Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
pertanyaan lagi


__ADS_3

"Jadi gimana dengan Danu setelah bertemu dengan Vina, Van? Ayah penasaran dengan cara Danu berbicara dengan Vina" tanya Ayah yang penasaran dengan pertemuan Danu dan Vina yang didorong oleh Ayah.


Ivan dan Iwan ternganga saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Ayah kepada mereka berdua. Ivan dan Iwan saling pandang pandangan, kening mereka langsung berkerut saat mendengar pertanyaan dari Ayah. Pertanyaan yang tidak mereka duga ditanyakan oleh Ayah secara gamblang.


"Tunggu, Ayah jangan ngomong kalau pertemuan mereka berdua di suruh dan atas dasar ide dari Ayah? Ayah kan tau Vina dan Danu tidak berbaikan. Kenapa Ayah suruh mereka bertemu, Ayah aneh aneh aja ngasih ide dan saran" ujar Ivan menebak kenapa Danu bisa sampai mengetahui kalau Vina berada di bandara.


"Siapa lagi kalau bukan Ayah. Ayah bener bener lah Ayah. Kalau terjadi perang Dunia ke tiga di bandara, Ayah mau tanggung jawab." ujar Iwan yang juga yakin kalau Ayah lah yang telah memberi tahukan kepada Danu kalau Vina berada di Bandara.


"Iya memang Ayah. Kalian main marah marah nggak jelas aja. Kalian denger dulu apa yang mau Ayah katakan. Baru setelah itu marah marah, emang Ayah peduli dengan marahnya kalian, mana ada" ujar Ayah yang nggak mau seratus persen disalahkan karena Danu yang datang menghampiri Vina ke bandara.


"Apa? Mau bela apa lagi Ayah. Jelas jelas memang Ayah yang nyuruh, masih juga mau bela diri. Ayah ini urusan mereka Ayah, biar mereka sendiri yang mengurusnya. Kita jangan terlalu ikut campur Ayah" Ivan berkata sambil menatap ke arah Ayah dengan tatapan menyelidik. Ivan tidak menyangka kalau Ayah nyalah yang memberitahukan kepada Danu dimana keberadaan Vina tadi pagi.


Ayah mengambil bantal kursi yang ada di dekat dirinya. Ayah melemparkan bantal itu ke wajah Ivan. Ivan dengan sigap menangkap bantal sofa yang hampir mendarat mulus di wajah tampannya itu.


"Santai bro, nggak usah nyolot napa" ujar Ayah kepada Ivan dengan nada santainya. Ayah tidak marah walaupun sudah dimarahi oleh Ivan dan Iwan karena telah memberitahukan keberadaan Vina kepada Danu.


"Ye Ayah aja yang lagi pms, makanya main lempar aja" balas Ivan tidak terima dikatakan nyolot oleh Ayah. Padahal sebenarnya Ivan memang nyolot habis kepada Ayah.


"Emang Ayah perempuan, pake pms segala, Ayah ini laki laki tulen. Tu buktinya Kamu sama Sari berhasil Ayah buat. Bukti fisik kalau Ayah laki laki. Kamu dan Iwan yang masih diragukan. Danu juga sudah bisa dipastikan laki laki, tu ada Deli hasil dari lelaki lakiannya" ujar Ayah yang nggak mau kalah berbicara degan Ivan. Ayah mulai mengejek Ivan dan Iwan dengan pilihan kata kata yang diucapkan oleh Ayah.

__ADS_1


Iwan hanya bisa geleng geleng kepala saja, mendengar dan menyaksikan pertengkaran Ayah dan Anak itu. Pertengkaran yang nggak ada faedahnya menurut Iwan. Hanya buang buang tenaga dan kata kata saja. Apalagi udah menyerempet ke hal hal aneh. Iwan melihat sisi lain dari presiden direkturnya yang ternyata di rumah sangat gesrek.


"Ayah boleh ngomong nggak, kalau nggak Ayah diam?" tanya Ayah kepada Ivan dan Iwan, meminta izin untuk bisa berbicara mengatakan semua kejadian yang terjadi pagi tadi saat Ayah baru sampai di perusahaan.


"Boleh. Cerita aja, nggak apa apa, lagian kami berdua penasaran bagaimana cara Danu membujuk Ayah untuk memberitahukan keberadaan Vina kepada dia" ujar Ivan mempersilahkan Ayahnya untuk bercerita, kenapa Ayah sampai memberitahukan dimana keberadaan Vina kepada Danu.


Ayah terdiam, Ayah bener bener mendramatisir keadaan untuk bercerita. Ivan dan Iwan hanya bisa pandang pandangan saja lagi. Mereka sama sama takjub dengan tingkah seorang presiden direktur perusahaan bergerak di bidang properti yang ternama di negara ini. Siapapun yang pernah melakukan kerjasama dengan Ayah akan merasakan kalau Ayah adalah sosok pria yang tegas dan tidak bisa ditawar tawar. Padahal kalau mereka melihat Ayah seperti ini, mereka akan tertawa sendiri.


"Van, loe yakin kalau dia adalah presiden direktur kita?" tanya Iwan kepada Ivan dengan nada heran sambil menatap takjub ke arah Ayah yang terlihat terlalu mendramatisir keadaan yang ada.


"Gue juga mikir hal yang sama kayak elo. Dia beneran presiden direktur dan Ayah gue bukan ya. Rasanya Ayah gue nggak se drama ini. " ujar Ivan menjawab pertanyaan Iwan dengan pernyataan keraguan pula.


"Jadi, Ayah kan nyampe perusahaan pukul setengah delapan kurang lima ntah berapa, Ayah juga lupaa pastinya. Ayah langsung menuju ruangan. Nah saat Ayah membuka pintu ruangan ternyata, Danu udah ada di sana dengan wajah yang luar biasa kusut nya. Ayah yakin kalau dia saat itu baru pulang dari rumah orang tuanya. Dia bener bener kusut, kayak orang yang nggak tidur semaleman. " ujar Ayah mulai bercerita bagaimana bisa Danu sampai di bandara dan mengetahui kalau Vina akan naik privat jet.


"Ayah di sana sudah mulai merasa kasihan dengan Danu. Bagaimanapun jeleknya sikap dia, dia tetap anak Ayah. Nggak bisa dipungkiri hal yang satu itu" ujar Ayah membela dirinya saat melihat ekspresi Ivan mulai berubah menjadi ekspresi tidak suka.


"Danu menceritakan kembali ke Ayah, pertemuan Vina dengan Ranti di mall. Danu sama sekali tidak ada membela Ranti, malahan dia ingin membela Vina satu itu, tetapi karena Sari sudah turun tangan, makanya Danu diam saja. Terus Ayah bertanya kepada Danu, apakah dia benar benar mencintai Vina atau tidak. Ayah memberikan saran, kalau benar benar mencintai, maka lepaskan dan urus perceraian dengan Ranti" ujar Ayah melanjutkan ceritanya. Percakapan pagi hari antara Paman dengan keponakan yang sedang dilanda mabuk hati.


Ayah kemudian minum terlebih dahulu, dia merasakan haus di kerongkongan nya. Haus karena harus bercerita panjang lebar kepada Ivan dan Iwan perihal masalah Danu dan Vina.

__ADS_1


"Jawaban Danu saat itu adalah kalau dia mencintai Vina dan akan menceraikan Ranti. Makanya Ayah meminta dia untuk menemui Vina di bandara" ujar Ayah menyelesaikan ceritanya itu.


"Ayah juga nggak tega melihat orang yang saling mencintai harus terpisah. Ayah juga tahu Danu memiliki kesalahan, tapi tenang saja Ayah nggak ngasih tahu ke Danu dimana Vina tinggal sekarang" ujar Ayah yang ternyata juga tahu batasannya.


"Ayah akan membiarkan Danu mencari Vina sendirian. Cinta itu perlu perjuangan bro" ujar Ayah dengan nada santai.


"Jadi, apa dia datang ke bandara?" tanya Ayah yang penasaran apakah Danu datang ke bandara atau tidak.


"Datang Ayah. Dia mengatakan kepada Vina, kalau dia sangat mencintai Vina. Dia akan menceraikan Ranti" ujar Ivan yang menjawab pertanyaan Ayah.


"Vina juga ngasih dia kesempatan kedua. Vina meminta Danu untuk menggunakan kesempatan kedua itu dengan sebaik baiknya." Lanjut Ivan memberitahukan kepada Ayah apa isi percakapan singkat antara Danu dengan Vina di bandara.


"Jawaban Danu bagaimana?" tanya Ayah penasaran dengan sikap yang diambil Danu.


"Kata Danu, dia akan mengambil kesempatan kedua itu. Dia akan pergi mencari Vina, saat dia telah menyelesaikan permasalahannya dengan Ranti. Ya kita hanya bisa melihat saja Ayah, ntah iya Danu bisa ntah tidak. Aku udah nggak berharap lagi" ujar Ivan yang memang sangat ragu dengan Danu.


"Kamu Wan, ragu dengan Danu?" tanya Ayah kepada Iwan yang bersahabat lama dengan Danu.


"Ragu banget Ayah. Tapi, semoga kali ini Danu bisa menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Vina kepada dirinya. Kesempatan yang nggak akan datang lagi di lain hari" ujar Iwan berharap semoga Danu bisa menyelesaikan masalah dirinya dengan Vina.

__ADS_1


Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan tentang perkembangan perusahaan dan perkembangan desain yang dibuat oleh Ivan dan Iwan.


__ADS_2