Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Perusahaan


__ADS_3

"Nona Vina maaf sebelumnya kalau Pak Hans lancang bertanya kepada Nona Vina. Tapi Pak Hans memang harus bertanya kepada Nona Vina" ujar Pak Hans membuka percakapan antara dirinya dengan Vina selama perjalanan mereka menuju perusahaan.


Mobil mulai bergerak menuju perusahaan. Pak Hans mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang. Vina melihat ke arah Pak Hans yang sedang berkonsentrasi dengan jalan yang ada di depan mereka saat ini.


"Ada apa Pak Hans? Tanyakan saja tidak apa apa" ujar Vina menjawab pernyataan dari Pak Hans yang dia mau bertanya tetapi takut Vina marah dan membuat mereka berdua saling tidak enak hati antara satu dengan yang lainnya.


"Jadi gini Nona Vina. Kami semua karyawan berpikir siapa anak kecil yang Nona Vina bawa dari kemaren ke kafe" ujar Pak Hans yang akhirnya melontarkan pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam obrolan para karyawan kafe dari kemaren malam.


Pak Hans tidak mau ada fitnah yang menerpa bosnya itu. Makanya dari pada mereka menebak nebak siapa anak kecil itu, lebih baik Pak Hans bertanya dan mengkonfirmasi semua berita itu kepada Vina.


"Deli, maksud Pak Hans?" ujar Vina ingin menanyakan anak kecil yang dimaksud oleh Pak Hans dan karyawannya yang lain adalah memang Deli.


"Iya Nona Vina" jawab Pak hans.


Pak Hans dengan karyawan yang lain memang belum mengenal siapa Deli sebenarnya. Mereka ingin bertanya tetapi malu. Mereka sama sekali tidak ingin bertanya takut membuat Vina tersinggung. Tetapi Pak Hans tidak mau membuat para karyawan menjadi suudzon kepada Vina. Makanya Pak Hans memberanikan diri untuk bertanya kepada Vina.


"Pak Hans, nanti tolong Pak Hans katakan juga kepada semua karyawan yang ada di kafe, kalau Deli sebenarnya adalah calon anak saya." ujar Vina memberitahukan kepada Pak Hans siapa Deli sebenarnya dan kenapa dia sudah dua hari ini selalu bersama dengan Vina.


"Maksud Nona Vina bagaimana ya? Pak Hans kurang mengerti Nona" ujar Pak Hans yang bertanya bagaimana maksud perkataan yang disampaikan oleh Vina sebentar ini.


"Jadi gini Pak Hans. Kekasih saya yang bernama Danu itu adalah seorang duda yang memiliki anak satu. Anaknya itu bernama Deli. Nah Deli itulah yang beberapa hari ini ikut dengan aku terus." ujar Vina menceritakan lebih detail maksud perkataannya kepada Pak Hans.


"Oh jadi Nona kecil itu adalah calon anak tiri Nona Vina?" ujar Pak Hans yang menyimpulkan arti dari pernyataan yang dilontarkan oleh Vina kepada Pak Hans.


"Bahasa kasarnya iya Pak Hans. Tapi bagi Vina nggak ada yang namanya anak tiri. Mereka tetap anak bagi kita. Jadi nggak boleh dikatakan sebagai anak tiri" kata Vina mengoreksi perkataan dari Pak Hans.


Vina tidak mau menggunakan kata ganti anak tiri untuk mengatakan anak yang tidak lahir dari rahimnya sendiri.


"Maafkan saya Nona Vina. Saya sudah memakai kata kata yang tidak pantas untuk Nona Deli" ujar Pak Hans meminta maaf kepada Vina karena dia sudah memakai kata anak tiri untuk menyatakan status Deli.


"Tidak apa apa Pak Hans. Tapi saya mohon di dekat Deli jangan pernah katakan dia anak tiri. Saya tidak bisa melihat dia bersedih lagi" ujar Vina meminta sesuatu hal kepada Pak Hans dan karyawan kafe.

__ADS_1


"Tolong sampaikan juga kepada karyawan kafe lainnya ya Pak Hans" ujar Vina berharap Pak Hans bisa menyampaikan hal itu kepada pelayan kafe lainnya.


"Baik Nona Vina, akan saya sampaikan kepada karyawan kafe lainnya supaya mereka tidak memanggil Deli dengan kata kata anak tiri" ujar Pak Hans berjanji akan mengatakan kepada karyawan untuk tidak memanggil Deli dengan sapaan anak tiri.


Pak Hans membelokkan mobil masuk ke parkiran perusahaan. Tak terasa karena sambil mengobrol, mereka telah sampai di perusahaan. Pak Hans memarkir mobilnya di tempat parkir khusus petinggi perusahaan. Vina kemudian turun dari dalam mobil. Vina berjalan masuk ke perusahaan. Vina melihat para karyawan masih sangat ramai di perusahaan. Mereka terlihat lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu cepat.


Vina berjalan menuju ruangannya di lantai paling atas gedung perusahaan itu. Vina kemudian masuk ke dalam ruangannya. Vina melihat begitu tinggi dokumen yang harus dibaca olehnya saat ini.


"Huft tingginya" ujar Vina menatap menyerah melihat semua dokumen dokumen itu.


Vina yang sekarang sedang duduk di ruangannya menatap ke fhoto yang baru saja di letakkan oleh Vina di atas meja kerjanya itu. Fhoto antara dirinya, Danu dan juga Deli yang sedang berada di sebuah taman bermain di negara U. Fhoto yang seperti fhoto keluarga bahagia yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak.


"Seandainya ini cepat terjadi betapa bahagianya aku" ujar Vina sambil memegang dan mengusap wajah wajah yang ada di di dalam fhoto tersebut.


Vina yang telah selesai melihat fhoto tersebut, kemudian menaruh kembali foto ke tempatnya semula.


Apa yang dilakukan oleh Vina di ambil gambarnya oleh seseorang yang berada di balik pintu ruangannya. Sari merekam semua yang dilakukan oleh Vina. Setelah itu dia mengirimkan rekaman video itu kepada Ivan


Vina mengirimkan videonya tersebut dengan menambahkan keterangan untuk mengiringi penjelasan dari fhoto itu.


'Kamu harus lihat fhoto siapa yang dilihat oleh Vina'


Bunyi balasan pesan chat yang dikirimkan oleh Ivan kepada Sari.


'Siap Bang, nanti saat aku ke sana, aku akan lihat fhoto siapa yang dipegang oleh Vina tadi.'


' Serahkan semuanya kepada aku bang'


bunyi balasan yang dikirimkan oleh Sari kepada Ivan.


'Udah sampe mana?'

__ADS_1


kali ini Sari meninggalkan pembahasan tentang Vina. Dia sekarang fokus bertanya untuk urusan Ivan saja.


'Udah di bandara sedang menunggu Iwan. Sepertinya dia terlambat'


Balas Ivan yang memang sudah menunggu Iwan dari tadi di bandara. Iwan sepertinya terlambat datang untuk menjemput Ivan.


'Apa dia lupa menjemput Abang?'


Balas Sari bertanya kepada Ivan, apakah Iwan lupa kalau Ivan akan pulang ke negara mereka hari ini.


'Kayaknya bukan lupa, tapi telat bangun'


balas Ivan yang mengetahui kalau adiknya itu sedang dalam keadaan cemas mendengar kalau Ivan masih di bandara dan belum di jemput oleh Iwan sampai sekarang.


'Tapi pasti di jemputnya kan Bang?'


Balasan Sari berikutnya yang memang sangat cemas dengan Ivan yang di sana sendirian.


'Tenang aja, dia jemput kok. Lagian aku di sini nggak sendirian, ada dua orang pilot yang menemani dan pramugari juga'


Jawab Ivan berusaha menenangkan adiknya yang sudah cemas dengan keadaan Ivan yang di bandara sendirian.


''Oh oke, aku kira sendirian'


Balas Sari yang sudah kembali nyaman dengan keadaan abangnya Ivan yang di bandara tidak sendirian saja, tetapi di temani oleh dua orang pilot dan dua orang pramugari yang tadi melayani penerbangan Ivan menuju kembali ke negara mereka.


IWAN DAN DANU


"Danu bangun, udah jam setengah tiga, pesawat Ivan mendarat jam tiga. Dari rumah elo ke Bandara dalam jalanan lengang ini habis juga satu setengah jam" kata Iwan membangunkan Danu yang terlelap dalam tidurnya.


Mereka berdua sama sama tertidur sehingga terlambat menjemput Ivan yang ternyata sudah mendarat dari jam setengah tiga subuh tadi. Sedangkan yang akan menjemput Ivan ke Bandara yaitu Danu dan Iwan di jam Ivan mendarat di landasan pacu bandara masih baru saja bangun dari tidur mereka.

__ADS_1


Danu menggeliat dari tidurnya. Dia menatap ke arah Iwan dengan tatapan protes karena dibangunkan dari tidur malamnya yang sangat nyenyak itu.


__ADS_2