Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu Lupa


__ADS_3

"Sayang, ayuk dimakan cake dan juga jus jeruknya" ujar Vina meminta Deli untuk menikamti kue dan juga jus jeruk yang sudah dibuatkan oleh bartender yang ada di kafe milik Vina, Maya dan Sari itu.


Deli kemudian menyuap kue miliknya ke dalam mulut. Dia merasakan kue tersebut. Deli kemudian tersenyum, Vina melihat senyum dari Deli.


"Kok senyum? Ada apa?" tanya Vina penasaran dengan makna senyuman Deli saat dia menyuap cake yang dihidangkan pelayan.


"Karena, Deli sangat tahu ini kue buatan siapa, makanya Deli menjadi tersenyum saat menikmati rasanya" ujar Deli menjawab pertanyaan Vina dengan cara Deli sendiri.


"Emangnya kenapa?" tanya Vina penasaran dengan analisa yang diberikan oleh Deli.


Vina meletakkan dagunya di kedua tangannya yang diberdikan.


"Kenapa Deli tersenyum, karena cake ini sama rasanya dengan cake yang dulu dulu pernah Deli rasakan" ujar Deli menjawab pertanyaan dari Vina.


"Ini Bunda kue yang buatkan." ujar Deli menebak siapa yang membuat kue tersebut.


"Nggak," jawab Vina berusaha mengelabui Deli.


"Bunda kue nggak bisa boong. Deli sangat hafal rasanya, karena Deli yang menghabisi cake itu sendirian" ujar Deli mengakui betapa dia sama sekali tidak mau berbagi dengan siapapun saat itu.


"Hah!!!" Vina menganga tidak percaya saat Deli mengatakan kalau dialah yang menghabiskan semua kue yang dibawa oleh Danu hari itu ke rumah Mami.


"Serius kamu sayang, kalau kanu sendiri yang menghabiskan kue itu satu loyang?" tanya Vina yang sangat perlu diyakinkan oleh Deli kalau apa yang dikatakan oleh Deli adalah benar.


"Iya Bunda. Deli yang menghabiskan sendiri, nggak ada dibantu siapapun" ujar Deli meyakinkan Vina kalau memang dia sendiri saja yang menghabiskan kue itu sendirian.


"Oh baiklah satang, berarti kamu memang sangat sangat menyukai kue buatan Bunda. Besok Bunda janji akan membuatkan Deli kue lagi" ujar Vina sambil menatap ke arah Deli.


Deli terus saja menghabiskan kue miliknya. Dia menunggu nunggu apakah Bunda kue akan menanyakan tentang Ayah Danu atau tidak. Kalau seandainya Bunda kue tidak menanyai dengan siapa Deli datang ke kafe, maka Deli tetap akan memberitahukan Bunda kue kalau dia datang dengan Ayah Danu.


Vina menatap Deli dengan tatapan penuh kerinduan. Vina sama sekali tidak menyangka kalau anak di depannya sekarang ini adalah anak yang tidak diharapkan oleh kehadiran Ayah dan Ibunya. Malahan di asuh dan di sayangi oleh Ayah tiri yang terkecoh oleh ulah ibu kandung dari anak itu sendiri.


"Sayang, bunda baru ingat. Kamu ke negara ini dengan siapa?" tanya Vina yang berharap Deli menjawab dengan Danu.


"Dengan semua semuanya Bunda" jawab Deli yang tidak secara spesifik mengatakan dengan siapa dia ke negara U.


Vina menatap Deli sambil tersenyum simpul. Dia tidak menyangka kalau Deli akan mengerjai dirinya seperti sekarang ini.


"Sayang, dengan siapa? Atau mau Bunda gelitiki biar ngaku dengan siapa?" ujar Vina menggoda Deli calon anak angkatnya itu.

__ADS_1


"Hehe hehe hehe. Jangan gitu Bunda. Deli ke negara ini dengan Atuk, Nenek dan juga ya itu dia itu" ujar Deli sambil menunjuk ke arah tempat Ayahnya duduk.


Vina menatap ke arah yang di tunjuk oleh Deli. Vina meneteskan air matanya saat melihat punggung pria tersebut.


"Bunda kenapa menangis? Bunda sedih karena Ayah ke sini?" tanya Deli saat melihat Vina yang meneteskan air matanya saat melihat pria yang selama ini dirindui nya.


"Bunda nggak sedih sayang, Bunda malahan sangat bahagia karena Ayah datang ke sini. Bunda bener bener bahagia sayang" ujar Vina mengatakan kenapa dia sampai menangis kepada Deli.


"Ooo tangis bahagia. Deli kira tangis sedih tadi Bunda." ujar Deli yang sangat senang Vina bahagia karena Danu datang menghampiri nya.


Deli melanjutkan makan cakenya yang tinggal sedikit itu.


"Ayuk Bun, kita ke tempat pria termalang sedunia itu" ujar Deli mengajak Vina untuk ke tempat Ayahnya duduk.


Mereka kemudian berjalan menuju tempat Danu berada. Vina dan Deli sengaja berjalan pelan menuju tempat itu. Mereka mengendap ngendap berjalan ke sana.


"Kita kagetkan Ayah ya sayang. Biar Ayah kaget kamu bertemu dengan Bunda" ujar Vina memberikan instruksinya kepada Deli.


"Asiap Bunda" ujar Deli.


Vina dan Deli sudah dekat dengan Danu. Vina kemudian memeluk Danu dari belakang. Danu langsung kaget saat ada yang memeluknya dari belakang.


Danu memaksa melepaskan tangan itu. Tetapi Vina semakin erat memeluk Danu. Danu kemudian melihat ke arah belakang. Vina memberikan senyumannya kepada Danu. Senyuman yang mengandung berjuta makna. Danu hanya bisa ternganga melihat siapa yang memeluknya dari belakang itu.


Wanita yang paling dirindui oleh Danu selama ini, yang pada akhirnya bisa ditemui oleh Danu di negara U. Negara yang semula hanya dijadikan tempat untuk menyimpan Deli dari kejaran Ranti.


"Iya aku, kangen nggak?" tanya Vina kepada Danu yang masih memegang tangannya yang dari tadi memuk pinggang Danu.


Deli menatap Ayah dan calon bundanya itu dengan tatapan protes. Vina dan Danu melihat kearah Deli yang menatap tajam kepada mereka berdua.


"Kenapa?" tanya Danu kepada Deli.


"Emang aku nggak orang. Ayah dan Bunda main peluk peluk aja. Aku nggak Ayah peluk, nggak Bunda peluk" ujar Deli protes kepada Danu dan Vina.


"Sini" ujar Danu


Danu kemudian mendudukkan Deli di atas pangkuan Danu. Sedangkan Vina masih memeluk Danu sekarang ditambah dengan Deli.


Seorang pelayan kafe lewat di depan mereka bertiga.

__ADS_1


'Kebetulan' ujar Vina dalam hatinya.


"Hendri, tolong ambilkan foto kami bertiga ya" ujar Vina sambil memberikan ponsel milik Vina kepada Hendri yang rencananya akan mengambil piring kotor di meja depan Danu duduk.


"Baik Nona" ujar Hendri yang langsung menuju tempat duduk Vina.


Hendri mengambilkan fhoto mereka bertiga. Senyuman manis terkembang di bibir mereka bertiga. Wajah wajah bahagia terpampang jelas di wajah mereka bertiga.


Danu, Vina dan Deli menampilkan berbagai gaya mereka untuk diabadikan oleh Hendri. Hendri dengan setia mengambil setiap moment yang ada. Sudah puluhan fhoto yang diambil oleh Hendri.


"Terimakasih Hendri" ujar Vina berkata kepada Hendri.


Hendri memberikan ponsel milik Vina kembali.


"Bunda tengok fhotonya" ujar Deli yang penasaran bagaimana rasanya memiliki fhoto keluarga.


Vina memberikan ponselnya kepada Deli. Deli kemudian melihat lihat fhoto mereka bertiga.


"Ini aku nggak cantik. Paman tukang ambil fhotonya jahat" ujar Deli protes saat melihat satu fhoto yang dia sedang memejamkan mata.


"Mana tengok" ujar Vina.


"Bunda duduk sini" ujar Deli meminta Vina pindah ke dekat dirinya duduk.


"Kamu yang pindah ke tengah. Sini Ayah pangku. Nggak boleh nyuruh nyuruh orang tua. Berdosa" ujar Danu meminta Deli untuk duduk di atas pangkuan Danu.


Deli berpindah duduk ke atas pangkuan Danu. Deli kemudian memberikan ponselnya kepada Vina.


Vina kemudian melihat fhoto yang dikatakan oleh Deli, dia terlihat jelek di sana.


"Bunda juga jelek di sini Del. Kita hapus aja ya?" ujar Vina meminta persetujuan Deli untuk menghapus fhoto mereka yang itu.


"Lihat" ujar Danu mengambil ponsel dari tangan Vina.


Vina memberikan ke Danu.


"jangan di hapus. Ayah keren di sini" ujar Danu yang sebenarnya hanya ingin membuat Deli dan Vina heboh.


"Biarin ajalah fhotonya. Mana mungkin orang ber fhoto harus cantik terus. Ya nggak la" ujar Danu menasehati anak dan juga kekasihnya itu.

__ADS_1


"Ya lah nggak usah hapus" ujar Deli pasrah dengan keinginan ayahnya.


Mereka kemudian melihat lihat fhoto fhoto yang lain. Kadang kadang mereka tertawa saat melihat hasil fhoto. Kadang Deli cemberut karena dia beranggapan kalau dia tidak cantik di sana. Sedangkan Danu merasa paling keren terus saat melihat hasil fhoto.


__ADS_2