
Pagi harinya di HS Hotel terlihat Vina, Maya dan Sari sedang merapikan barang barang mereka yang akan mereka bawa pulang ke kampung. Mereka berkemas kemas untuk menghemat waktu sambil menunggu waktu sarapan.
"Vin, barang barang untuk kafe nggak usah aja di bawa ke kampung. Kita kan akan ke ibu kota besok. Jadi, Juan sudah aku minta untuk terbang ke mari. Katanya mereka akan mendarat di bandara pukul sebelas." ujar Sari memberitahukan kalau pesawat perusahaan sudah dimintanya untuk datang menjemput barang barang mereka.
"Tapi kita mau pulang naik bus malam?" tanya Maya sambil merapikan pakaian miliknya dan memasukkan ke dalam tas.
"Iya tetap naik bus malam, pesawat kita minta aja terbang mengantar Ivan dan Iwan. Kita berangkat besok dari kampung. Biarkan aja pesawat menginap di ibu kota beberapa malam." ujar Sari memberitahukan rencananya kepada Maya dan Vina. Sari juga telah selesai menyusun barang barangnya ke dalam tas miliknya. Tas Sari yang semula tipis mendadak menjadi tebal karena barang barang yang dibelinya.
"Kalau barang sebanyak itu kita bawa ke kampung, terus dengan apa mau di bawa ke ibu kota? Yang ada batal kita naik bus malam. Akhirnya ke ibu kota naik pick up." ujar Sari berkata sambil menahan tawanya setelah menyebutkan kata pickup.
Vina dan Maya mengangguk paham. Mereka juga paham akhirnya dengan maksud Sari. Dengan barang yang sebanyak itu, tidak mungkin bus malam akan mau membawa mereka dan barang barangnya.
"Oke setuju. Jam sebelas kita ke bandara. Apa udah ngomong sama Ivan?" tanya Vina kepada Sari.
Sari menggeleng. "Nanti saja pas sarapan." jawab Sari lagi. Dia akhirnya telah selesai mengepak semua barangnya.
"Keburu mereka beli tiket Sari" ujar Maya lagi.
"Nggak bakal Maya. Mereka palingan juga terbang besok pagi. Nggak denger mereka mau ngantar kita ke kampung." ujar Sari yang mulai kesal dengan Maya yang hari ini tidak nyambung apa yang dikatakan oleh Sari dari tadi.
"Hehehehe. Jangan kesal kesal cantik." ujar Maya yang sebenarnya sengaja membuat Sari menjadi luar biasa kesal.
"Kamu juga yang salah May. Dari tadi Sari ngomong kamu ada aja yang kamu tanyakan. Kebanyakan yang kamu tanya itu nggak penting semua." lanjut Vina mendukung pernyataan Sari.
"Hehehehe. Iya iya maaf ya. Jangan marah marah nanti lekas tua." ujar Maya yang kembali berseloroh.
Maya sebenarnya sengaja melakukan itu agar mereka tidak tegang karena capek seharian kemaren belanja belanja dan bermain permainan air.
Tepat pukul setengah delapan, semua barang sudah ada di dalam tas. Mereka juga sudah bersih bersih dan berganti pakaian.
Mereka kemudian keluar menuju kamar sebelah, mereka berencana untuk sarapan.
Tok tok tok. Iwan yang sudah siap dan tau siapa yang datang membukakan pintu kamar.
"Masuk dulu aja, Ivan sedang boker." ujar Iwan memberitahukan posisi Ivan yang sedang mencurahkan perasaannya.
Vina dan kedua sahabatnya masuk ke dalam kamar Iwan. Mereka melihat barang barang milik Iwan dan Ivan juga sudah terpak rapi dalam masing masing satu tas. Serta satu buah tas laptop.
"Udah siap untuk langsung pulang Bang?" tanya Vina melihat barang barang Iwan sudah rapi di atas meja.
"Iya Vin. Rencana setelah mengantarkan kalian berdua kami balik lagi ke kota. Langsung terbang. Tapi tiket ntah udah dipesan Ivan ntah belum. Itu yang masih ragu." jawab Iwan yang semua keberangkatan hari ini di atur oleh Ivan dia hanya tinggal stanbay nangkring indah di kursi penumpang.
Ivan keluar dari kamar mandi. Dia melihat semua temannya udah berkumpul di kamarnya.
"Ayuk sarapan." ajak Ivan.
"Ya yang telat siapa yang ngajak siapa. Pencitraan banget Bang." ujar Maya sambil menatap menggoda kekasihnya itu.
"Hahahahaha. Sekali sekali tak apalah bergaya." ucap Ivan yang kemudian menggandeng tangan Maya untuk pergi sarapan ke restoran hotel yang terletak di lantai dua.
Mereka berjalan sambil bercanda menuju restoran hotel yang berada di lantai dua. Saat mereka sampai, mereka melihat belum ada pengunjung hotel yang menikmati sarapan.
"Lah sepertinya hanya kita berdua yang kelaparan." ujar Sari melihat keadaan restoran yang tidak ada pengunjungnya.
"Hahahahahaha. Nikmati ajalah lebih bagus pengunjung kurang, jadinya kita bebas milih tempat duduk." ujar Iwan menatap Sari dengan tatapan yang berbeda.
Mereka kemudian masuk ke dalam restoran hotel. Mereka berlima mulai memilih sarapan yang akan mereka nikmati. Mulai dari masakan asia sampai eropa ada disajikan.
Vina mengambil bubur ayam, sedangkan sahabatnya yang lain mengambil makanan yang berbeda beda. Malahan Ivan hanya makan sereal saja. Mereka kemudian memilih untuk duduk di balkon restoran sambil menikmati pemandangan kota yang mulai padat oleh kendaraan yang lalu lalang memulai aktivitas pagi mereka.
"Kok cuma sereal sayang?" tanya Maya yang kaget melihat menu sarapan Ivan yang hanya makan sereal saja. Padahal selama ini yang diketahui oleh Maya, Ivan saat sarapan selalu makan, makanan berat.
__ADS_1
"Sayang, aku nanti akan terbang. Malulah kalau mabuk." ujar Ivan yang memiliki kebiasaan kalau makan berat saat pagi hari maka dia akan memuntahkan makanannya saat berada di dalam pesawat.
"Jadi ada ya orang yang udah besar kayak Bang Ivan masih mabuk pesawat. Aku baru denger ada mabuk pesawat." ujar Sari yang sengaja menggoda kakak kandungnya itu.
"Hahahaha. Iya ya Sar. Gue juga baru tau ada mabuk pesawat. Setau gue orang mabuk itu cuma mabuk laut sama mabuk naik bus. Ini mabuk pesawat. Aneh." ujar Maya mulai mencemeeh kekasihnya itu.
"Mabuk berkelas ini mah." ujar Ivan membela dirinya.
"Udah nggak usah bahas mabuk dan mabuk. Sekarang nikmati aja sarapan yang ada. Masalah mabuk pesawat nanti aja di bahas." ujar Vina menengahi dan memberhentikan cerita mabuk pesawat yang nggak masuk diakal itu.
Setelah drama cerita mabuk pesawat, mereka melanjutkan memakan sarapan yang sudah mereka ambil tadi. Mereka makan dalam keadaan diam. Mereka meresapi setiap suapan yang berpindah ke dalam mulut mereka. Ntah kapan mereka akan kembali ke hotel itu lagi. Makanya setiap suapan mereka resapi dengan nikmat untuk mengingat rasa masakan di HS Hotel kota J.
"Bang, kamu berdua kapan rencananya akan kembali ke ibu kota?" tanya Vina yang teringat akan pembicaraannya dengan Iwan saat menuju restoran hotel.
"Rencananya nanti selepas mengantarkan kalian berdua ke kampung." jawab Ivan dengan santainya.
"Kalau seperti itu, nggak usah diantar aja Bang. Nggak apa apa juga. Biar kami bertiga aja ke kampung." jawab Vina yang tidak ingin membuat Ivan dan Iwan bergegas gegas dari kampung dan akhirnya kelelahan.
"Nggak apa apa Vin. Lagian jarak dari kampung kemari hanya ngabisin waktu dua jam. Nggak akan bikin kami capek. Kalau kami capek, kami nginap aja. Terus sama dengan kalian ke ibu kota." jawab Ivan dengan santainya.
"Nanti manager abang berdua ngamuk ngamuk kayak hari itu gimana?" ujar Vina yang enggan memanggil nama manager itu. Makanya Vina mengganti kata gantinya dengan kata Manager.
"Biarin aja. Kalau dia ngamuk nggak ngaruh." ujar Ivan lagi.
"Loe iya nggak ngaruh. Bentar lagi resign karena mau kuliah. Nah gue? Tiap hari akan nengok wajah nggak bersahabat tu manager gesrek." ujar Iwan yang sudah bisa membayangkan bagaimana wajah Danu nanti kalau dia tau Ivan dan Iwan kembali memundurkan jadwal penerbangan mereka.
"Sayang." ujar Maya menggenggam tangan Ivan di depan semua sahabatnya.
"Yup. Aku mau lanjut kuliah di negara U." ujar Ivan memandang Maya.
"Hah negara U? Akhirnya." ujar Maya dengan wajah yang luar biasa gembiranya.
"Jadi gimana ini. Ikut ke kampung atau langsung pulang?" tanya Sari kepada Ivan.
"Ikut kemana kalian pergi." jawab Ivan dengan nada final.
"Gimana dengan barang sebanyak itu Van?" ujar Iwan yang teringat barang belanjaan Maya yang sangat banyak.
"Tenang Bang Iwan. Pesawat perusahaan CT Grub akan membawa semua barang barang itu ke negara U. Pesawat udah di bandara." jawab Sari yang baru mendapat notifikasi pesan dari Juan kalau mereka sudah berada di bandara.
"Jadi, kita ke bandara dulu mengantarkan semua barang barang yang dibeli kemaren. Terus bergerak menuju kampung Vina. Nah, besok pagi baru kembali ke Ibu kota naik bus malam." ujar Sari keceplosan mengutarakan rencana mereka bertiga.
"Bus malam?" tanya Ivan.
Maya menendang kaki Sari. Sari menatap Maya dengan tatapan memohon maaf. Karena Sari sudah keceplosan mengatakan rencana mereka yang akan pergi memakai bus malam.
"Tolong ulang, Bus malam?" ujar Ivan yang mulai terlihat marah mendengar ketiga wanita itu akan pulang dengan bus malam ke ibu kota.
"Maya, Sari ulang." ujar Ivan dengan nada tinggi.
Sudah lama Ivan tidak menaikkan nada bicaranya di depan kedua wanita yang berharga di dalam hidupnya itu. Sari dan Maya menekurkan kepalanya. Mereka berdua tidak menyangka kalau Ivan akan marah seperti itu saat mendengar kata kata bus malam.
"Pinter kalian ya. Hebat. Mau naik bus malam. Sekarang terserah kalian." ujar Ivan langsung berdiri dari duduknya.
"Kita berangkat sekarang ke ibu kota Bang. Biarin mereka mau naik bus malam. Tidak urusan kita lagi." ujar Ivan yang benar benar murka kepada Sari dan Maya, karena mereka akan naik bus malam saat kembali ke ibu kota.
"Bang" panggil Sari.
"Sayang" ujar Mira.
Mira dan Sari serentak memanggil Ivan. Mereka berdua sama sama tau bagaimana kalau Ivan sudah marah.
__ADS_1
Ivan dan Iwan sama sekali tidak mendengar panggilan dari Sari dan Mira. Mereka berdua tetap melanjutkan perjalanannya menuju kamar.
"Van" ujar Iwan berusaha mencegah Ivan untuk marah besar.
"Tidak Bang. Kali ini jangan larang atau cegah aku. Mereka berdua sudah keterlaluan. Aku dari kemaren mengikuti semua keinginan mereka. Tapi, bukan berarti mereka harus pulang dengan bus malam." ujar Ivan menggebu gebu dan dengan nada dingin.
Iwan akhirnya memilih untuk tutup mulut. Dia tidak ingin lagi mengganggu Ivan.
Sampai di kamar Ivan mengambil tas dan semua perlengkapannya.
Sedangkan di restoran.
"Gimana ini May?" ujar Sari panik.
"Ntah. Makanya mulut jaga jangan lemes." ujar Maya dengan nada tinggi kepada Sari.
"Kita kejar May." ujar Sari lagi.
"Ogah gue. Gue bukan tipe cewek yang seperti itu. Biar aja dia mau pulang. Nggak urusan gue juga." jawab Maya yang juga keras kepala seperti Ivan.
"Jadi?" ujar Sari yang menyesal telah mengatakan hal tadi kepada Ivan. Tetapi kalau tidak dikatakannya maka mereka akan tetap marah saat tau Sari dan kedua sahabatnya pulang naik bus malam.
"Biar ajalah lagi. Kita juga salah. Besok saat di ibu kota aja ngomong sama Ivan. Biarkan dia tenang dulu" ujar Maya yang lebih memilih menunggu Ivan tenang baru dia berbicara. Maya sudah kembali meredakan emosinya.
Sari menatap Vina meminta bantuan. Vina mengangkat kedua pundaknya. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi kepada Sari dan Maya. Mereka bertiga sama sama salah karena sudah tidak memberitahukan masalah pulang dengan memakai bus malam menuju ibu kota.
"Menurut gue bagus pendapat Maya. Tunggu Ivan tenang dulu. Kita pulang naik pesawat perusahaan saja. Kita nggak boleh pulang naik bus malam. Ivan benar juga, kita perempuan nggak mungkin naik bus malam." ujar Vina memberikan keputusan akhir.
"Baik, kita akan langsung pulang dengan pesawat perusahaan." ujar Vina setuju dengan pendapat Vina untuk menghindari keributan dengan Ivan
Sari kemudian memilih untuk duduk kembali. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya Ivan. Apalagi Maya yang juga tidak mau diajak untuk mengejar Ivan. Kalau Sari yang mengejar maka akan lain ceritanya.
Ivan dan Iwan melakukan chekout kamar. Ivan juga sudah memesan tiket penerbangan mereka yang akan terbang jam setengah dua belas. Mereka berdua harus chekin jam sepuluh.
"Bisa tolong antarkan ke Bandara Kak?" tanya Ivan kepada resepsionis.
"Bisa Tuan. Tunggu sebentar." ujar resepsionist dengan ramah.
Resepsionis kemudian menghubungi bagian transportasi. Mereka berbicara sebentar melalui sambungan telpon. Ivan sama sekali tidak menyimak apa yang dibicarakan oleh resepsionis dengan orang yang ditelponnya.
"Tuan, mobil sebentar lagi akan sampai di depan lobby." ujar resepsionist.
Ivan dan Iwan kemudian berjalan keluar, sebuah mobil dengan merk HS Hotel berwarna hitam sudah berdiri di depan pintu lobby. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil.
"Bandara Tuan?" tanya sang sopir.
"Iya." jawab Iwan yang melihat Ivan telah mematikan ponsel miliknya.
Ivan berencana akan mengaktifkan ponselnya lagi, saat mereka akan boarding pass.
Melihat sikap dan tindakan Ivan yang seperti ini. Iwan sangat yakin perusahaan dipimpin oleh Ivan akan luar biasa majunya. Ivan seseorang yang memegang teguh prinsip dan juga terlalu amat menyayangi apa yang dimilikinya.
Tepat pukul sepuluh mereka berdua telah sampai di bandara. Ivan dan Iwan melakukan chekin. Setelah itu mereka duduk di kursi tunggu bandara.
" Bang, gue sengaja ngelakuin hal ini biar mereka berdua sadar kalau mereka sudah dewasa, bukan anak anak lagi." ujar Ivan memberitahukan kenapa Ivan bisa marah seperti tadi.
"Loe memang harus marah. Tetapi tidak dengan main pergi kayak gini " ujar Iwan memberikan nasehat kepada Ivan.
Iwan dan Ivan mendengar pemanggilan penerbangan untuk mereka berdua. Ivan dan Iwan kemudian masuk ke gerbata mereka akan terbang kembali ke ibu kota negara.
Ivan sama sekali tidak berniat untuk menghubungi Maya ataupun Sari. Dia benar benar marah dengan sikap Maya dan Sari yang selaku kekanak kanakan.
__ADS_1