
Pagi harinya Maya yang terbiasa bangun sebelum subuh sudah terbangun. Dia berjalan menuju dapur rumah. Maya menatap heran kepada kedua maid rumah ini yang ternyata sudah bangun dan juga sudah mulai membuat sarapan.
"Gue kira gue yang bangun paling pagi, ternyata ada yang lebih pagi dari gue " ujar Maya sambil menggaruk kepakanya yang tidak gatal.
Maya tetap malanjutkan langkah kakinya menuju dapur. Maya ingin sekali membuat sarapan hari ini.
"Pagi Bik Imah, Rina." sapa Maya dengan ramah.
"Pagi juga Non Maya. Wah Non Maya bangunnya pagi sekali. Apa tidur Non Maya tidak enak???" tanya Rina yang heran menatap Maya sudah bangun sepagi ini.
"Gue selalu bangun pagi Rin. Waktu di negara I gue bangun lebih pagi dari ini, karena Gue menerima pesanan berbagai jenis makanan." jawab Maya sedikit menceritakan aktifitas dirinya di negara I.
"Wow berarti Nona Maya bisa memasak berbagai macam hidangan negara I dong ya??? Apa kami boleh belajar???" tanya Rina yang langsung antusias mendengar kepintaran Maya mengolah masakan negara I.
"Masalah gampang. Nanti setelah Vina berangkat kerja kita akan memasak masakan negara I." ujar Maya menjawab dengan antusias juga, akhirnya dia mendapatkan teman tambahan.
"Ngapain nunggu gue berangkat kerja May. Sekarang aja masak. Bik Imah udah masak?" tanya Vina yang ternyata dsri tadi udah berada di dapur dan mendengar percakapan antara Maya dengan Rina.
"Belum Nona. Ini baru persiapan mau memasak. Nona mau dimasak sarapan apa?" tanya bik Imah lagi.
"Bik Imah, Bibik duduk di sebalah saya aja sini. Biar Maya yang memasak untuk kita kali ini. Sekalian Maya ngajarin Rina." ujar Vina kepada Bik Imah.
Bik Imah menatap Vina dengan lama, Vina mengangguk meyakinkan Bik Imah. Bik Imah kemudian duduk di kursi bar. Dia akan melihat bagaimana Maya akan memasak.
"Nona Vina yang cantik mau makan apa?" tanya Maya yang berlagak seperti pelayan kafe.
"Buatkan Nasi goreng kampung spesial." jawab Vina yang sekarang pengen makan nasi goreng kampung.
"Asiap Nona." jawab Maya.
Maya mengambil semua bahan bahan yang diperlukan untuk membuat nasi goreng kampung dari dalam kulkas. Maya sangat hafal bagaimana rasa yang disukai oleh Vina.
Maya dibantu oleh Rina menyiapkan semua bahan bahan itu. Semua bumbu tidak ada yang memakai bumbu jadi. Maya yang akan menguleknya sendiri. Maya akan menyiapkan delapan porsi nasi goreng kampung.
"Nona, apakah Nona Maya akan menggiling semua bumbu itu?" tanya bik Imah menatap semua bumbu yang akan digiling oleh Maya.
Bik Imah sudah bisa membayangkan bagaimana capeknya menggiling semua bumbu itu sendirian.
"Kenapa Bik?" tanya Vina yang menatap Bik Imah bergidik ngeri.
"Nggak kebayang capeknya Nona." ujar Bik Imah.
__ADS_1
"Nah seninya di situ Bik. Makanya warung sederhana kami selalu ramai dikunjungi orang serta pesanan kue kami juga ramai. Itu semua karena kami mengolah bumbu sendiri." kata Vina kepada Bik Imah.
Maya mulai mengolah nasi goreng kampung pesanan Vina. Maya menumis semua bumbu yang sudah digilingnya.
Buar, aroma wangi bumbu yang ditumis menyeruak ke sekeliling dapur, Rina menekan tombol untuk menghisap asap. Tetapi bau dari tumisan tetap tercium.
Pak Hans yang baru bangun dan hendak minum tanpa sadar berkomentar dengan keras.
"Wanginya. Masak apa ini?" ujar Pak Hans yang langsung masuk ke dalam dapur.
Betapa kagetnya Pak Hans saat melihat yang memasak adalah Nona Maya, sedangkan Bik Imah istrinya duduk dengan Nona Vina di kursi bar.
"Loh Ibu kenapa duduk di kursi? Kenapa menyuruh Nona Maya untuk memasak?" tanya Pak Hans dengan pelan tetapi mengandung kekecewaan.
Vina sangat tau akan hal itu. Dia langsung menengahi kesalahpahaman ini.
"Pak Hans jangan marah marah nanti cepat tua. Saya kok yang menyuruh Maya untuk memasak. Saya juga yang meminta Bik Imah untuk duduk di dekat saya. Pak Hans nggak tau Maya kalau dalam sehari nggak megang kuali dia akan menjadi gila." ujar Vina sambil menahan senyum gelinya.
"Maksud Nona?" tanya Pak Hans.
"Iya Pak Hans. Maya kalau nggak megang kuali dalam sehari dia akan badmood sepanjang hari. Jadi biarkan aja dia memasak pagi ini." ujar Vina sambil menahan senyumnya.
"Hahahahahaha." Maya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Vina kepada Pak Hans.
Vina yang melihat Maya dan Rina sudah bisa bekerjasama dengan baik kembali ke kamarnya untuk bersiap siap. Ini adalah hari pertama dirinya berangkat ke perusahaan dan langsung menjadi wakil direktur.
Vina membersihkan dirinya setelah itu Vina membuka lemari pakaian yang dari semalam belum dibukanya. Ternyata di sana sudah tegantung pakaian kantor yang sudah disiapkan oleh Sari.
"Wow." ujar Vina.
Vina memilih pakaian yang akan dipakainya ke kantor. Akhirnya pilihan Vina jatuh kepada dress selutur berwarna putih gading dengan motif bunga bunga. Vina memadukan dengan blezer warna pink muda. Setelah memilih pakaian untuk dipakainya, Vina berjalan kemeja rias miliknya. Dia memoles wajahnya dengan makeup natural.
"Selesai" ujar Vina.
Vina kemudian kembali masuk ke ruang ganti miliknya itu. Dia melihat tas, jam tangan dan berbagai aksesoris pilihan yang tersedia di laci laci meja.
Vina memilih tas tangan pink, jam tangan pink dan juga sepatu warna pink. Tampilan Vina benar benar sempurna. Siapapun tidak yakin saat melihat sekilas saja kalau itu Vina. Vina benar benar merubah tampilannya.
Vina kemudian turun menuju meja makan. Maya juga sudah terlihat memakai pakaian rumahannya.
"Wow cantiknya." ujar Maya sambil memutar muat badan Vina.
__ADS_1
"Loe sahabat gue yang namanya Vina kan ya?" ujar Maya lagi.
"Ah norak loe." jawab Vina.
"Bik Imah, menurut bik Imah berubah tidak penampilan Nona yang satu ini?" tanya Maya kepada bik Imah yang sedang meletakan potongan buah.
"Iya Nona. Nona makin cantik." jawab Bik Imah.
Sari yang baru masuk juga kaget melihat penampilan Vina. Dia menatap Vina lama.
"Loe jangan ngomong tampilan gue berubah juga ya Sar." ujar Vina sambil duduk di kursi meja makan.
"Memang beda Nona. Nona makin cantik." ujar Sari lagi.
Vina hanya bisa diam saja. Dia tidak mampu lagi berkata apa apa.
"Ye la terserah aja." jawab Vina.
"Duduk Sar, kita makan dulu. Kamu selama di negara ini jarangkan ya makan masakan asli buatan orang negara I?" kata Vina menatap Sari.
"Sangat jarang Vin. Boleh dikatalan tidak pernah." jawab Sari.
Vina kemudian mengambil sarapannya, setelah itu Maya, kemudian baru Sari mengambil sarapan.
Sari menyuap sesendok nasi goreng kampung yang baru kali ini di makannya.
"Wow enak banget. Siapa masak Vin?" tanya Sari.
"Maya. Siapa lagi." jawab Vina sambil menatap Maya dengan bangga.
"Keren. Kalau buka restoran negara I di sini dengan masakan seenak ini di jamin langsung laris." ujar Sari dengan semangat.
Sari sukses menghabiskan satu porsi besar nasi goreng kampung. Dia benar benar kenyang.
Sari kemudian merasa malu saat melihat nasi gorengnya habis tak bersisa malahan pakai acara nambah segala.
"Hehehehe, maaf Vin jadi nambah. Tapi beneran ini enak banget." kata Sari jujur.
"Nggak apa apa. Loe makan di sini aja terus. Gue dan Maya jadi senang ada kawan makan yang makin rame." ujar Vina mengajak Sari untuk makan di rumah itu.
"Gue bisa pertimbangkan. Yolah berangkat." ujar Sari.
__ADS_1
Vina dan Sari kemudian berangkat ke kantor. Sedangkan Maya kembali berkutat dengan menu menu sarapan yang akan dibuatnya setiap hari.