Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
makan malam ##


__ADS_3

"Hem sekarang bahas aku atau bahas siapa coba" Ujar Ivan yang tidak paham agenda makan malam hari ini untuk membully dirinya atau untuk membicarakan masalah Sari dan Juan.


"Hahahahahaha. Dia kesal" ujar Ayah dan Sari kompak.


Ayah dan Anak itu kemudian bertos ria karena telah berhasil membuat Ivan menjadi kesal. Jarang jarangnya mereka berdua bisa membuat Ivan kesal. Sekalinya mereka bertemu makan dengan berbagai cara mereka harus bisa membuat Ivan menjadi luar biasa kesal.


"Sudah mari kita makan. Aku lapar." ujar Ivan yang menjadikan makan sebagai alasan untuk dirinya terbebas dari siksaan omongan Ayah dan Anak perempuannya yang luar biasa kompak itu.


Juan memberikan kode kepada Sari untuk diam dan tidak lagi memojokkan Ivan. Sari menuruti apa yang diminta oleh Juan.


" Sudah mari kita makan malam. Nanti kita lanjutkan lagi obrolannya." ujar Ayah berdiri dan langsung menuju meja makan yang berada di balkon Panthouse.


"Wow, ini keren. Banyak banget, siapa yang masak Ayah?" ujar Sari menatap menu makan malam yang banyak terhidang di meja makan.


"Siapa lagi, emang tu orang bisa masak." ujar Ayah menunjuk ke arah Ivan.


"Hahahahaha. Mana ada dia bisa masak." ujar Sari yang kembali mulai terpancing Ayah.


"Sayang" ujar Juan kembali mengingatkan Sari.


"Hehehehe. Ayah jangan pancing aku lagi" ujar Sari protes ke Ayahnya yang daritadi adi terus saja memancing Sari untuk mulai mengejek Ivan.


"Lah kenapa Ayah yang kamu salahin. Ayah nggak ada ngapa ngapain juga." ujar Ayah membela dirinya.


"Mana ada nggak ngapa ngapain. Ayah yang mulai duluan" ujar Sari membela dirinya.


"Ayah, Sari mau makan malam atau nggak. Kalau nggak aku dan Juan aja yang makan malam" kata Ivan yang sudah kesal dengan kelakuan Ayah dan Anak yang sama saja. Sama sama membuat dirinya kesal.


Sari kemudian mengisi piring Ayah, Ivan dan Juan dengan menu makan malam yang sudah disiapkan oleh Ayah dan Ivan.


"Sayang mau pake sambal apa?" tanya Sari kepada Juan.


"Sayang mau makan apa?" Ivan mengulang pertanyaan yang sama kepada Ayah.


"Hahahahaha. Kapan mau makannya ini kalau kiri kanan depan belakang ngejek semuanya." ujar Ayah menghentikan candaan yang akan dimulai lagi.

__ADS_1


Juan kemudian mengambil sambal yang diinginkannya. Begitu juga dengan Ayah dan Ivan mereka juga mengisi piring mereka sendiri dengan sambal yang mereka ingiinkan.


Mereka kemudian makan malam dalam keheningan, tidak ada lagi mendengar ejekan apapun. Mereka semua fokus dengan makanan yang ada di dalam piring mereka masing masing.


"Juan mari pindah ke ruang keluarga" ujar Ayah mengajak Juan untuk duduk duduk di ruang keluarga.


Merek akan melanjutkan obrolan mereka di sana. Sedangkan Sari membereskan meja makan, dia menyimpan semua kelebihan makanan ke dapur dan membawa piring kotor ke tempat mencuci piring. Sari memasukkan piring kotor ke dalam mesin pencuci piring.


Setelah selesai dengan semua pekerjaan dapurnya, Sari berjalan menuju Ayah dan yang lainnya yang berada di ruang keluarga. Sari akan ikut mengobrol dengan mereka. Sari kemudian memilih duduk di dekat Ivan. Juan duduk di sofa yang hanya muat untuk dirinya saja.


"Jadi Juan. Kapan kamu mulai mengenal anak gadis Ayah ini? " tanya Ayah kepada Juan.


"Sudah sejak tiga tahun yang lalu Ayah. Tetapi hubungan kami mulai serius satu tahun ke belakang" ujar Juan menjawab pertanyaan dari Ayah.


"Oh berarti kalian sudah lama saling kenal. Kenapa baru sekarang berkunjung kemari?" tanya Ayah selanjutnya.


"Karena, saya rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk berkunjung Ayah. Di satu sisi saya sudah bisa hidup mapan dengan hasil kerja saya sendiri." jawab Juan dengan nada pasti.


"Emang apa kerjaan kamu sekarang Juan?" tanya Ayah berikutnya.


"Kalau kayak gini caranya, aku batal membawa Maya bertemu dengan Ayah di negara U. Aku takut Maya jadi syok karena pertanyaan Ayah yang membabi buta seperti ini." Lanjut Ivan menyuarakan protesnua kepada Ayah.


"Ye kamunya aja yang protes. Juan aja yang Ayah tanya tanya nggak ada sama sekali protes. Kenapa kamunya yang protes." ujar Ayah yang tidak terima konplenan dari Juan.


"Juan, apa kamu protes Ayah bertanya terus kepada kamu?" ujar Ayah ingin memastikan langsung kepada Juan apakah Juan protes atau tidak dengan Ayah yang selalu bertanya.


"Tidak Ayah. Tidak ada yang salah dengan Ayah selalu bertanya. Itu hak Ayah memastikan kalau anak Ayah ditangan seseorang yang tepat." jawab Juan dengan bijak.


Juan memang sama sekali tidak risih dengan Ayah yang selalu bertanya kepada Juan.


"Kalau Ayah yadi bertanya apa pekerjaan saya, maka jawabannya adalah saya pilot pesawat di CT Grub." ujar Juan.


Ivan menendang kaki Juan yang berada di sampingnya. Juan menatap Ivan.


"Aku juga seorang CEO dari perusahaan Perez grub di negara S." ujar Juan memberitahukan siapa dia sebenarnya.

__ADS_1


Sari menatap Juan menuntut penjelasan kenapa Juan mengatakan kalau dia adalah CEO dari perusahaan Perez grub yang sangat terkenal di negara S.


"Maaf sebelumnya sayang. Saat kita bertemu, kita sama sama menutupi siapa diri kita sebenarnya. Seperti kamu yang menutupi identitas kamu yang ternyata anak dari presiden direktur CT Grub." ujar Juan membuka cerita.


Sari yang ingin marah membatalkan niatnya karena saat bertemu dan berkenalan dengan Juan, dia juga tidak menyebutkan siapa dirinya sebenarnya.


"Jadi kamu adalah putra tinggal Dengan Perez?" tanya Ayah kepada Juan.


"Ya Ayah. Tapi saya mohon jangan lihat saya sebagai anak dari Damian Perez tetapi lihatlah saya sebagai Juan." ujar Juan berkata memohon kepada Ayah.


"Juan, Juan. Saya tidak pernah memandang seseorang berdasarkan nama belakangnya. Bagi saya siapapun jodoh anak saya, kalau mereka baik saya akan setuju. Harta bisa kok dicari terakhir. Tidak perlu di bawa dari dasar." uajr Ayah menjawab keluhan dari Juan.


"Terimakasih Ayah. Juan sangat senang Ayah menerima Juan atas nama Juan sendiri bukan karena nama belakang Juan." kata Juan kepada Ayah.


Juan menatap ke arah Sari. Sari terlihat sedikit marah di wajahnya.


"Kenapa kamu marah Sar?" tanya Ayah sambil menatap tajam Sari.


"Kamu sama Juan sama sama suda berbohong saat perkenalan pertama. Jadi, saling memaafkan saja. Memaafkan itu lebih baik dari pada kalian berdua musuhan." ujar Ayah meminta Sari untuk baikan dengan Juan.


"Aku nggak marah Ayah. Tetapi Juan harus menceritakan kenapa nya. Karena aku udah menjelaskan kepada Juan. Juan nya masih nyimpen terlalu lama identitas aslinya." Kata Sari yang tidak Terima Juan terlalu lama menyimpan siapa dirinya sebenarnya.


"Oke oke. Nanti dalam perjalanan pulang akan aku ceritakan." jawab Juan.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan seputar kegiatan mereka liburan kemaren. Tepat pukul sebelas malam, Juan dan Sari pulang kembali menuju apartemen Ivan dan rumah Iwan. Ayah sudah menawarkan untuk menginap di sana, tetapi Sari menolak karena tidak tau alasan apa yang akan diberikan kepada Vina dan Maya nantinya.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam. Mobil. Juan melakukan mobil menuju apartemen Ivan.


"Sayang ceritanya besok ajalah. Saat udah di negara U. Malas cerita sekarang. Udah malam" ujar Sari yang sudah merasakan kantuk dimatanya.


"Oke sip. Sekarang kamu tidur. Nanti pas udah sampe akan aku bangunkan." Kata Juan meminta Sari untuk beristirahat.


"Ogah" jawab Sari yang tidak mungkin membiarkan Juan mengemudikan mobil sendirian.


Mereka berdua kemudian mengobrol sepanjang jalan. Tak terasa mereka sudah sampai di depan lobby apartemen Ivan. Sari kemudian turun dari dalam mobil. Ivan mengantarkan Sari sampai ke depan pintu apartemen Ivan. Dia memastikan kalau Sari sudah sampai dengan selamat.

__ADS_1


Setelah memastikan Sari telah sampai dengan selamat di apartemen Ivan, Juan baru kembali ke dalam mobil. Juan melajukan mobil menuju rumah Iwan. Dia juga sangat lelah, terlebih tadi dia juga mempiloti pesawat dari kota P menuju ibu kota. Juan melajukan mobilnya sedikit agak cepat, dia sudah ingin merasakan kasur. Juan benar benar butuh istirahat sekarang ini.


__ADS_2