
Vina terus saja memasak di dapur kafe yang terlihat sangat etnik dan nyaman dipandang itu. Sampai sebuah panggilan masuk menghentikan dirinya untuk memasak. Vina mengeluarkan ponsel miliknya.
"Danu?" ujar Vina tidak menyangka saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.
"Angkat nggak ya?" ujar Vina menimbang nimang apakah akan mengangkat panggilan itu atau tidak.
"angkat ajalah" ujar Vina akhirnya memutuskan untuk menerima telpon dari Danu.
"Tadi dia kan udah ngomong juga mau nelpon. Sekarang kenapa gue nggak mau angkat. Angkat ajalah." ujar Vina.
"Rina, aku angkat telpon bentar. Kamu tolong lanjutkan memasak menu aku ini ya" ujar Vina meminta tolong kepada Rina untuk melanjutkan masakannya yang sedang menanggung itu.
"Tinggal di kasih bumbu atau hanya memasakkannya saja lagi Nona?" tanya Rina yang tidak tau mau diapaknnya lagi masakan yang dibuat Vina itu.
"Tinggal menyusutkan kuahnya Rin. Untuk bumbu sudah saya masukan semuanya " ujar Vina kepada Rina.
"Siap Nona akan saya lanjutkan untuk memasaknya" ujar Rina menjawab perkataan Vina tadi.
Panggilan dari Danu tidak jadi terangkat oleh Vina karena dia meminta tolong kepada Rina terlebih dahulu untuk melanjutkan masakannya.
Vina keluar dari kafe. Dia mencari sudut kafe yang aman dari jangkauan telinga telinga kelinci. Akhirnya Vina menemukan satu tempat yaitu ayunan yang terletak di pojokan kafe, tempat yang sangat jarang dikunjungi oleh orang. Kecuali mereka yang telah mengelilingi kafe, padahal pojokan itu tempat terbagus melihat sudut sudut taman yang ada di kafe. Vina duduk di sana. Dia sedikit mengayunkan ayunan itu dengan kakinya.
'Telpon lagi ya' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Vina kepada Danu
Danu yang sedang makan siang, membaca pesan chat yang baru masuk itu. Dia kemudian kembali menghubungi Vina. Vina yang merasakan getaran ponselnya langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallo Vina, sedang ngapain?" tanya Danu kepada Vina sebagai pembuka obrolan mereka yang kadang kadang masih canggung itu.
"Ini sedang duduk di atas ayunan Bang. Abang sedang ngapain?" kata Vina bertanya Danu sedang melakukan apa sekarang. pertanyaan klise yang harus ditanyakan kepada pasangan atau teman.
"Sedang makan siang Vin. Perbedaan waktu kita kan lumayan banyak Vin,tempat kamu sudah malam kan ya?" ujar Danu bertanya kepada Vina.
"Malam kali belum Bang. Masih jam tujuh malam" ujar Vina melihat jam tangannya.
"Oh ya Vin. Kemaren kan aku bahas Deli. Sekarang dia lagi sakit. Rencana nanti aku mau pulang ke rumah Mami. Apa kamu mau berbicara dengan dia nanti?" Danu akhirnya dengan berani menanyakan hal itu kepada Vina.
Danu berharap Vina tidak menolak untuk berbicara dengan Deli. Danu ingin Vina mendengar apa yang dikatakan oleh Deli.
"Apakah dia tau siapa aku?" tanya Vina yang memerlukan jawaban itu, untuk menjawab pertanyaan dari Danu.
Danu terdiam. Dia memilih apakah berkata jujur kepada Vina, atau harus membohongi Vina.
"Hay kenapa diam?" tanya Vina kepada dan yang tidak menjawab pertanyaannya itu.
Danu akhirnya memutuskan untuk menjawab jujur pertanyaan Vina. Dia sudah tidak mau berbohong lagi kepada Vina. Danu harus mengatakan yang sebenarnya.
"Deli sudah tau kok siapa kamu Vin. Kamu ingat waktu itu aku ngomong aku mau ke rumah Mami, kamu menitip dua loyang brownis ntah apa waktu itu aku lupa" ujar Danu mengingat moment pertama kali dia mengenalkan nama Vina kepada Deli.
"Brownies" kata Vina membantu Danu mengingat dan memastikan nama kue yang sempat dititipkan oleh Vina untuk orang tua Danu yang sedang sakit.
"Ha ya itu. Saat itu aku langsung kasihkan ke Deli. Terus di tanya Deli dari siapa. Aku bilang dari kamu" ujar Danu menceritakan kepada Vina secara singkat.
"Terus tanggapan Deli gimana?" tanya Vina penasaran dengan reaksi Deli saat menerima kue yang dibuat oleh Vina.
"Kata Deli. Ayah katakan terimakasih dari Deli untuk Bunda Kue"ujar Danu mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya waktu itu.
" Hahahahaha. Ada ada aja Deli masak nama aku digantinya jadi, Bunda kue. Tapi dipikir pikir nama itu kedengerannua juga lucu Bang." ujar Vina yang bahagia tanggapan Deli terhadap dia sangatlah bagus. Vina jadi penasaran ingin berbicara langsung dengan Deli.
"Bang, nanti saat sampai di rumah, kamu video call dengan aku ya. Aku mau video call dengan Deli. Aku mau lihat langsung dia" ujar Vina kepada Danu.
Vina sangat antusias untuk berkenalan dengan Deli anak semata wayang Danu.
"Vin" panggil Danu dengan nada serius kepada Vina yang berada di negara nun jauh di sana.
"Ada apa Bang?" ujar Vina dengan nada serius. Vina tau kalau Danu mau mengatakan sesuatu yang serius dan rahasia.
__ADS_1
"Aku mau berbagi satu rahasia dengan kamu. Hanya dengan kamu, tidak dengan yang lainnya termasuk Ayah dan Mami." ujar Danu dengan nada seriusnya.
Danu meletakkan uang dua ratus di meja tempat dia makan itu. Setelah itu Danu berjalan menuju mobilnya. Dia memberikan kode kepada pelayan untuk mengambil uang di atas meja.
Danu kemudian masuk ke dalam mobil. Dia mengemudikan mobilnya dengan pelan. Danu juga tidak menghidupkan tipe mobilnya. Supaya percakapannya dengan Vina bisa terdengar dengan jelas.
"Ada masalah apa Bang? Sepertinya sangat serius" ujar Vina yang kaget mendengar nada suara dan juga kalimat yang baru diucapkan oleh Danu sebentar ini.
"Memang serius Vin. Serius sangat. Aku takut kalau rahasia ini sampai diketahui orang banyak, makan aku akan kehilangan Deli. Makanya sampai sekarang aku menyimpan sendiri rahasia ini dan telah membakar semua semua bukti buktinya" ujar Danu mulai membuka sedikit tabir rahasia yang akan diceritakannya kepada Vina. Sebuah rahasia yang sudah disimpan oleh Danu selama lebih kurang tiga tahu itu.
Vina terdiam dengan semua ucapan Danu. Vina sudah bisa menarik kesimpulan dari cerita Danu. Vina mengerti sekarang, kalau Danu benar benar pria yang baik.
"Vina, kenapa diam? Apa kamu sudah menarik kesimpulan dari apa yang aku katakan?" tanya Danu kepada Vina yang cukup lama terdiam itu. Danu tidak ingin Vina menarik kesimpulan yang salah nantinya.
"Bang, kesimpulan aku tidaklah penting. Sekarang tolong katakan apa rahasia besar itu. Aku janji, aku akan diam saja dan tidak akan menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi sebenarnya" ujar Vina yang tidak ingin menyimpulkan sendiri.
Vina ingin Danu sendiri yang mengungkapkan rahasia itu. Walaupun apa yang dipikirkan oleh Vina sudah mengarah sembilan puluh sembilan persen, tetapi Vina tetap ingin Danu yang mengungkapkannya.
"Tapi aku mohon Vina. Semarah apapun kamu besok ke aku atau ke dia, aku mohon jangan sampai kamu mengatakan hal ini. Kamu bisa janji ke aku kan Vin?" tanya Danu sekali lagi. Danu perlu meyakinkan dirinya kalau Vina tidak akan membongkar rahasianya itu.
"Bang aku janji tidak akan mengatakan hal apapun. Tapi kalau kamu ragu ke aku, kamu bisa kok nggak mengatakannya kepada aku. Aku tidak masalah juga Bang, kalau kamu tidak jadi menceritakannya ke aku." ujar Vina dengan nada tegas berkata kepada Danu. Vina tidak ingin Danu menceritakan rahasia besarnya, tetapi ternyata Danu meragukan dirinya bisa menyimpan rahasia besar itu.
"Baiklah aku sudah yakin dan sangat percaya sama kamu. Aku tidak pernah meragukan kepercayaan kamu kepada aku." ucap Danu yang memang sebenarnya dia percaya luar biasa kepada Vina.
Vina tidak pernah mengecewakan Danu, tetapi Danu lah yang sering mengecewakan Vina. Memang sudah selayaknya Vina marah karena Danu berkali kali bertanya tentang hal itu. Vina tidak ingin seseorang berbagi rahasia dengan dirinya, tetapi orang itu meragukan dirinya juga.
"Jadi sebenarnya Deli bukan anak kandung aku. Tetapi dia memang benar anak kandung Ranti." ujar Danu yang berhasil berbagi rahasia besar itu kepada Vina.
Seorang wanita yang ada di dalam hati dan pikirannya. Seorang wanita yang sangat dipercayai oleh Danu. Makanya Danu mengatakan rahasia besar itu kepada Vina seorang, tidak kepada orang lain. Danu sama sekali tidak percaya dengan mereka.
"Apa kamu sudah yakin Bang?" tanya Vina ingin memastikan bahwasanya apa yang dikatakan oleh Danu adalah sebuah kebenaran dan tidak ada kebohongan sedikitpun di dalamnya atau hanya praduga saja.
Vina ingin semua itu adalah sebuah kepastian. Kepastian bahwasanya Danu sudah melakukan pengecekan atas semua bukti bukti yang ada.
"Kapan kamu melakukan semua tes itu Bang?" tanya Vina yang kalau sudah menyangkut kebaikan seperti ini akan selalu penasaran dengan awal cerita dan kelanjutan cerita.
"Tahun kemaren. Saat itu Ranti sedang pergi perjalanan bisnis keluar kota. Jadi, Deli jatuh, saat itu aku iseng ingin mencek golongan darah Deli. Dan boom sebuah kebohongan itu mulai terbongkar. Golongan darah Deli tidak sama dengan aku." ujar Danu mulai menceritakan awal dia mulai melakukan penyelidikan terhadap Deli.
"Saat itu aku pengen marah kepada Ranti. Ingin mengusir Ranti dan Deli. Ingin rasanya untuk pergi dari mereka berdua. Tetapi aku harus menemukan bukti yang lebih kuat. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan tes DNA saja" lanjut Danu bercerita tentang bukti bukti kuat yang menyatakan kalau Deli bukan anak dari Danu.
"Keesokan harinya aku mengambil rambut Ranti yang tersangkut di sisir. Aku juga mengambil rambut Deli. Aku juga mengambil sendiri rambut aku. Aku mengantarkan itu kepada saudara aku yang juga seorang dokter" lanjut Danu menceritakan saat kejadian itu kepada Vina. Danu memang melakukan semua itu untuk mendapatkan bukti kuat kalau Deli bukanlah darah dagingnya.
"Berarti bertiga kita yang tau Bang. Kamu, aku dan dokter itu" ujar Vina meralat pernyataan Danu yang mengatakan kalau hanya mereka berdua yang tau permasalah Deli ini.
"Ya bertiga. Sayang, kamu mau mempermasalahkan dua atau tiga. Atau mau lanjut ceritanya?" ucap Danu yang keceplosan memanggil Vina dengan kata sayang.
"Ya ya ya ya ya. Maaf. Ayuk lanjut" ujar Vina yang memang sengaja melakukan itu agar Danu tidak bersedih lagi. Vina tidak ingin Danu bersedih karena menceritakan cerita kelam itu kepada dirinya
Vina tersenyum bahagia saat Danu memanggil dirinya dengan memakai kata ganti sayang. Ternyata cinta itu masih tumbuh kuat dalam diri Danu. Vina semakin yakin kalau fhoto dan video yang dikirim oleh Ranti adalah sebuah kebohongan.
"Aku memberikan tiga rambut kami kepada dia. Saat itu dia mengatakan aku harus menunggu selama tiga hari ntah berapa hari. Nanti saat hasilnya keluar dia akan menghubungi aku." ucap Danu dengan nada masih bisa di dengar oleh Vina apa yang dikatakan oleh Danu.
"Tiga hari ntah dua hari, aku lupa pastinya. Aku menerima telpon dari dia. Dia meminta aku datang ke rumah sakit. Saat itu aku masih berharap kalau Deli adalah benar anak aku. Walaupun selama pernikahan kami melakukan bisa di hitung dengan sebelah jari saja." ucap Danu membongkar rahasia ranjang pernikahannya.
Vina tersenyum mendengar ucapan Danu. Vina tidak menyangka Danu akan membuka rahasia rumah tangganya sendirisendiri, apalagi ini rahasia ranjangnya.
"Terus saat kamu sampai di sana bagaimana?" tanya Vina yang tidak sabaran dan langsung memotong kembali cerita Danu.
"Saat aku sampai di sana. Aku duduk di depan dokter itu. Aku memandang lama wajah dokter itu. Aku memperhatikan wajah dokter tersebut" ujar Danu yang mulai menggoda Vina, karena Vina ungun cepat menyelesaikan obrolannya dengan Danu.
"Ye mana ada kayak gitu. Ya nggak lah." ujar Vina yang tau Danu menggoda dirinya untuk saat ini.
"Makanya jangan motong cerita orang dengan pertanyaan. Jadinya kan dikerjain" ujar Danu menasehati Vina.
"Maaf. Mulai ini ke atas nggak akan di potong lagi. Ayuk mulai ceritanya" ujar Vina membujuk Danu untuk melanjutkan kembali ceritanya yang sempat tertunda itu.
__ADS_1
"Sangat aku sampai di sana. Dokter itu memberikan hasil dari uji dna yang ada di rambut kami bertiga. Dia sama sekali tidak mau menyampaikan secara langsung. Saat itu aku diminta membuka amplop tersebut" Danu kembali melanjutkan ceritanya itu.
"Saat aku membaca surat tersebut. Sebuah bom seperti meledak di kepala aku. Anak yang selama ini aku rawat, aku jaga, aku tumpahkan semua kasih sayang aku ke dia. Ternyata bukanlah darah daging aku sendiri" ujar Danu menceritakan pengalaman terkelamnya dalam hidupnya.
"Aku kemudian pulang ke rumah. Saat itu Deli menyambut kedatangan aku di depan rumah. Ingin rasanya aku mengabaikan dirinya itu. Tetapi, apa mungkin anak umur tiga tahun harus aku acuhkan saja, hanya karena keegoisan aku" lanjut Danu bercerita kisah pilu tersebut.
"Saat aku tau dia bukan darah daging aku, saat itu pulalah dia bisa berbicara. Dan kamu tau apa kata pertama yang diucapkannya? Yah. Ayah" ujar Danu meneteskan air matanya.
Vina yang tau Danu sedang meneteskan air matanya terpaksa harus menyela cerita Danu.
"Kamu dimana sekarang? Masih di restoran atau udah di mobil?" tanya Vina yang nggak ingin Danu dilihat orang menangis di kafe itu.
"Udah di mobil. Kenapa emangnya?" tanya Danu penasaran dengan pertanyaan Vina itu.
"Nggak ada kenapa kenapa. Cuma mau mastiin aja kamu dimana" ujar Vina menjawab perkataan Danu.
"Kirain" ujar Danu dari seberang nun jauh di sana. Danu mengira kalau Vina mengetahui kalau dia sedang bersedih. Danu berharap Vina mengatakan jangan sedih. Atau Vina memberikan dia kata kata motivasi.
"Vina, Vina, Vina. Loe dimana?"
Terdengar suara teriakan Maya mencari dirinya. Vina melihat ponselnya, ternyata dia cukup lama menghilang dari hadapan sahabat sahabatnya itu. Vina sudah selama satu jam lebih duduk di ayunan itu. Sudah selayaknya sahabat sahabatnya berteriak teriak. mencari dirinya.
"Bang, nanti kita sambung ya. Aku dicariin Maya itu. Nanti sampe rumah aku video call aja. Biar hemat pulsa" ujar Vina yang sudah mau melakukan video call dengan Danu. Vina juga tidak mau Maya mencurigai dirinya. Makanya Vina lebih memilih untuk mengakhiri panggilannya dengan Danu.
"Sip.Kamu cepat pulang ya. Temani aku ke kampung" ujar Danu yang sudah berani meminta kepada Vina.
"Sip. Siap ini aku akan langsung pulang. Aku temui Maya dulu. Udah dulu ya. Hati hati di jalan" ujar Vina menutup panggilannya dengan Danu.
"Oke" jawab Danu dengan cepat.
Vina kemudian berjalan menuju kafe kembali. Dia melihat Maya, Sari, Juan, Iwan dan Ivan sudah mondar mandir tidak jelas.
"Cari apaan?" tanya Vina dengan wajah tak bersalahnya itu ke depan semua sahabat sahabatnya yang dari tadi udah mondar mandir mencari dia.
"Cari perempuan namanya Vina. Udah menghilang selama satu jam, ndak tau dia pergi kemana" ujar Maya dengan sewot nya.
"Lah, aku kan ngomong ke Rina, kalau aku pergi angkat telpon sebentar. Emang Rina nggak ngomong?" tanya Vina kepada Maya dengan wajah innocent nya itu.
"Rina ngomong. Katanya cuma sebentar ini udah lebih dari satu jam Vina. Makanya kami semua cariin kamu. Kiranya kamu muncul dengan wajah bahagia" lanjut Maya yang tidak jadi marah kepada Vina, karena Vina muncul dengan wajah bahagianya.
"Gue udah tau siapa yang loe telpon. Nggak usah pake ngilang ngilang lagi. Gue bahagia kalau loe bahagia" ujar Maya memeluk Vina.
Maya memang orang pertama yang menentang hubungan antara Vina dengan Danu kalau kembali terulang. Tetapi saat Vina terlihat bahagia, Maya tidak bisa mempertahankan keputusannya. Dia menjadi orang pertama yang mendukung keputusan Vina. Bagi Maya dan Vina, kebahagiaan mereka berdua menjadi prioritas bagi mereka berdua.
"Makasi Maya. Aku bahagia kamu mengizinkan aku kembali dengan dia. Tapi, aku janji sama kamu, aku akan benar benar menerima dia, saat dia memang sudah bercerai dengan istrinya" ujar Vina berjanji kepada Maya.
"aku percaya dengan kamu Vin" jawab Maya.
Maya kemudian melepaskan pelukannya dari Vina. Maya memberikan senyuman terbaiknya kepada Vina. Vina membalas memberikan senyumannya kepada Maya.
"Aku pulang dulu ya. Capek banget" ujar Vina izin kepada Maya untuk ulang terlebih dahulu
"Oke. Kamu diantar Pak Hans aja ya. Nanti biar Ivan yang mengantar Aku dan Rina pulang ke rumah" jawab Maya yang meminta Vina untuk pulang dengan Pak Hans.
"Oke May." jawab Vina yang tidak membantah ucapan Maya.
"Sari, Bang, aku pulang duluan ya. Maaf udah merepotkan kalian semua tadi" ujar Vina meminta maaf kepada semua orang yang telah mencari dirinya itu.
"Oke Vin. Hati hati di jalan" ujar Sari yang sama sekali tidak bertanya apapun kepada Vina.
Vina masuk ke dalam mobil. Pak Hans mengemudikan mobil menuju rumah. Sama sekali tidak ada percakapan yang terjadi antara Vina dengan Pak Hans.
Pak Hans memerhatikan nona nya itu. Dia melihat Vina sudah tidak seperti tadi. Sekarang Nona nya itu sudah tersenyum lagi.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil telah terparkir di depan garasi rumah. Vina turun dari dalam mobil. Dia membuka pintu rumah dan langsung menuju kamarnya. Dia ingin cepat cepat membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian tidur. Padahal sebenarnya Vina melakukan gerak cepat itu agar bisa cepat melakukan video call dengan Danu, seperti janjinya tadi.
__ADS_1