
" Bibi Ivan nitip Maya ya jangan sampai Maya kelelahan" ujar Ivan sambil melihat ke arah bibi dan berpesan kepada Bibi supaya melakukan apa yang diinginkan oleh Maya da tidak membiarkan Maya kecapekan.
"siap Tuan muda, Bibi tidak akan membiarkan Nona Maya kecapean sama sekali" ujar Bik Ina meyakinkan Ivan kalau dia tidak akan membiarkan Maya melakukan semua sendirian.
"Bibi akan melakukan semuanya untuk Nona Maya Bibi akan menjaga Nona Maya supaya Nona Maya kembali sehat seperti semula" lanjut Bik Ina meyakinkan kepada Ivan kalau dia pasti akan menjaga Maya dengan sebaik baiknya.
"Terima kasih bik Ina, kalau begitu Ivan pergi dulu ke mansion Papi, Ivan akan berusaha sesegera mungkin menyelesaikan semua urusan dengan Sari" ujar Ivan berpamitan kepada Bi Ina.
" Ivan titip Maya ya Bi tolong jaga Maya sebaik-baiknya jangan sampai Maya kecapean ya" ujar Ivan yang mengulang kembali pesan yang sama kepada Bik Ina. Ini adalah yang kedua kalinya Ivan mengatakan pesan yang sama kepada Bik Ina. Sampai yang ketiga kali berarti Ivan sudah seperti minum obat saja mengatakan pesan kepada Bik Ina
"Siap Tuan Muda, serahkan kepada Bibik saja untuk urusan Nona Maya. Tuan muda jangan pikirkan hal itu. Tuan muda fokus saja dengan urusan perusahaan dengan Nona Sari. Jangan pikirkan hal yang lain" ujar Bik Ina meyakinkan Ivan untuk fokus saja kepada urusannya, sedangkan Maya akan diurus oleh Bik Ina di rumah.
Ivan kemudian mengemudikan mobilnya menuju mansion Papi yang terletak di daerah pinggiran kota negara U tersebut.
Ivan sudah ditunggu oleh Sari, Papi, mami dan Deli di mansion, mereka akan membahas tentang permasalahan perusahaan yang ada karyawan yang telah berani untuk melakukan tindakan merugikan perusahaan.
"mereka benar-benar lah ya ingin menguji gue. Padahal semua kebutuhan, semua gaji, semua tunjangan, sudah diberikan yang terbaik untuk mereka. Tidak satupun dari mereka yang mendapat penghasilan di bawah pengeluaran mereka masing-masing. Gue nggak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan. Kenapa mereka masih tega untuk membuat rugi perusahaan yang telah menjadi tempat mereka mencari biaya hidup selama ini" ujar Ivan sambil mengemudi menuju mension Papi yang terletak di pinggiran negara itu.
Ivan menikmati perjalanannya kali ini dia sudah sangat lama tidak pernah pergi ke Mansion tersebut. Kejadian itu telah berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya. Semenjak kejadian nahas itu, Papi memutuskan untuk membawa keluarga besarnya ke negara yang selama ini menjadi tempat tinggal Papi dengan keluarga besarnya.
"Apa Papi dan Mami tidak kaget ya lihat gue padahal kan selama ini gue pernah bertemu dengan mereka beberapa kali saat menemani Danu pulang ke rumah mereka" ujar Ivan yang memang sudah beberapa kali ke rumah papi dan Mami tetapi mereka berdua tidak menyadari kalau Ivan itu adalah sepupu dari Danu.
__ADS_1
Tiba-tiba saat Ivan sedang serius mengemudikan mobil, ponsel miliknya berbunyi dengan cukup nyaring Ivan melihat nama pemanggil yang keluar di layar ponselnya itu, ternyata yang memanggil dirinya adalah Sari adik kandungnya sendiri.
" Halo sar,ada apa?" ujar Ivan saat mengangkat panggilan telepon dari Sari.
" Abang udah sampai mana, lama banget sampai sini aku udah tidak sabar ingin membahas tentang permasalahan tersebut, kasihan Vina yang harus melakukannya sendiri" ujar sari yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Ivan di Mansion tersebut.
" ini udah di jalan, tadi Maya keluar rumah sakit, abang tentu harus mengantarkan Maya dulu ke rumahnya karena Vina terlihat sedang sibuk di perusahaan karena masalah ini" ujar Ivan sambil tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya menuju mansion Papi.
"Apa!!! Maya sudah keluar rumah sakit emang dia sudah sembuh bener??? " ujar Sari yang kaget mendengar kalau Maya sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit, padahal terakhir kali Sari bertemu dengan Maya, Maya masih terlihat sangat lelah sekali.
" mau gimana lagi Sari, kamu seperti tidak tahu Maya aja dia mendesak dokter untuk mengizinkan dirinya pulang, sehingga Abang tidak bisa lagi melakukan apapun. Kamu tahu sendirilah kalau Maya itu anak yang keras kepala" ujar Ivan mengatakan kenapa Maya bisa diizinkan pulang oleh dokter kepada Sari.
" Nah itu kamu tahu Sar" ujar Ivan menjawab ketidak percayaan Sari kalau Maya telah pulang dari rumah sakit walaupun kondisinya masih dalam keadaan sakit.
" Okelah Bang Kalau begitu, kamu sampai sini hati-hati ya jangan ngebut-ngebut aku akan menunggu kamu di sini" ujar sari memberikan pesan kepada Ivan supaya Ivan berkendara dengan hati-hati.
Ivan mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju Mansion keluarga Sanjaya. Ivan tidak mau mencelakakan dirinya dan membuat semua orang menjadi memikirkan dirinya. Semua orang sekarang sedang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing masing. Danu sibuk dengan urusan perceraiannya, Vina sibuk dengan urusan perusahaan, sedangkan Maya masih terbaring sakit walaupun dia tetap memaksakan dirinya untuk pulang ke rumah. Nah karena itu Ivan tidak mau menambah beban yang harus dipikirkan oleh keluarganya lagi. Sudah cukup semua beban yang ada sekarang, dia tidak akan menambah lagi.
Setelah berkendara selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya Ivan sampai juga di depan Mansion keluarga Sanjaya. Ivan memberhentikan mobilnya tepat di pintu gerbang masuk mansion mewah tersebut. Dia memandang ke arah mansion yang sudah lama tidak dilihatnya itu.
Mension yang dulunya pernah ditinggali oleh Ivan semenjak kejadian kecelakaan yang menimpa Danu dan membuat Danu menjadi kehilangan ingatannya. Kecelakaan itu telah membuat Papi memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke negara lain. Ivan dan Sari kemudian tidak pernah lagi berkunjung ke Mansion tersebut.
__ADS_1
Akhirnya pada suatu waktu Papi mengirimkan surat kepada ayah untuk meminta Sari memimpin perusahaan anggur miliknya itu. Semenjak itulah Sari beberapa kali datang ke Mansion untuk melihat dan mengkondisikan pabrik anggur milik Papi yang akan diwariskan kepada Danu atau Deli cucunya.
Ivan yang sudah terlalu lama berdiri di depan pintu gerbang mansion keluarga Sanjaya yang sangat besar dan luas itu, langsung memasukkan mobilnya ke dalam pintu gerbang.
Seorang satpam yang baru datang dari dalam mansion, melihat mobil yang masuk ke dalam komplek perkebunan mewah itu. Satpam kemudian memberhentikan mobil yang dikemudikan oleh Ivan.
Ivan yang melihat satpam memberhentikan mobilnya, langsung menekan rem mobil miliknya, untung saja saat itu Ivan tidak membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Sehingga dia bisa dengan mudahnya memberhentikan mobil tanpa menimbulkan bunyi bising dari ban mobilnya yang beradu dengan aspal.
"Maaf Tuan mau bertemu dengan siapa?" ujar Satpam bertanya kepada Ivan.
"Kalau pelanggan pabrik, tidak lewat gerbang ini masuk Tuan, tetapi lewat gerbang satu lagi" lanjut satpam yang mengira Ivan adalah salah satu pelanggan dari pabrik anggur tersebut.
"Saya bukan pelanggan, saya ada janji temu dengan Tuan Sanjaya" ujar Ivan mengatakan kalau dia ada janji temu dengan Papi. Ivan tidak mungkin mengatakan ada janji temu dengan Sari. Bisa bisa satpam itu tidak akan mengizinkan dia untuk masuk.
"Oh Tuan yang namanya Tuan Muda ivan?" tanya satpam memastikan kalau yang berdiri di depannya kali ini adalah Ivan.
"Iya saya Ivan" jawab Ivan dengan suara lantang dan pasti.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak mengenali Tuan. Tuan silahkan masuk. Tuan sudah di tunggu oleh Tuan dan Nyonya besar di mansion" ujar Satpam kepada Ivan dengan nada ramah dan hormat. Mereka sudah tahu kalau Ivan adalah salah satu tuan muda Sanjaya Grub.
Ivan mengemudikan mobilnya masuk ke dalam area mansion. Ivan sudah tidak sabar mau bertemu dengan Papi dan Mami. Dua orang yang sudah dikangenin ya itu. walaupun mereka sering bertemu, tetapi Papi dan Mami hanya mengenal Ivan sebagai salah seorang sahabat dan staff Danu di perusahaan.
__ADS_1