
"Oh baiklah. Sekarang lanjut kerja. Paman juga ada meeting di luar." ujar Paman mengakhiri pembicaraan panjang mereka itu.
Danu memutuskan panggilan. Setelah itu dia kembali bekerja. Sedangkan Paman akan pergi meeting
Danu sibuk bekerja sambil memikirkan apa yang menyebabkan Ivan dan Iwan bisa bertemu dengan Vina. Danu sudah memikirkan semua hal, tetapi tidak ada yang cocok.
"Kenapa mereka berdua tidak mengatakan kepada gue, kalau mereka ketemu dengan Vina?" ujar Danu bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apa karena gue belum mengambil keputusan final terhadap Ranti?" ujar Danu mengutarakan penyebab Ivan dan Iwan tidak mengatakan kalau mereka berfua bertemu dengan Vina.
"Ah pusing gue mikir. Mending nggak usah di pikir. Besok pas mereka pulang aja gue tanyak. Sekarang fokus kerja. Ada Deli yang harus diberi makan dan yang lain lain." ujar Danu berusaha mengakhiri pemikitannya tentang kenapa Ivan dan Iwan bisa bertemu.
Danu terlihat mulai memfokuskan dirinya kedalam pekerjaan yang sudah menumpuk, karena harus dia yang menghendle sendirian. Ivan dan yang lainnya sibuk melakukan pencarian terhadap Maya.
"Indahnya ini tempat." ujar Sari saat menatap keluar jendela.
Pemandangan yang disajikan oleh alam Kabupaten Pes memang benar benar indah. Pulau pulau yang tersebar di tengah laut membuat para wisatawan berasa ada di negeri raja ampat.
"Vin, kapan kapan kita liburan ke sini ya Vin." ujar Sari mengajak Vina untuk liburan ke daerah itu suatu saat nanti.
"Sip. Sekarang fokus cari Maya dulu." ujar Vina sambil menatap wajah setiap orang yang ada di tepi jalan yang sangat luar biasa cantik itu.
Jalan yang seperti terjun bebas ke laut yang ada di bawahnya. Jalan yang pernah viral dikalangan anak muda yang masuk ke aplikasi sosial media yang sangat luar biasa terkenalnya.
Vina kemudian kembali menatap wajah para wisatawan yang asik berfhoto di sepanjang jalan tersebut. Tetapi Vina, Sari, Ivan dan Iwan sama sekali tidak melihat wajah Maya ada di sekian banyak pengunjung yang sedang berfhoto itu.
"Apa ada objek wisata tepi pantai yang lainnya Pak?" tanya Vina yang sudah mulai kembali frustasi karena tidak juga menemukan Maya.
"Ada Nona, di bawah nanti kita akan menemukan dua homestay lagi Nona." jawab sopir yang sudah sangat mengenal keadaan daerah itu.
"Oh terimakasih Pak." ujar Vina yang kembali mengusap air matanya yang sempat jatuh tanpa bisa ditahannya lagi.
__ADS_1
Sari melihat reaksi Vina yang sudah mulai tidak stabil lagi. Sari memegang pundak Vina dan sedikit meremasnya memberikan kekuatan kepada Vina. Vina melihat ke arah Sari. Sari mengangguk meyakinkan Vina kalau semuanya akan baik baik saja.
Sopir membawa Vina dan yang lainnya menuju sebuah home stay yang terkenal dengan nama sebutan baga homestay di kalangan anak anak club motor yang sering melakukan taoring kedaerah itu.
Sopir membelokkan mobilnya masuk ke dalam area homestay. Seorang penjaga homestay mendatangi mobil mereka yang baru saja parkir di parkiran homestay tersebut.
"Berapa orang Bang?" tanya penjaga pantai kepada sopir
"Enam" jawab sopir.
"Enam puluh ribu Bang." ujar penjaga homestay sambil memberikan tiket sebanyak enam lembar kepada sang sopir. Sopir memberikan uang sebanyak yang diminta penjaga homestay.
"Murah murah banget tiket masuk ke pantai di sini." ujar Sari yang dari tadi selalu kaget saat mendengar berapa harga tiket masuk setiap pantai yang mereka kunjungi.
"Mereka kayaknya nggak cari untung besar. Mereka cari orang rame aja." ujar Juan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Sari.
"Kayaknya kita juga bisa bikin seperti ini di negara U. Kan rumah yang di sono dekat pantai." ujar Sari yang memiliki ide untuk membangun saung saung dekat rumahnya yang berada di negara U.
"Asal jangan di sewakan aja." ujar Ivan sambil berbisik ke dekat telinga Sari.
Sedangkan di kota B. Maya yang baru saja bangun dari istirahatnya setelah mengemudikan mobil dalam jarak jauh dan cukup lama itu, masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan membersihkan tubuhnya dulu dengan air panas yang disediakan oleh hotel yang tergolong tidak hotel berbintang tinggi tempat biasa dia menginap asal perjalanan ke kota kota lainnya.
Maya membersihkan tubuhnya sambil bersenandung kecil. Dia sangat menikmati ritual mandinya kali ini. Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Maya keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai. Maya berencana untuk keluar jalan jalan menikmati kota B yang termasuk kota terbesar di provinsi SB. Setelah yakin dengan penampilannya kali ini, Maya kemudian mengambil tas ransel kecil miliknya. Dia akan mencari makan keluar sekalian menikmati kota B di malam hari.
Maya meraih kunci mobil hasil dipinjamkan oleh Dian teman lamanya. Maya kemudian berjalan menuju lobby hotel.
"Kuncinya gue titip aja. Malu gue harus bawa kunci kamar hotel yang mirip kunci rumah." ujar Maya sambil menatap kunci hotel yang berada di dalam genggamannya itu.
"Kak, Saya mau menitipkan kunci kamar." ujar Maya memberikan kunci kamar tersebut kepada resepsionist.
"Baik Kak." jawab resepsionist yang menerima kunci kamar dari Maya.
__ADS_1
Setelah menitip kunci kamarnya, Maya menuju parkiran hotel. Maya melihat mobil yang ternyata sangat banyak juga terparkir di parkiran hotel kelas standar tersebut.
"Banyak juga ternyata yang parkir." ujar Maya menatap kagum ke arah parkiran yang sudah penuh oleh mobil mobil yang kelasnya ada yang di atas kelas mobil yang dipakai Maya.
"Sepertinya hotel mewah sudah penuh." ujar Maya.
Maya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan parkiran hotel. Dia kemudian menuju sebuah warung nasi kapau yang sangat terkenal di kota B.
Maya melajukan mobilnya sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh suara seorang wanita yang dikeluarkan oleh speaker mobil. Setelah berkendara sekitar sepuluh menit dari hotel tempat dia menginap, Maya akhirnya telah sampai di depan warung penjual nasi kapau tersebut. Maya kemudian memarkir mobilnya di parkiran yang telah disedikan pihak rumah makan.
Maya kemudian turun dari dalam mobil. Dia berjalan masuk dengan langkah santai ke dalam warung penjual nasi kapau.
"Makan sama apa Kak?" tanya penjual nasi kapau itu dengan ramah.
"Makan dengan sambal yang itu Buk." ujar Maya sambil menunjuk sepiring besar makanan yang terlihat asing bagi Maya.
"Ooo tembunsu." ujar ibuk ibuk penjual nasi kapau memberitahukan kepada Maya nama masakan yang diinginkan olehnya.
"Oooo tembensu. Mau satu." ujar Maya.
Maya kemudian mencari salah satu bangku yang masih kosong. Maya melihat ada satu kursi yang kosong dekat dengan sebuah jendela besar yang bisa melihat pemandangan kota di malam hari. Maya kemudian duduk di kursi tersebut.
Pelayan datang menghidangkan nasi kapau yang dipesan oleh Maya tadi. Maya melihat sepiring nasi yang luar biasa menggugah seleranya. Nasi yang di atasnya disiram kuah gulai yang terlihat sangat enak. Serta di beri sayur dan sambal yang luar biasa lezat. Maya sangat sangat tidak bisa menahan air liurnya untuk keluar dari mulutnya. Maya kemudian mencuci tangannya untuk mulai menikmati hidangan tersebut.
"Mau kerupuk jangek di tambah kuah gulai kak?" tanya pelayan yang telah selesai menghidangkan nasi kapau.
"Mau Buk. Kelihatannya enak juga." ujar Maya yang terlihat memang menginginkan kerupuk jangek pakai kuah gulai tersebut.
Maya makan dengan terlihat sangat menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya. Suapan demi suapan yang dinikmati oleh Maya.
"Ini bener bener enak." ujar Maya saat telah selesai menikmati suapan terakhir nasi kapau yang dipesan oleh dirinya.
__ADS_1
Setelah selesai menikmati nasi kapau tersebut, Maya kemudian membayar semua yang dipesan dirinya tadi. Setelah itu Maya berjalan keluar menuju tempat parkir mobil. Maya masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mobilnya.
"Kemana lagi ya?" ujar Maya menatap jalanan yang mulai ramai.