Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Healing Maya ####


__ADS_3

"Vin, Ivan mau ke sini sama Iwan. Jadi, kita serahin ke Ivan." ujar Sari kepada Vina.


"Kita turun ke lobby." ujar Sari sambil mengambil dompetnya dan ponselnya yang lain.


Vina melakukan hal yang sama, dia juga mengambil dompet dan ponsel miliknya yang sedang di charge. Vina tidak tau kemana harus mencari sahabatnya yang ternyata sudah pergi semenjak mereka pergi ke mall.


Vina dan Sari kemudian turun ke lobby. Mereka akan menunggu Ivan dan Iwan di sana. Mereka berdua pusing tidak tau lagi kemana mau mencari Maya.


"Bentar Sar. Tadi kita tidak sempat bertanya dengan resepsionist jam berapa Maya pergi dari hotel." ujar Vina ingin memastikan jam berapa Maya ke resepsionist saat Maya menitipkan kunci kamar mereka.


"Benar Vin. Kenapa nggak kepikiran ya." jawab Sari lagi.


Mereka berdua menuju resepsionist untuk memastikan jam berapa sebenarnya Maya meninggalkan hotel. Apakah sama dengan jam yang dikatakan oleh Jeri atau tidak.


"Permisi Mbak bisa menanyakan sesuatu?" tanya Vina kepada resepsionist.


"Bisa Kak. Ada apa?" ujar resepsionist hotel dengan ramah.


"Kalau boleh kami tau jam berapa ya teman kami Maya menitipkan kunci hotel saat dia pergi tadi siang?" tanya Vina mengatakan apa pertanyaannya.


"Oh bentar kak, saya cek dulu. Kakak kamar nomor berapa?" ujar resepsionist.


"Kamar 21523" ujar Vina menyebutkan nomor kamar mereka.


"Saya ulangi ya Kak, 21523" ujar resepsionist sambil memasukkan angka angka itu ke dalam aplikasi.


"Sekitar jam dua siang kak." ujar resepsionist.


"Makasi kakak atas bantuannya." ujar Vina sedangkan Sari hanya tersenyum saja.


"Sama sama Kak." jawab resepsionist.


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan temoat resepsionist. Mereka duduk di sofa yang ada di lobby hotel.


"Pas jam nya Vin. Berarti Maya memang sudah merencanakan akan pergi." ujar Sari lagi sambil memainkan ponsel miliknya.


"Sar, pas kita baru sampe di hotel, Maya langsung menuju balkon kan ya, sambil memainkan ponsel miliknya." ujar Vina mengingat Maya yang memang sempat ke balkon dan memainkan ponsel miliknya di sana.


"Ya benar. Jadi menurut loe, kaburnya Maya berkaitan dengan siapa yang dichatnya gitu?" ujar Sari yang bisa membaca tujuan dan maksud Vina mengatakan hal itu.


"Yup. Menurut analisa gue begitu, karena nggak mungkin Maya pergi tanpa sebab, gue kenal banget siapa Maya." ujar Vina sambil menselonjorkan kakinya.


Tak berapa lama, Ivan dan Iwan datang. Mereka berdua terlihat panik.


"Kita ngobrol dimana Bang?" tanya Vina yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui Maya dimana.

__ADS_1


"Lounge hotel saja." jawab Ivan.


Mereka berempat kemudian masuk ke dalam lift untuk menuju lounge hotel yang berada di lantai enam belas hotel.


Vina memesan makanan dan juga minuman untuk mereka berempat.


" Jadi ceritanya gimana Vin?" tanya Ivan kepada Vina dan Sari.


"Jadi, saat kami pulang dari belanja ke mall, kami tidak menemukan Maya di kamar. Jeri yang merupakan co pilot mengatakan kalau dia bertemu dengan Maya jam duaan di lobby hotel saat Maya mau masuk ke dalam sebuah mobil." ujar Vina mulai bercerita.


"Saat itu Maya mengatakan kepada Jeri kalau dia akan bertemu Bang Ivan di sebuah cafe. Makanya kami sama sekali tidak menaruh curiga sama sekali. Nah jam delapan malam Maya masih juga belum pulang. Kami hubungi ponselnya sudah tidak aktif lagi. Makanya kami hubungi Bang Ivan menanyakan Maya bersama abang atau tidak. Dan jawabannya adalah tidak." ujar Vina dengan nada sedih. Vina sudah tidak bisa lagi berbuat apa apa.


"Jam dua?" ujar Ivan mengulang ulang jam berapa diperkirakan Maya meninggalkan hotel.


"Maya pas kami baru datang ke hotel langsung menuju balkon untuk ngechat seseorang. Apa abang yang dichatnya?" tanya Sari sambil menatap tajam ke arah Ivan.


"Yup benar. Memang jam segitu Maya sempat chat Abang." ujar Ivan.


"Apa isinya?" tanya Sari lagi. Sari sudah yakin ini pasti ada kaitannya dengan Ivan.


"Permisi Nona Tuan, ini pesanannya." ujar pelayan sambil menghidangkan di atas meja makanan dan minuman pesanan Vina tadi.


"Mangatakan kalau dia sudah di hotel." jawab Ivan.


"Dia meminta maaf karena masalah di kota J." ujar Ivan lagi dengan pelan.


"Apa, di balas semua chatnya?" lanjut Sari.


Ivan menggeleng. Ivan baru sadar, kaburnya Maya, berkaitan dengan dirinya yang tidak balas chat dari Maya.


"Fix Maya kabur pasti ada hubungannya dengan permasalahan itu." ujar Sari sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.


Vina langsung meletakkan kepalanya ke atas meja. Dia tidak menyangka kaburnya Maya juga karena masalah percintaan. Dua sahabat yang senasib dalam masalah percintaan mereka berdua.


Sari menatap tajam Ivan. Dia tidak menyangka kakak kandungnya yang hanya satu satunya ini akan bertindak bodoh dengan tidak membalas chat kekasihnya hanya karena marah dan hal sepele.


Mereka berempat cukup lama terdiam. Iwan, Vina dan Sari mengarahkan pandangannya ke arah Ivan.


"Sekarang harus bagaimana? Kemana harus dicari?" tanya Sari sambil menatap ketiga sahabatnya.


Ivan mengeluarkan laptop miliknya. Dia kemudian meminta akses wifi kepada Sari. Sari menyebutkan kata sandi wifi hotel.


"Apa Maya meninggalkan ktpnya?" tanya Ivan yang membutuhkan data data Maya untuk melacak keberadaan kekasihnya itu.


"Nggak tau juga. Kami belum cek keadaan kamar." jawab Vina.

__ADS_1


Vina dan Sari memang belum mencek keadaan kamar saat mereka yakin kalau Maya telah kabur dari hotel tempat mereka menginap.


"Kita harus kembali ke kamar." ujar Ivan.


"Pakai kartu ponselnya saja emang nggak bisa?" ujar Iwan yang ingat dulu Ivan melacak keberadaan Ranti istri Danu yang gesrek itu melalui nomor ponsel.


"Ponselnya nggak aktif Bang. Gimana mau ngelacak pakai itu." ujar Ivan lagi.


Mereka berempat kemudian berdiri dari kursi masing masing. Mereka akan melacak lewat kartu identitas milik Maya. Mereka semua kembali menuju kamar. Mereka berharap Maya meninggalkan identitas miliknya.


Saat menuju kamar itulah Juan berselisih dengan Ivan. Juan menundukkan kepalanya. Ivan membalas dengan menundukkan kepalanya. Mereka sengaja tidak saling bertegur sapa karena ada Vina di antara mereka.


Mereka berempat masuk ke dalam kamar Vina. Mereka akan mencari identitas Maya kalau masih ada yang tertinggal. Juan yang penasaran dengan apa yang terjadi memiliki rencana tersendiri untuk bisa masuk ke dalam kamar itu.


Mereka menyebar mencari segala sesuatu milik Maya yang tertigal. Tiba tiba terdengar bunyi pintu yang di ketuk. Vina yang paling dekat dengan pintu kamar membuka pintu. Terlihat Juan sedang berdiri di depan pintu.


"Masuk Juan" ujar Vina.


Juan melangkah masuk ke dalam kamar. Dia melihat orang orang yang sibuk mencari sesuatu di kamar seperti ada benda penting yang hilang.


"Sayang apa yang hilang?" ujar Juan kepada Sari yang mencari sesuatu di dekat meja.


"Maya kabur. Ini sedang cari identitasnya." ujar Sari menatap Juan sebentar.


Mereka kemudian melanjutkan pencarian begitu juga dengan Juan.


"Koper Maya udah perisa belum?" ujar Juan yang melihat tidak satupun dari mereka yang memeriksa koper milik Maya.


Vina mengambil koper milik Maya. Vina membuka koper itu. Ternyata di sana ada dompet milik Maya yang di dalamnya lengkao identitas Maya yang sengaja ditinggal.


"Sari ini." ujar Maya memberikan kepada Sari sebuah tanda pengenal milik Vina.


"Oh ya Bang Ivan, kenalkan ini Juan kekasih Sari." ujar Sari pura pura mengenalkan Juan kepada Ivan yang padahal sudah kenal sangat dekat. Juan adalah sahabat terbaik Ivan dari dulu. Mereka mempunyai kemampuan yang sama dalam mencari seseorang.


"Juan" ujar Juan bersalaman dengan Ivan.


"Ivan" jawab Ivan yang menatap Juan dengan tatapan lucu.


"Iwan" ujar Iwan yang memang baru kenal Juan. Tapi Iwan sudah yakin kalau Ivan sudah lama kenal dengan Juan.


"Bang ini" ujar Sari memberikan kartu pengenal Maya.


Mereka kemudian menuju balkon. Mereka akan mencek keberadaan Maya melalui kartu identitas itu.


Ivan mengaktifkan kembali ponselnya. Dia mulai memasukkan nomor identitas Maya ke dalam aplikasi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2