Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pekerjaan Ivan


__ADS_3

'Gue udah di bestman' ujar Iwan mengirimkan pesan kepada Ivan.


'Tunggu situ Bang' ujar Ivan membalas pesan chat dari Iwan.


Ivan yang sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya menghentikan pekerjaannya terlebih dahulu. Dia harus pergi ke bawah untuk menjemput Iwan.


Ivan kemudian turun dari dalam penthousenya. Ivan harus menjemput Iwan ke bestman, kalau tidak maka Iwan tidak akan bisa sampai ke penthouse tempat dimana Ivan sedang menunggu dirinya.


"Sorry Bang lama" ujar Ivan yang melihat Iwan sudah duduk dengan santai di atas kapal mobilnya.


"Nggak apa apa, gue juga belum lama ini sampe sini" ujar Iwan menjawab sambil berdiri dari posisi duduknya.


Iwan kemudian berjalan menuju Ivan. Mereka berdua kembali masuk ke dlam lift yang akan membawa mereka ke tujuannya yaitu Panthouse Ivan yang berada di lantai paling atas gedung apartemen mewah tersebut.


"Jadi apa yang sedang loe kerjain sekarang? Sampai sampai loe minta gue ke sini. Padahal loe tau sendirikan ya gue nggak bisa apa apa dengan laptop selain bikin sketsa" ujar Iwan yang kaget tiba tiba Ivan mengajak dirinya untuk menemani dirinya melakukan sesuatu.


"Abang memang nggak bisa apa apa tapi minimal bisalah untuk nemani gue begadang" lanjut Ivan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Iwan kepada dirinya.


"Oh oke kalau itu gampang. Tinggal duduk manis terus nengok koe kerja"


Iwan berkata dengan santai dan memberitahukan ke Ivan apa yang akan dilakukan  oleh dirinya selama dia menemani Ivan bekerja di depan laptop.


Tak terasa mereka berdua telah sampai di Panthouse Ivan. Iwan dan Ivan kemudian keluar dari dalam lift dan langsung masuk ke dalam Panthouse milik Ayah.


"Kita langsung ke kamar gue aja Bang. Ayah masih belum balik dari perusahaan" ujar Ivan yang langsung mengajak Iwan ke dalam kamarnya untuk memulai pekerjaan mereka berdua.


"Sip. Mari kita langsung bekerja" jawab Iwan.

__ADS_1


Ivan mulai memainkan jari jarinya di atas papan keyboard komputer miliknya. Sedangkan Iwan hanya duduk saja sambil memainkan ponsel miliknya.


"Apa yang terjadi Van?" ujar Iwan yang tiba tiba merasa bosan bermain ponsel dan mulai tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Ivan sekarang ini.


Belum sempat Ivan menjawab pertanyaan yang dianukan oleh Iwan kepada dirinya. Ayah tiba tiba membuka pintu kamar Ivan yang memang tidak pernah di kunci oleh Ivan.


"Hay anak muda, ayo kita makan, nanti baru kerja lagi." kata Ayah mengajak Ivan dan Iwan untuk makan malam bersama.


"Semenarik apapun pekerjaan itu yang namanya perut tetap harus diisi, atau kalian mau sakit?" Lanjut Ayah kepada kedua orang yang ada di dalam kamar tersebut.


Ivan dan Iwan memilih untuk mengikuti Ayah ke meja makan dari pada mereka akan diceramahi oleh Ayah sampai mereka keluar dari dalam kamar Ivan.


Ayah, Ivan dan Iwan kemudian duduk di kursi meja makan. Ayah ternyata sudah membeli menu makan malam untuk mereka bertiga. Ivan yang melihat ada makanan favoritnya yang dibeli Ayah di restoran favorit Ivan langsung semangat mengambil nasi.


"Hay, tadi katanya nggak mau makan, udah kenyang, sekarang paling pertama mengambil makanan" ujar Ayah menyindir Ivan yang mengambil nasi lebih dahulu dari pada yang lainnya.


"Ya ya ya ya, kamu mana bisa disalahkan Ivan, bisa seteres orang kalau menyalahkan kamu" jawab Ayah yang sangat tahu bagaimana tipe dari anak laki lakinya ini yang benar benar egois kalau sudah dengan saudara saudaranya, untung saja dengan orang sekitar tidak, sehingga membuat Ayah dan Sari menjadi aman dan bisa tersenyum saat Ivan bisa mengalah kepada orang lain.


"Tapi..." ujar Ivan yang masih akan menjawab perkataan dari Ayah


"Ivan, mau lanjutin kerjaan nggak nanti? Kalau nggak mari kita perang perkataan seperti biasanya" ujar Ayah yang mengingatkan Ivan akan pekerjaannya yang sama sekali belum selesai dan masih membutuhkan perhatian serius dari Ivan untuk mengerjakan semuanya tepat waktu.


"Huft" Ivan melengus saat Ayah mengingatkan dirinya akan pekerjaan yang masih belum selesai dia kerjakan.


Ivan sebenarnya ingin melupakan sejenak permasalahan tentang pekerjaan yang sedang dia lakukan itu. Tetapi karena Ayah sudah mengingatkan mau tidak mau Ivan mengingat kembali pekerjaannya sebelum dirinya menikmati makanan favoritnya yang sudah susah payah dibelikan oleh Ayah.


Mereka bertiga kemudian makan menu makan malam yang dibeli Ayah sesaat sebelum sampai di panthouse itu dengan begitu nikmatnya. Apalagi Ivan yang benar benar sangat menggilai makanan yang dibelikan oleh Ayah. Sekarang saja sudah yang ketiga kalinya Ivan mengambil nasi tambah.

__ADS_1


"Serius loe Van?" ujar Iwan yang baru sekali ini melihat Ivan makan sebanyak itu


"Loe kayak orang yang udah seminggu nggak nampak nasi Van" lanjut Iwan menyuarakan kekagetannya saat melihat Ivan yang sudah mengambil nasi tambah sebanyak tiga kali. Porsi yang menurut Iwan adalah porsi yang luar biasa besar.


"Sekali sekali Bang. Siapa suruh Ayah membeli makan malam favorit gue Bang, makanya gue nggak bisa mengendalikan nafsu makan gue" Ivan berusaha membela dirinya.


"Haha haha haha, bilang ajalah memang laper, banyak pula gaya kamu" kali ini Ayah yang menjawab sanggahan yang diberikan oleh Ivan kepada Iwan.


"Ooo jadi dasarnya memang banyak makan kayak gini Ivannya Ayah, kok selama ini dia bisa menahan nafsu makannya di depan aku dan Danu?" ujar Iwan yang sengaja memancing Ayah untuk mengobrol selama Ivan menikmati makan malamnya itu


"Haha haha, nggak juga Wan, Ivan bisa makan sebanyak ini saat makanan ini yang ada di depannya, kalau nggak ini, ya dia nggak akan makan sebanyak ini" ujar Ayah menerangkan kepada Iwan kenapa Ivan bisa makan banyak seperti saat sekarang ini.


"Oooo jadi lihat kondisi" ujar Iwan


Ivan yang selesai makan, membasuh tangannya sebelum dirinya menanyakan sesuatu kepada Ayah. Ivan perlu tahu siapa sebenarnya keluarga Wijaya itu.


"Ayah bisa Ivan tanya sesuatu?" ujar Ivan membuka percakapan malamnya ini dengan Ayah


Iwan yang mendengar gaya bicara Ivan sudah bisa membayangkan kalau Ivan akan menanyakan sesuatu yang serius kepada Ayah. Ayah pun begitu juga, saat Ayah mendengar bagaimana cara berbicara Ivan, Ayah sudah yakin kalau Ivan akan menanyakan sesuatu yang penting kepada Ayah. Ayah kemudian memfokuskan dirinya untuk berbicara dengan Ivan dan Iwan.


"Ada apa Van, sepertinya serius sekali yang akan kamu bicarakan dengan Ayah" ujar Ayah sambil menatap ke arah Ivan


Iwan ikut ikutan melihat ke arah Ivan saat Ayah menatap ke arah Ivan.


"Memang benar serius Ayah, aku aja sampai nggak tau mau mulai dari mana" ujar Ivan menjawab pertanyaan dari Ayah


Ayah dan Iwan yang mendengar jawaban yang diberikan oleh Ivan, langsung menatap ke wajah Ivan dengan tatapan tajam. Ayah dan Iwan tidak mengerti kenapa Ivan bisa menjawab pertanyaan Ayah dengan jawaban seperti itu. Ayah memandang ke arah Iwan meminta Iwan memberikan kode kepada Ayah. Tetapi Iwan menggeleng kepada Ayah. Iwan memang tidak mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Ivan kepada Ayah pada saat ini. Mereka berdua hanya bisa menunggu Ivan untuk mulai bertanya kepada Ayah

__ADS_1


__ADS_2