
Danu melajukan mobilnya dengan kencang menuju perusahaan milik Ranti istrinya. Danu tidak sabar ingin membicarakan perihal kehidupan rumah tangganya yang sudah sangat berada di ujung tanduk itu. Danu sudah tidak ingin meneruskan rumah tangganya dengan Ranti. Danu sudah diberi lampu hijau oleh orangtuanya dan juga anaknya untuk menceraikan Ranti.
Mereka semua sudah tau bagaimana Ranti selama ini bersikap. Ranti yang tidak pernah mengurus suami dan juga anaknya. Malahan sekarang mereka sudah tau kalau Ranti sudah berselingkuh di belakang Danu.
Jalanan ibu kota seperti mendukung Danu untuk menggeber laju mobilnya, jalanan begitu sepi, tidak seperti biasanya, mobil tidak begitu ramai. Danu mengambil kesempatan ini untuk cepat sampai ke perusahaan Ranti.
Akhirnya setelah berkendara selama tiga puluh menit, Danu sampai juga di perusahaan Ranti. Danu memarkir mobilnya di tempat parkir biasa. Dia tidak pernah mau memarkir mobilnya di tempat khusus para dewan direksi.
Danu turun dari mobilnya, dia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan. Semua karyawan yang mengenal Danu langsung menundukkan kepalanya memberi hormat kapada Danu. Danu selain suami dari CEO perusahaan juga merupakan dewan direksi dan pemegang saham terbanyak nomor dua di perusahaan Ranti.
Danu masuk ke dalam luft yang dikususkan untuk para direksi. Danu menekan nomor lantai tempat ruangan Ranti berada. Danu menahan gejolak hatinya, dia berusaha menahan emosi yang takut dia keluarkan.
Ting,bunyi pintu luft terbuka. Sekretaris Ranti yang sedang duduk di kursinya langsung berdiri menyambut tamu yang datang. Di lantai itu hanya ada tiga ruangan. Pertama ruangan Ranti, ruangan asisten dan ruang meeting. Makanya sudah bisa dipastikan kalau yang datang adalah tamu dari CEO.
Danu keluar dari dalam lift. Dia langsung menuju ke arah ruangan Ranti. Sekretaris yang melihat langsung menyapa Danu.
"Maaf Tuan Danu, mau bertemu dengan Nyonya Ranti?" kata sekretaris sambil melihat ke Danu.
"Yup. Apa bos kamu ada?"
"Maaf Tuan. Nyonya sedang tidak berada di tempat. Nyonya sedang meeting di luar." kata Sekretaris dengan nada takut dan cemasnya.
"Tapi dia balik lagi ke kantorkan siap meeting?" tanya Danu sambil menatap sekretaris Ranti.
"Balik Tuan" jawab sekretaris sambil menunduk. Dia takut menatap mata Danu.
"Oke. Saya tunggu di dalam saja" kata Danu.
Danu kemudian masuk ke dalam ruangan Ranti. Dia sudah memutuskan akan menunggu Ranti sampai datang. Danu menunggu Ranti sambil video call dengan anaknya.
"Sayang"
"Ayah. Adek kangen. Kapan jemput ayah?" kata Deli anak semata wayang Danu.
"Adek sabar dulu ya. Urusan ayah belum selesai. Kalau udah selesai, ayah janji akan langsung jemput adek ke rumah nenek sayang"
"Ayah. Ayah sedang dimana?"
"Ayah sedang di kantor bunda sayang."
"Ngapain ayah di situ? Bunda kan jahat sama ayah. Harusnya ayah di kantor ayah aja" kata anak Danu mulai terlihat marah.
"Sayang, ayah harus ke kantor bunda. Ayah harus menyelesaikan masalah ayah dengan bunda kan. Makanya ayah ke sini" kata Danu memberikan pengertian kepada anaknya.
"Apa bundanya ada?" kata anak Danu.
__ADS_1
"Nggak sayang. Bundanya sedang meeting di luar kantor"
"Palingan pergi pacaran lagi yah, bundanya. Ayah pulang ajalah" kata anak Danu.
"Nanti ya nak. Pas udah jam lima kalau bunda tidak datang ayah akan pulang"
"Janji ya yah"
"Janji sayang. Oh ya nenek mana?" kata Danu yang mencari ibunya.
"Ada di dapur. Adek kasih nenek dulu ya yah"
Deli kemudian turun untuk menemui neneknya yang sedang berada di dapur.
"Nenek, ada telpon dari ayah Nek" kata Deli sambil memberikan ponselnya kepada nenek.
"Mana sayang" kata nenek meminta ponsel Deli.
"Deli harus nonton tv dulu. Nggak boleh anak kecil mendengar pembicaraan orang besar ya sayang"
"Oke nenek. Katakan sama ayah, ayah akhir pekan harus ke sini." kata Deli.
"Siap nona kecil" jawab nenek.
"Ada apa Dan?"
"Ma, aku sekarang berada di perusahaan Ranti. Aku sudah membulatkan tekad akan bercerai dengan dia"
"Mama setuju nak. Tapi apa Ranti mau kehilangan separo perusahaannya?"
"Mama tenang aja. Aku udah dapat jalannya. Semoga saja Deli mau"
"Syukurlah nak. Bagi Papa dan Mama yang terpenting adalah kamu dengan Deli bahagia sayang. Itu aja."
"Ma, ada satu hal yang mau aku ceritain Ma. Aku pusing, tidak tau mau cerita ke siapa" kata Danu.
Mama melihat Danu bener bener dalam keadaan panik. Terlihat dari raut wajahnya yang sudah seperti kain yang tidak di gosok.
"Ada apa nak?"
"Mama, kalau aku pisah dengan Ranti, rumah yang aku tempati sekarang aku jual ya"
"Kenapa?"
"Ranti kemaren bawa selingkuhannya indehoy di rumah selama aku dinas luar"
__ADS_1
"Kamu tau dari siapa sayang? Udah cek kebenarannya?""
"Aku yang nangkap basah Ma. Jadi nggak perlu di cek kebenarannya lagi. Udah bener" kata Danu sambil mengusap mukanya.
"Sayang yang sabar ya nak."
"Alhamdulillah aku sabar Ma."
" Oh ya Ma, tolong tanya Deli, apakah dia setuju aku jual rumah ini atau tidaknya Ma. Sepertinya Deli dengan mama nurut. Aku nggak sampai hati mengatakannya kepada dia" lanjut Danu sambil kembali mengusap mukanya, Danu benar benar tidak menyangka semua kejadian buruk ini menimpa dirinya dan Deli.
"Baiklah nak. Nanti mama dan papa akan berusaha berbicara dengan Deli. Anak mu walaupun masih sangat kecil tapi sudah berpikiran dewasa." kata Mama.
"Itulah Ma. Dia menjadi terpaksa dewasa. Keadaan yang membuat anak ku cepat dewasa Ma." kata Danu dengan nada penuh penyesalan.
"Sayang, jangan menyesal dan menyalahkan diri kamu. Kamu tidak salah nak. Bundanya yang tidak menerima keberadaannya. Jadi kamu sebagai orang tua tunggal harus bisa memposisikan dirimu menjadi ayah dan juga menjadi bunda. Kami orang tua akan selalu mensuport segala keputusan mu nak" kata Mama.
"Makasih Ma. Aku sekarang sudah mulai tenang. Aku sangat mengkhawatirkan Deli Ma. Deli segala galanya bagi ku. Aku sebenarnya tidak ingin pisah Ma. Tapi apalah dayaku. Aku nggak mungkin membiarkan Deli melihat tingkah laku bundanya yang seperti itu" kata Danu.
Tiba tiba muncul wajah Deli di layar ponsel Danu.
"Ayah. Deli walaupun kecil Deli kuat Ayah. Deli sudah tau bunda tidak suka Deli. Jadi tinggalkan aja bunda ayah. Kita cari bunda baru yang sayang ayah dan sayang Deli."
"Deli juga tidak apa apa ayah jual rumah. Kita beli rumah baru. Ndak apa apa kecil. Asal ada ayah di sana."
"Deli tidak mau ayah sedih terus"
"Deli sayang ayah. Nenek sama Kakek sayang ayah juga"
"Jadi ayah jangan lemah ya ayah. Ayah harus selalu kuat" kata Deli.
"Iya sayang. Ayah akan selalu kuat untuk adek. Ayah nggak akan nangis lagi. Ayah sayang adek. Ayah sayang nenek dan kakek. Ayah akan cari bunda baru" kata Danu.
"Oke ayah. Ayah, Deli mau mandi. Jadi nanti kita sambung lagi ayah. Malam. Deli tunggu telpon ayah"
"Oke sayang. Malam ayah telpon."
"Assalamualaikum ayah ganteng"
"Waalaikum salam Deli anak ayah canti"
Danu kemudian mengusap air matanya yang jatuh saat mendengar kata kata semangat dari bocah kecilnya itu. bocah yang terpaksa harus menjadi dewasa, karena kemelut rumah tangga orang tuanya.
"Sayang. Ayah sayang kamu nak"
kata Danu mengusap foto Deli di dalam ponselnya.
__ADS_1