Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kampung


__ADS_3

Mereka berempat kemudian berangkat ke kampung Vina. Mobil bergerak dengan kecepatan tinggi saat melintasi tol tengah kota. Empat orang itu kemudian memilih untuk tidur selama perjalanan dua jam setengah itu. Sari meletakkan kepalanya di pundak Juan. Juan mengusap usap kepala Sari dengan lembut. Juan kangen dengan kekasihnya itu


Setelah berkendara selama lebih kurang dua setengah jam, taksi online yang disewa oleh Vina akhirnya masuk ke dalam jalan kampung. Sang sopir yang tidak tau di mana rumah Vina memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, sopir tidak mungkin melanjutkan perjalanan karena dia tidak tau dimana letaknpastinya kampung Vina.


"Nona, Nona, Nona." panggil sang sopir membangunkan Vina.


Vina masih saja terlelap, sedangkan Maya yang merasa kalau mobil berhenti dan ada suara suara memanggil dengan sapaan Nona membuka matanya perlahan lahan. Dia melihat mobil berhentk di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti Pak?" tanya Maya kepada sopir.


Juan yang juga merasakan mobil berhenti langsung terbangun dan membangunkan Sari dengan cara menggoyang goyangkan kepala Sari. Sari yang merasa terganggu tidurnya langsung membuka matanya. Dia melihat Juan ada di sebelahnya yang juga sudah bangun.


"Apa?" tanya Sari dengan gerakan bibirnya.


"Mobil berhenti." ujar Juan memberitahukan kepada Sari kenapa dia dibangunkan.


"Kita sudah tiba di kampung Nona. Tapi saya tidak tau lagi mau jalan kemana menuju rumah Nona Vina." ujar sopir memberitahukan kenapa dia berhenti di tepi jalan saat ini.


"Eh kita udah masuk jalan kampung Pak. Kalau gitu Bapak lurus aja dulu. Nanti di depan ada pertigaan belok kiri ya pak. Lurus aja sekitar tiga ratus meter. Di situ rumah kami." ujar Maya memberitahukan di mana letak rumah Vina.


Sopir kembali melajukan mobilnya. Maya membangunkan Vina yang tidak mau bangun sangat dibangunkan oleh Maya. Vina benar benar larut dalam tidurnya.


"Vin, Vina, Vina bangun. Kita udah sampai." ujar Maya membangunkan Vina sambil menggoyang badan Vina cukup keras.


Vina menggeliat, dia mencoba membuka matanya. Vina melihat Maya sudah bangun. Begitu juga dengan Sari dan Juan yang duduk di bangku belakang, juga sudah bangun.


"Eh maaf, gue keenakan tidur, jadi nggak tau kalau kita udah masuk jalan kampung." ujar Vina yang melihat dari kaca jendela mobil kalau mereka sudah masuk daerah kampung Vina.


"Apa loe udah kasih tau sopir di mana letak rumah?" tanya Vina kepada Maya.


"Udah. Loe nya aja yang nggak bangun bangun Vina. Makanya gue yang ngasih tau. Ini kita bentar lagi belok." ujar Maya melihat sedikit lagi pertigaan. Jadi, sebentar lagi mereka akan sampai di rumah Vina.


"Pak dipertigaan depan belok kiri." ujar Maya kembali mengingatkan sopir taksi online.


"Siap Nona." jawab Sopir taksi yang telah menerima bayaran yang lumayan besar dari Vina.


Mobil taksi online itu berbelok masuk ke dalam gank yang hanya bisa di lalui satu mobil saja. Kalau sempat berselisih dengan mobil lain, maka salah sagu mobil harus turun dari jalan yang hanya di cor saja dengan swadaya masyarakat.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Masuk ke dalam gang yang dikatakan oleh Maya hanya berjarak tiga ratus meter dari mulut gang.


"Stop Pak." ujar Vina yang melihat mereka sudah sampai di depan rumah.


Sopir taksi online memberhentikan mobil di depan rumah. Bapak dan Ibuk yang hari ini tidak ke kebun karena harus menjemur segala bahan rempah yang akan dibawa Maya ke negara U.


Ibuk dan Bapak yang melihat ada mobil berhenti sudah mengetahui siapa yang datang ke rumah mereka. Makanya mereka hanya duduk saja di teras. Vina dan kedua sahabatnya yang lain langsung turun dari dalam taksi online. Supir taksi kemudian menurunkan semua barang barang milik Vina dan kedua sahabatnya.


"Terimakasih Pak." ujar Vina kepada supir taksi online yang sudah mengantarkan mereka ke kampung Vina.


"Sama sama Nona." jawab supir taksi.


Supir taksi kemudian memutar mobilnya di ujung jalan yang lumayan lapang untuk bisa mobil berputar arah. Vina dan yang lainnya membawa barang barang mereka ke dalam rumah.


Bapak yang melihat ada seorang laki laki, menatap menyelidik ke arah Juan. Juan langsung dibuat salah tingkah oleh tatapan Bapak.


Vina yang tau Bapak menatap tajam ke arah Juan langsung memberikan kode kepada Ibu. Ibu mencubit pinggang Bapak.


"Ngapain natap seperti itu?" tanya Ibu kepada Bapak.


"Itu siapa?" tanya Bapak berbisik ke telinga ibu menyanakan siapa laki laki yang bersama ketiga putrinya.


"Mana Ibu tau Bapak. Nanti mereka juga akan mengenalkan dia kepada Kita." jawab Ibuk sambil tersenyum saat melihat Vina dan ketiga temannya telah sampai di teras rumah.


Mereka bergantian bersalaman dengan Ibuk dan Bapak.


"Bapak, Ibuk perkenalkan ini Juan calon suami Sari." ujar Sari memperkenalkan siapa Juan kepada Bapak dan Ibuk.


"Juan" ujar Juan menyebutkan namanya.

__ADS_1


"Oooo. Calon suami nak Sari. Tampan sekali." ujar Ibu memuji Juan. Bapak menatap Ibu dengan tatapan ngenes tak terhingga. Ibu memuji seorang pemuda tampan di depan Bapak.


"Ada yang cemburu Ibuk." ujar Maya sambil memonyongkan bibirnya ke arah Bapak.


"Biarin aja. Siapa suruh nggak mau bergaya sedikit. Mentang mentang kerja ladang." ujar Ibuk sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar Bapak.


"Alah buk e nanti Bapak menggaya Buk e bilabg supaya janda di kampung depan naksir Bapak. Bapak kemari salah buk e." ujar Bapak sambil pura pura memukul jidatnya dengan pelan.


"Hahahaha. Bapak bisa aja ngeles." ujar Maya tertawa mendengar jawaban Bapak.


Ibuk terlihat ingin memberikan jawaban. Tetapi Vina langsung mencegahnya. Vina tidak mau kedua orang tuanya memperlebar drama yang nggak penting di sore hari ini.


"Ibuk mau ribut terus dengan Bapak, atau memperbolehkan kami untuk masuk ke dalam rumah?" ujar Vina menatap kedua orang tuanya yang dari dulu selalu seperti itu. Mungkin, itulah resep mereka bisa langgeng sampe sekarang tanpa pertengkaran yang berarti.


"Aduh sampe lupa. Ayuk masuk masuk." ujar Ibu, menyuruh Vina dan yang lainnya masuk ke dalam rumah.


Vina, Sari, Maya dan Ibu masuk ke dalan rumah. Bapak dan Juan mengangkat barang barang milik Vina dan yang lainnya ke dalam rumah.


"Kalian istirahat dulu. Ibuk buat makan malam dulu." ujar Ibu meminta ketiga wanita itu untuk beristirahat.


"Vina bantu Buk." ujar Vina yang segan dia istirahat ibuknya memasak makan malam untuk mereka semua.


"Nggak. Kamu istirahat. Ibuk masak cuma sedikit. Tadi siang ibuk juga udah masak. Sekarang hanya tinggal masak sayur saja dan memanaskan yang lainnya." ujar Ibuk yang tau Vina memiliki rasa segan yang luar biasa tingginya.


"Tapi Buk." ujar Vina yang masih juga ngeyel ingin ikut ibuk masak di dapur.


"Vina" ujar Ibuk menatap Vina dengan tatapan yang langsung membuat Vina mundur.


"Yelah." ujar Vina.


Vina kembali ke kamarnya. Dia langsung naik ke atas kasur. Vina memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama karena badan dan juga otaknya sudah terlalu lelah membuat Vina langsung tertidur.


Sedangkan Maya dan Sari jangan ditanya, mereka sudah dari tadi tertidur. Mereka juga sangat lelah, makanya saat melihat kasur dan bantal mereka berdua langsung berpindah alam. Tapi itulah hebatnya Maya, walaupun sedang perang dengan Ivan, dia masih bisa tidur nyenyak.


Sedangkan di ibu kota, Ivan dan Iwan sudah berada di apartemen milik Ivan dan keluarganya. Ivan membuka pintu apartemen memakai kartu miliknya. Ivan mengira kalau Ayahnya masih berada di perusahaan tetapi ternyata Ayah sesang berkutat di dapur memasak makanan untuk makan sore mereka hari ini.


"Ayah, kok bisa udah di rumah?" tanya Ivan sambil meletakkan tasnya dan bersalaman dengan Ayah.


"Sengaja pulang cepat karena berdasarkan informan terpercaya Ayah. Anak laki laki Ayah sudah pulang dalam keadaan marah." ujar Ayah sambil mengangkat wajahnya sedikit.


"Terus?" ujar Ivan lagi yang sudah tau siapa informan yabg dimaksud oleh Ayah.


"Dia meminta Ayah untuk memasak menu makanan kesukaan pria tampan yang sedang ngambek karena alasan itu." ujar Ayah sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Oh. Lanjutkan Ayah." ujar Ivan.


Ayah menatap punggung anaknya laki lakinya itu.


"Kamu memang sangat posesif seperti Bunda kamu Nak." ujar Ayah menatap anak laki lakinya.


"Iwan gimana cerita sebenarnya?" ujar Ayah bertanya kepada Iwan.


Iwan duduk di kursi bar, sambil membuka buah yang ada di meja bar.


"Jadi, tadi pagi Sari tanpa sengaja mengatakan kalau mereka akan pulang dari kota J menuju ke ibu kota memakai bus malam. Nah, Ivan langsung marah saat itu juga." ujar Iwan memulai ceritanya.


Iwan kemudian menceritakan semua kejadian kepada Ayah. Iwan sama sekali tidak ada menutupi cerita apapun.


"Gitu ceritanya Yah." ujar Iwan sambil menyimpan buah yang sudah di kupas dan di potong potong itu ke dalam almari pendingin.


"Dia tidak juga berubah. Posesifnya semakin menjadi jadi." ujar Ayah.


"Tapi Ivan benar Ayah. Ngapain juga mereka bertiga pulang naik bus malam, kalau ada pesawat perusahaan. Kan aneh itu." ujar Iwan mendukung kemarahan Ivan kepada ketiga wanita yang sekarang masih berada di kota J.


"Iya memang benar. Tapi kamu tidak tau bagaimana keras kepalanya Sari kalau sudah ingin. Satu satunya yang bisa menjadikan keinginan Sari gagal adalah dengan kemarahan Ivan. Makanya Ivan marah besar tadi." ujar Ayah mengatakan satu kartu truff milik Sari yang sudah di pegang Ivan.


"Ooooo. Pantesan Ivan langsung meledak ledak. Jadi supaya Sari membatalkan niatnya." ujar Iwan yang paham kenapa sikap Ivan seperti tadi.

__ADS_1


"Yup. Sana mandi. Setelah itu kita makan malam. Ayah sudah tidak diizinkan makan jam tujuh malam lagi." ujar Ayah yang baru pulang dari dokter kemaren.


"Kenapa?" tanya Iwan mulai kepo.


Ivan bersembunyi di balik dinding. Dia ingin mendengar ada apa dengan kondisi Ayahnya sehingga tidak bisa untuk makan jam tujuh malam lagi.


"Ayah baru balik dari dokter. Dokter mangatakan kalau kadar gula Ayah sedang tinggi." ujar Ayah mengatakan sakitnya kepada Iwan.


"Apa Ivan dan Sari tau?" tanya Iwan lagi


Ayah menggeleng. "Jangan sampai mereka tau. Mereka akan sangat posesif nantinya." ujar Ayah mengatakan alasan kenapa Sari dan Ivan tidak boleh mengetahui sakit yabg diderita Ayah.


"Oh pinter ya. Jadi kami nggak boleh tau gitu? Emang kalau sakit bisa urus sendiri?" ujar Ivan yang datang tiba tiba.


"Bukan begitu." ujar Ayah yang kaget Ivan sudah mengetahui semuanya.


"Nggak ada cerita. Mulai hari ini semua gula di rumah di buang. Kita akan kembali makan memakai beras merah. Semua yang mengandung gula tinggi tidak ada di rumah lagi." ujar Ivan.


Ivan membuka almari kichenset. Dia mengeluarkan semua cemilan favorit Ayahnya itu. Ivan memasukkan semuanya ke dalam dua kantong plastik besar. Setelah itu Ivan membawa dua kantong besar berisi snack itu keluar dari apartemen. Ivan masuk ke dalam lift.


"Mau di buangnya atau bagaimana itu Ayah?" tanya Iwan melihat Ivan membawa dua kantong besar berisi snack favorit Ayah.


"Nggak. Palingan dikasih ke satpam bawah seperti biasanya." jawab Ayah yang sudah tau bagaimana sifat Ivan.


"Oh kirain." ujar Iwan.


Ivan kembali ke dalam apartemen. Dia menatap Ayah cukup lama.


"Ayah duduk." ujar Ivan yang bertindak seakan akan dia adalah Ayah bukan anak.


"Sejak kapan mulai naik lagi gulanya?" tanya Ivan dengan nada serius.


"Baru dua hari." jawab Ayah dengan santainya


"Baru? Kalau sakit jangan di simoen sendiri. Itu gunanya anak." ujar Ivan dengan nada terlihat sangat marah.


"Oke. Besok nggak akan disimpen sendiri. Tapi sakitnya di bagi bagi." ujar Ayah yang nggak ingin suasana menjadi teganga.


"Jangan sakitnya di bagi bagi Ayah. Tapi berita Ayah sakit itu dibagi bagi." ujar Ivan yang tau Ayahnya tidak ingin suasana menjadi tegang.


"Udah jangan bahas masalah sakit lagi. Biar itu jadi urusan dokter. Sekarang mari kita makan." ujar Ayah.


Ivan mengambilkan Ayahnya nasi. Dia menaruh di atas piring Ayah hanya satu sendok nasi, sayur yang banyak dan sepotong ikan yang di rebus.


"Wah Ivan kapan kamu ngerebus Ikan?" ujar Ayah yang melihat ada ikan rebus.


"Makan Ayah. Jangan banyak cerita." ujar Ivan.


Akhirnya Ayah makan juga ikan rebus yang ntah kapan dimasak okeh Ivan. Ivan dan Iwan tersenyum melihat Ayah yang agak susah menyuap nasi ke dalam mulutnya. Ayah nggak menyangka ini akan terjadi.


Sedangkan di kampung Vina. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka akan makan malam bersama. Setelah makan malam mereka berbincang bincang di teras rumah.


"Jadi, besok kapan kamu akan berangkat Vin?" tanya Ayah menatao putri tunggaknya yang sebentar lagi akan kembali merantau dan tidak tau kapan akan kembali pulang.


"Jam sepuluh dari sini Ayah." jawab Vina sambil memakan jagung rebus hasil dari ladang.


"Kamu hati hati di sana ya. Jangan berbuat yabg aneh aneh" ujar Ayah berpesan kepada anak tunggalnya itu.


"Aman itu Ayah. Vina dan Maya akan mengingat semua pesan Ayah." ujar Vina.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan itu. Tepag pukuk sebelas malam. Mereka semua masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat. Besok Vina dan sahabat sahabatnya akan menuju ibu kota.


"Apa mobil sudah kamu pesan Vin?" tanya Maya yang ingat mobil untuk pergi ke bandara.


"Sudah tenang aja itu nggak akan lupa. Besok bangun pagi, kita harus mengemas semua rempah rempah yang sudah di ambik Ayah. Kamu juga harus membayar ke Ayah." ujar Vina mengingatkan Maya untuk membayar semua rempah rempah milik Ayah.


"Oke sip. Besok pagi semua transaksi akan diselesaikan." ujar Maya yang sudah menarik selimut menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Mari beriatirahat. Besok akan terbang jauh." ujar Maya sambil menutup matanya.


Maya dan semua sahabatnya telah berpindah ke alam mimpi. Alam yang tanpa ada beban sedikitpun.


__ADS_2