Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu


__ADS_3

Dana yang sudah tiba di negara pergi menemui Frans yang sekarang sedang berada di kantornya. Danau tidak pergi sendiri melainkan ditemani oleh Iwan. Paman sendirilah yang meminta Danu untuk ditemani oleh Iwan, supaya Danu ada temannya dan bisa mengambil keputusan dengan cara berdiskusi dulu kepada Iwan dan juga kepada Frans. sehingga Danu nanti tidak gegabah untuk mengambil keputusan apa yang harus dilakukannya selama dia berada di negara i.


" Ayo Wan ikut gue kita ke tempat Frans sekarang juga." kata Danu mengajak Iwan untuk berangkat menuju kantor tempat Frans bekerja


" tapi pekerjaan kita gimana ini dan kan besok mau meeting" kejar Iwan yang ingat kalau pekerjaannya masih belum selesai dan Lagian besok mereka harus meeting untuk pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Iwan sekarang.


" tinggal aja dulu. Gue udah ngomong kok sama paman Kata paman tadi gue harus bawa lo supaya gue nanti bisa berdiskusi dengan Kalian bertiga tentang keputusan yang akan gue ambil ke depannya" ujar Danu sambil menatap ke arah Iwan dengan tatapan memohon untuk Iwan bisa berangkat dengan dirinya menuju kantor Frans.


" Oke kalau gitu karena lo udah ngomong dengan Big Boss maka gue akan dengan senang hati ikut dengan lo Gue juga penasaran apa yang akan diberitahukan oleh Frans kepada kita semua" Iwan sambil mematikan laptopnya yang masih hidup.


Iwan sama sekali belum melakukan pekerjaan apapun saat dirinya baru sampai dari rumahnya. Iwan baru sampai setengah jam yang lalu. Dewa sama sekali belum sempat melakukan pekerjaan apapun. dia rencananya akan mulai bekerja saat telah menghabiskan sarapan yang tadi dibelinya di warung depan. Ternyata saya sarapan itu habis dan laptopnya baru dihidupkan, Danu datang sambil membawa dirinya menuju ke tempat Frans.


" jadi, untuk apa aku ingin hidupin komputer ya kalau nggak akan dipakai" kau cari hewan sambil mematikan kembali komputer yang tadi dihidupkannya.


" tadi rencananya Gue memang mau pergi sendirian ke kantor Frans, tetapi saat gue meminta izin kepada paman, Mbak Mama minta kue untuk membawa lo, makanya gue memberitahukan kepada Allah secara mendadak seperti ini" ujar Danu yang memang dari tadi tidak ada niatan untuk membawa Ivan ikut serta dengan dirinya menuju ke kantor Frans berada


" Oh jadi begitu gue kira kalau memang enak untuk membawa gue pergi ke tempat" gue cari Iwan pura-pura tersinggung saat mendengar apa yang dikatakan oleh Danu sebentar ini kepada dirinya


" Iwan Iwan. Bukan laki laki macam lo yang harus pakai acara ngambek segalanya, hanya karena mendengar apa yang gue katakan, e nggak level lo kali ya Wan" ujar Danu sambil berjalan menuju ruangan kerjanya untuk mengambil semua keperluan yang dirasa Danu perlu untuk dibawanya menuju tempat Frans.

__ADS_1


"haha haha haha. gue kira lu mau ngebujuk gue" gue cari uang Berkata sambil menahan supaya tidak tertawa ngakak saat mendengar sendiri apa yang dikatakan olehnya kepada Danu.


" Apa lu bilang, gue harus membujuk elu?" ucap Danu saat keluar dari ruangannya, sambil membawa beberapa dokumen yang menurut Danu akan dibutuhkan nanti saat bertemu dengan Frans.


" Iwan Iwan, yang bener aja lu gue mau membujuk elo. Kayak nggak ada aja kerjaan gue yang lain" kata Danu sambil melirik sekilas ke arah sahabatnya yang dengan percaya dirinya mengatakan kalau Danu harus membujuk Iwan.


"Eee eee eee mana tau kan ya. Loe mau bujuk gue, agar mau ikut dengan elo" ujar Iwan sambil menyandang tas ransel miliknya.


"Cie, ngebujuk elo. Mending ngebujuk Bibik di rumah gue Wan. Bisa kenyang gue jadinya. Ngebujuk elo apa yang gue dapet Wan" ujar Danu menjawab apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini kepada dirinya.


" adalah lo kan bisa aja ada teman menuju tempat Frans kalau nggak lu nggak akan ada taman menuju ke sana" jaringan menjawab perkataan dari danau yang mengatakan kalau membujuk dirinya sama sekali tidak ada gunanya


" nggak perlu ajak Lu pasti akan ikut juga kan?" Bu cardano menebak apa yang ada di dalam pikiran Iwan saat sekarang ini


" bener juga ya Dan kita sahabatan udah lama banget. nggak mungkin lu nggak tahu gue. nggak mungkin juga gue nggak tahu lo" kata Iwan sambil mengangguk ke arah Danu dan memberikan dua jempolnya kepada danu yang sangat tahu bagaimana Iwan terhadap dirinya.


" udah ayo jalan. Nanti keburu siang. lo tau sendiri lah Trans kalau udah siang pasti ilang dari kantornya" kata Danu mengajak Iwan untuk langsung pergi menuju kantor tempat tas bekerja dia tidak ingin sampai di sana kan sudah tidak berada lagi di kantor tersebut


" Emang tuh anak tiap siang ke mana?" kata Iwan yang tidak tahu apa yang dilakukan oleh Frans kalau saat jam makan siang masuk

__ADS_1


" Hei jangan salah loh Wan Wan. sohib kita yang satu itu. semenjak punya istri dan anak. dia selalu makan siang, makan sore dan makan malam di rumah" hujan Danu mengatakan kepada Iwan kenapa mereka akan susah mencari Frans saat jam makan siang.


" wow, kita itu memang tidak berubah sama sekali. dulu makan siang harus di rumah karena ibunya capek masak. sekarang harus makan siang di rumah, karena istrinya yang capek masak. salut gue sama tuh anak" sejarah Iwan sambil kalau berjalan keluar dari dalam lift bersama dengan Danu


" itu gunanya punya istri" ujar Danu melempar bola panas kepada Iwan


" Oh ya? Emang lu udah pernah ngerasain coba" sambar Iwan dengan sangat cepat Bola panas yang dilemparkan oleh Danu kepada dirinya.


" benar juga ya Wan. gue kan juga belum pernah coba. boro-boro dimasakin, diselingkuhin malah yang terjadi" ujar Danu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini kepada dirinya.


Iwan yang mendengar apa jawaban dari Danu langsung memukul kepalanya sendiri dengan pukulan yang sangat pelan. dia tidak menyangka Danu akan mengatakan hal itu kepada dirinya. Iwan mengira,danu akan marah-marah dan mengatakan minimal lumayan dia udah punya istri lu aja belum.


Ternyata apa yang ada di dalam pikiran Iwan sama sekali tidak terjadi. Danu hanya mengatakan kalau dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini. Apa yang ada di dalam pikiran Iwan ternyata sama sekali tidak terjadi.


Mereka berdua akhirnya sampai juga di parkiran. Danu duduk di balik kemudi mobil. Sedangkan Iwan duduk di sebelahnya.


"Siap jalan Wan?" ujar Danu bertanya kepada Iwan.


"Asiap Pir" jawab Iwan sambil bercanda.

__ADS_1


"Dasar loe. Bisa dikatakan sopir" ujar Danu.


Danu kemudian mengemudikan mobilnya menuju kantor Frans. Mereka akan membahas apa yang perlu dibahas oleh Danu dan Frans sekarang ini.


__ADS_2