
"Sial. Ternyata memang Vina" ujar Danu.
"Dia nginap dimana ya?" kata Danu berbicara sendirian.
Orang yang dicari carinya selama ini sudah berada di tempat yang sama dengan dirinya. Tetapi sayangnya Danu tidak bisa menemukannya. Nasib berkata lain dengan Danu saat ini.
"Kalau Vina dan Maya sudah di sini berarti Ivan dan Iwan juga sudah pulang. Aku ke rumah Iwan sajalah. Ivan nggak asik untuk diajak bercerita." ujar Danu.
Danu kemudian masuk ke dalam mobilnya. Dia menuju ke rumah Iwan sahabat baiknya itu. Danu ingin mengorek informasi dari Iwan tentang dimana keberadaan Vina sekarang ini.
Danu melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi, tetapi apalah daya, kemacetan ibu kota membuat Danu harus bersabar untuk tidak menginjak pedas gasnya lebih dalam. Danu tidak ingin menjadi penyebab tabrakan beruntun di jalan raya.
Akhirnya berkat kesabaran Danu dalam mengarungi kemacetan ibu kota, dia sampai juga di rumah Iwan. Danu memarkir mobilnya di jalan masuk menuju rumah Iwan. Iwan yang mendengar ada mobil masuk ke dalam rumahnya mengira kalau Juan tidak jadi berangkat. Iwan langsung membuka pintu rumah. Ternyata bukan Juan yang berdiri di depan pintu rumah, melainkan Danu dengan masih memakai stelan kerjanya.
"Danu?" uajr Iwan dengan nada jelas sedang kaget.
"Ngapain loe kaget? Kaget karena gue kemari?" tanya Danu.
"Nggak juga. Mari masuk" ujar Iwan mempersilahkan Danu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Danu kemudian masuk diikuti oleh Iwan. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Danu membuka jasnya dan melapangkan dasi yang dipakainya. Sedangkan Iwan mengambilkan air mineral untuk Danu dan juga oleh oleh berupa keripik yang sempat dibelinya di kota B.
"Kapan sampe Wan?" tanya Danu.
"Sampe dari kampung?" ujar Iwan yang tidak tahu kalau Danu sudah tahu mereka kemana kemaren ini.
"Nggak usah pake bohong. Gue udah tau kalian kemana menghilang selama beberapa hari itu." ujar Danu dengan nada santai.
Tidak terlihat kemarahan sedikitpun di raut wajah Danu maupun di mata Danu. Hal ini semakin membuat Iwan merasa bersalah kepada Danu karena telah membohonginya.
"Maafin gue" ujar Iwan.
__ADS_1
"Gampang itu. Tapi loe harus menjawab setiap pertanyaan gue" ujar Danu membuat kesepakatan dengan Iwan.
Iwan mengangguk, dia sudah tidak bisa mengelak lagi dari Danu. Satu satunya yang Iwan minta, jangan sampai Danu bertanya Vina menginap dimana. Sampai itu yang ditanyakan Danu, Iwan tidak tau harus menjawab apa.
"Kapan Vina datang Wan?" tanya Danu mulai mencari informasi tentang Vina melalui Iwan.
"Kalau nggak salah sudah lebih sepuluh hari. Mereka lama di kampung Vina. Setelah itu mereka ke ibu kota. Nah saat di ibu kota, Maya ada masalah dengan Ivan yang akhirnya memaksa Maya untuk ke kota B di pulau S." ujar Iwan menjawab pertanyaan Danu.
"Sekarang apa Vina masih di sini?" tanya Danu lagi
"Ya dia masih di sini. Tapi kalau kamu berkeinginan untuk menemuinya, aku minta jangan dulu. Dia sepertinya masih menyimpan rasa sakit akibat ulah kamu" ujar Iwan melarang Danu untuk menemui Vina.
"Apa dia masih sangat marah ke gue?" tanya Danu kemudian.
"Ya, apa lagi waktu mereka di kota J. Mereka bertemu dengan Ranti. Ranti benar benar membuat malu Vina di tengah tengah rumah makan yang sedang ramai pengunjung itu." kata Iwan melanjutkan ceritanya.
"Saat itu Vina hanya diam saja, yang melawan Ranti adalah Sari sahabat Vina. Kalau Sari tidak ada maka bisa dipastikan Vina akan habis dikata katain oleh Ranti." ujar Iwan.
"Dia tidak mengetahui apapun Wan. Dia hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti saja. Dia tidak mau mendengar dari posisi gue?" ujar Danu kepada Iwan sambil memegang rambutnya.
Iwan menatap Danu, sahabatnya memang benar benar hancur saat ini. Iwan sekarang semakin yakin kalau Danu benar benar mencintai Vina. Tetapi sayangnya Danu belum bisa mengambil sikap yang tegas untuk meninggalkan Ranti.
"Danu, gue sudah menceritakan semuanya kepada Vina. Vina sudah paham dengan semua hal yang terjadi. Cuma Vina memang masih belum sanggup bertemu dengan loe. Gue juga nggak tau alasannya apa." ujar Iwan melanjutkan ceritanya.
Danu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Iwan.
"Ternyata Dan, menurut cerita Maya ke gue, Vina baru sekali ini menjalin hubungan dengan laki laki. Selama ini Vina hanya belajar dan belajar untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya di kampung." ujar Iwan memberitahukan kepada Danu.
"Loe bisa bayangkan sendiri, seseorang wanita yang nggak pernah pacaran, gujuk gujuk punya pacar. Dan ternyata hal ini pula yang terjadi. Loe bisa bayangkan sendiri bagaimana hancurnya dia." lanjut Iwan bercerita.
Danu terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Iwan. Semua yang dikatakan oleh Iwan adalah benar. Dia bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Vina saat ini. Dimana dia baru pertama kali menjalin hubungan dengan laki laki, langsung menemukan laki laki yang salah.
__ADS_1
"Ini semua salah gue Wan." ujar Danu.
"Yup memang salah elo dan semua akibat keegoisan elo. Sekarang mau apalagi Vina sudah hancur. Kita hanya bisa berdoa semoga dia dapat cepat pulih" ujar Iwan mengatakan apa yang memang harus dikatakan olehnya.
Danu dan Iwan kemudian terdiam. Mereka tidak ada yang memulai kembali untuk berbicara. Mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing masing.
Tiba tiba sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah Iwan. Iwan sudah tau siapa yang datang.
"Siapa?" tanya Danu.
"Juan, kekasih Sari. Dia numpang menginap di sini sampai lusa." Jawab Iwan.
"Oh kalau gitu gue balik dulu." ujar Danu.
Danu kemudian meraih jasnya. Dia kemudian pergi meninggalkan rumah Iwan menuju rumahnya kembali. Danu benar benar habis main oleh ucapan Iwan yang semua adalah benar.
Danu berselisih dengan Juan. Danu mengangguk menyapa Juan, Juan membalas dengan menganggukkan kembali kepalanya.
"Siapa yang datang tadi wan?" tanya Juan sambil duduk dan memberikan bekal martabak telor kepada Iwan.
"Danu" jawab Iwan.
"Oh dia yang bikin Vina menjadi babak belur itu. Pria nggak bisa ambil sikap" ujar Juan.
Mereka kemudian memakan martabak telor yang dibeli Juan dalam perjalanan menuju rumah Iwan. Juan tau kalau Iwan belum makan malam, makanya dia membelikan Iwan martabak telor. Juan tidak tau dimana orang menjual nasi yang enak. Makanya akhirnya pilihan Juan jatuh kepada martabak telor.
"Gimana pertemuannya lancar?" tanya Iwan kepada Juan sambil menyuap sepotong martabak telor.
"Lancar jaya. Gue di Terima baik oleh Ayah Sari" jawab Juan.
"Hahahaha.Sudah pasti itu. Gue aja diterima dengan baik sebagai sahabat Ivan. Apalagi elo" ujar Iwan
__ADS_1