
Tepat pukul sepuluh malam Vina selesai membuat pesanan tiga buah brownis kukus pesanan dari tetangganya. Maya juga sudah selesai menutup warungnya Hari ini mereka sepakat untuj tidak lembur bekerja. Karena hari Sabtu mereka akan star dari pagi sampai malam. Sabtu siang begitu banyak pesanan yang akn dijemput oleh para pemesan.
"May, gue tidur dulu ya."
"Alah bilang aja mau nelpon pake boong segala" kata Maya sambil merapikan piring dan gelas yang baru saja siap dicucinya.
"Hahahahahahahaha" kata Vina tertawa dengan puasnya. Dia berhasil membuat Maya sensi.
Vina merebahkan badannya di kasur empuknya itu. Vina memasang handset ke telinganya. Dia tidak mungkin memegang ponselnya terua. Vina kemudian menghubungi Danu.
"Hallo Sayang" kata Danu.
"Siapa yang bawa mobil sayang?"
"Aku sayang. Tadi Ifan saat berangkat. Sekarang gantian aku lagi yang bawa mobilnya. Kamu sedang ngapain sayang?"
"Ne sedang berbaring di kasur. Capek siap masak brownis" kata Vina dengan manjanya.
"Jangan kecapekan nanti sakit lagi" kata Danu yang suaranya terdengar sangat cemas.
"Nggak kok sayang. Ini aja karena udah terasa capek langsung berhenti. Aku nggak mau sakit kayak maren lagi. Nggak enak banget sayang"
"Tu tau kan. Sakit itu nggak enak. Makanya jangan kecapekan lagi sayangku cintaku tuan putriku" kata Danu yang gemes mendengar suara Vina.
"Siap big bos ku sayang. Udah sampe mana sayang?"
"Ini baru keluar tol sayang. Kamu udah ngantuk?"
"Nggak sayang. Mana bisa aku tidur kalau kamu bawa mobil malam. Emang pernah aku tidur kalau kamu bawa mobil di malam.hari?"
"Enggak sayang. Kamu pasti akan selalu menemaniku kalau aku bawa mobil malam hari. Besok apa pesanan roti kamu banyak sayang?"
"Iya sayang, banyak banget. Tapi ada Maya yang bantu. Aku cuma bagian ngaduk bahan aja. Sedangkan yang masak ya Maya"
"Pokoknya nggak boleh kecapekan sayang. Aku nggak mau kamu sakit. Apalagi aku nggak di sana."
"Iya sayang nyinyir banget kayak nenek nenek yang ditinggal ojek."
"Emang ada nenek nenek naik ojek?" kata Danu dengan nada herannya. Ini yang disukai oleh Danu, Vina akan selalu membuat Danu terkejut dengan pilihan kata kata Vina yang nggak bisa di tebak sama sekali.
"Ada sayang Nenek nenek gaul sayang. Makanya jangan kerja mulu. Sekali sekali buka sosmed sayang" kata Vina.
"Oh ya sayang ngomong ngomong sosial media. Apa kamu punya faceboo, instagram sayang?"
"Mana ada sayang. Aku hanya punya wa doang. Amu nggak punya yang lain. Kenapa mau kepoin Facebok dan instagram aku?" kata Danu dengan nada suara menyelidik.
__ADS_1
"Ye mana ada sayang. Aku nggak peduli dengan isi sosial media orang" kata Vina.
Tiba tiba panggilan telpon Vina terputus. Vina menjadi panik luar biasa. Vina takut terjadi sesuatu dengan Danu di jalan. Vina menyesal membolehkan Danu jalan di malam hari.
Vina kembali menggubungi Danu.
"Hallo sayang" kata Danu yang langsung mengangkat panggilan dari Vina.
"Kenapa mati tadi ponselnya sayang?"
"Jaringan kayaknya sayang. Ini udah normal lagi" kata Danu.
"Aku kira kamu kenapa kenapa sayang" kata Vina yang terlihat sangat takut akan terjadi sesuatu dengan Danu di jalan.
"Jangan mikir macem macem sayang. Biasa ajalah."
"Sayang enak ngomong biasa ajalah. Emang pernah aku biasa aja kalau kamu bawa mobil malam hari. Atau pengen neh aku anggap biasa aja lagi?" kata Vina yang menanggapi dengan serius apa yabg dikatakan Danu.
"Sayang jangan marah marah gitu. Aku becanda sayang"
Mereka terdiam sesaat. Sudah tidak tau lagi apa yang akan mereka bahas. Vina sebenarnya udah sangat ngantuk tetapi Vina tidak mau tidur kalau Danu masih menyetir mobil. Jadi Vina menahan saja rasa kantuk yang sudah mulai menyerangnya.
"Sayang kamu tidur?" kata Danu yang tidak.mendengar suara Vina.
"Nggak sayang. Cuma nggak tau apa yang mau aku omongin lagi sayang. Makanya aku diam" kata Vina.
"Ya dibuatin aja terus sayang. Kan bisa di kirim pake paket. Nanti aku masukin kotak rapi rapi, pas kita kirim dengan travel kita katakan kalau itu isinya cake dan tidak bisa diimpit"
"Beneran sayang, kamu mau membuatkan kalau Mama mintak lagi?" tanya Danu yang tidak percaya Vina akan mengatakan hal seperti itu.
"Iya sayang. Akan aku bikinkan" kata Vina dengan mantap.
"Wow tu mobil banyak kali lampunya, udah kayak pasar malam berjalan"
"Mobil siapa sayang?" tanya Vina yang penasaran mobil siapa yang dikatakan Danu.
"Itu sayang mobil orang lain. Lampunya luar biasa banyak. Banyak banget"
"Alah mobil kamu juga kayak gitu sayang. Jangan ngomongin mobil orang. Pamali tau sayang" kata Vina menasehati Danu.
"Tapi nggak serame itu kali sayang. Mobil yang tadi tu kayak pasar malam berjalan sayang. Aku aja heran kok adalah mobil kayak gitu" kata Danu dengan nada heran melihat mobil banyak lampu tadi.
"Sayang, pedih nggak mata nengoknya?"
"Pedihlah sayang. Untung kaca mobil gelap kalau ndak. Hem silau banget sayang"
__ADS_1
"Sayang capek nggak bawa mobil malam hari?" tanya Vina, Vina mulai mengajukan pertanyaan pertanyaan receh yang nggak mutu. Bagi Vina sekarang adalah tetap bertanya dan membuat mata Danu tetap menyala terang. Vina takut kalau dia diam, maka Danu akan tertidur.
"Mayan sayang. Tapi mau gimana lagi kan ya. Nggak mungkin nyuruh Iwan atau Ifan. Tapi nanti kalau idah nggak tahan bener matanya baru minta tolong mereka sayang. Kenapa kamu udah ngantuk?" kata Danu.
"Nggak sayang. Cuma nanyak aja"
"Karena nggak tau apa yang mau ditanyain lagi sayang?" kata Danu menebak kelanjutan omongan Vina.
"Hahahahahahaha. Tau aja sayang. Oh ya sayang emang masih jauh ya rumah mama kamu?"
"Lumayan sayang. Tiga jam lagi lah. Tapi kayaknya aku cuma kuat satu jam lagi sayang. Lewat dari itu ragu. Nanto biar Iwan aja yang bawa mobil sampe rumah." kata Danu menjelaskan kepada Vina.
"Oh ya sayang, emang rumah Bang Iwan sama kamu deket ya sayang?" kata Vani yang penasaran akan kedekatan rumah Danu dan Iwan.
Sebelah sebelahan sayang. Makanya dia semangat tadi untuk ikut. Dia udah lama nggak pulang." kata Danu.
"Berarti sayang dengan Bang Iwan udah deket dari ekcil?"
"Bukan dari kecil lagi sayang. Tapi dari orok."
"Kata mama, apa ngidam mama itu pula ngidan ibu Iwan. Begitu juga denga. mama, apa yang diinginkan ibu iwan, mama pasti juga akan mintak" kata Danu menjelaskan kedekatan dirinya dengan Iwan.
Mereka kemudian berbincang mengenai hal hal yang tidak penting. Mereka mengobrol hanya untuk menghabiskan waktu saja. Supaya Danu tidak mengantuk saat membawa mobil sendirian.
Setelah satu jam lagi berkendara Danu bener bener sudah mengantuk. Dia menepikan mobilnya.
"Wan, gantian Wan aku ngantuk" kata Danu.
"Masih jauh?"
"Nggak tinggal dua jam perjalanan lagi" kata Danu.
Iwan kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa aja. Iwan takut ngebut malam hari, ditambah dengan suasana yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Sayang, kita tidur lagi yuk. Mobil udah dibawa sama Iwan. Jadi aku bisa tidur sayang, sebelum sampe rumah."
"Sayang kalian langsung ke rumah atau ke hotek?" Kata Vina kepada Danu.
"Ke hotel aja sayang. Segan bangunin mama tengah malam. Sayang udah dulu ya. Selamat tidur sayang. Muach"
Danu kemudian tidur meninggalkan Iwan yang nyetir sendirian.
"Danu keparat pentesan dia nyerahin mobil kedua. Kiranya ini makan dagang" kata Iwan yang takut dengan kejadian sebelumnya.
"Wan kita ke hotel aja nginap semalem. Males gue ganggu Mama." kata Danu.
__ADS_1
"Oke. Gue akan cari hotel yang buka nanti" kata Iwan. yakin kalau ada rumah makan yang buka siang hari.