Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengurusan 2


__ADS_3

Danu yang telah selesai mandi dan berpakaian, langsung menuju lantai dasar rumahnya. Danu akan menuju perusahaannya. Danu rencananya akan bertemu dengan Felix di sana. Janji sudah mereka buat berdua untuk bertemu.


Danu sambil bersiul siul turun ke lantai dasar rumahnya itu. Bibik yang sedang berada di dapur bersih menatap kepada Danu dengan tatapan heran. Bibik sudah lama tidak melihat Danu sebahagia ini, saking lamanya bibik tidak bisa mengingat kapan pastinya Danu bersiul siul ruang seperti sekarang.


"Bahagia sekali kelihatannya Tuan. Ada apa?" tanya Bibik dengan keponya bertanya kepada Danu.


"Ada deh Bik. Pokoknya bibik harus siap siap mulai sekarang ya. Tolong beritahukan kepada semua orang di pengadilan bagaimana sebenarnya kejadian yang terjadi" ujar Danu meminta kepada Bibik.


"Siap Tuan. Bibik akan menceritakan semuanya. Tuan tenang saja. Sekarang Tuan urus saja semua surat suratnya" ujar Bibik memberikan semangat kepada Danu untuk mengurus semua surat surat perceraian.


"Makasi Bik. Doakan saya berhasil Bik" ujar Danu meminta supaya bibik mendoakan dia agar berhasil.


"Selalu Tuan. Tuan dan Nona Deli akan selalu saya doakan." ujar Bibik menjawab permintaan Danu.


Danu kemudian berjalan menuju pintu utama rumah. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Tiba tiba Danu ingat dengan kekasih hatinya, dia kemudian mengeluarkan ponsel milikbya dan langsung mengirim sebuah chat yang isinya mengatakan kalau Danu berangkat ke perusahaan. Sayangnya, Vina yang sedang serius bekerja tidak mendengar bunyi pesan chat dari Danu.


Danu menunggu sekitar lima menit. Ternyata tidak ada balasan dari Vina. Danu menghidupkan mobilnya. Dia kemudian mengemudikan mobil menuju perusahaan. Danu mengikuti lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi favoritnya itu.


Tidak membutuhkan waktu lama, karena menikmati perjalanan, Danu telah sampai di perusahaan. Danu memarkir mobilnya di parkiran karyawan.


Setelah memarkir mobilnya, Danu kemudian turun dari dalam mobil. Dia berjalan ke dalam perusahaan. Beberapa karyawan yang berselisih jalan dengan Danu, menyapa Danu dengan menganggukkan kepalanya. Danu membalas anggukan itu. Danu terus berjalan menuju ruangannya yang terletak di lantai paling atas perusahaan.


Danu kemudian masuk ke dalam ruangannya. Dia berencana untuk membaca beberapa dokumen yang baru saja dikirimkan oleh sekretaris presiden direktur ke ruangan Danu. Danu sengaja tidak masuk ke dalam ruangan direktur. Dia malas menerima teman akrabnya di sana. Hal itu dikarenakan, Danu tidak akan bisa leluasa berbuat apa apa di sana.


Danu sambil menunggu Frans datang, dia melanjutkan membaca laporan laporan yang ada di atas meja kerjanya. Danu sangat memanfaatkan waktu yang ada karena dia rencananya akan bertemu dengan Vina di negara A.


"Nggak sabar gue mau ketemu sama dia lagi. Gue sangat ingin bertemu dan ngobrol seperti dulu lagi sama dia" ujar Danu sambil menatap ke arah foto Vina yang dijadikannya sebagai wallpaper ponsel.


"Aku bener bener kangen bercanda dengan dia seperti dulu lagi. Kangen cerita cerita kehidupan dia waktu kuliah."


"Akh gue beneran nggak sabaran lagi pengen ketemu dia" ujar Danu dengan semangat.


Rencana pertemuan Danu dengan Vina, membuat Danu menjadi sangat semangat akhir akhir ini. Hal itu dijadikan oleh Danu sebagai penyemangat dirinya. Penyemangat untuk mengerjakan secara cepat semua pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Danu.


Tepat jam makan siang, pintu ruangan Danu di ketuk seseorang dari luar. Danu yang sudah tahu siapa yang datang, berjalan ke depan pintu untuk membukakan pintu ruangannya untuk orang yang datang itu. Terlihat Frans sudah berdiri sambil membawa dua bungkus makan siang untuk dia dan Danu.


"Masuk Frans. Maaf merepotkan, tamu malahan yang bawa bekal makan siang ke kantor gue" ujar Danu berpura pura segan saat Frans membawakan dia makan siang.


"Banyak gaya loe. Padahal tadi loe yang nyuruh gue" ujar Frans sambil duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Danu.


"Sepi amat, mana staff loe yang tiga orang itu dia?" tanya Frans yang tidak melihat ketketiga staff Danu berada di dalam ruangannya.


"Iwan dan Ivan, sedang liburan. Sedangkan Vina sudah lama keluar dari perusahaan" ujar Danu yang nada suaranya berubah saat mengatakan nama Vina. Frans bisa menangkap sesuatu yang ganjil di situ.


"Kenapa nada suara loe berubah saat mengatakan nama Vina? Ada apa?" tanya Frans melihat ke arah Danu.


"Nanti gue ceritain. Kita makan siang dulu. Loe beneran nggak ada kegiatan lagikan setelah makan siang?" tanya Danu yang segan kalau ternyata nanti Frans ada kegiatan saat dia menceritakan semuanya kepada Frans.


"Nggak. Aman. Nggak ada kegiatan" jawab Frans meyakinkan Danu kalau dia tidak ada kegiatan sama sekali setelah makan siang.


Mereka kemudian menyantap menu makan siang yang dibeli oleh Frans. Mereka makan dengan sangat lahap. Danu dan Frans sambil makan siang mengingat kisah mereka saat kuliah. Walaupun mereka berbeda jurusan tetapi mereka bersahabat erat. Malahan supaya bisa kongkow kongkow bareng, mereka sengaja menyesuaikan jadwal perkuliahan satu dengan yang lainnya. Karena saling bercerita tentang masa masa perkuliahan, mereka tertawa ngakak pas moment moment lucu yang terjadi. Mereka bener bener mengingat semua hal saat perkuliahan itu.


"Jadi, apa yang membuat loe nyuruh gue ke sini sekarang?" tanya Frans kepada Danu.


"Seperti yang gue bilang tadi aja. Gue mau ngajuin gugatan cerai ke Ranti. Gue udah nggak sanggup lagi dengan semua remeh temeh kehidupan kayak gini" ujar Danu kepada Frans.


"Loe udah yakin dengan keputusan loe itu? Loe udah mikirin bagaimana Deli?" tanya Frans kepada Danu.

__ADS_1


Frans tidak mau Danu hanya memikirkan dirinya saja, tanpa memikirkan perasaan Deli anaknya.


"Udah. Udah gue pikirin semuanya. Deli juga setuju gue bercerai dengan Ranti" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Frans.


"Apa masalah sebenarnya Dan? Nggak bisa di perbaiki lagi? Gue sebagai lawyer berhak bertanya seperti itu kepada elo." kata Frans sambil melihat ke arah Danu.


Danu terdiam sejenak, dia memang tidak bisa menyalahkan Frans karena bertanya hal itu. Memberikan pertimbangan dan menanyakan kesiapan serta menanyakan penyebab adalah hak Frans sebagai pengacara.


"Danu, kalau loe nggak ngomong semuanya maka gue juga susah Danu." ujar Frans yang melihat Danu termenung.


"Gue memang sudah mendengar selentingannya. Tapi gue pengen denger langsung dari orang yang bersangkutan" ujar Frans yang ingin mendengar ceritanya langsung dari Danu.


"Ceritanya panjang Frans. Gue rasa loe sudah tau yang bagian kenapa gue bisa menikah dengan Ranti. Karena saat itu gue ceritanya ke elo." kata Danu memulai ceritanya.


"Palingan yang nggak loe tau gimana sebenarnya kehidupan rumah tangga gue. Rumah tangga yang kata orang bahagia, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Hanya tampilannya saja" lanjut Danu.


"Oke ceritakan. Jadi, gue bisa menentukan langkah apa yang harus kita lakukan" ujar Frans yang memang harus mendengar semua cerita.


Danu menceritakan semuanya. Mulai dari dia menangkap perselingkuhan yang dilakukan Ranti di hotel. Sampai Ranti yang membawa selingkuhannya ke rumah.


"Wuis paten juga istri loe" ujar Frans yang tidak menyangka Ranti bisa melakukan hal gila seperti itu.


"Mau gimana lagikan ya. Namanya pernikahan karena dijodohkan. Gue udah berusaha membuat gue cinta sama dia. Tetapi tetap tidak bisa. Gue juga udah berusaha membuat dia cinta sama gue, tetapi juga sama tetap tidak bisa." lanjut Danu mengatakan telah melakukan usaha apa saja untuk membuat mereka saling mencintai.


"Apa saat loe menangkap perselingkuhan dia ada buktinya?" tanya Frans.


"Aku nggak mau nanti saat persidangan kita hanya main tuduh saja tanpa bukti yang kuat" lanjut Frans yang selalu memenangkan kasus karena memiliki bukti bukti yang kuat dan tidak bisa di bantah keabsahannya.


"Buktinya ada, tapi nggak sama gue, sama Ivan. Semuanya ada dalam laptop Ivan" ujar Danu mengatakan kalau semua bukti yang diinginkan oleh Danu ada dalam laptop milik Ivan.


"Loe telpon dia aja, tanyakan apakah masih ada bukti itu atau tidak. Takutnya nanti hilang atau gimana nya. Gue nggak mau kita pergi perang tapi pelurunya kosong. Capek perang aja nanti." ujar Frans.


Danu mendial nomor ponsel Ivan. Danu menunggu sampai panggilan itu diangkat oleh Ivan. Panggilan yang cukup lama baru akan diangkat oleh Ivan.


"Hallo Bang, ada apa? Gue cuti Bang? Lagian semua kerjaan udah gue selesaikan" ujar Ivan langsung nyerocos saat dia menerima panggilan dari Danu.


"Bukan masalah kerjaan atau cuti elo Van. Gue sekarang sedang diskusi dengan Frans" ujar Danu memberitahukan kepada Ivan, apa maksud dirinya menghubungi Ivan.


"Frans? Siapa dia bang, baru denger gue nama itu" ujar Ivan yang kaget mendengar Danu berdiskusi dengan Frans.


"Sahabat gue sekaligus akan jadi pengacara gue" ujar Danu memberitahukan siapa Frans kepada Ivan.


"Oooo. Kirain siapa" jawab Ivan.


Ivan terdiam sesaat. Tiba tiba dia ingat sesuatu.


"Tunggu Bang. Loe manggil pengacara ke perusahaan. Jangan bilang kalau loe mau ngambil alih perusahaan?" ujar Ivan yang pikirannya hanya ke satu itu.


'Kalau Danu mau ngambil alih perusahaan baguslah. Jadi gue bisa cepat pindah ke sini' ujar Ivan dalam hatinya.


"Bukan untuk mengambil alih perusahaan. Bukan itu Van" ujar Danu mematahkan mimpi Ivan yang terlalu tinggi.


"Gue kira itu Bang" ujar Ivan dengan nada kecewa.


"Gue mau ngurus perceraian dengan Ranti" kata Danu dengan nada santai kepada Ivan.


Ivan yang tadi sempat kecewa mendadak kembali bersemangat mendengar alasan Danu berdiskusi dengan pengacara.


"Serius loe Bang, kapan ngajuinnya?" tanya Ivan dengan bersemangat. Ivan sangat senang mendengar Danu akan menggugat cerai Ranti. Suatu hal yang sudah sangat lama diusulkan oleh Ivan dan Iwan. Tetapi Danu masih tetap menjadi Danu.

__ADS_1


"Serius, makanya gue nelpon elo" ujar Danu yang sangat yakin Ivan pasti akan membantunya.


"Ada yang bisa gue bantu? Gue kalau masalah perceraian lu sama sundel bolong itu, gue akan mati matian membantu loe" ujar Ivan dengan semangat.


Iwan yang mendengar Ivan ngomong ngomong perceraian dan Danu. Dia langsung menyambar ponselnya.


"Kami balik besok. Loe harus urus segera. Gue dukung elo. Udah saatnya loe bahagia" ujar Iwan dengan semangat empat limanya.


"Ya Bang. Kami pulang besok. Apapun itu, kami akan usahakan untuk pulang. Kami akan membantu kamu mewujudkan niat baik kamu itu" ujar Ivan dengan semangatnya.


"Van, bukti waktu kita grebek perselingkuhan Ranti masih adakan sama elo?" tanya Danu yang ingat tujuan dia menghubungi Ivan.


"Masih aman sama gue. Nggak ada gue hilangin. Semua bukti perselingkuhannya ada sama gue. Termasuk pesan chat." ujar Ivan.


"Bilang aja sama Tuan Frans lusa datang kembali ke perusahaan atau dimana kita janji temu. Akan gue kasih semua bukti buktinya. Kalau perlu kita cari bukti terbaru" ujar Ivan.


"Oke sip. Gue tunggu kedatangan kalian berdua besok" ujar Danu yang senang kedua sahabatnya mau membantu dia dalam mewujudkan perceraian dirinya dengan Ranti.


"Mereka berdua semangat sekali Dan" ujar Frans.


Frans yang dari tadi tercengang dengan jawaban dan respon yang diberikan oleh Ivan dan Iwan akhirnya menanyakan hal itu kepada Danu.


"Mereka tau segalanya Frans. Makanya mereka luar biasa senang saat gue mengatakan kalau gue akan mengurus perceraian dengan Ranti" ujar Danu menjawab perkataan dari Frans.


"Setelah semua bukti di serahkan kita harus ngapain lagi Frans?" tanya Danu yang memang tidak tau sama sekali dengan alur pengurusan surat perceraian itu.


"Kita tinggal daftarin aja perceraian loe ke pengadilan. Tapi ada baiknya kita bertemu dengan Ranti, mengatakan kalau loe mau ngajuin gugatan perceraian"


"Masalahnya, gue takutnya nanti Ranti menolak menandatangani surat gugatan itu" lanjut Frans menerangkan kepada Danu.


"Nggak maupun dia, gue tatap maju terus Frans. Gue udah nggak sanggup lagi jalan sama dia. Beneran nggak sanggup. Tekad gue untuk bercerai sudah bulat" kata Danu.


"Jadi, mediasi tetap dijalani. Elo tetap harus datang pas mediasi." ujar Frans meminta Danu untuk datang waktu mediasi.


"Oke sip. Masalah datang ke pengadilan, gue pastikan gue akan datang. Gue nggak akan mangkir dari itu. Loe bisa pegang janji gue" ujar Danu memastikan kepada Frans kalau dia pasti akan datang saat semua proses perceraian itu dilakukan.


"Oke sip. Kalau begitu lusa kita bertemu kembali, termasuk dengan kedua staff loe itu, membahas bukti bukti yang sudah kita kantongi" kata Frans yang ternyata kerjanya tidak rumit, karena bukti bukti yang dimiliki oleh Danu sudah lengkap.


"Kita ketemuan di sini saja. Gue lusa hanya ada satu sidang. Habis sidang gue langsung ke sini" lanjut Frans menyepakati tempat dan waktu pertemuan mereka berempat.


"Tapi gue nggak akan bawa makan siang lagi. Loe udah harus menyediakan gue makan siang, tambah es kopi. Loe taulah ya gimana ribetnya di ruangan persidanganpersidangan. Otak gue akan mendadak menjadi panas. Jadi harus didinginkan dengan es kopi" kata Frans yang meminta disediakan makan siang dan es kopi oleh Danu untuk pertemuan mereka lusa.


"Sip. Sepakat. Lusa akan gue hidangkan sesajen yang loe minta itu" ujar Danu menyetujui semua permintaan dari Frans.


"Gila loe sesajen. Loe kira gue kunti" ujar Frans sambil memukul tangan Danu.


"Hahahahaha. Kunti mah ndak. Pocong iya" jawab Danu.


"Kita udah jadi bapak orang Dan. Malulah masih becanda nggak suai umur" ujar Frans sambil menahan senyum jahilnya.


"Loe serius mau bantu gue kan ya Frans?" tanya Danu dengan nada serius kepada sahabatnya itu.


"Serius Dan. Ngapain gue boong sama loe. Gue pastikan gue akan bantu proses perceraian loe" ujar Frans meyakinkan Danu kalau dia pasti akan membantu Danu dalam kasus perceraiannya.


"Udah sore, gue izin pulang dulu ya. Gue ada janji sama anak gue mau bawa dia makan bakso keluar" ujar Frans yang selalu menomor satukan keluarganya.


"Sip. Gue juga mau pulang. Bareng gue aja ke bawa"


Danu mengambil ponsel miliknya dan kunci mobil. Mereka berdua kemudian turun ke lantai satu perusahaan. Mereka akan pulang ke rumah masing masing.

__ADS_1


__ADS_2