
Paman yang sudah sampai kembali di rumah sakit, langsung berjalan dengan sangat cepat ke ruangan operasi untuk menemui kakak dan juga kakak iparnya yang sudah menunggu lama karena Paman pakai acara bermain sebentar sambil menunggu menu makan siang bersama dengan kedua anaknya yang sudah lebih dari dua puluh empat jam tidak bertemu dengan Paman.
"Maaf Kakak, aku telat. Tadi aku lebih memilih ke mansion dulu untuk melihat Ivan dan Sari" ujar Paman sambil menaruh rantang yang dibawanya dari mansion.
"Jadi ini makan siang yang dimasak oleh maid di rmansion adik?" tanya Mami kepada Paman.
"Iya kakak ipar, tadi saat aku sampai di mansion, bibik terlihat sedang memasak. Makanya aku mengatakan untuk melebihkan biar bisa aku bawa ke rumah sakit. Bibik kemudian menambah masakannya untuk aku bawa ke sini" ujar Paman menceritakan kenapa bisa Paman membawa makanan mansion ke rumah sakit.
"Ivan dan Sari bagaimana keadaannya Adik?" tanya Papi yang sebenarnya juga kangen dengan kedua keponakannya itu. Mereka terbiasa bermain bersama di mansion. Sedangkan sekarang mereka harus terpisah karena Danu yang harus di rawat di rumah sakit.
"Kakak dan Kakak ipar lebih baik makan siang dulu sana. Biar Danu aku yang tungguin di sini" ujar Paman meminta kakak dan juga kakak iparnya untuk menikmati sarapan pagi mereka yang ternyata sudah digabung dengan makan siang.
Mami melihat ke arah Papi. Mami sebenarnya sudah sangat lapar, tetapi untuk mengutarakannya Mami agak susah. Makanya Mami melihat ke arah Papi, mana tau Papi mau mengajak Mami untuk pergi menikmati makan siang yang di bawa oleh Paman ke taman rumah sakit.
"Baiklah, ayuk Mami, kita pergi makan ke taman rumah sakit. Tidak mungkin kita akan makan di sini" ujar Papi mengajak Mami untuk pergi makan ke taman rumah sakit. Papi juga sudah lapar, sarapan tadi pagi yang hanya nasi goreng saja, tidak bertahan lama di dalam lambung Papi.
"Adik, kamu jaga Danu ya, kalau ada apa apa hubungi kami segera" ujar Papi berpesan kepada Paman untuk segera menghubugi dirinya apa bila ada sesuatu yang terjadi kepada Danu.
"Baik kakak, nanti akan saya hubungi kalau ada apa apa dengan Danu." jawab Paman sambil melihat ke arah Papi.
__ADS_1
Mami mengambil rantang yang ada di salah satu kursi tunggu tersebut. Papi menggenggam tangan Mami untuk berjalan menuju taman rumah sakit. Paman melihat pemandangan yang menyejukkan matanya tersebut. Keromantisan kakaknya tidak pernah pudar kepada kakak ipar.
"Sayang, mereka begitu mesra sayang. Kalau kamu masih berada di sini, aku pasti akan melakukan hal yang sama terhadap kamu" ujar Paman sambil menatap sebuah fhoto yang ada di ponsel miliknya.
"Kamu pasti sudah bahagia di sana kan Sayang, kamu sudah tidak sakit lagi." lanjut Paman berbicara dengan fhoto yang ada di ponsel miliknya itu.
"Aku akan jaga Ivan dan Sari. Aku akan mendidik mereka seperti kamu mendidik mereka berdua selama ini sayang, aku berjanji akan hal itu. Aku tidak akan menyianyiakan mereka berdua. Mereka adalah titipan kamu yang harus aku laksanakan dan harus aku besarkan sayang" ujar Paman.
Paman kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kembali. Ponsel yang dari dahulu tidak pernah di tukar oleh Paman. Ponsel yang masih dipakai oleh Paman sampai sekarang. Ponsel itu memiliki berjuta juta kenangan dengan istri tercintanya yang meninggal bertepatan dengan kelahiran Sari. Masa masa sulit yang berhasil dilalui Paman berkat dukungan dari keluarga Sanjaya yang lainnya.
Paman sambil duduk masih sempat membaca progres kerja CT Grub melalui ponsel miliknya. Paman tidak perlu kesana karena di perusahaan Paman, Paman menaruh orang orang yang jujur dan berkompeten di bidangnya dengan pendapatan yang menjanjikan. Jadi, di dalam perusahaan itu tidak ada yang berminat untuk berbuat curang. Karena seluruh karyawan sudah tau apa akibat dari kalau berbuat curang di perusahaan CT Grub.
"Apa kita harus membangunkan Adik, Papi?" tanya Mami kepada Papi sambil menaruh kembali rantang makan siang itu di kursi tunggu.
"Tidak usah saja Mami, kasihan. Adik sama sekali tidak beristirahat sepanjang hari semenjak kecelakaan Danu. Jadi, biarkan saja dia beristirahat terlebih dahulu. Kita berdua saja yang menunggu sampai operasi anak kita selesai" ujar Papi menjawab permintaan dari Mami. Papi melarang Mami untuk membangunkan Paman.
Papi dan Mami kemudian duduk di kursi tunggu yang masih kosong. Paman tidur memakai lima buah kursi tunggu yang ada di depan ruangan operasi. Mereka berdua menunggu berlangsungnya operasi Danu sambil mengobrol tentang beberapa hal tentang kondisi Danu kedepannya dan mereka harus berbuat apa.
Saat mereka asik mengobrol itulah Paman bangun dari tidurnya dan melihat kakak dan kakak iparnya duduk di seberang kursi yang dipakai Paman tidur tadi.
__ADS_1
"Maafkan aku kakak, kakak berdua jadi tidak bisa duduk di sini, karena aku pakai untuk tidur" ujar Paman kepada Kakak dan juga kakak iparnya itu.
"Tidak apa apa Adik. Kamu memang sudah saatnya beristirahat." ujar Papi menjawab perkataan dari Paman yang merasa tidak enak karena sudah memakai kursi yang terlalu banyak untuk Paman tidur siang.
Mereka bertiga kemudian menatap pintu ruang operasi Danu, dari dalam sana belum keluar sama sekali dokter yang memberikan tindakan operasi kepada Danu.
"Sudah tujuh jam Kak" ujar Paman sambil melihat jam tangannya.
"Mau bagaimana lagi Adik. Kita hanya bisa menunggu tidak bisa berbuat apa apa lagi" ujar Papi menjawab perkataan dari Paman tentang sudah berapa lama tindakan operasi dilakukan oleh tim dokter.
"Emang tadi dokter mengatakan berapa lama operasi dilakukan Papi?" tanya Mami yang lupa berapa lama tindakan operasi dilakukan oleh tim dokter kepada Danu.
"Katanya tadi akan dilakukan selama delapan jam dalam kondisi normal dan tidak ada gangguan di dalam ruang operasi. Tetapi kalau ada gangguan bisa jadi lebih" ujar Papi menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
"Semoga tidak ada gangguan Papi. Mami berharap operasi yang dilakukan berjalan lancar. Mami tidak ingin anak Mami lama lama menanggung rasa sakit di kepalanya itu" ujar Mami yang tidak henti hentinya berdoa kepada Tuhan semenjak kejadian nahas itu menimpa Danu.
"Amiin Mami" ujar Papi.
Mereka bertiga kemudian menunggu sampai dokter ke luar dari dalam ruangan operasi sambil mengobrol membahas tentang perusahaan dan pabrik milik Papi dan Paman. Keluarga Sanjaya di kenal memiliki beberapa usaha di negara U. Kakak beradik itu dikenal saling melengkapi dalam dunis bisnis. Makanya, mereka berdua tidak pernah memiliki bisnis yang sama.
__ADS_1