
Mereka mengambil beberapa fhoto bersama di tepi pantai. Sebagai kenang kenangan kalau mereka pernah ke sini.
Setelah mereka selesai berfhoto di Baga Homestay. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Sopir mulai membawa mobil meninggalkan baga homestay menuju kota P untuk beristirahat. Mereka akan melanjutkan pencarian terhadap Maya di kota B. Kota yang juga banyak terdapat objek wisata yang selalu dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Mobil mulai mendaki puncak jalan yang sangat bagus untuk di jadikan spot fhoto, terlebih lagi matahari sedang menuju peraduannya untuk bertugas di belahan bumi yang lain.
"Pak sopir berhenti di sini sebentar." ujar Sari meminta untuk berhenti di puncak yang diberi nama Puncak Jokowi itu oleh penduduk sekitar.
"Mau ngapain lagi Sari." ujar Ivan yang mulai protes kepada Sari yang sudah banyak maunya itu.
"Berfhoto bentar Bang. Kapan lagi. Boleh ya Bang." ujar Sari menatap memohon kepada Ivan.
"Gue juga mau" jawab Vina yang juga ingin berfhoto di puncak yang terkenal itu.
Apalagi latar belakang fhoto mereka akan sangat bagus karena matahari sudah mulai tenggelam. Fhoto yang diperoleh akan sangat luar biasa cantiknya. Vina dan Sari sudah bisa membayangkan hasil fhoto yang akan mereka peroleh.
"Berhenti aja Pak." ujar Ivan kepada sopir mobil mereka.
Mobil kemudian berhenti di pinggir jalan tepat di jalan puncak jokowi. Mereka semua kebali turun dari dalam mobil. Vina dan Sari mengambil spot fhoto yang menurutnya merupakan tempat terbaik untuk latar belakang fhoto yang mereka ambil.
Sari menarik tangan Juan. Mereka melakukan pengambilan fhoto mesra dengan latar belakang matahari tenggelam. Ivan menatap sepasang kekasih tersebut, Ivan berdoa di dalam hatinya semoga mereka disetujui oleh Ayah. Selama ini Ayah bukan tidak menyetujui, tetapi kurang setuju karena Juan agak sedikit urakan dan tidak mau terikat dengan pekerjaan.
Setelah memperoleh beberapa fhoto yang cantik dan berkesan, mereka kembali masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak meninggalkan kabupaten Pes. Kabupaten yang terkenal dengan keindahan objek wisata lautnya.
"Tuan, kita akan makan dimana?" tanya sopir saat mereka akan memasuki daerah Bungui di Kota P.
"Menurut kamu, apakah ada kafe yang ternama di dekat daerah sini?" tanya Ivan kepada sopir.
Ivan kali ini duduk di sebelah sopir, gantian dengan Iwan. Iwan saat pulang memilih duduk di belakang karena ingin beristirahat karena lelah setelah melakukan pencarian terhadap Maya.
"Di kafe depan itu saja Tuan." ujar sopir memberitahukan dimana mereka akan beristirahat sebentar sambil menikmati makan malam.
"Kafe apa? Keren tidak?" ujar Ivan yang berharap kafe yang mereka kunjungi menyajikan keindahan alam yang luar biasa bisa membuatnya nyaman dan menjadikan otaknya yang sedang tidak fres menjadi kembali fres.
"Keren Tuan. Nama kafenya Lighthouse Cafe. Kafe yang baru buka pertengahan tahun dua ribu dua puluh satu." ujar sopir memberikan rekomendasi kafe yang akan mereka tuju sekarang.
"Apa saya harus menceritakan pemandangan apa yang disajikan oleh kafe itu?" ujar sopir yang masih terus mengemudikan mobilnya menuju kafe yang akan mereka tuju.
__ADS_1
"Jangan. Biarkan dia menjadi kejutan untuk saya dan yang lainnya." jawab Ivan yang lebih menahan rasa penasarannya untuk melihat langsung kafe yang dimaksud oleh sopir mereka itu.
"Masih jauh?" tanya Ivan yang mulai tidak sabaran.
"Tinggal lima belas menit perjalanan lagi Tuan." ujar sopir memberitahukan lama sisa perjalanan menuju Lighthouse Cafe.
Ivan kemudian memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela untuk menyaksikan pemandangan yang disajikan oleh alam. Walaupun Ivan tidak bisa melihat laut yang terbentang luas, tetapi Ivan bisa melihat lampu lampu kapal yang bertebaran di tengah laut.
"Kenapa mereka semua diam?" ujar Ivan kepada sopir saat Ivan tidak lagi mendengar suara suara dari posisi belakang.
Sopir melihat dari kaca spion mobilnya. "Sudah tidur Tuan, bagaimana mau terdengar suara suara." ujar Sopir menjawab pertanyaan dari Ivan mengenai kenapa keadaan bisa menjadi sunyi senyap.
Setelah berkendara selama lima belas menit setelah pertanyaan dari Ivan tadi, sopir membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran Lighthouse Cafe yang sedang viral di kalangan anak muda kota P. Malahan setiap wisatawan yang datang dan menuju kabupaten Pes, maupun Provinsi tetangga juga memilih untuk berhenti dan menikmati secangkir coffe di Lighthouse Cafe, sambil mengabadikan beberapa fhoto untuk kenang kenangan bagi mereka.
Sopir memarkir mobil di tempat parkir khusus mobil.
"Woi bangun, mau makan tidak." ujar Ivan lebih memilih berteriak dari pada membangunkan satu persatu makhluk yang keenakan tidur di kursi belakang.
Vina dan Sari yang berada tepat di belakang Ivan langsung terbangun saat mendengar Ivan berteriak.
"Kita kecelakaan?" ujar Vina menatap Ivan.
"Kecelakaan dari hongkong. Kita berhenti makan aja di sini dulu." ujar Ivan memberitahukan kenapa mobil bisa berhenti di sini.
"Ooooo makan." ujar Vina dan Sari kompak.
Perut mereka berdua memang sudah bernyanyi merdu dari tadi. Sebenarnya Vina dan Sari juga ingin meminta berhenti sebentar untuk makan malam. Tetapi mereka keburu tidur dan tidak sempat mengatakan hal itu. Untung saja Ivan arif dan bijaksana, jadi mereka tidak perlu menahan rasa lapar sampai di kota P.
Vina dan Sari membangunkan Iwan dan Juan yang tertidur di kursi paling belakang. Mereka mengucek matanya sebentar dan mengumpulkan nyawa mereka kembali ke dalam raga yang ada.
"Ada apa?" tanya Juan mewakili pertanyaan yang sama yang akan disampaikan oleh Iwan.
"Berhenti makan." jawab Sari.
Mereka berenam kemudian turun dari dalam mobil. Mereka menuju tempat untuk masuk. Setiap tamu yang masuk ke sana harus memberikan deposit di awal masuk. Nanti deposit itu akan ditukarkan dengan makanan dan minuman yang ada di kafe. Ivan memberikan deposit yang diminta oleh kasir untuk mereka berenam.
"Maaf Abang dan Kakak, kita di sini masih menerapkan protocol kesehatan yang lengkap. Jadi tolong pakai maskernya." ujar penjaga tiket awal masuk Lighthouse Cafe.
__ADS_1
Vina dan yang lainnya memakai masker mereka. Mereka kemudian mencuci tangan ke tempat yang sudah disediakan oleh pihak cafe. Setalah melakukan semua prosedur kesehatan dan juga prosedur untuk masuk ke dalam kafe, Vina dan yang lainnya masuk ke dalam kafe yang ternyata memiliki dua lokasi tempat duduk yang berbeda, ada yang indoor dan ada yang outdoor.
"Kita mau duduk dimana?" tanya Ivan kepada kelima temannya itu.
"Outdoor aja Bang. Keren, kita bisa melihat lampu kapal." ujar Sari yang lebih memilih untuk duduk di luar kafe saja.
Mereka kemudian berjalan mencari tempat duduk di bagian outdoor yang masih tersisa. Akhirnya mereka menemukan tempat duduk yang masih kosong dan cukup untuk mereka berenam. Vina dan yang lainnya duduk di sana.
Seorang pelayan melihat Ivan dan yang lainnya baru datang langsung menuju mereka berenam.
"Maaf Abang dan Kakak, mau pesan menu apa?" tanya pelayan kafe sambil meletakkan daftar menu ke atas meja Ivan dan yang lainnya.
Mereka kemudian memilih makanan dan minuman yang akan mereka nikmati untuk makan malam ini. Mereka juga memesan beberapa cemilan yang terlihat sangat menggugah selera itu.
"Tadi ada dikasih kertas yang seperti tiket dari resepsionist yang menunggu di depan pintu masuk Bang?" tanya pelayan cafe.
"Ada" jawab Ivan yang memberikan ke enam karcis yang tadi diberikan resepsionist di pintu masuk cafe.
Pelayan kemudian membawa tiket tersebut ke dalam cafe. Pelayan akan menghitung kelebihan biaya yang harus di bayar oleh Ivan dan yang lainnya saat mereka meninggalkan kafe.
"Ini benar benar keren Vin. Loe tengok aja di sana banyak lampu kapal yang kelihatan." ujar Sari sambil menunjuk ke tengah laut.
Mereka kemudian berfhoto dengan latar belakang laut dan lampu lampu kapal. Tak beberapa saat mereka menikmati pemandangan yang ada pelayan datang membawakan pesanan mereka. Enam buah ricebowl dan enam coffe serta begitu banyak cemilan cemilan goreng yang dipesan. Mereka kemudian memakan makanan yang telah mereka pesan.
Mereka akhirnya telah selesai makan malam. Mereka beristirahat sebentar untuk menurunkan isi perut yang baru mereka isi sebentar ini.
"Ayuk jalan, hari sudah malam" ujar Ivan membawa teman temannya untuk berangkat menuju kota P.
Mereka kemudian masuk kembali ke dalam mobil. Sopir melajukan mobil menuju kota P. Mereka akan menginap di sana.
"Tuan, kita sudah sampai di kota P. Kita mau nginap dimana Tuan?" tanya sopir kepada Ivan.
"HS Hotel saja. Saya sudah pesan kamar di sana untuk tiga kamar." ujar Ivan memberitahukan kemana sopir harus membawa mereka untuk menginap.
Sopir melajukan mobil menuju hotel HS yang terletak di pusat kota. Setelah sampai di hotel, Ivan dan yang lainnya turun saat sopir sudah memarkir mobil di bestman hotel. Mereka kemudian masuk ke dalam lift dan menuju lobby untuk melakukan chekin ke resepsionits.
Ivan melakukan chekin untuk tiga kamar yang dipesan. Ivan memesan kamar yang berdampingan. Setelah mendapatkan kunci kamar, Ivan dan yang lain menuju kamar mereka yang berada di lantai delapan hotel. Ivan dan Juan berada dalam satu kamar, Iwan dan Sopir dalam satu kamar, Vina dan Sari satu kamar. Mereka bersepakat akan sarapan tepat pukul tujuh pagi.
__ADS_1