
Vina dan Maya telah sampai di rumah mereka. Pak Hans sudah memberhentikan mobil tepat di depan pintu garasi rumah. Vina dan Maya kemudian keluar dari dalam mobil. Mereka berdua menuju pintu rumah.
"May, gue langsung masuk kamar ya. Capek plus mengantuk. Loe mau duduk dulu atau mau langsung istirahat juga?" tanya Vina kepada Maya. Vina merasakan sekujur tubuhnya letih letih karena tidak henti hentinya membuat pesanan makanan dari para pengunjung kafe yang tidak putus putus berdatangan ke kafe mereka yang baru buka itu.
Hal ini disebabkan oleh Sari, Juan dan Ivan yang selalu melakukan siaran langsung dan promo di media sosial mereka masing masing, dimana followers mereka luar biasa banyak, bahkan media sosial mereka sudah centang biru.
"Gue juga sama Vin, langsung masuk kamar juga mengantuk gue. Mana capek lagi. Tapi asik" ujar Maya dengan semangat.
"Capeknya hilang karena pengunjung yang ramai. Jadi nggak lagi terasa capek badannya" ujar Maya melanjutkan omongannya yang sempat di jedanya itu.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju lantai atas rumah mereka. Mereka berdua masuk ke dalam kamar masing masing.
Mereka berdua kemudian membersihkan diri dan menukar pakaian dengan pakaian tidur. Setelah itu mereka langsung naik ke atas ranjang besar masing masing. Dalam sekejap mungkin karena kelelahan Vina dan Maya langsung tertidur lelap.
Sedangkan di mansion, Sari, Ivan dan Juan sudah duduk di ruang kerja Ivan. Mereka akan berbincang bincang sebentar. Sedangkan Iwan sudah masuk ke dalam kamar dan bersiap siap untuk tidur.
"Ada apa Bang? Nggak tau malam juga masih juga pengen ngobrol" ujar Sari dengan sedikit sewot dan sebenarnya sudah bisa membaca arah pembicaraan Ivan nantinya.
"Jangan pura pura nggak tahu Nona muda Sanjaya. Jadi, tolong jelaskan. Abang nggak marah kamu minta tolong Juan untuk membaca dokumen. Sama seki tidak marah. Tetapi jelaskan kenapa" lanjut Ivan sambil menatap Sari.
Sedangkan Juan berusaha menahan senyumnya. Dia nggak mau Sari ngamuk ngamuk karena dia sudah terlanjur mengatakan kepada Ivan, kalau dia ikut membaca dokumen dokumen kerja sama perusahaan mereka dengan perusahaan luar.
"Jadi gini Bang. Saat pulang dari negara I dokumen dokumen yang harus di baca nggak tanggung banyaknya. Ada tiga tumpukan dokumen. Kisaran lima belas lebih ada tu dokumen. Belum lagi di ruangan Vina hampir sama banyaknya. Tapi lebih banyak di ruangan aku" ujar Sari mulai menceritakan kronologis kejadian itu
"Terus?" tanya Ivan tidak sabar mendengar kelanjutan cerita dari Sari.
"Terus, kan karena banyak, aku bagi menjadi dua. Satu yang bisa langsung selesai di aku dan satu lagi selesai di Vina." ujar Sari mengatakan bagaimana pola kerjanya saat membaca dokumen yang begitu banyak.
"Terus yang kamu baca bagian yang mana?" ujar Ivan menatap Sari.
Belum sempat Sari menjawab Ivan menghentikan Sari.
"Bentar, Abang tau bagian mana yang kamu baca dan Juan baca" ujar Ivan yang sudah bisa menebak Sari memberikan bagian yang mana kepada Juan.
"Yang mana coba kalau memang tau?" tanya Sari kepada Ivan.
"Palingan yang dibaca Juan yang harus selesai sama kamu. Sedangkan kamu membaca yang harus selesai sama Vina" ujar Ivan menatap Sari adik satu satunya itu.
"Mana ada" ujar Sari sambil menahan senyum simpul nya.
"Benerkan. Udah deh Sari jangan banyak gaya, ngaku aja. Ngaku nggak bayar Sari" ujar Ivan memaksa adiknya untuk mengakui tebakan dirinya.
"Hehehehehe" ujar Sari tertawa malu kepada abangnya itu.
"Loe emang nggak berubah Sar. Tetap aja, kalau masih bisa memilih yang gampang, maka elo akan milih yang gampang itu" ujar Ivan sambil geleng geleng kepala.
"Bang, kapan loe pindah kemari?" tanya Sari sambil melihat ke arah Ivan yang sudah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Belum tau. Emang kenapa?" tanya Ivan menatap Sari sekilas.
"Kerjaan semakin banyak Bang. Kami butuh bantuan elo untuk ada di perusahaan" ujar Sari sambil menatap Ivan dengan tatapan memohon.
"Nggak pun ada gue di sini, kan elo masih bisa nelpon gue kan, minta tolong ngurus pekerjaan" ujar Ivan kepada Sari.
Sari memang selalu mengirimkan setiap proposal kerjasama kepada Ivan. Nanti setelah dianalisa oleh Ivan, barulah Sari mengatakan kepada Vina.
"Bang, tolonglah. Loe kan tau passion gue nggak di sini. Nggak sanggup lagi otak gue Bang" ujar Sari yang memang dengan terpaksa bekerja di perusahaan. Kalau boleh memilih Sari lebih memilih untuk bekerja di luar perusahaan. Dia berkeinginan untuk membuka sebuah butik pakaian. Sayangnya cita citanya itu harus dikubur sejenak, karena perusahaan membutuhkan tenaga dan pikirannya.
"Gue pikir dulu ya. Kalau nggak tukar posisi dengan Juan gimana?" ujar Ivan menggoda Sari dengan menjadi pilot perusahaan.
"Loe pengen bikin gue dimaki maki Ayah. Atau sekalian diusir dari rumah agar loe jadi pewaris tunggal Bang?" ujar Sari dengan wajah cemberut nya.
"Hahahaha. Makanya sabar. Kalau nggak sabar satu satunya ya itu. Juan duduk di jabatan kamu. Kamu bawa pesawat." ujar Ivan dengan sengaja mengatakan hal itu agar Sari tidak lagi merengek meminta Ivan untuk cepat pulang dan menjadi presiden direktur perusahaan mereka. Jabatan yang sampai sekarang tidak nampak orangnya.
__ADS_1
"Udah malam, mari tidur. Tengok Juan udah susah nahan kantuknya" ujar Ivan membubarkan diskusi mereka bertiga dengan cara mengajak untuk istirahat.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka tidak lupa membasuh wajah dan menukar pakaian yang sudah seharian dipakai. Setelah melakukan ritual bersih bersih, barulah mereka bertiga naik ke atas ranjang dan langsung tidur.
Vina yang katanya sudah mengantuk itu tidak bisa juga memejamkan matanya. Bayang bayang fhoto Danu dan Ranti di atas ranjang yang sama membuat Vina tidak bisa tidur. Belum lagi video yang dikirimkan oleh Ranti, membuat Vina semakin tidak bisa tidur.
"Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus percaya dengan fhoto dan video itu?" ujar Vina bergumam sendirian.
"Pengen rasanya untuk tidak mempercayai video itu. Tetapi sangat susah karena video itu terlihat asli dan tidak ada editan sama sekali" lanjut Vina sambil menatap langit langit kamarnya.
"Apa aku tanyakan sama Danu saja ya? Biar semuanya pasti"
"Tapi kalau aku tanya Danu, tentu Danu beranggapan aku tidak percaya sama dia lagi. Aku nggak mau hal itu terjadi. Aku pengennya Danu percaya sama aku dan tidak meragukan aku" lanjut Vina masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Huft apa yang harus aku lakukan. Aku nggak bisa tidur" ujar Vina.
Vina kemudian memejamkan matanya. Dia berusaha untuk tertidur. Tetapi sebegitu besar usaha Vina, sebegitu besarnya pula pikiran Vina menolak untuk tidur.
Akhirnya setelah berkutat dengan pemikirannya sendiri, Vina akhirnya bisa tertidur lelap. Vina tidak tahu kapan akhirnya dia bisa tertidur. Tapi satu hal yang pasti Vina sudah tidur.
Sedangkan di negara I, Danu yang baru sampai di perusahaan, langsung menuju lantai ruangannya. Danu berencana membawa salah satu rekan kerjanya untuk berangkat meeting di luar.
"Siapa yang mau gue bawa ya. Ivan atau Iwan?" ujar Danu berbicara sendirian di dalam lift.
"Iwan ajalah, lagian ini project yang membuat dan membikinnya adalah Iwan. Jadi, Iwan lah yang mengerti dengan sedetail detailnya." ujar Danu yang telah memutuskan mau membawa siapa saat dia akan pergi meeting nanti.
Danu akhirnya sampai di lantai ruangannya. Dia kemudian keluar dari dalam lift. Danu membuka pintu ruangan, dia melihat dua kursi yang masih kosong. Kursi Ivan dan Iwan.
Danu melihat jam tangannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
"Tumben belum nyampe, kemana mereka ya, jam segini masih belum datang juga" ujar Danu menatap kedua kursi kosong itu.
Danu kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan. Dia akan menunggu Iwan dan Ivan di sana. Jadi, saat mereka datang Danu akan langsung mengajak Iwan untuk meeting keluar. Meeting yang akan berlangsung jam sembilan pagi.
"Apa mereka kompakan sakit ya?" ujar Danu berpikir sendiri.
"Gue telpon ajalah." ujar Danu sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Iwan.
"Nomor yang ada tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi. Atau silahkan tekan satu untuk meninggalkan pesan" bunyi suara wanita menjawab panggilan Danu.
"Tumben mati" ujar Danu sambil menatap ponselnya.
Danu kembali mencoba. Tetapi hasilnya tetap sama perempuan lah yang mengangkat panggilan dari Danu. Masih dengan mengatakan hal yang sama.
"Nggak capek tuh ibuk ibuk, ngomong hal yang sama" ujar Danu sambil menatap layar ponselnya.
"Ivan" ujar Danu yang beralih menghubungi nomor ponsel Ivan, staffnya yang satu lagi.
Danu mendial nomor ponsel Ivan. Danu menunggu sampai ada jawaban. Ponsel Ivan masih lumayan berdering. Sedangkan Iwan sama sekali tidak ada tanda tanda kehidupan.
"Silahkan tinggalkan pesan. Sedang demam. Nggak kuat angkat panggilan" ujar suara Ivan menjawab setiap panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Kemana mereka berdua ya. Kalau Ivan jelas sakit. Iwan ini kemana? Apa dia pulang kampung lagi, makanya ponselnya nggak aktif." ujar Danu yang sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Danu melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Danu kemudian masuk ke dalam ruangannya.
"Untung aja maren udah mintak bahan tayangnya. Kalau ndak, bisa selamat gue dari meeting" ujar Danu sambil mengurut dadanya.
Untung saja dia juga sudah mempelajari materi meeting hari ini dan sudah meminta bahan tayang serta desain project yang dibuat oleh Iwan.
"Mereka berdua bener bener menguji kesabaran gue. Untung aja gue termasuk manusia penyabar. Kalau ndak bisa mati berdiri gue karena syok dengan kelakuan mereka yang kompak libur kayak gini" lanjut Danu mengomel sendirian sambil masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Danu duduk di kursi kerjanya. Dia melihat ada sebuah surat di atas meja. Danu mengambil surat tersebut lalu membacanya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaaa Iwannnnnnnnn Ivannnnnnn, kalian berdua bener bener bikin gue pusing." teriak Danu dengan kesal saat membaca pesan yang ditulis oleh Ivan dan Iwan di secarik kertas dan ditarok di atas meja.
Danu mengambil flashdisk yang ada di bawah surat tersebut. Danu menghidupkan laptopnya. Danu membuka file yang ada dalam flashdisk.
Danu melihat kedua staffnya sudah menyiapkan semua kebutuhan untuk meeting mulai dari bahan tayang sampai dengan project yang harus mereka presentasikan kepada para calon kolega bisnis mereka.
"Untuk kualitas pekerjaan mereka nggak akan gue ragukan lagi. Tapi untuk acara liburan seperti ini, gue juga nggak bisa ngerasain kemampuan mereka" ujar Danu sambil geleng geleng kepala.
Danu kemudian menyiapkan semua keperluan untuk meeting hari ini. Dia akan menemui presiden direktur menanyakan dengan siapa dia akan pergi meeting.
Danu membawa semua bahan meeting hari ini. Dia masih punya waktu untuk ke ruangan presiden direktur sebelum dia pergi meeting. Tapi baru saja Danu mu masuk ke dalam lift. Ternyata presiden direktur sudah berada di dalam lift.
"Masuk Dan. Kita berangkat meeting" ujar Presiden direktur meminta Danu untuk masuk ke dalam lift.
"Tuan kok tau saya mau pergi meeting?" tanya Danu curiga kepada Presiden direktur.
"Semalam Ivan menghubungi saya, dia minta izin harus ke negara U mengurus pendaftaran kuliahnya. Makanya saya izinkan. Ternyata setelah Ivan giliran Iwan yang menghubungi saya minta izin, karena sakit dan harus pulang kampung" jawab Presiden direktur berbohong kepada Danu.
"Kenapa mereka tidak menghubungi saya ya?" ujar Danu penasaran dengan gaya kedua staffnya yang lebih memilih menghubungi langsung Presiden direktur dari pada menghubungi dirinya.
"Mereka sudah berusaha menghubungi kamu. Tapi ponsel kamu tidak aktif. Makanya mereka menghubungi saya" ujar Presiden direktur membela Iwan dan Ivan.
"Oh baiklah" jawab Danu.
"Jadi sekarang kita pergi meeting berdua?" tanya Danu kepada Presiden direktur.
"Yup. Kebetulan rekan bisnis kali ini adalah sahabat saya. Makanya saya mau menemani kamu untuk meeting ke luar" ujar Presiden direktur yang nggak mau rekan kerjanya nanti bertanya tentang Ivan, karena rekan bisnisnya itu tahu kalau Ivan bekerja di perusahaan Sanjaya yang ada di negara ini.
"Syukurlah jadi saya ada temannya." ujar Danu yang bersyukur ditemani oleh Presiden direktur.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil milik Presiden direktur. Kali ini Danu yang akan membawa mobil ke tempat meeting. Mereka harus cepat sampai di sana.
Danu mengendarai mobilnya selama dua puluh menit untuk sampai ke tempat meeting. Ternyata mereka sudah di tunggu oleh rekan bisnis itu.
"Maaf terlambat, bagaimana kalau kita langsung saja presentasinya Tuan" ujar Danu yang memang sangat tidak suka berasa basi itu.
"Oh baik Tuan Danu. Mari silahkansilahkan kita mulai presentasinya" ujar calon rekan bisnis perusahaan mereka yang baru.
Danu mulai mempresentasikan project tersebut dengan gamblang. Danu tergolong seseorang yang pintar. Apalagi sebentar lagi dialah yang akan memimpin perusahaan itu setelah presiden direktur yang sekarang kembali ke negara U.
"Bagaimana Tuan?" tanya Danu.
Presiden direktur hanya diam saja. Dia mengamati bagaimana cara Danu mengolah materi meeting dan melibi calon kolega bisnis mereka itu.
"Saya sangat senang dengan presentasinya. Kapan kita bisa tanda tangan kontrak kerjasama?" tanya presiden direktur tersebut.
"Sekarang juga bisa" ujar Danu yang memang sudah menyiapkan dokumen dokumen kerja sama yang harus ditandatangani.
Setelah semua beres Danu dan presiden direktur kembali menuju perusahaan. Mereka akan melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Apalagi Danu, yang ntah sampai kapan ditinggalkan oleh staffnya itu. Jadi Danu harus kerja ekstra mempelajari semua bahan bahan untuk meeting dan juga harus bisa memahami desain project yang dibuat oleh Iwan dan Ivan.
"Mereka bener bener bikin gue seterah plus mabok" ujar Danu sambil menutup pintu ruangannya.
Dia mulai membuka file itu satu persatu. Dia harus mempelajari mulai dari waktu yang paling dekat dan mepet. Danu tidak mau terlihat goblok saat presentasi nanti.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Stay cun di sini ya kakak. Jangan kemana mana. Mulai hari ini up nya akan double.
singgah juga di
My Affair
Suamiku Bukan Milikku
__ADS_1