
Vina dan Maya di negara U selalu melakukan kegiatan mereka sehari hari dengan gembira. Vina sama sekali tidak pernah mengingat ingat tentang Danu. Dia mengubur Danu dalam dalam. Vina sangat takut, saat dia mengingat Danu, maka hatinya akan kembali sakit. Cukup sudah sakit hati yang ditanggungnya selama ini. Vina tidak mau lagi menambah beban yang ada.
Sedangkan Maya yang selama ini enjoy saja menjalani kehidupannya di negara U semakin menikmati dengan rutinitas barunya yang menunggui pengerjaan kafe baru milik mereka. Tambah lagi setiap dia berada di proyek Ivan selalu menghubungi Maya. Makanya Maya menjadi sangat suka berada di proyek.
NEGARA I
Iwan dan Ivan yang sedang serius bekerja dikagetkan dengan bunyi pintu ruangan yang terbuka dengan mendadak. Mereka berdua cukup kaget mendengar suara pintu yang terbuka. Mereka berdua dengan serentak melihat ke arah pintu masuk.
"Danu?" ujar mereka kompak.
Danu berjalan masuk ke dalam ruangan yang sudah lama tidak didatanginya itu. Semenjak dia merawat putri tunggalnya di rumah sakit Danu sama sekali tidak ada datang ke perusahaan dan sama sekali tidak mengaktifkan ponselnya.
Danu duduk di sofa kantor. Dia menatap ke salah satu meja yang sekarang sudah tidak ada lagi di posisinya. Iwan dan Ivan paham dengan apa yang dilihat Danu. Mereka berdua meninggalkan pekerjaannya dan berjalan mendekat ke arah Danu.
Iwan menepuk pundak Danu. Dia memberikan semangat kepada sahabatnya itu. Sedangkan Ivan hanya bisa diam saja. Dia sama sekali tidak berkomentar.
"Kemana dia Wan Van?" tanya Danu yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kami berdua juga tidak tau dia kemana. Pas kamu pergi melihat Delli, Vina keesokan harinya juga pindah membawa semua barang barangnya." jawab Iwan.
"Apa kalian tidak bertanya kebagian HRD?" tanya Danu dengan mata membulat dan ada api kemarahan di sana.
"Sudah. HRD memberikan surat permohonan berhenti yang diberikan oleh Vina." ujar Iwan.
Iwan kemudian mengambilkan surat permohonan pengunduran diri Vina. Dia memberikan surat tersebut kepada Danu. Danu membaca surat tersebut dengan penuh penyesalan. Semakin lama Danu membaca surat tersebut air matanya sudah menganak sungai dan seperti akan tumpah kalu tidak dia tahan. Semua itu tidak luput dari rekaman Ivan yang akan dikirim kepada Maya.
"Tidak" teriak Danu dengan begitu kerasnya.
Iwan dan Ivan kaget mendengar teriakan Danu yang luar biasa keras itu. Mereka berdua tidak menyangka Danu akan berteriak dengan kencangnya.
Danu berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dia mengambil ponsel yang selama ini sama sekali tidak dihiraukannya. Dia langsung mengaktifkan kembali ponsel miliknya. Iwan dan Ivan menyusul Danu ke dalam ruangannya mereka berdua sangat takut Danu berbuat sesuatu yang diluar kendali dirinya.
__ADS_1
"Ah kenapa harus selama ini mengaktifkan benda ini." ujar Danu dengan kesal menyumpahi ponsel miliknya.
"Sabar Dan. Dia juga butuh proses untuk aktif kembali." ujar Iwan berusaha menenangkan Danu.
Danu menatap ponselnya dengan menghadiahkan tatapan membunuh. Ivan yang melihat hanya bisa tersenyum saja melihat kebodohan Danu.
"Bang, bang. Loe kira tu ponsel punya perasaan. Loe kasih tatapan membunuh terus aja dia." ujar Ivan dengan pelan.
Iwan yang mendengar hanya tersenyum senyum saja mendengar keluhan Ivan. Sedangkan Danu tetap masih setia dengan tatapan membunuhnya.
Akhirnya setelah menunggu cukup lama ponsel Danu akhirnya sudah bisa digunakan kembali. Danu langsung mencari nomor Vina. Dia sangat penasaran dimana kekasihnya itu berada sekarang. Serta kejadian apa yang membuat dia pergi tanpa memberitahukan apapun.
Danu melakukan panggilan kepada nomor tersebut, tetapi sama sekali tidak bisa terhubung. Danu kembali mengulang panggilannya hasilnya tetap sama, nomor tersebut tidak bisa dipanggil sama sekali.
"Tidak" teriak Danu frustasi.
"Ada apa Dan?" tanya Iwan yang memang sama sekali tidak mengetahui apa apa.
Danu menarik rambutnya dengan keras. Dia benar benar tidak tau harus berbuat apa lagi. Dia benar benar panik. Dia tidak menyangka dengan tidak memberikan kabar kepada Vina, maka Vina akan pergi begitu saja.
"Van coba loe hubungi Maya." ujar Iwan kepada Ivan.
Ivan menghubungi Maya. Maya yang sudah tau apa yang terjadi mengangkat panggilan telpon dari Ivan. Untung saja saat Ivan menghubunginya dia sedang berada di dalam kamar yang gelap bersiap untuk tidur.
"Hallo sayang. Ada apa?" tanya Maya sok sok nggak tau jalan ceritanya.
"Apa di dekat kamu ada Vina?" tanya Ivan basa basi.
"Vina? Tapi udah aku ngomong sama kamu kalau Vina sudah tidak dengan aku lagi sekarang. Kami memutuskan untuk pisah. Aku sekarang ini menjadi tkw di negara H." ujar Maya bercerita kebohongan yang hakiki.
"Kalau aku sudah tau kamu dengan Vina sudah tidak bersama lagi. Tapi Danu yang minta supaya aku menghubungi kamu menanyakan keberadaan Vina di mana." ujar Ivan membuka awal cerita.
__ADS_1
"Danu? Emang tu makhluk masih hidup? Habis nyakitin sahabat gue masih berani cari dia???? Aku baru tau sayang ada pria segoblok dia di atas dunia ini." ujar Maya dengan nada marah yang sudah tidak bisa ditahan tahannya lagi.
"Maksud kamu apa?" tanya Danu yang mengambil ponsel milik Ivan.
"Oh pengen tau maksud aku? Kamu pengen tau kenapa sahabat aku masuk rumah sakit? Hah, kamu pengen tau atau pura pura tidak tau. Dasar laki laki pakai rok." ujar Maya yang sudah tidak lagi memandang Danu itu siapa.
"Tau nggak loe dari kemaren kemaren sebelum Vina dan gue memutuskan untuk pergi dari ibu kota, gue sudah pengen ketemu sama loe dan pengen mencaci maki loe. Tapi sahabat gue yang loe sakitin itu terlalu baek jadi manusia. Makanya gue nggak jado ngelabrak loe." lanjut Maya dengan emosi yang sama sekali tidak turun.
"Maksud loe apa May? Sumpah gue nggak ngerti." ujar Danu yang memang saat ini otaknya sedang buntu.
"Yakin loe nggak tau? Gue asli nggak yakin. Gue sudah tau semua ceritanya." kata Maya sambil menatap Danu dengan tatapan penuh kebencian.
"May, tolong kasih tau Viba dimana. Gue pengen menjelaskan semuanya May." ujar Danu dengan nada frustasi. Maya adalah satu satunya orang yang bisa membawa Danu menuju Vina, itu menurut Danu. Padahal ada tiga orang lagi yang bisa memberikan informasi kepada Danu. Malahan sekarang mereka cukup dekat posisinya dengan Danu.
"Maaf Tuan Danu yang terhormat, gue tidak bisa memberitahukan dimana keberadaan sahabat gue. Bukan katena gue menutupi, tidak, tapi murni karena gue tidak tau dia dimana sekarang." ujar Maya.
"Maya, aku mohon sama kamu Maya. Tolong beritahu aku dimana Vina sekarang. Aku tidak bisa hidup tanpa dia Maya." ujar Danu memohon kepada Maya.
"Maaf Tuan Danu. Saya tidak tau sama sekali dimana keberadaan sahabat saya." jawab Maya yang sama sekali tidak tergoyahkan.
"Satu pesan Saya kepada Anda. Selesaikan dahulu permasalahan Anda dengan seseorang itu barulah siap itu Anda menemui sahabat saya." kata Maya selanjutnya.
"Saya tidak mau sahabat saya menjadi sakit kembali gara gara kamu dan dia. Jadi maafkan saya, saya tidak bisa memberitahukan dimana keberadaan sahabat saya." ujar Maya.
"Sayang, aku istirahat dulu ya. Selamat pagi waktu di sana sayang." ujar Maya kepada Ivan.
"Selamat malam waktu di sana sayang." balas Ivan.
Ivan kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Dia kembali fokus menatap ke arah Danu. Pria yang juga sepupunya itu sekarang sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi. Hanya penyelasan yang dia dapatkan. Itu hanya karena kebodohannya selama ini.
Danu lama terdiam sambil menopang dagunya. Iwan dan Ivan hanya bisa menemani tanpa bisa berbuat apa apa. Mereka berdua sebenarnya ingin membantu, tetapi mereka tidak tau apa yang harus mereka kerjakan terlebih dahulu. Makanya mereka berdiam diri menunggu perintah dari Danu.
__ADS_1