Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Penerbangan ke Ibu Kota


__ADS_3

Pagi harinya mereka semua sudah berkumpul di restoran untuk sarapan. Mereka memakan sarapan dengan sangat ligat karena mereka kumpul terlambat dari waktu yang dijanjikan. Setelah sarapan dengan terburu buru, Ivan kemudian melakukan chekout kamar hotel. Ivan melakukan transaksi pembayaran tambahan biaya hotel. Setelah itu Ivan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di teras lobby hotel.


Sopir kemudian melajukan mobil menuju bandara. Mereka harus sampai di bandara tepat pukul delapan untuk melakukan chek in penerbangan. Mobil dilakukan sopir dalam kecepatan sedikit agak tinggi untuk mengejar waktu menuju bandar.


Tepat pukul delapan mereka sampai di bandara dan langsung menuju terminal untuk penerbangan dengan pesawat pribadi. Sopir dibantu Ivan dan Iwan menurunkan barang barang bawaan mereka. Pihak Bandara mengecek semua barang barang tersebut. Mereka menyatakan kalau barang barang yang dibawa Ivan dan yang lainnya aman untuk dimasukkan kedalam pesawat. Semua barang barang dinaikkan ke atas mobil yang akan membawa barang barang itu menuju pesawat yang telah parkir.


"Pak, makasi sudah melayani kami selama kami di sini ya" ujar Vina sambil bersalaman dan menyelipkan sedikit amplop kepada sopir perusahaan.


"Sama sama Nona" jawab Sopir.


"Tuan dan Nona semoga selamat sampai tujuan. Saya permisi dulu mau kembali ke perusahaan" ujar sopir yang telah beberapa hari ini ikut menikmati liburan Tuan Muda mereka.


Sopir kembali melajukan mobilnya menuju kota P kembali.


Sedangkan semua penumpang menuju tempat check-in mereka menunggu menyelesaikan semua administrasi untuk izin terbang. Setelah semuanya selesai dilakukan, mereka masuk ke dalam ruang tunggu. Mereka akan menunggu di sana sampai berita untuk masuk ke dalam pesawat di Terima nantinya.


Mereka telah duduk di sana selama satu setengah jam.


"Tumben lama banget. Ada apa Bang?" tanya Sari kepada Ivan.


"Aku juga nggak tau Sar. Coba telpon Juan aja" ujar Ivan meminta Sari untuk menghubungi Juan.


Sari mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Dia kemudian menghubungi Juan kekasihnya yang sudah ada di pesawat.

__ADS_1


Juan mendengar siapa ponsel miliknya. Juan melihat ternyata Sari yang menghubunginya.


"Pasti dia udah bertanya tanya apa yang terjadi" ujar Juan yang sudah tau maksud Sari menghubunginya saat ini.


"Hallo sayang ada apa? Mau tanya kenapa belum juga masuk ke dalam pesawat?" ujar Juan langsung saja memotong pertanyaan dari Sari.


"Iya, kok lama banget" ujar Sari menyuarakan pertanyaannya kepada Juan.


"Kalau kamu tanya pesawat, pesawat dalam kondisi sangat layak terbang. Sekarang kalau pertanyaannya kenapa kita belum juga terbang, karena sedang terjadi hujan badai di ibu kota. Makanya kita belum berangkat. Aku tidak mau mengambil resiko dengan tetap memaksa terbang masuk ke ibu kota." ujar Juan memberitahukan perihal keterlambatan mereka untuk terbang.


"Kalau urusan dengan cuaca udah betul kamu memilih untuk menunda penerbangan sayang." ujar Sari yang setuju dengan tindakan yang diambil oleh Juan untuk mengendalikan penerbangan karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan pesawat berbadan besar si ibu kota.


"Nanti kalau udah cuaca membaik, kita pasti akan terbang ke ibu kota sayang. Tolong beritahukan kepada yang lain kenapa kita masih belum juga terbang." ujar Juan kepada Sari.


Sari kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Juan.


"Ada apa Sar? Apa ada masalah dengan pesawat?" tanya Ivan yang sudah tidak sabar ingin mendengar berita yang di dapat Sari dari Juan.


"Pesawat baik baik saja Bang. Pesawat layak untuk terbang jauh." ujar Sari memberitahukan kondisi pesawat mereka saat ini.


"Terus kenapa kita masih belum juga masuk ke dalam pesawat, kalau kondisi pesawat baik baik saja?" sekarang giliran Iwan yang bertanya.


"Cuaca di ibu kota tidak memengizinkan kita untuk melakukan penerbangan Bang. Kata Juan kalau dia terbang sendiri, dia pasti akan tetap terbang Tapi ini dia membawa banyak nyawa, makanya dia memilih untuk menunda penerbangan kita" kata memberitahukan penyebab sebenarnya kenapa mereka masih belum juga terbang.

__ADS_1


"Kalau udah cuaca, kita nggak bisa berkata apa apa lagi Sar. Kita tunggu saja sampai cuaca di sana bersahabat untuk kita melakukan pendaratan." ujar Iwan.


Para Pramugari mengantarkan snack untuk para penumpang pesawat pribadi yang mendelay keberangkatan mereka. Pramugari memberikan nasi kotak dan juga sebotol air mineral serta segelas kopi atau teh sesuai permintaan para penumpang.


Vina yang letih tanpa disadarinya tertidur di kursi ruang tunggu. Dia tidur dalam posisi duduk, begitu juga dengan Iwan yang juga telah tertidur sejak tadi. Mereka sudah di ruang tunggu selama dua setengah jam, tetapi Juan masih belum juga memutuskan untuk mereka melakukan penerbangan ke ibu kota negara.


Mereka dengan sabar menanti keputusan dari Juan. Mereka menyerahkan semuanya kepada pilot yang jam terbangnya sudah sangat tinggi itu. Mereka sadar Juan tidak akan membawa Sari dalam posisi berbahaya saat terbang. Makanya, dia menunda penerbangan berjam jam sampai kondisi cuaca selama mereka dalam penerbangan sudah kembali normal walaupun belum seperti sebelum hujan badai terjadi.


Tepat pukul sebelas siang, seorang pramugari datang ke ruang tunggu pesawat pribadi.


"Tuan Tuan dan Nona Nona, silahkan ikut saya, kita akan masuk ke dalam pesawat. Kapten Juan sudha menyatakan kalau cuaca sudah aman untuk dilakukan penerbangan" ujar Pramugari memberitahukan informasi yang dibawanya dari Juan.


Mereka kemudian berdiri dari duduknya, Mereka menyandang tas ransel masing masing. Vina yang terkejut karena mendapat goncangan dari Mata terlihat sedikit agak pusing. Dia mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu sebelum berjalan menuju pesawat.


"Beneran udah aman Sar?" tanya Vina kepada Sari yang berjalan tepat di sebelahnya saat mereka menuju pesawat.


"Sudah Vin. Tadi Juan sudah meminta kita untuk masuk ke dalam pesawat. Berarti cuacanya sudah mulai aman. Juan sudah tidak mencemaskan kita lagi" ujar Sari menjawab pertanyaan Vina.


"Syukurlah kalau begitu Sar. Jadi, kita akan kembali juga ke ibu kota. Aku kira kita akan menginap di hotel bandara lagi malam ini." kata Vina yang tadi mengira akan menginap di hotel Bandara untuk malam ini.


"Hahahahaha. Jangan sampai Vina. Gue nggak mau nginap di hotel bandara" kata Sari yang sudah sekali menginap di hotel bandara. Sari tidak ingin mengulangi lagi pengalamannya itu.


Mereka akhirnya telah berada di dalam pesawat. Mereka duduk di kursi masing masing dan telah memakai sabuk pengaman. Mereka duduk dengan tenang. Suara Juan memberitahukan bagaimana cuaca selama mereka terbang sekitar satu jam penerbangan. Setelah Juan memberitahukan semua informasi, sekarang giliran Pramugari memberikan informasi keamanan standar penerbangan. Mereka semua menyimak apa yang disampaikan Pramugari. Setelah semua prosedut penerbangan telah dilakukan pesawat yang dikemudikan oleh Juan dan Jeri mulai lepas landas menuju ibu kota negara I.

__ADS_1


__ADS_2