Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Mall


__ADS_3

Vina sekarang sudah yakin dengan dirinya, kalau dia bisa menentramkan hatinya saat bertemu dengan Danu di luaran sana. Vina tidak ingin selalu dihantui rasa takut bertemu dengan Danu. Dia ingin merasakan kebebasan. Dia tidak mau terus di bawah bayang bayang takut kalau bertemu dengan Danu.


Mereka berempat kemudian pergi menuju mall pusat kota, untuk pergi cuci mata dan menghilangkan rasa jenuh akibat hanya di dalam apartement saja.


"Kita mau kemana dulu Vin?" tanya Sari sambil berjalan di sebelah Vina.


Sedangkan Juan berjalan di sebelah Iwan. Mereka berdua hanya mengikuti kemana Vina dan Sari melangkah.


"Sari, kita ke toko sepatu itu" ujar Vina menunjuk toko sepatu langganan nya waktu masih bekerja di kantor yang lama.


Vina dan Sari menuju toko sepatu yang ditunjuk oleh Vina. Mereka berdua lalu masuk ke dalam toko itu.


Vina kemudian memilih milih sepatu yang diinginkan oleh dirinya. Dia sangat suka memilih sepatu di toko itu. Selain harganya yang tidak mencekik dompet, modelnya juga sangat simpel sesuai dengan selera Vina.


"Kamu nggak ikut milih Sar?" tanya Vina saat melihat Sari hanya diam saja tidak ikut melihat lihat sepatu yang dijual di toko itu.


"Nggak lah Vin. Kamu aja. Sepatu aku masih bagus" jawab Sari yang memang koleksi sepatunya di mansion luar biasa banyaknya. Sampai sampai setiap hari Sari pusing akan memakai sepatu yang mana.


Vina akhirnya memilih dua buah sepatu yang akan dipakainya untuk bekerja di negara U. Sari melihat Vina hanya membeli dua sepatu dengan harga yang luar biasa murah. Perbandingannya seperempat sepatu Sari dua sepatu Vina.


"Kok cuma dua Vin?" tanya Sari kepada Vina.


Padahal Sari tau uang Vina sangat banyak dibandingkan saat dia bekerja di negara ini.


"Untuk apa banyak banyak Sari. Aku takut nanti saat aku meninggal, semua barang barang yang telah aku beli tetapi tidak aku pakai menuntut aku diakhirat. Aku tidak mau itu. Makanya biarlah punya sedikit tetapi berkah." ujar Vina menjawab pertanyaan Sari.


Sari langsung tersentak hatinya mendengar apa yang dikatakan oleh Vina. Sari tidak hanya membeli sepatu yang tidak sempat dipakainya tetapi juga tas, baju dan aksesoris yang lain.


Juan melihat perubahan di wajah Sari.


"Saat itu kamu belum tahu sayang. Sekarang karena sudah tahu kamu harus berubah" ujar Juan menenangkan Sari.


"Makasi sayang. Aku tidak akan belanja apapun lagi. Barang barang aku yang masih ada labelnya saja luar biasa banyaknya. Aku nggak mau mereka menuntut aku besok di akhirat" ujar Sari kepada Juan.


Diantara mereka berempat hanya Juan yang mengetahui tentang koleksi barang barang Sari. Seandainya Vina tahu akan hal itu, Vina tidak akan mengatakan hal itu kepada Sari. Vina tidak akan menyinggung perasaan Sari.


"Kemana lagi Vin?" ujar Sari sambil tersenyum kepada Vina.


Juan sangat senang kekasih hatinya itu telah banyak berubah. Pertemanan Sari dengan Vina dan Maya membawa dampak positif bagi kehidupan Sari. Juan sangat bersyukur akan hal itu. Suatu saat Juan akan mengucapkan terimakasih kepada Vina dan Maya atas perubahan sikap Sari.


"Keliling keliling aja lagi Sar. Udah nggak ada yang mau gue beli lagi" ujar Vina menjawab pertanyaan Sari yang menanyakan kemana mereka akan pergi setelah ini.


Mereka kemudian berkeliling mall pusat itu sambil melihat lihat barang barang yang dipajang. Sari beberapa kali menahan keinginannya untuk berbelanja.

__ADS_1


Juan memperhatikan itu dengan tersenyum bahagia.


"Mau beli sayang?" tanya Juan berusaha menggoda pertahanan Sari untuk membeli tas yang tadi dipandang dan diperhatikan oleh Sari.


"Nggak sayang. Di mansion masih banyak" ujar Sari menolak untuk membeli tas keluaran terbaru rumah mode itu.


"Tapi itu model terbaru loh sayang" ujar Juan kembali mencoba menjadi setan tampak mata untuk Sari.


"Yah kamu berbakat jadi setan sayang. Tai sayangnya keinginan aku lebih kuat dari pada godaan setan kamu" lanjut Sari berbisik di telinga Juan.


"Kalau aku yang belikan?" ujar Juan mencoba dengan cara lain untuk menggoda keinginan Sari.


"Ogah sayang. Sekalinya ogah ya tetap ogah."


"Hahahahaha. Aku makin mencintai kamu" ujar Juan dengan nada bangganya kepada Sari.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi Mall tersebut.


Sedangkan Danu yang baru sampai di perusahaan langsung pergi kembali meninggalkan perusahaan. Dia menerima pesan chat dari temannya yang melihat Vina ada di mall pusat dengan teman temannya.


Danu mengambil kunci mobilnya yang dititip kepada satpam perusahaan tadi saat dia mengikuti Ivan dan Iwan ke apartemen.


Danu kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Jalanan ibu kota tidak mendukung Danu untuk melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, Danu akhirnya sampai juga di mall pusat. Dia memarkir mobilnya yang berjarak dua mobil dari mobil Iwan terparkir.


"Sari, gue ke toilet bentar ya" ujar Vina kepada Sari yang sedang duduk memakan es cream bersama dengan Juan dan Iwan.


"Sip. Bisa sendirikan?" ujar Sari menatap Vina.


"Bisa. Emang aku anak kecil" ujar Vina.


Vina kemudian pergi ke toilet yang berada tidak jauh dari tempat Sari dan yang lainnya berada. Setelah selesai dengan urusan toiletnya. Vina kembali menuju tempat Sari dan yang lainnya berada.


"Hay pelakor" bunyi teriakan seorang perempuan kepada Vina.


Semua pengunjung mall melihat ke arah Vina. Ranti kemudian maju.


Plak sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vina. Vina terperangah tidak percaya, dia kembali bertemu dengan Ranti di mall itu. Dan sekali lagi tamparan serta teriakan pelakor di terimanya dari Ranti.


"Gue bukan pelakor" teriak Vina dengan sangat keras.


Sari, Juan dan Iwan mendengar suara teriakan Vina. Begitu juga dengan Danu yang berada tidak jauh dari sana. Mereka semua menuju ke arah Vina.


"Mana ada pelakor mengaku" ujar salah satu rekan Ranti yang juga bekerja di perusahaan tempat Danu.

__ADS_1


"Sekali pelakor ya tetap pelakor" lanjut teman Ranti itu.


Ranti tersenyum mengejek Vina. Dia sekali lagi bisa membuat malu Vina di tengah tengah keramaian mall.


Danu yang sampai duluan langsung menampar wanita yang mengatakan kalau Vina adalah pelakor.


"Kau saya pecat." ujar Danu tepat di wajah wanita itu.


Wanita yang bersama Ranti tadi terdiam. Dia tidak menyangka Danu berada di sana.


Sari yang juga sampai di tempat kejadian menampar Ranti dengan sangat keras. Ranti memegang pipinya. Dia mengira tadi Vina hanya sendirian.


"Gue sudah ngomong ke elo bukan, jangan pernah kembali membuat ulah dengan sahabat gue. Tapi nyatanya loe tetap membuat ulah. Sekarang rasakan akubatnya." ujar Sari.


Sari mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi seseorang.


"Sekarang hancurkan kerja sama dengan perusahaan Ranti dari negara I. Saya mau sekarang juga." ujar Sari dengan kejam.


Ranti kemudian menerima pesan chat dari bawahannya. Salah satu perusahaan besar yang melakukan kerja sama dengan perusahaannya memutuskan kerja sama satu pihak.


"Loe siapa?" tanya Ranti kepada Sari.


"Bukan siapa siapa, tetapi bisa menghancurkan loe dalam sekejap" jawab Sari.


Sari kemudian membawa Vina pergi dari kerumunan orang orang itu. Juan dan Iwan mengikuti dari belakang.


"Vina" teriak Danu.


"Sekali lagi loe mendekat. Perusahaan loe giliran berikutnya. Selesaikan dulu masalah loe dengan istri loe yang nggak tau diri itu. Baru deketin sahabat gue lagi." ujar Sari dengan nada dingin


Sari kali ini benar benar marah. Semua orang telah melewati batasan mereka.


"Pria tidak bisa mengambil keputusan jangan harap mendapatkan wanita yang baik" ujar Sari.


Mereka berempat kemudian meninggalkan mall tersebut. Danu menatap kepergian Vina. Dia benar benar terpukul mendengar apa yang dikatakan oleh Sari. Malahan lebih terpukul lagi saat melihat Vina dipermalukan oleh Ranti dan temannya itu.


Danu kembali menuju Ranti. Dia menatap Ranti dengan ta tatapan dingin.


"Gue akan menceraikan elo" ujar Danu.


Ranti menatap Danu tidak percaya. Dia sangat yakin Danu tidak akan menceraikannya.


"Mana loe berani. Loe pria lempem." ujar Ranti menohok telak Danu.

__ADS_1


Danu kemudian pergi dari mall. Dia menyadari kalau dia adalah pria lempem yang tidak bisa mengambil keputusan bagi hidupnya sendiri.


__ADS_2