
Danu yang hari ini tidak memiliki begitu banyak pekerjaan memilih untuk bersantai di rumah sebelum berangkat menuju perusahaan. Hari ini Danu sama sekali tidak ada kegiatan untuk meeting dengan perusahaan manapun. Semua meeting telah diselesaikan oleh Danu kemaren. Hari ini Danu sengaja mengosongkan agendanya karena dia berencana untuk menemui pengacaranya. Danu ingin berkonsultasi masalah antara dirinya dengan Ranti. Masalah yang memang sudah selayaknya diselesaikan oleh Danu dari dahulu. Tetapi, karena Danu selalu mengingat janji yang dibuat antara dirinya dengan Papi Ranti.
"Kenapa juga gue dulu mengiyakan perkataan dirinya. Kalau gue menolak kan gue nggak terlibat dalam masalah pelik seperti ini"
"Sekarang gue nggak bisa keluar dengan mudah dari permasalahan ini. Permasalahan yang makin lama makin rumit saja" ujar Danu dengan pelan. Danu benar benar tidak paham dengan semua masalah ini. Masalah yang membuat kehidupannya tidak pernah merasa tenang.
Danu terlihat asik minum kopi di atas sebuah ayunan yang terdapat di taman depan rumahnya. Pikiran Danu terbang kemana mana. Danu sedang asik memikirkan bagaimana supaya permasalahan ini cepat selesai. Danu harus berani mengambil sikap untuk seseorang yang sangat dicintainya dan mau memberikan Danu kesempatan kedua untuk memperjuangkan cinta mereka dan mewujudkannya menjadi sebuah pernikahan yang didalamnya akan diisi oleh kebahagian kebahagiaan yang selama ini diimpikan oleh seorang Danu.
Seorang maid datang mengantarkan pisang goreng pisang panas untuk Danu. Maid menaruh pisang goreng itu di meja samping ayunan yang sedang diduduki Danu.
"Silahkan dimakan Tuan pisang goreng nya, selagi masih panas panas" ujar Maid kepada Danu.
"Makasi Bik. Nanti akan saya makan. Kelihatannya sangat nikmat minum kopi pagi sambil makan pisang goreng tambah main ayunan" ujar Danu kepada maid nya itu.
"Sama sama Tuan. Ada yang bisa bibik bantu lagi Tuan?" tanya maid yang baru bekerja di rumah Danu selama lima belas tahun itu.
"Udah Bik. Aku rasa udah cukup Bik. Nanti kalau ada lagi, aku akan panggil bibik lagi" ujar Danu kepada bibik kesayangannya itu. Bibik yang selama ini mengetahui semua kejadian yang ada di rumah besar itu. Semua kejadian tidak ada yang terlewati oleh bibik.
"Bik, boleh Danu bertanya serius kepada bibik?" ujar Danu yang memang ingin menanyakan sesuatu kepada bibik.
"Bisa Tuan. Ada apa?"
Bibik terlihat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Danu kepada dirinya.
"kalau aku jadi mengurus perceraian aku dengan Ranti, apakah bibik mau menjadi saksi dan mengatakan semuanya di pengadilan nanti?" tanya Danu sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong tak berarti.
"bisa Tuan. Bibik akan menceritakan semua yang bibik ketahui di pengadilan itu. Bibik tidak akan menutup nutupi. Bibik akan ceritakan semua." ujar Bibik dengan sangat semangat. Bibik memang akan menceritakan semuanya apabila dia diminta menjadi saksi dalam persidangan nanti.
"makasi bik. Aku sangat senang bibik mau membantu aku nanti di pengadilan untuk menjadi saksi" ujar Danu dengan bersungguh sungguh mengucapkan terimakasih kepada bibik yang sangat setia itu.
"Bibik ingin Nona Deli kembali lagi Tuan. Bibik kangen dengan Nona Deli" jawab Bibik sambil mengusap sedikit air matanya yang jatuh ke pipi itu.
"Bibik kangen Deli?" tanya Danu sambil menatap Bibik.
"Iya Tuan. Sudah lama sekali bibik tidak bertemu Nona Deli"
"Oke Bik. Akhir pekan kita akan ke kampung lihat Deli" ujar Danu.
"serius Tuan?" tanya bibik yang sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Danu.
"Serius Bik" jawab Danu.
"Akhirnya. Bibik ke belakang dulu Tuan. Masih banyak pekerjaan yang harus bibik lakukan" ujar Bibik memohon izin untuk kembali ke dalam rumah.
"Oke bik" jawab Danu sambil tersenyum.
Danu kembali mengayun ayunkan ayunan yang menjadi tempat duduknya itu. Tadi Danu sempat berhenti karena mengombrol dengan bibik. Danu mengayun ayunkan boyannya sambil melihat ponsel miliknya. Danu menscroll pesan chat yang masuk. Danu membaca beberapa pesan chat yang dikiranya penting untuk dibaca dan menghapus yang tidak penting.
Tiba di nama Vina, Danu menatap lama pesan chat itu. Dia kemudian memasang klip supaya pesan chat dari Vina akan selalu berada di bagian atas chatnya.
"Kalau video call sekarang sudah pasti akan mengganggu Vina. Lebih baik kirim pesan chat aja"
Danu mengeluarkan ponselnya dari saku celana pendek rumahan yang sedang dipakai oleh Danu. Danu memang sangat santai hari ini, mandi aja dia belum. Danu hanya modal mandi kucing untuk duduk duduk di atas ayunan di taman depan rumah.
'Hay sayang, pagi. Sedang ngapain?' sapa Danu kepada Vina yang jauh di seberang sana.
'Hay sayang, siang. Ini sedang jalan mau ke luar meeting. Sayang, sedang ngapain?' balas pesan chat dari Vina yang dikirimkan untuk Danu.
'Yah aku ganggu dong ya sayang?' balas Danu kembali.
'Nggak sayang, tapi kalau sekitar sepuluh menit lagi baru ganggu, karena meetingnya mau mulai'
'Haha haha haha kamu ada ada aja sayang. Ya udah deh hati hati meeting ya, semoga sukses'
__ADS_1
Danu mendoakan Vina agar sukses dalam meetingnya kali ini.
'Makasi sayang atas doanya. Sayang sedang ngapain?'
Vina kembali menanyakan Danu sedang apa sekarang di negara I.
'Ini sedang duduk duduk di ayunan sayang. Aku ada perlu nanti di luar, makanya belum ke perusahaan.'
Balas Danu sambil mencomot satu pisang goreng yang terhidang dengan hangat di depan wajah Danu.
'Urusan apa sayang?'
Tanya Vina yang penasaran dengan kegiatan yang akan dilakukan oleh Danu diluaran sana.
'Mau bertemu kawan lama sayang. Dia baru datang dari luar negeri. Katanya dia mau buka firma hukum di sini'
Kata Danu berbohong membalas pesan chat kepada Vina. Danu tidak mau mengatakan kalau dia akan konsultasi dengan pengacara untuk mengurus perceraian dengan Ranti. Danu menginginkan dia membawa surat cerai itu kepada Vina di negara Vina sekarang berada.
'Oooo. Ya udah hati hati ya sayang. Aku udah sampai di tempat meeting. Aku meeting dulu. Nanti selesai meeting aku kabari lagi ya'
'Oke sayang. Hati hati. Jangan lupa makan dan istirahat ya'
Pak hans memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk restoran mewah itu. Vina dan Sari turun dari dalam mobil. Setelah itu Pak Hans pergi memarkirkan mobilnya di parkiran yang telah disediakan pihak restoran.
"Semoga kali ini kita berhasil melakukan kerjasama dengan perusahaan itu Vin. Karena pengajuan yang dulu sekali gagal"
Sari memberitahukan kepada Vina, kalau CT Grub pernah gagal melakukan kerjasama dengan perusahaan yang sekarang akan mereka temui.
"Semoga Sari. Kita akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan" jawab Vina sambil tersenyum optimis.
Salah satu yang membuat Sari mengajukan kepada Ayah dan Ivan untuk membawa Vina ke perusahaan mereka adalah karena Vina merupakan seseorang pekerja keras dan selalu optimis menghadapi masalah apapun.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan VIP di restoran itu, mereka akan melakukan meeting, karena perusahaan yang satu lagi sudah ada di dalam ruangan menunggu mereka berdua.
"Selamat siang Tuan Bram" sapa Vina dengan sangat ramah.
'Laki laki bangkotan nggak tau diri' maki Vina dalam hatinya untuk Tuan Bram yang menatap Sari dengan tatapan yang luar biasa membuat Vina jijik itu.
Vina dan Sari kemudian duduk di kursi yang masih kosong itu. Terlihat berbagai peralatan untuk meeting sudah ada di depan mereka.
"Bisa kita mulai sekarang Tuan Bram?"
Vina yang sangat ingin untuk cepat cepat menyelesaikan meeting kali ini. Vina sudah tidak nyaman dengan cara Tuan Bram menatap Sari yang terlihat seperti ingin memakan Sari saja.
'Dasar pria tidak ingat umur, udah bau tanah juga masih memandang wanita muda seperti itu. Loe kira semua wanita sama bangkotan' ujar Vina kembali memaki maki Tuan Bram dalam hatinya.
Sari menatap Vina. Sari tahu kalau Vina sedang memaki maki Tuan Bram dalam hatinya. Sari sebenarnya juga melakukan hal yang sama dengan Vina. Sari juga memaki maki Tuan Bram dari tadi.
"Bisa Nona Vina. Saya minta Nona Sari untuk melakukan presentasi kali ini" ujar Bram dengan genitnya dengan nada suara yang dibuat seseksi mungkin.
Vina dan Sari yang mendengar nada suara dan cara Tuan Bram berbicara membuat mereka berdua pengen muntah saja. Mereka merasa jijik mendengar cara bicara Tuan Bram itu.
Sari menatap Vina. Vina mengangguk kepada Sari. Sari membalas anggukan Vina. Vina langsung berdiri dari duduknya.
"Maaf Tuan Bram, kali ini saya langsung yang akan melakukan presentasi. Bukan Sari" ujar Vina dengan nada ketusnya. Sudah hilang Vina yang ramah akibat cara Tuan Bram menatap Sari. Padahal biasanya Vina terkenal sangat ramah kepada semua rekan bisnisnya, baik perusahaan yang lebih ternama dari pada CT Grub atau bahkan perusahaan yang berada di bawah perusahaan CT Grub.
Presentasi akhirnya dilakukan oleh Vina. Tuan Bram sedikit kesal karena tidak Sari yang melakukan presentasi. Tetapi, Tuan Bram memiliki rencana lain untuk bisa bertemu dengan Sari.
Selesai presentasi, Vina kembali duduk di kursi sebelah Sari.
"Bagaimana Tuan Bram?" tanya Vina yang sudah tidak betah dan ingin kembali ke perusahaan mereka.
"Saya akan mempertimbangkannya Nona Vina. Besok akan saya hubungi hasilnya." jawab Bram.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Bram. Kalau begitu kami permisi dahulu, karena ada pekerjaan lain yang menanti kami di perusahaan"
Vina berdiri, diikuti Sari dan juga Tuan Bram. Vina sama sekali tidak berjabat tangan dengan Tuan Bram. Vina tidak mau nanti Tuan Bram juga berjabat tangan dengan Sari. Vina meminimalisir interaksi antara Tuan Bram dengan Sari.
Mereka berdua berjalan kembali menuju mobil yang sudah menunggu di depan pintu restoran. Vina dan Sari masuk ke dalam kursi belakang sopir.
"Sari, kita tetap maju atau mundur saja?"
Vina menatap ke arah Sari yang memang merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan oleh Tuan Bram tadi kepada dirinya.
"Maju saja Vin." jawab Sari sambil tersenyum
"Ya udah. Kalau besok dia minta jemput dokumen kerjasama itu ke perusahaannya. Loe pergi aja sama Juan. Gue enek banget nengok wajah orang itu" ujar Vina yang gondok dengan gaya Tuan Bram yang sudah bangkotan tetapi tidak sadar usia itu.
"Haha haha haha. Ternyata loe bisa juga gondok lihat orang ya Vin. Gue kira nggak"
Sari tertawa ngakak mendengar pengakuan Vina tadi. Sari tidak menyangka kalau Vina bisa juga marah dengan orang lain atas semua kejadian yang terjadi tadi.
"Gue nggak malaikat juga kali Sari"
"Haha haha haha"
Vina dan Sari tertawa mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Vina. Vina sendiri tidak tau dari mana kalimat itu bisa diperolehnya.
Tak terasa mereka sudah sampai kembali di perusahaan, tadi mereka menyempatkan diri untuk membeli menu makan siang yang aka mereka makan di perusahaan. Vina dan Sari turun dari dalam mobil, mereka masuk kembali ke perusahaan dan berjalan menuju ruangan masing masing.
Mereka berdua akan makan siang terlebih dahulu, setelah itu mereka akan melanjutkan pekerjaan yang masih harus mereka selesaikan.
Sedangkan di negara I, Danu yang merasa sudah cukup dirinya untuk bersantai santai, berdiri dari posisi duduknya.
"Saatnya mandi, setelah itu sarapan. Baru ke perusahaan" ujar Danu menyebutkan untuk dirinya sendiri apa yang harus dilakukannya.
Tiba tiba saat dia akan masuk ke kamar mandi, ponsel miliknya berbunyi. Danu melihat siapa yang menghubunginya.
"Frans"
"Akhirnya, pengacara kondang ini nelpon gue juga."
Danu mengangkat panggilan dari sahabat lamanya itu. Padahal tadi pagi Danu menelpon pria itu berkali kali. Tetapi tidak pernah diangkat oleh Frans.
"Hallo Frans, susah sekali menghubungi pengacara kondang banyak acara seperti loe ini. Dari tadi gue nelpon elo, selalu dialihkan" ujar Danu menyapa sahabat lamanya yang rencananya akan dijadikan Danu sebagai pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Ranti.
"Ah loe lebay Danu. Mana ada gue pengacara kondang. Gue pengacara biasa aja" jawab Frans yang sama sekali tidak pernah merasa kalau dirinya adalah pengacara kondang seperti yang dikatakan oleh Danu.
"Loe terlalu merendah sobat. Siapa yang tidak kenal elo. Pengacara yang wara wiri di televisi dan surat kabar"
"Haha haha haha, gue nggak akan pernah menang lawan loe Danu." ujar Fran menyerah kepada Danu yang selalu ada aja jawaban yang bisa diberikan oleh Danu kepada dirinya.
"Jadi, ada apa loe nelpon gue berkali kali. Nggak biasanya. Sepertinya ini penting" ujar Frans menanyakan keperluan Danu karena sudah berkali kali menghubungi Frans dari tadi.
"Penting sekali Frans. Apa gue nanti bisa menemui elo pas jam makan siang, atau jam berapa loe bisanya aja" kata Danu meminta untuk bisa bertemu dengan Frans dan menceritakan apa tujuannya menghubungi Frans.
"Oh bisa Dan. Gue aja yang ke perusahaan elo. Gue hari ini nggak ada sidang lagi. Jadi, bisa santai dan bertemu sohib lama gue yang sepertinya sudah mulai sadar dengan kesalahan lamanya" ujar Frans yang sudah bisa membaca kemana arah pembicaraan mereka nantinya.
"Apakah gue bisa langsung membawa surat kuasanya Danu?" tanya Frans yang sangat bersemangat untuk membantu sahabatnya terlepas dari belenggu yang tidak manusiawi itu.
"Jangan dulu Frans. Loe bisa dengar cerita gue dulu. Setelah itu loe baru tentuin gue harus ngapain. Gue awam dengan masalah beginian" ujar Danu kepada Fran.
Danu berencana menyerahkan semuanya kepada Frans. Danu tidak mengetahui sama sekali tentang hal hal seperti yang akan dihadapinya sebentar lagi.
"Oke sip. Gue akan ke perusahaan loe dua jam lagi. Gue selesaikan sebentar pekerjaan gue yang sedikit ini lagi" ujar Frans yang baru saja kedatangan salah seorang kliennya.
"Oke sip" jawab Danu.
__ADS_1
Danu kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Danu akan pergi ke perusahaan nya.
"Semoga Frans bisa memberikan jalan terbaik untuk permasalahan ini" ujar Danu menggantungkan harapannya kepada Frans, sahabat nya itu.