak." ujar Iwan yang malas mendengar cerita Ivan yang belum tau juntrungannya.


"Tenang lie bang. nanti gue tanya sama Ayah, kalau kita berdua pergi dan pindah dari negara ini, apa boleh dikasih ke Iwan." ujar Ivan dengan santainya kepada Iwan.


Akhirnya berkat obrolan ringan itu mereka sudah sampai di apartemen. Ivan dan Iwan kemudian masuk ke dalam lift serta lift mengantarkan mereka ke dalam penrhouse milik Ayah Ivan.


"Lie istirahat aja dulu Bang " ujar Ivan.


Iwan dan Ivan kemudian membersihkan badan mereka. Mereka juga akan beristirahat menjelang Ayah pulang dari kantor.


Sedangkan di kota J. Vina, Maya dan Sari yang sudah melakukan chek out lebih cepat dari yang direncanakan, sedang menuju pasar untuk mengambil semua barang barang yang telah mereka bayar. Mereka memakai jasa pengantaran dari hotel.

__ADS_1


Mereka yang telah sampai di pasar langsung turun dan membawa barang barang mereka sendiri menuju deretan toko penjual furnitur. Mereka akhirnya sampai juga di toko tempat mereka berbelanja kemaren.


"Permisi, apa Bapak pemilik toko ada?" tanya Vina kepada pelayan yang kemaren melayani dirinya berbelanja.


"Oh Nona Vina. Silahkan masuk Nona. Bapak ada di dalam sudah menunggu Nona dari pagi." ujar pelayan sambil meminta Vina untuk masuk ke dalam toko mereka.


Vina kemudian masuk ke dalam. Dia menuju pemilik toko yang sedang sibuk menghitung persediaan barang yang masih ada di toko.


"Permisi Pak." ujar Vina memanggil pemilik toko.


Pemilik toko yang sudah hafal dengan suara Vina berbalik kebelakang melihat Vina yang baru saja datang.


"Siang Nona Vina. Apa akan pergi sekarang?" tanya pemilik toko kepada Vina.


"Iya Pak, tetapi tidak jadi ke kampung mengantar barang barang yang telah kami beli." ujar Vina memberitahukan kepada pemilik toko, kalau semua barang barang yang telah dibelinya tidak jadi diantarkan ke kampung.


"Terus kamana Nona? Apa Nona sudah mendapatkan tempat untuk pembangunan kafe di kota ini?" tanya Pemilik toko yang mulai kepo mendengar apa yang dikatakan oleh Vina.


"Oh tidak begitu Pak. Barang barang itu tolong diantarkan ke bandara saja. Nanti pesawat perusahaan yang akan membawanya langsung." ujar Vina memberitahukan kemana semua barang barang itu akan diantarkan oleh pemilik toko.


"Oh ke Bandara. Baik Nona. Kapan mau di antar sekarang? Semua barang barang sudah ada di mobil box. Tinggal berangkat saja lagi." ujar Pemilik toko kepada Vina.


"Sekarang aja bisa Pak? Masalahnya kami akan ke kampung setelah dari bandara." ujar Vina memberitahukan kapan mereka akan berangkat menuju bandara.


"Bisa Nona Vina. Saya akan berituhukan ke sopirnya dulu untuk berangkat sekarang." ujar pemilik toko.


"Nona silahkan menunggu di depan saja lagi." lanjut pemilik toko.


Pemilik toko mengantar Vina ke depan. Dia setelah itu pergi mencari supir yang akan membawa mobil box tersebut menuju bandara.


Tidak berapa lama, pemilik toko sudah kembali. Dia berjalan bersama tiga orang pemuda yang akan pergi mengantarkan semua barang barang yang telah di belo oleh Vina ke bandara.


"Nona Vina ini sopir yang akan mengantar barang barang Nona Vina ke bandara." ujar pemilik toko memberitahukan tentang ketiga pemuda yang datang bersama pemilik toko.


"Baik Pak. Terimakasih atas kebaikan hati Bapak. Senang bekerjasama dengan toko Bapak." ujar Vina sambil berjabat tangan dengan pemilik toko


"Sama sama Nona Vina. Kami juga sangat senang bekerjasama dengan Nona Vina." ujar pemilik toko.


Taksi online yang dipesan oleh Sari telah datang. Sopir telah menaikkan semua barang barang milik ketiga wanita cantik itu.


"Kami permisi dulu Pak." ujar Vina.


"Hati hati di jalan Nona Vina, Nona Sari, Nona Maya." ujar pemilik toko.


Vina dan kedua sahabatnya naik ke atas taksi online mereka. Taksi online mulai meninggalkan area pasar. Mobil box mengikuti dari belakang. Kedua mobil itu bergerak menuju bandara kota J.


Sari mengeluarkan ponsel miliknya. Dia harus menghubungi Juan memberitahukan kalau mereka sudah berangkat menuju bandara.


"Hallo Juan. Kamu dimana? Kami sudah bergerak menuju bandara. Kargo yang kami bawa bagaimana?" tanya Sari langsung ke inti permasalahn saat menghubungi semua staffnya saat membahas masalah pekerjaan.


"Saya sudah di bandara Nona. Semua izin sudah saya urus hanya tinggal pihak bandara mencek barang apa saja yang akan naik ke pesawat." jawab Juan memberitahukan kepada Sari kalau semua prosedur sudah dijalankannya.

__ADS_1


"Baik Juan. Jadi barang kita bongkar dimana?" tanya Sari yang masih ragu akan membongkar dimana semua barang yang dibawa mereka.


"Nanti saya akan tunggu Nona di tempat penurunan barang di terminal G. Saya akan tunggu Nona di sana." ujar Juan memberitahukan dimana Sari harus menurunkan semua barang barang yang mereka bawa.


"Oke Juan. Sekarang saya sudah masuk tol bandara. Kamu tunggu saya di sana." ujar Sari memberitahukan kalau dia sudah dekat ke bandara.


"Siap Nona." jawab Juan.


Sari memutus panggilan telponnya dengan Juan.


"Pak kita ke terminal G." ujar Sari memberitahukan kepada sopir taksi online terminal yang akan mereka tuju.


Mobil kemudian mengarah menuju terminal G bandara. Sari melihat sekeliling mencari keberadaan Juan. Setelah sampai di terminal G ternyata Juan sudah berdiri dengan beberapa porter bandara.


Vina dan kedua sahabatnya turun dari mobil. Mereka kemudian menemui Juan.


"Gimana Juan?" tanya Sari kepada Juan.


"Tinggal turunkan. Terus pihak bandara akan cek. Lulus cek langsung naikkan ke atas pesawat." ujar Juan sambil menatap Sari dengan tatapan penuh makna.


Tiba tiba Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Juan. Vina dan Maya yang melihat langsung menatap Sari. Mereka tidak percaya dengan yang mereka lihat sebentar ini. Sedangkan Sari yang ditatap seperti itu hanya tersenyum. Dia menggandeng tangan Juan.


"Dia kekasih aku. Tapi panjang ceritanya." ujar Sari memperkenalkan Juan sebagai kekasihnya.


Semua barang sudah diturunkan oleh pegawai toko. Mereka juga telah kembali lagi ke toko. Vina juga sudah memberikan tanda ucapan terimakasih kepada ketiga pegawai toko itu.


"Tolong bawa ke dalam Bang. Biar di cek pihak bandara." kata Juan kepada porter.


Porter kemudian memindahkan barang barang yang besar besar dan berat itu ke atas mobil buggy. Tiga orang petugas bandara sudah menunggu untuk melihat isi dari kardua kardus itu. Juan dan ketiga wanita itu menyaksikan petugas bandara memeriksa semuanya.


"Gimana?" tanya Juan kepada petugas bandara.


" Oke Tuan Juan. Silahkan dimasukkan ke dalam pesawat." ujar petugas bandara.


Porter kemudian membawa barang barang menuju pesawat.


"Tunggu sini bentae ya. Aku masukin barang barang dulu." ujar Juan berbicara mesra dengan Sari.


"oke. Hati hati" jawab Sari.


Juan kemudian pergi menuju pesawat. Sedangkan Sari kembali kepada kedua sahabatnya yang sudah berdiri dekat taksi online yang bersedia mengantarkan mereka ke kampung Vina.


"Penjelasan." ujar Maya.


"Malan ya. Segan dengan Juan." jawab Sari.


Mereka kemudian menunggu Juan datang. Tak berapa lama Juan datang dengan membawa tas ransel miliknya.


"Nona Vina, saya ikut ke kampung Nona Vina ya." ujar Juan mengutarakan niatnya.


Vina hanya bisa mengangguk saja. Karena dia tau bagaimana kangennya Juan kepada Sari

__ADS_1


Mereka berempat kemudian berangkat ke kampung Vina. Mobil bergerak dengan kecepatan tinggi. Empat orang itu kemudian memilih untuk tidur selama perjalanan dua jam setengah itu. Sari meletakkan kepalanya di pundak Juan. Juan mengusap usap kepala Sari dengan lembut. Juan kangen dengan kekasihnya itu. Juan terus saja mengusap rambut Sari, dia menatap lembut wajah Sari. Wajah yang selama ini menjadi pusat hiduo Juan. Wajah yang selalu membuat Juan tidak bisa mengatakan tidak setiap permintaan Sari.


Setelah puas memandang wajah Sari. Juan kemudian ikut tertidur. Mereka tertidur sepanjang perjalanan .enuju rumah Vina di kampung. Sopir taksi online yang melihat Vina dan yang lainnya sudah tertidur, mulai melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sopir ingin cepat sampai dan cepat kembali ke kota J.


__ADS_2