
"Serius Mami melihat kalau memang Vina yang sudah mengkudeta kepemilikan dapur Mami?" tanya Papi mengulang pertanyaan yang sama kepada Mami. Papi masih kurang yakin dengan apa yang dikatakan oleh Mami.
"Masak iya itu Vina, Mami" ujar Papi yang masih juga tidak percaya dengan apa yang diceritakan Mami kepada dirinya.
"Serius Papi, mau Papi berapa rius. Empat rius juga Mami mau" ujar Mami kepada Papi. Mami benar benar meyakinkan Papi kalau yang dilihat Mami di dapur sedang memasak adalah Vina bukan maid atau yang lainnya.
"Oke bisa jadi orang yang mami lihat di dapur memang Vina, tetapi bisa juga kan dia ke sana untuk mengambil air minum atau yang lainnya" ujar Papi memberikan alternatif lain kepada Mami, tentang kenapa bisa Vina berada di dapur saat hari masih lepas subuh.
"Yah, Papi ini benar benar tidak pecaya dengan Mami. Kalau Papi memang ragu, mari kita berdua lihat kebenarannya ke dapur. Biar Papi percaya dengan apa yang Mami katakan kepada Papi." ujar Mami mengajak Papi untuk menuju dapur dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.
"Mami yakin banget ya kalau Vina yang masak sarapan untuk kita semua?" tanya Papi kepada Mami.
Mereka berdua masih di dalam kamar, mereka belum pergi keluar kamar untuk meyakinkan diri mereka kalau yang sedang memasak di dapur adalah benar itu Vina bukan Vina yang mau mengambil sesuatu ke dapur.
"Mari kita buktikan saja ke dapur Papi. Mami juga penasaran" ujar Mami yang tetap ngeyel untuk membawa Papi ke dapur dan melihat kejadian apa yang sebenarnya sedang terjadi di dapaur mereka itu.
"Ya sudah ayuk ke dapur. Tapi nanti kalau Vina bertanya ngapain mami ke dapur apa jawaban Mami? Nggak mungkinkan Mami jawab, mau membuktikan kalau memang kamu yang sudah mengkudeta dapur milik Mami" ujar Papi kepada Mami.
"Mami bilang aja kalau Mami mau mengambil air minum. Susah amat" jawab Mami dengan santainya kepada Papi.
"Pokoknya sekarang kita ke dapur. Mami mau lihat apa benar Vina yang ada di sana mau masak atau tidak sama sekali" ujar Mami tetap memaksa Papi untuk ke dapur dan melihat Vina sedang mengerjakan apa di sana sekarang.
"Ya udah, ayok kita pergi" ujar Papi yang setuju dengan ajakan Mami untuk menuju dapur dan melihat secara nyata apa yang sedang dilakukan oleh Vina di sana.
Papi dan Mami kemudian berjalan keluar dari dalam kamar mereka. Mereka berdua kemudian menuju dapur yang terletak di bagian belakang mansion. Papi dan Mami ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Mami, kalau Vina sudah mengkudeta dapur milik Mami.
Papi yang segan untuk menuju dapur, langsung berbelok ke arah meja makan. Sedangkan Mami tetap menuju dapur seperti tujuan Mami semula. Mami ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau memang benar yang dilakukan oleh Vina di dapur adalah membuat sarapan, bukan mengambil air minum seperti apa yang dikatakan oleh Papi tadi.
"Hay Mami" ujar Vina yang kaget karena Mami sudah berada di samping dirinya yang sedang fokus memasak cumi goreng tepung masakan ketiga yang akan dibuat oleh dirinya.
"Kamu sedang ngapain nak?" tanya Mami kepada Vina.
Vina terdiam, dia tau dia sudah lancang untuk memasak di mansion ini. Tetapi, Vina memang tidak bisa diam saja kalau berada di rumah yang sudah dianggapnya sebagai rumahnya sendiri.
"Maaf Mami, Vina tidak minta izin dulu kepada Mami untuk memakai dapur ini" ujar Vina menatap ke arah Mami dengan tatapan memohon untuk dimaafkan oleh Mami.
Mami melihat Vina yang benar benar merasa bersalah karena sudah lancang menggunakan dapur milik Mami dan juga sudah lancang membuat sarapan tanpa meminta izin kepada yang punya mansion.
__ADS_1
"Tidak apa apa sayang, lagian Mami sangat senang kamu melakukan ini. Jadi, kamu sudah menganggap mansion ini adalah mansion kamu juga." kata Mami yang tidak mau Vina berlarut larut menyimpan rasa bersalahnya dalam hati.
"Lagian dengan kamu mau memasakkan kami sarapan, berarti kamu juga sudah menganggap kami sebagai bagian dari keluarga kamu. Kami sangat senang dengan hal itu sayang" lanjut Mami kepada Vina.
Vina tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Mami kepada dirinya. Vina tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan perlakuan seperti itu dalam keluarga Sanjaya.
"Makasi Mami." ujar Vina kepada Mami, Vina memberikan Mami senyum kebahagiaan yang dimiliki oleh dirinya.
"Sama sama sayang." jawab Mami sambil menepuk pundak Vina.
Mami sangat bangga memiliki Vina sebagai calon menantunya. Selama ini Ranti jangankan memasak untuk Papi dan Mami Danu, untuk Deli dan Danu saja bisa dikatakan Ranti tidak pernah melakukannya sekalipun.
"Jadi, kamu sekarang masak sarapan apa untuk kami?" tanya Mami kepada Vina yang terlihat sudah mulai membuat sarapan menu kedua untuk mereka sekeluarga.
"Tadi masak nasi goreng kampung Mami tetapi tidak pedas karena takutnya Deli tidak suka pedas. Jadi, untuk kita yang suka pedas, aku sudah buat sambal gorengnya." jawab Vina memberitahukan kepada Mami apa menu sarapan yang akan telah dibuat oleh Vina.
"Sedangkan yang aku goreng sekarang adalah cumi goreng tepung, nanti aku juga akan buat telur dadar padang. Sedangkan yang dalam toples itu adalah acar mentimun pakai nanas" lanjut Vina mengatakan menu apa yang sudah disiapkannya, yang sedang disiapkannya dan akan disiapkan oleh Vina.
"Wow paket komplit sayang. Jam berapa kamu bangun untuk menyiapkan semua ini?" tanya Mami kepada Vina.
"Siap subuh tadi Mami." ujar Vina yang tetap luwes membuat semua menu sarapan yang akan mereka nikmati sebentar lagi.
"Sayang, ada yang bisa Mami bantu?" tanya Mami menawarkan bantuan kepada Vina.
"Tidak usah Mami. Mami cukup melihat apa yang aku lakukan saja. Nah nanti saat ada yang salah, Mami tolong koreksi ya" ujar Vina yang berbicara dengan Mami sambil mengangkat udang goreng tepung yang sedang diolah dirinya.
"Oke sayang, Mami tempat Papi dulu ya, sepertinya Papi kalau tidak mami yang mengambilkan air minumnya, dia tidak akan minum"ujar Mami dan mengambil segelas air mineral untuk Papi yang masih duduk dengan setia di meja makan.
Mami kemudian berjalan ke arah Papi yang sedang membaca koran pagi di meja makan. Mami menaruh segelas air mineral yang dibawa oleh Mami tadi di depan Papi.
"Mami benerkan Papi. Vina sedang memasak sarapan untuk kita, bukan sedang mengambil air minum atau yang lainnya di dapur" ujar Mami sambil duduk di kursi sebelah Papi.
Papi menatap ke arah Mami. Papi mengenggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mami kepada Papi.
"Kita tidak salah mendapatkan menantu sekarang" ujar Mami yang langsung diangguki oleh Papi.
Vina tetap sibuk dengan sarapannya di dapur. Sedangkan Danu yang baru bangun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dia sudah mengepak dan menyiapkan semua pakaiannya ke dalam koper dari semalam. Jadi, sekarang hanya tinggal berangkat saja lagi ke bandara setelah selesai sarapan.
__ADS_1
Vina yang telah menyelesaikan masakannya, menghidangkan semuanya di atas meja makan. Papi dan Mami yang tadi berada di sana sudah masuk kembali ke dalam kamar untuk menukar pakaian, mereka berdua juga akan mengantarkan Danu ke bandara.
Setelah menata sarapan di atas meja makan, Vina naik kembali ke lantai dua mansion untuk membangunkan Deli yang masih dalam keadaan tidur. Vina melihat calon anak angkatnya itu yang masih memeluk guling kesayangannya.
"hay sayang Bunda kue, bangun sayang udah pagi. Tapi mau ikut ngantarin Ayah ke bandara" ujar Vina berbicara sambil menciumi wajah cantik Deli.
Deli yang merasa wajahnya diciumi oleh seseorang langsung berusaha membuka mata indahnya itu. Deli melihat Vina yang tersenyum di sebelahnya.
"Selamat pagi cantik" ujar Vina menyapa Deli.
"Selamat pagi juga bunda cantik Deli" jawab Deli.
"Sekarang mandi. Bunda akan ambilkan pakaian kamu" ujar Vina meminta Deli untuk segera mandi.
"Boleh minta dimandikan?" tanya Deli kepada Vina
"No, udah besar" jawab Vina dengan tegas.
"oke" ujar Deli.
Deli kemudian berdiri dari tidurnya. Dia berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu. Deli kemudian mandi dengan sangat cepat. Dia tidak mau ditinggal dan tidak di ajak ke bandara. Dalam sekejap Deli sudah selesai mandi. Dia melihat Vina sudah tidak ada lagi di kamarnya.
Deli melihat pakaian yang harus dipakainya sudah ada di atas kasur dan sepucuk surat yang berbunyi 'Bunda mandi sayang, nanti ikat rambutnya ke kamar bunda aja' bunyi pesan yang ditulis oleh Vina untuk Deli.
"Bunda terbaik" ujar Deli.
Deli kemudian memakai pakaiannya dengan bergegas. Setelah itu, Deli berjalan menuju kamar Vina dengan membawa ikat rambutnya. Dia akan menagih janji yang ditulis Vina di dalam kertas satu lembar itu.
Deli mengetuk pintu kamar Vina. Vina yang sudah tau siapa yang akan datang langsung saja menyuruh Deli untuk masuk.
"Bunda, ini ikat rambutnya" ujar Deli memberikan ikat rambut miliknya kepada Vina.
Vina kemudian mengikat rambut Deli dengan sangat rapi. Deli sangat senang karena Vina mengikat rambutnya dengan memakai model yang tidak terbayangkan oleh Deli sebelumnya. Vina sangat senang melakukan hal itu. Vina sudah lama ingin mengikat rambut anak perempuan. Sekarang akhirnya terwujud, Vina bisa mengaplikasikan semua mimpi mimpinya kepada Deli.
"Bunda cantik" ujar Deli saat Vina telah selesai mengikat rambut Deli dengan ikatan yang sangat cantik.
"Kamu suka?" tanya Vina sambil melihat ke arah calon anak tirinya itu.
__ADS_1
"Suka sekali" ujar Deli dengan sangat bahagianya.
"Syukurlah sayang kalau kamu suka" jawab Vina.