Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ide Ivan


__ADS_3

Pagi hari matahari seperti enggan untuk menampakkan dirinya di kampung. Hujan turun dengan derasnya, sehingga semakin membuat matahari enggan untuk keluar. Vina yang telah selesai memasak untuk sarapan, menghidangkan hasil masakannya di atas meja makan. Semua anggota keluarga sudah bangun dan membersihkan diri. Mereka sudah siap untuk melakukan aktifitas di pagi hari. Sayangnya cuaca sedang tidak bersahabat dengan mereka hari ini. Hujan turun dengan deras dan petir yang berbunyi menggelegar.


"Bapak, Ibuk, kita sarapan dulu aja. Mana tau nanti siap sarapan hujannya reda." ajak Vina yang telah selesai menata meja makan.


Sari dan Maya yang sedang bersiap siap di kamar, mendengar Vina mengajak mereka semua untuk sarapan langsung bergegas merapikan diri. Mereka tidak ingin Bapak dan Ibuk menunggu mereka terlalu lama.


Bapak dan Ibuk serta Vina telah duduk di kursi meja makan, Maya dan Sari kemudian menyusul duduk di kursi yang masih kosong. Mereka kemudian sarapan dalam diam. Kebiasaan yang selalu diterapkan oleh Bapak selama ini. Mereka sangat menghargai segala sesuatu yang terhidang di meja makan.


"Vina, gimana cara kalian untuk pergi hari ini, hari aja hujan" ujar Bapak sambil menatap keluar rumah. Hujan masih turun dengan derasnya membasahi bumi.


"Itulah Pak, kalau masih hujan juga menjelang jam sepuluh, kami nggak jadi berangkat. Tunda aja sampai besok." jawab Vina sambil menatap ke luar rumah melihat hujan masih turun dengan derasnya.


Mereka semua menjalankan aktifitas di rumah saja hari ini. Hujan tidak berhenti turun sama sekali. Membuat pekerja pekerja di ladang tidak bisa mencari nafkah.


Vina dan kedua sahabatnya juga memutuskan untuk membatalkan niat mereka pergi ke kota mencari pernak pernik kebutuhan kafe.


IBU KOTA


Pagi harinya, Iwan dan Ivan yang baru datang ternyata bersamaab datang dengan Danu. Danu menatap heran kepada mereka berdua.


"Kenapa bisa barengan?"


"Mobil gue maren mogok, jadi gue numpang Ivan pulang. Pagi Ivan jemput gue lagi." jawab Iwan yang radar ngeles cari alasan tergolong cepat.


Selesai mengatakan alasannya, Iwan pura pura menstater mobil yang tidak rusak itu.


"Wah montir keren." ujar Iwan memuji montir yang keberadaannya ntah dimana.


"Loe masih mau nengok mobil loe yang harusnya udah diganti itu, atau mau masuk?" ujar Danu sambil menatap Iwan yang masih setia di dalam mobil.


"Loe kayak pacar yang sedang cemburu aja Dan." jawab Iwan yang melihat tingkah aneh Danu pagi ini.


Mereka bertiga kemudian berjalan masuk ke dalam perusahaan. Ivan memandang Iwan, Iwan mrngangkat pundaknya tanda tidak tau apa yang terjadi dengan Danu.


Dua karyawan yang tau managernya sedang dalam kondisi tidak sehat itu, langsung saja menghidupkan komputer mereka masing masing. Iwan dan Ivan tidak ingin dimarahi oleh Danu hanya gara gara hal yang sangat sepele.


Mereka berdua kemudian sibuk dengan pekerjaan yang belum selesai. Tiba tiba ponsel milik Ivan memiliki notif sebuah pesan masuk.

__ADS_1


'Sayang, aku di kampung. Mau ke sini? Tapi bertemu di kota aja.' bunyi pesan yang dikirimkan oleh Maya.


'Kapan balik Ibu Kota?' balas Ivan.


'Kayaknya masih seminggu lagi. Sari nggak mau balik ibu kota. Katanya dia betah di kampung. Aneh itu anak.' ujar Maya yang tidak sadar telah menggosipkan calon adik iparnya sendiri.


'Oke. Aku akan ke sana dengan Bang Iwan. Dia sudah tau semua ceritanya.' balas chat yang dikirim Ivan.


'Oke. Tapi sayang dengan bang Iwan, seperti dinas ke sini aja ya. Jangan seperti sengaja datang ke sini ' pesan chat berikutnya.


'Oke. Tunggu aku di sana besok sayang' ujar Ivan.


Ivan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju ruangan Danu. Ivan membuka pintu ruangan.


"Permisi Pak, saya dipanggil Pak Direktur keruangannya. Mungkin berkaitan dengan surat pengunduran diri saya. Jadi, tujuan saya adalah meminta izin untuk menuju ruangan direktur." ujar Ivan kepada Danu.


Danu mengangguk mengizinkan Ivan untuk pergi menemui direktur. Ivan kembali ke mejanya.


"Kemana?" tanya Iwan penasaran.


"Ke tempat Ayah." jawab Ivan.


"Masuk" ujar direktur yang sudah pindah duduk ke sofa.


Ivan masuk dan langsung duduk di sebelah Ayahnya itu.


"Ada apa? Sepertinya sangat penting?" ujar Ayah.


"Bisa tolong buatkan surat untuk dinas luar ke kota C?" ujar Ivan.


"Masalah gampang. Pertanyaannya sekarang kenapa?" tanya balik Ayah.


"Maya di kota J. Aku kangen."


"Oh. Pergi dengan Iwan?" tanya Ayah selanjutnya.


"Yup. Dengan Iwan. Bolehkan?" ujar Ivan sambil menatap wajah Ayahnya dengan penuh harap.

__ADS_1


"Hahahaha. Bolehlah. Masak ayah melarang Abang menemui adik dan calon suami menemui calon istri." ujar Ayah setuju dengan permintaan Ivan.


"Nanti Ayah akan minta sekretaris untuk membuatkan suratnya."


"Jangan sekretaris, telpon aja Danu. Kabari dia aja." jawab Ivan yang ingin melihat reaksi Danu saat Direktur memerintahkan Iwan dan Ivan untuk dinas luar hanya berdua saja.


Ayah terlihat berpikir. Dia sangat yakin kalau Ivan memiliki sebuah ide di kepalanya untuk kali ini.


"Oke baiklah. Ayah akan hubungi Danu nanti siang. Kamu pesan aja tiket pesawat hari ini. Langsung pergi dan hubungi aja perusahaan kita yang di sana untuk meminjam kendaraan operasional kantor."


"Bukannya jet masih di sini?" tanya Ivan yang teringat Sari memakai jet pribadi mereka saat ke negara I.


"Tidak. Pesawat sudah berangkat dua hari yang lalu. Kamu pakai pesawat komersil saja." lanjut Ayah.


"Oh Ayahku cintaku pelindungku. Aku sangat mencintaimu. Terimakasih atas kemurahan hatimu mengiyakan semua keinginan anakmu yang paling ganteng dan keren ini." ujar Ivan dengan lebay.


"Lebay" jawab Ayah.


"Aku balik dulu. Mau pesan tiket dan ngasih tau bang Iwan." ujar Ivan dengan semangat empat lima.


"Santuy bro. Tau banget mau menemui kekasih. Jangan lupa pura pura kaget ketemu." Ayah mengingatkan Ivan supaya tidak terlihat sengaja bertemu dengan Maya dan yang lainnya.


"Udah di dalam itu." jawab Ivan.


Ivan kemudian kembali ke ruangannya. Dia tinggal menunggu telpon dari Ayah. Sebelumnya Ivan sudah memesan tiket untuk keberangkatan jam delapan malam ke kota J.


Direktur kemudian menghubungi Danu. Mengatakan kalau Ivan dan Iwan ditugaskan ke kota C untuk melihat perkembangan desain para karyawan di cabang perusahaan di kota C.


Danu yang mendapat pemberitahuan langsung keluar dari ruangannya guna menyampaikan kepada Iwan dan Ivan untuk bersiap siap berangkat ke negara C selama dua hari atau sampai tugas selesai.


"Kalian berdua siap siap sana. Kalian ditugaskan direktur untuk bekerja ke kota C." ujar Danu dengan lemah.


"Ngapain ke sana?" tanya Iwan yang sama sekali tidak tau rencana ini adalah kerjaan Ivan.


"Dinas luar." jawab Danu sambil meninggalkan kedua staffnya itu.


Iwan memandang Ivan. Ivan tersenyum.

__ADS_1


"Nanti gue jelasin" ujar Ivan.


Mereka berdua kemudian meninggalkan kantor untuk mengambil pakaian ke rumah masing masing. Mereka sepakat untuk bertemu di bandara jam tujuh malam.


__ADS_2