Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Cerita Danu Kepada Frans


__ADS_3

Danu yang baru sampai di rumah langsung menurunkan kopernya. Dia melihat ada mobil istrinyandi parkiran rumah.


"Tumben dia pulang" kata Danu dengan heran.


Danu kemudian masuk ke dalam rumah.


"Kok sepi ya?" kata Danu heran melihat rumah yang tidak ada seorangpun pelayannya.


Danu kemudian meletakkan kopernya di ujung tangga , dia langsung menuju kamarnya. Pintu kamar yang terbuka sedikit itu menawarkan pendengaran yang membuat Danu ingin teriak kuat kuat. Tetapi Danu menahan rasa ingin marahnya.


"Sayang, iya di sana sayang" kata suara yang sangat dikenal oleh Danu.


"Sayang yang kuat" kata perempuan itu.


"Sayang dikit lagi sayang. Dikit lagi sampe" kata pria tersebut.


"Ayo sayang, aku udah nggak kuat. Kita sama sama sayang" kata yang perempuan.


"Iya sayang bentar lagi. Dikit lagi sayang. Nanggung" kata yang pria.


"Ah" kata mereka bersamaan.


Danu yang mendengar langsung membuka pintu kamar dengan kasar. Dia berdiri di depan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu.


"Loe wanita setres, ap loe nggak bisa nyewa hotel lagi? Kenapa harus dinkamar gue loe berbuat hal seperti inu" teriak Danu di depan istrinya.


"Eh Danu, loe ingat ya ini rumah gue. Bukan rumah elo" teriak istri Danu.


"Apa loe bilang rumah elo?"


"Sadar nggak loe. Ini rumah milik gue." kata Danu.


Danu kemudian pergi ke lemari dan mengambil sertifikat rumag tersebut.


"Loe baca ini" kata Danu sambil melemparkan sertifikat rumah itu.


Ranti mengambil sertifikat yang dilempar Danu ke mukanya. Dia membaca dan memang benar disertifikat itu tertulis nama Danu pemilik sah rumah ini.


"Kamu lihat siapa yang punya?" tanya Danu.


Ranti tercengang, dia mengira kalau rumah itu sudah menjadi miliknya.


"Dulu kamu ngomong akan memindahkan rumah ini menjadi milik ku?" kata Ranti masih dengan sikap angkuhnya.

__ADS_1


"Hay wanita kaya, gue tidak sebodoh itu. Loe kira gue nggak tahu gimana tingkah ****** loe diluaran sana?" kata Danu menatap Ranti dengan marah.


"Dasar wanita ******. Sekali ****** tetap ******" kata Danu.


"Loe lagi pria brengsek. Loe sadar nggak. Selingkuhan loe seorang istri, kalau loe mau main loe bisa cari hotel. Diluaran banyak hotel" kata Danu menunjuk pria selingkuhan istrinya.


"Gue juga tau loe pengusaha kaya yang juga diselingkuhi istri. Jadi gue minta sama loe berdua, jangan pernah kotori rumah gue dengan pekerjaan loe berdua" kata Danu.


"Sebelum gue habis kesabaran, sekarang juga loe berdua keluar dari rumah gue" teriak Danu dengan sangat keras.


Ranti dan selingkuhannya langsung memasang kembali baju mereka. Mereka berdua turun dari kamar Danu dan langsung masuk kedalam mobil. Mereka berdua sangat menyesal sampai tertangkap oleh Danu.


"Sayang tadi kamu ngomong kalau suami kamu seminggu dinas luar." kata Dendi.


"Kata bibik di rumah memang seminggu sayang. Ntah kenapa dia bisa pulang cepat sayang" kata Ranti sambil memeluk Dendi.


"Malu aku sayang. Mana aku ada kerjasama lagi sama perusahaan tempat Danu kerja" kata Dendi.


"Biar aja sayang. Dia hanya manager sedangkan kamu CEO kenapa harus malu?"


"Iya ya sayang. Ngapain malu" kata Dendi.


"Yup. Santuy aja sayang. Anggap aja nggak terjadi apa apa pas ketemu dia di meeting perusahaan" kata Ranti.


"Ke apartemen aja sayang. Lebih aman dan nggak ada oengganggu" kata Dendi.


"Masih belum puas sayang?"


"Belum. Emang kamu udah?" tanya Dendi sambil menatap mesra Ranti.


"Mana ada puas." jawab Ranti.


Mereka berdua akhirnya pergi ke apartemen milik Dendi. Temoat dimana biasanya Dendi membawa para selingkuhannya. Ranti bukanlah satu satunya selingkuhan Dendi.


Danu yang sangat marah langsung membuang seprai yang tadi sempat di pakai oleh pasangan yang bukan suami istri itu. Danu tidak ingin tidur di atas kasur itu lagi. Walaupun Danu sudah tau tentang perselingkuhan istrinya, tetapi Danu berusaha menutup mata dan telinganya. Tetapi sekarang semua terbuka dan terpampang nyata di depan matanya. Terdengar oleh telinganya. Danu benar benar marah.


Danu kembali turun ke bawah, dia tidak mungkin akan tidur di sana. Dia butuh teman untuk berbagi. Danu mengunci kembali pintu rumahnya. Dia akan pergi ke rumah Iwan. Danu menghubungi Iwan, dia tidak ingin nanti sampai rumah Iwan ternyata Iwan sudah tidur. Danu malas membangunkan orang apalagi sampai menggedor pintu rumah orang lain.


"Hallo Wan, loe dimana?"


"Ni sedang nongkrong di depan rumah sama Ifan. Kami lagi makan nasi goreng. Ada apa?"


"Gue kesana. Tolong pesankan gue nasigorengnya sepiring." kata Danu.

__ADS_1


Danu kemudian mematikan ponselnya secara sepihak, tanpa memberitahu kepada Iwan. Iwan menatap ponselnya dengan jengkel


"Dasar manager nggak waras" ucap Iwan.


"Ada apa bang?" kata Ifan yang melihat Iwan kesal itu.


"Ini manager sarap. Mau ke sini dan ngomong pesankan nasgor" kata Iwan.


"Mang nasgor satu pedas pake banget mas" kata Iwan yang iseng mau mengerjai Danu.


"Jontor jontor tu bibir. Enak aja matikan ponsel tanpa ngasi aba aba." kata Iwan dengan kesalnya.


Tak berapa lama Danu datang dengan mobilnya. Dia langsung parkir di tepi jalan dekat gerobak nasi goreng.


"Ada apa Dan. Muka loe kusut banget" kata Iwan yang melihat Danu masih memakai pakaian kantor tadi pagi.


"Nanti gue cerita. Gue laper" kata Danu.


Iwan kemudian memberikan nasi goreng yang sudah dipesankannya tadi. Ifan berusaha menahan senyumnya.


"Kenapa loe. Nahan senyum gitu" kata Danu melihat Ifan.


"Nggak kok bang. Nggak ada nahan senyum. Biasa aja ne muka gue" kata Ifan yang kena injak kakinya oleh Iwan.


Danu kemudian memasukkan sesendok besar nasi goreng kedalam mulutnya. Ifan yang melihat langsung bergidik ngeri. Sedangkan Iwan sudah memegang sebotol air mineral. Tiba tiba Danu yang baru sekali mengunyah nasi gorengnya menatap Iwan dengan tajam.


"Pasti ulah loe lagikan wan?" kata Danu.


Iwan kemudian memberikan botol air mineral ke Danu. Danu langsung menghabiskan dalam sekejap.


"Tapi masih pedes yang tadi Wan daripada nasi gireng mamang ini" ucap Danu. Iwan memandang Ifan.


Ifan mengeluarkan ponselnya. Dia melacak kejadian di rumah Danu. Betapa terkejutnya Ifan melihat siapa yang keluar sambil berpelukan dari rumah Danu.


"Pantesan pedes" kata Ifan.


"Apa?" tanya Iwan.


Ifan melihatkan sedikut ponselnya kepada Iwan. Ifan tidak mau mendahului Iwan untuk bercerita. Ifan hanya tau sepenggal saja. Ifan tidak memasang kamera di semua sudut rumah Danu. Hanya dibeberapa titik saja Ifan memasang kamera.


"Pantesan. Dasar cewek sarap" kata Iwan.


Danu memakan kembali nasi gorengnya dengan sangat lahap. Danu yang biasanya tidak suka pedas entah kenapa malam ini sangat suka sekali dengan rasa pedas. Danu merasa hatinya sangat sakit. Tetapi lebih sakit lagi dengan apa yang dilihatnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2