Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Menjemput Ivan


__ADS_3

Danu yang merasa ada seseorang yang memanggil dirinya, berusaha merenggangkan badannya yang benar benar terasa lelah, apalagi Danu merasa kalau dirinya baru tidur hanya beberapa jam yang lalu. Sehingga fisiknya belum siap kembali kalau sudah harus bangun dan kembali beraktifitas.


Hal yang sama sebenarnya juga terjadi kepada Iwan. Kalau bisa memilih Iwan akan memilih untuk tidak bangun dan pergi merangkak menuju bandara. tetapi apalah daya seorang Iwan, dia tetap harus pergi mejemput sahabat baiknya itu. Danu dan Iwan tidak mungkin membiarkan Ivan pergi dengan taksi di pagi buta itu untuk menuju rumahnya atau apartemen Ayah.


"Apa Wan?" ujar Danu saat dirinya sudah bisa membuka matanya yang terasa sangat berat dan masih mengantuk tersebut. Danu benar benar terlihat enggan untuk bangun. Dia masih dalam posisi memejamkan matanya. Danu merasa rugi kalau dia harus bangun saat ini.


"Kita harus menjemput Ivan ke bandara. Katanya pesawatnya mendarat jam tiga. Sekarang sudah jam setengah tiga. Perjalanan ke bandara dari rumah kamu ini menghabiskan waktu yang sangat lumayan lama" kata Iwan menjelaskan kepada Danu kenapa dirinya membangunkan Danu dari tidur malam yang sangat dibutuhkan oleh mereka berdua.


Danu yang mendengar kalau hari sudah pukul setengah tiga, langsung saja membuka matanya yang berat itu. Danu harus bangun karena tidak ingin membuat Ivan sendirian dan lama menunggu di bandara.


"Hah???? Emang udah jam setengah tiga aja???? Jadi kita terlambat kalau begitu menjemput Ivan?" tanya Danu yang langsung duduk dari posisi berbaringnya.


"Mau gimana lagi. Kita berdua sama sama terlelap tidur, sehingga tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga" lanjut Iwan sambil mengambil jaket miliknya yang akan dipakai untuk pergi mejemput Ivan ke bandara.


Danu juga mengambil jaketnya. Mereka hanya memakai celana pendek dan bajukaus saja. Pakaian tidur yang mereka pakai semalam. Danu dan Iwan sama sekali tidak memikirkan ootd mereka yang sangat luar biasa kacau pada malam pergi menjemput Ivan.


"Loe bawa mobil Wan. Mata gue belum bisa diajak kompromi" ujar Danu.


"Sip"


Iwan sama sekali tidak menolak apa yang dikatakan oleh Danu. Antara Danu dan Iwan memang Iwan lah yang pertama sekali tertidur. Danu semalam masih sempat sempatnya menyelesaikan urusan kantor, sehingga membuat dirinya semakin larut untuk beristirahat.


Mereka berdua sudah sampai di ruang tamu. Iwan sudah mengambil kunci mobil milik Danu.


"Bentar Wan" ujar Danu yang mencegah langkah Iwan untuk melanjutkan perjalanan menuju luar rumah.

__ADS_1


Iwan mendadak menghentikan langkah kakinya. Dia melihat ke arah Danu yang ternyata berhenti hanya untuk mengambil permen kopi yang ada di atas meja ruang tamu.


"Ngambil permen aja, loe harus nyuruh gue berhenti" kata Iwan kepada Danu.


"hehe hehe, Dari pada gue harus ke parkiran sendirian. Mending gue minta loe untuk beehenti jalan" kata Danu dengan santainya menjawab protes yang diajukan oleh Iwan kepada dirinya.


Iwan yang sudah terlanjur berhenti, akhirnya ikut ikutan Danu untuk mengambil permen kopi tersebut.


"Mayanlah untuk pengganjal mata" kata Iwan sambil membuka satu bungkus permen dan memasukkan ke dalam mulutnya.


Mereka berdua kemudian ke luar dari dalam rumah. Mereka menuju mobil yang ternyata di parkir Iwan di teras rumah tidak di parkiran atau di garase seperti biasanya.


"Gue kira mobil di garase. Makanya tadi gue minta loe berhenti" kata Danu yang kaget melihat mobilnya terparkir dengan mulus di depan pintu masuk mansion.


"Ngapain gue ngater mobil ke garase, cari kerjaan namanya tu" jawab Iwan sambil menahan tawanya saat melihat betapa jengkelnya Danu karena ketahuan oleh Iwan bahwasanya Danu takut di rumahnya sendiri.


"Jadi loe takut judulnya?" tanya Iwan kepada Danu sambil melirik ke arah Danu sebentar untuk memastikan apakah sahabatnya sekaligus bosnya itu masih dalam alam kehidupan atau sudah pindah ke alam yang satu lagi melanjutkan mimpinya yang tertunda karena harus berangkat menuju bandara.


"Nggak ah, mana ada gue takut di rumah sendiri. Ngadi ngadi loe" ujar Danu yang menolak dikatakan takut oleh Iwan saat berada di rumahnya sendiri.


"Terus kenapa loe menahan langkah gue tadi?" ulang Iwan bertanya hal yang sebenarnya sudah dikatakan dan dijelaskan oleh Danu tadi saat mereka masih di dalam rumah.


Hal itu sengaja dilakukan oleh Iwan, agar Danu menemani dirinya menyetir menuju bandara dan menghindari Danu kembali merajut mimpi mimpinya yang tadi sempat terbengkalai karena harus berangkat menuju bandara.


"Kan udah gue jawab tadi ke elonya, kalau gue mau mengambil permen kopi untuk menahan rasa kantuk gue" kata Danu mengulang kembali jawaban yang diberikannya tadi kepada Iwan

__ADS_1


"Oh, gue kira karena takut" kata Iwan kembali mengatakan hal yang sama kepada Danu


"Serah loe" ujar Danu yang pasrah denga apa yang dituduhkan oleh Iwan kepada dirinya.


Danu kemudian melihat lurus ke jalanan. Jalanan yang biasanya ramai oleh mobil pribadi sekarang ramai oleh mobil fuso dan truk serta mobil logistik yang membawa berbagai jenis kargo.


"Gue kira sepi jalanan, ternyata ramai sangat. Tetapi mobilnya berganti. Bukan mobil pribadi lagi, tapi mobil besar besar" kata Danu sambil melihat betapa ramainya mobil besar besar yang biasanya tidak pernah mereka lihat, sekarang bisa dilihat dengan sangat puas.


"Ya jalan merekalah malam. Nggak ada om pol, jadi mereka bisa masuk kota untuk mengatarkan barang barang yang mereka bawa" jawab Iwan yang sok mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.


"Ada ada aja jawaban loe. kayak yang pernah aja jadi supir truk"


"Ya loe nggak percaya, apa perlu kita berhentikan satu mobil untuk bertanya tentang kenyataannya?"


Iwan menantang Danu untuk memberhentikan salah satu mobil dan bertanya kenapa mereka memenuhi jalanan di malam hari tidak di pagi sampai dengan sore hari.


"Ada ada aja loe, bisa bisa kita dikatakan mau ngerampok lagi"


Danu langsung menolak ide yang diberikan oleh Iwan kepada dirinya.


"Loe nggak sadar sekarang sedang berpakaian seperti apa?" lanjut Danu yang mengingatkan Iwan kalau pakaian yang mereka pakai saat ini bukanlah pakaian yang bisa dipakai untuk menyapa dengan ramah sopir truk hanya untuk sekedar berbasa basi.


"Bisa bisa nanti kita di keroyok ramai ramai" Kata Danu melanjutkan apa yang ingin dikatakannya kepada Iwan..


"Ide loe kadang kadang memang harus gue waspadai. Sehingga apapun ide loe nggak membuat nyawa dan juga badan gue terancam" kata Danu

__ADS_1


Danu meluapkan apa yang ada di dalam hatinya kepada Iwan. Danu sama sekali tidak menyangka ntah kepada Iwan sampai mengatakan hal seperti tado. Ide yang datang ntah dari bagian sudut mana kepala Iwan. Sehingga membuat Iwan bisa mengatakan hal hal yang ternyata sangat aneh dan absurd tersebut.


__ADS_2