Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Persiapan Pindah


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Vina masuk kantor. Dia akan merapikan semua barang barangnya saat jam pulang kerja. Sampai hari ini Vina sama sekali tidak melihat Danu masuk kantor. Danu juga sama sekali tidak menghubunginya. Vina berusaha terlihat santai dan tidak memikirkan hal itu lagi.


Saat Vina, Iwan dan Ivan serius bekerja telpon kantor berbunyi. Ivan yang berada paling dekat dengan telpon kantor mengangkat panggilan itu.


"Dengan Ivan di bagian perencanaan ada yang bisa di bantu?" Ivan menyapa dan menerangkan siapa yang mengangkat panggilan itu.


"Baik Ivan, saya sekretaris Ditektur, apakah Nona Vina masuk kantor hari ini?"


"Ada Nyonya sebentar akan saya serahkan kepada Nona Vina." kata Ivan menjawab pertanyaan sekretaris.


"Vin telpon untuk loe dari sekretaris direktur." Ivan mengangkat gagang telepon itu.


Vina mengangkat bahunya tanda bertanya ada apa. Ivan membalas dengan mengangkat bahunya kembali.


"Hallo Nyonya, saya Vina. Ada apa Nyonya kalau boleh tau?" kata Vina saat menerima telpon dari sekretaris.


"Tuan Direktur meminta Anda untuk datang ke ruangannya sekarang. Ada yang harus dibicarakan perihal yang kemaren." kata Skeretaris menyampaikan maksud dia menghubungi Vina.


"Baiklah Nyonya, saya akan menemui direktur sekarang" kata Vina. Vina meletakan kembali gagang telpon di tempat semula.


"Bang gue dipanggil direktur. Gue ke sana sekarang ya." kata Vina memberitahukan kepada Iwan dan Ivan.


"Loe ada kasus Vin?" tanya Iwan sambil menatap Vina.


"Nggak Bang. Gue nggak tau kenapa tiba tiba Direktur manggil gue keruangannya." jawab Vani yang pura pura tidak tau. Dia tidak mau Iwan menghubungi Danu perihal kepindahannya ke luar negeri.


"Oh baiklah Vin. Loe hati hati ke sana ya. Kalau ada apa apa kasih tau kami berdua." kata Ivan.


"Sip Bang. Lagian emang Direktur mau ngapain. Udah ya aku ke ruangannya dulu" Vina meraih ponselnya, dia langsung menuju ruangan Direktur.


Vina menaiki lift menuju ruangan direktur.


"Ada apa lagi ya??? Apa kepindahan gue dibatalin???" ujar Vina bermonolog sendirian.


Vina sama sekali tidak mendapat gambaran kenapa dia dipanggil ke ruangan Direktur saat ini.


"Kalau batal pindah, gue keluar aja dari perusahaan ini." kata Vina lagi.


Ting, bunyi lift yang sampai di lantai tujuan Vina. Vina berjalan menuju meja sekretaris.

__ADS_1


"Mari Nona Vina saya antar ke dalam. Tuan Direktur sudah menunggu Anda." ujar Sekretaris menyapa Vina.


"Kalau boleh tau ada apa ya Nyonya?" kata Vina lagi yang masih penasaran kenapa dia dipanggil.


"Saya juga tidak tau Nona. Lebih baik Nona cepat masuk dan Nona akan tau kenapa Nona dipanggil." kata Sekretaris.


Vina diantarkan oleh Sekretaris untuk masuk ke dalam ruangan Direktur.


"Permisi Tuan, Nona Vina sudah datang." Sekretaris memberitahukan kepada Direktur kalau Vina sudah berada di ruangannya.


"Silahkan duduk Nona." lanjut sekretaris. Saat sudah memastikan Vina duduk di sofa ruangan Direktur, sekretaris berjalan keluar ruangan direktur. Dia akan kembali duduk di kursinya.


"Baiklah Vina, kita langsung saja ya. Besok adalah jadwal keberangkatan kamu menuju negara U. Saya memanggil kamu ke sini karena akan memberikan surat ini untuk kamu bawa ke perusahaan yang ada di negara U." kata Tuan Direktur sambil menyerahkan surat surat kepindahan Vina ke negara U.


Vina mengambil surat surat tersebut.


"Terimakasih Tuan." jawab Vina.


"Saya juga sudah menghubungi direktur yang di sana dia akan membantu kamu nantinya."


"Makasih Tuan atas semua bantuan yang Tuan berikan kepada Saya. Saya tidak akan melupakannya Tuan." kata Vina yang memang sangat bersukur mendapatkan semua bantuan dan kemudahan dari Direktur.


"Makasi Tuan. Saya juga berharap seperti itu. Semoga Tuan Danu bisa mengambil sikap atas semua kejadian yang terjadi ini. Saya berharap dia menyelesaikan semua permasalahannya." jawab Vina yang sebenarnya sangat tulus mencintai dan menyayangi Danu, tapi keadaanlah yang membuat Vina harus pergi dari Danu.


"Baiklah Vina hati hati di jalan dan juga di sana. Kalau ada apa apa silahkan minta bantuan kepada direktur yang di sana." kata Direktur mengakhiri percakapan mereka.


"Oh ya hampir saya lupa. Besok pesawat perusahaan akan terbang jam sebelas siang. Sebaiknya kamu di bandara jam sembilan. Kamu tunggu dikontrakan saja. Nanti ada yang akan menjemput kamu ke sana" kata Direktur yang baru teringat akan perihal keberangkatan Vina yang menumpang di pesawat perusahaan milik direktur.


"Siap Tuan. Saya akan berada di sana jam sembilan " jawab Vina sambil tersenyum.


Vina berjalan keluar ruangan Direktur. Dia berhenti di meja sekretaris.


"Nyonya terimakasih atas semua kerjasama kita selama beberapa tahun ini. Ini hari terakhir saya bekerja di perusahaan ini. Maafkan semua kesalahan saya Nyonya " kata Vina sambil memeluk sekretaris yang baik hati itu


"Sama sama Vin. Saya juga minta maaf ke kamu kalau ada kesalahan saya yang menyakiti kamu. Kamu hati hati di negara U. Saya akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu, karena kamu adalah orang baik." jawab sekretaris yang memang sangat mengenal kepribadian Vina walaupun mereka tidak akrab hanya saling kenal nama saja.


"Makasi Nyonya. Saya kembali keruangan dulu." kata Vina dengan memberikan senyum terbaik miliknya.


"Oke sip hati hati ya. Sampai bertemu di negara U" ujar sekretaris tersebut.

__ADS_1


Vina masuk kembali ke dalam lift. Dia akan kembali keruangannya dan akan menyiapkan semua barang barang miliknya nanti selepas Iwan dan Ivan pulang dari kantor.


"Ada apa Vin?" tanya Ivan.


"Nggak ada Bang." jawab Vina.


"Oh ya udah. Lanjutkan kerjaan sana."


"Sip bang " jawab Vina.


Mereka semua kembaki bekerja.


"Vin, loe ikut pulang dengan kami?" tanya Ivan yang melihat Vina belum beranjak dari duduknya.


"Duluan aja Bang. Kerjaan gue ada dikit lagi." kata Vina yang memang sengaja terakhir pulang.


Iwan dan Ivan kemudian keluar dari ruangan. Saat melihat kondisi yang aman. Vina membereskan semua barang barangnya yang berada dalam laci meja. Sedangkan yang di atas meja dibiarkan saja oleh Vina masih di sana.


Setelah selesai merapikan barang barangnya yang ternyata hanya satu tas kecil itu, Vina keluar dari kantor. Dia langsung naik ke atas taksi online yang sudah menunggu di lobby kantor.


Maya hari ini menutup warung lebih cepat dari biasanya. Dia berencana akan merapikan semua pakaian miliknya ke dalam koper. Tadi Ivan sempat singgah di warung pas pulang kantor. Ivan mengatakan kalau dia akan berangkat kerja keluar besok pagi. Sedangkan Maya masih belum menyampaikan perihal kepindahan Vina dan dirinya keluar negeri.


Vina mengetuk pintu rumah, Maya yang sedang berberes beres di dapu membukakan pintu rumah.


"Tumben tutup cepat May?" tanya Vina yang heran Maya menutup cepat warung mereka.


"Sengaja Vin tapi mau berberes barang."


"Sip. Loe semangat kali pindah."


"Semangat la keluar negeri gitu loh." jawab Maya yang memang selalu bersikap riang.


Mereka kemudian menyiapkan pakaian milik mereka kedalan empat koper besar. Maya sudah mengirimkan semua barang barang milik Vina ke kampung memakai jasa agent travel. Vina juga sudah memberitahukan perihal kepindahannya kepada kedua orang tuanya. Mereka setuju saja karena ada Maya yang ikut dengan Vina.


"Kita besok sudah harus berada di bandara jam sembilan pagi."


"Sip. Terus pake apa ke bandaranya Vin?" tanya Maya yang heran dengan apa mereka akan berangkat menuju bandara.


"Dijemput mobil perusahaan." kata Vina.

__ADS_1


__ADS_2