Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
VC Bertiga


__ADS_3

Iwan mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana bagian belakang. Dia kemudian mencari kontak nama Danu di ponselnya itu. Dia sudah tidak sabaran lagi akan mengatakan apa yang terjadi kepada Danu yang sedang berada di negara U, guna menyimpan Deli dan kedua orang tuanya di tempat yang paling aman dan nyaman.


Iwan kemudian melakukan panggilan video dengan Danu dan IIvan. Iwan sengaja melakukan hal itu supaya Ivan juga mengetahui perkembangan yang terjadi di negara mereka, saat mereka berdua tidak berada di sana.


"Hallo bang, ada apa?" ujar Ivan yang pertama sekali mengangkat panggilan video yang dilakukan oleh Iwan.


"Ada apa Wan?" ujar Danu yang juga sudah menyambungkan panggilan video itu.


Ketiga wajah para sahabat itu sudah berada di dalam satu layar ponsel. Mereka bertiga memang tidak bisa dipisahkan. Selalu saja bersama walaupun apa yang terjadi. Bagi mereka bertiga persahabatan adalah sesuatu yang sangat penting dan akan selalu mereka nomor satukan. Mereka akan selalu ada saat salah satu dari mereka membutuhkan bantuan atau pertolongan.


"Haha haha haha, ada kejadian lucu yang kalian berdua dengar pasti akan tertawa juga" ujar Iwan yang langsung tertawa saat Danu dan Ivan mengangkat panggilan video dari dirinya.


"Ada apa Bang? Kenapa lo tertawa ngakak super kesenengan seperti itu?" ujar Ivan bertanya kepada Iwan kenapa dirinya bisa tertawa seperti itu.


"Bener Wan, ada apa? Kenapa loe bisa ngakak seperti itu? Jangan bikin kami penasaran Wan" kata Danu yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ivan tadi.


"Udah gue bilang, kalau kalian di sini, kalian juga pasti akan tertawa sampai sakit perut" ujar Iwan menjawab perkataan yang diberikan oleh kedua sahabatnya itu.


"Iya benar tertawa, tetapi karena apa?" ujar Ivan yang mulai kesal dengan gaya bicara dan kalimat kalimat yang dikeluarkan oleh Iwan dari mulutnya itu.


"Loe kalau hanya mau tertawa besar aja, nggak usah video call segala. Lewat vioce mail aja" ujar Danu yang mulai kesal dengan Iwan yang sampai sekarang masih belum mengatakan hal apa yang membuat dirinya bisa sampai tertawa seperti itu.

__ADS_1


"Sorry bro, bukan gue sengaja atau apa apa. Tapi memang gue nggak bisa untuk nggak tertawa karena hal itu" kata Iwan yang mengetahui kalau kedua sahabatnya itu sedang marah karena dia sampai sekarang masih belum mengatakan kepada mereka berdua, apa yang menyebabkan dirinya menjadi tertawa ngakak seperti itu.


"Jadi apa yang bikin loe jadi tertawa Bang?" kali ini Ivan kembali bertanya kepada Iwan tetapi sambil menahan nahan hatinya untuk tidak emosi saat bertanya kepada Iwan tentang hal yang sama dengan yang ditanyakan oleh dirinya sebentar ini.


"Jadi gini Dan, Van" jawab Iwan yang pada akhirnya memutuskan untuk mengatakan apa yang membuat dirinya tertawa ngakak seperti itu tadi.


Iwan kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Danu dan Ivan dengan semangatnya. Iwan sama sekali tidak ada menskip atau menambah cerita yang terjadi di perusahaan saat Ranti datang dan sampai terkunci di ruangan kerja mereka.


"haha haha haha, jadi loe kunci nenek sihir itu di ruangan kita Bang?" ujar Ivan yang langsung tertawa dengan bahagia saat mendengar apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini kepada mereka berdua.


"Ya, gue kunci dia dari meja resepsionis" jawan Iwan sambil membusungkan dadanya karena sudah melakukan sesuatu yang menurut Iwan adalah sebuah keberhasilan yang tak terkira.


Seperti seorang arsitek yang berhasil membuat desain yang disukai oleh konsumen dan bisa memenangkan proyek dengan untung yang sangat besar. Iwan dan Ivan benar benar menunjukkan ekspresi kebahagiannya. Sedangkan Danu hanya bisa tertawa simple saja melihat kelakuan dua orang sahabat sekaligus karyawannya itu.


"Terus?" ujar Iwan yang sadar kalau Ivan menanyakan sesuatu yang pada akhirnya Iwan akan menceritakan bagaimana caranya dirinya bisa mengunci Ranti di dalam ruangan kerja bagian arsitek.


"Jangan pake terus terus Bang. Loe pasti tau arah pertanyaan gue kemana. Jangan pura pura pake terus"


Balas Ivan yang mengetahui kalau Iwan pura pura tidak tahu dengan apa yang ditanyakan oleh Ivan sebentar ini. Iwan hanya tersenyum menjawab perkataan yang dilontarkan oleh Ivan kepada dirinya. Dia memang tahu maksud pertanyaan dari Ivan, tetapi Iwan sengaja melakukan itu supaya Ivan dan Danu penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Iwan kepada mereka berdua.


"Jangan katakan kalau loe akan mentraktir mereka berdua, kalau mereka berdua mau menolong elo Wan"

__ADS_1


Kali ini Danu mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang bisa dilakukan oleh Iwan. Apalagi Iwan terkenal nekat kalau sudah memiliki suatu keinginan untuk melakukan sesuatu. Apapun itu pasti akan langsung diwujudkan oleh Iwan saat dia sudah mentargetkan sesuatu. Hal yang mustahilpun akan dilakukan oleh Iwan untuk mewujudkan semua keinginannya. Bak kata Iwan, tidak ada yang tidak mungkin untuk bisa mewujudkan apa yang kita inginkan. Cara apapun yang dipakai pasti akan berhasil kalau tekad dan keinginan kita untuk mewujudkannya memang sudah ada dan bulat.


"Proses nggak pernah mengkhianati hasil bang" sambar Ivan yang sangat paham dengan motto hidup Iwan yang satu itu.


Motto yang terpampang dengan jelas di bagian luar laptop milik Iwan dan juga di kaca belakang mobilnya.


"Haha haha haha. Benar Van. Proses nggak akan pernah mengkhianati hasil"


Iwan sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ivan kepada dirinya.


"jadi, apa yang loe lakuin kepada ke dua orang resepsionis itu Bang."


"Sampai sampai mereka mau menolong elo" kata Ivan yang kembali mengulang pertanyaan yang diajukan oleh dirinya dan juga Danu sebentar ini.


Pertanyaan lanjutan imbas dari perkataan Iwan yang mengunci Ranti dari meja resepsionis. Meja yang tidak akan bisa di dekati oleh siapapun, sebelum mendapatkan izin dari dua orang resepsionist itu. Apalagi ini Iwan yang notebane, terkenal sebagai karyawan yang tidak pernah berbicara kepada kedua resepsionis di perusahaan. Makanya sangat mustahil kalau Iwan tidak melakukan cara apapun untuk membujuk kedua resepsionist itu untuk melakukan hal yang diinginkan oleh Iwan.


"Gue nggak ngelakuin hal apa pun. Gue cuma mengajak mereka mengobrol ringan. Kemudian meminta tolong saat mereka sudah nyaman berbicara dengan gue."


Akhirnya Iwan menjawab juga pertanyaan yang diajukan oleh kedua sahabatnya itu.


"Terus, gue mengatakan kepada mereka berdua untuk mengajak mereka makan siang besok" lanjut Iwan mengatakan hadiah yang akan diberikannya kepada kedua resepsionis itu.

__ADS_1


Sebelum Iwan dijadikan bahan olokan kedua sahabatnya, dia sudah mematikan sambungan video call itu dengan kedua sahabatnya.


__ADS_2