
"Vin, tumben Sari tidak datang" ujar Maya yang sama sekali tidak melihat Sari yang datang pagi ini.
"Iya ya May, tumben tu anak tidak hadir. Kemana dia ya. Biasanya dia tidak melewati kesempatan untuk sarapan di sini. Apa dia sakit?" tanya Vina memberondong pertanyaan kepada Maya.
"Telpon aja bos. Apa juga guna ponsel." jawab Maya mengingatkan Vina akan ponselnya.
"Iya ya. Kenapa nggak ingat dari tadi." ujar Vina.
Vina mengambil ponselnya dari dalam tas kerja miliknya yang terletak di atas meja makan. Vina langsung mencari nama Sari di ponsel mahal itu.
"Nggak diangkat Sari, May." ujar Vina sambil memperlihatkan ponselnya kepada Maya.
"Coba lagi aja." Maya memberikan semangat kepada Vina.
Saat Vina akan kembali menghubungi Sari, tiba tiba ponsel milik Vina berdering, di sana tertulis nama orang yang akan dihubunginya tadi.
"Kemana loe nggak ke rumah?" tanya Vina langsung ke inti permasalahan.
"Sorry Vin. Gue nggak nginap di apartemen. Tapi di rumah teman gue." ujar Sari yang tidak mungkin jujur kepada Vina untuk saat ini.
"Oooo. Gue dan Maya mengira loe sakit Sar. Sekarang loe dimana?" tanya Vina yang mulai lega karena sudah mengetahui keberadaan Sari dimana.
"Ini sedang dalam perjalanan ke kantor. Rumah temen gue jauh dari kantor." jawab Sari yang memang sedang dalam keadaan mengemudi.
"Oh ya Vin. Kalau loe nggak keberatan. Gue belum sarapan ini, bisakan loe bawakan sarapan yang dibuat Maya untuk gue." ujar Sari dengan nada penuh harapan Vina mau membawakan dia bekal sarapan.
"Oke oke. Sekarang Maya masak nasi bakar. Loe pasti akan suka." ujar Vina memberitahukan apa yang dimasak oleh Maya untuk sarapan mereka hari ini.
"Kedengerannya enak. Okelah gue tunggu di kantor." ujar Sari.
Vina kemudian memutuskan panggilan telpon mereka berdua. Maya yang mendengar Sari meminta bekal, langsung membungkuskan sarapan untuk Sari.
"Vin, gue nanti mau ke tempat kafe kita. Apa gue boleh bawa Rina?" ujar Maya sambil memberikan rantang bekal untuk Sari.
"Boleh. Nanti Pak Hans akan datang untuk mengantarkan kalian ke sana. Gue pulang sama Sari aja nanti. Loe hati hati di sana. Semua pembangunan dan yang lain lain gue serahin ke elo." ujar Vina sambil berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di depan pintu rumah.
Vina naik ke atas mobil. Dia melihat juga sudah ada satu rantang bekal sarapan untuk Pak Hans di atas kursi mobil sebelah penumpang.
"Pak Hans itu bekal siapa?" tanya Vina yang penasaran dengan bekal itu.
"Punya saya Nona. Tadi Nona Maya memberikan kepada saya." jawab Pak Hans.
"Sip Pak Hans. Oh ya Pak Hans nanti tolong antarkan Nona Maya ya Pak Hans." ujar Vina
"Siap Nona. Tapi kalau saya boleh tau kemana harus saya antar Nona Maya, Nona?" tanya Pak Hans yang tidak tau harus mengantar Maya kemana nanti.
"Ke lokasi pembangunan kafe kemaren Pak. Rencananya hari ini akan dimulai pembangunannya." ujar Vina memberitahukan kemana Pak Hans harus mengantarkan Maya.
"Baiklah Nona. Nanti setelah jam mengantar Nona dan sarapan, saya akan mengantar Nona Maya."
"Bapak tolong tungguin dia sampai selesai ya Pak. Saya tidak apa apa kalau tidak bapak jemput. Nanti saya akan pulang dengan Sari. Sepertinya Sari membawa mobil ke kantor hari ini." ujar Sari memberikan instruksi kepada Pak Hans.
Pak Hans kembali melajukan mobilnya dengan fokus. Tidak beberapa lama mereka akhirnya sampai di kantor. Pak Hans seperti biasa memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk kantor.
"Jangan lupa ya Pak Hans." ujar Vina.
"Sip Nona." jawab Pak Hans.
__ADS_1
Vina turun dari dalam mobil. Pak GHans yang melihat Nonanya sudah turun, kembali melajukan mobilnya. Dia akan sarapan di pos satpam dan kembali pulang untuk mengantarkan Nona Maya.
Vina masuk ke dalam kantornya. Dia mengambil tanda kehadiran. Ternyata sudah terlihat kemajuan yang signifikan tentang kehadiran karyawan. Kecuali karyawan bagian IT yang masih tetap belum datang.
Sari sudah menunggu Vina dari tadi di kursi tunggu depan resepsionist. Dia sudah membawa satu set perlengkapan makan.
"Dari tadi Sar?" tanya Vina yang melihat Sari sudah stay di kursi tunggu kantor.
"Udah. Loe duduk sini dulu Vin. Ada yang mau gue omongin." ujar Sari meminta Vina duduk tepat di sebelah dirinya.
Vina duduk di sebelah Sari. Dia membuka rantang yang telah disiapkan Maya untuk Sari.
"Vin, sepertinya hukuman kemaren sudah berdampak terhadap kehadiran karyawan. Tetapi tetap ya bagian IT sama sekali belum datang."
"Biarin aja. Kita tunggu aja mereka di sini. Kita meeting jam sepuluhkan ya?" tanya Vina yang teringat ada agenda meeting hari ini.
"Yup jam sepuluh. Gue sarapan dulu ya laper. Apalagi dengan nengok nasi bakar, ayam goreng makin bikin gue laper." ujar Sari sambil mengambil satu bungkus nasi bakar yang telah disiapin oleh Maya.
"Vin, ada dua lagi. Gue kasih resepsionis aja ya?" kata Sari saat melihat masih ada kelebihan dari sarapan yang dibawakan oleh Maya.
"Kasih aja siapa juga yang mau makan lagi. Gue juga udah kenyang." kata Vina menyetujui permintaan Sari.
Sari memberikan kelebihan sarapan kepada dua resepsionis yang sudah berada di balik meja kerjanya. Setelah Sari memberikan bekal sarapan. Dia kemudian melanjutkan sarapan yang tertunda tadi.
Saat Sari selesai sarapan, kebetulan tim IT datang serombongan. Mereka selalu begitu. Tidak akan pernah ada salah satu dari mereka yang datang duluan atau yang terakhir.
"Pagi Nona Sari. Nggak sempat sarapan ya Nona. Padahal jam masuk kantor masih satu jam lagi." sapa salah satu tim IT.
"Oh ya satu jam lagi??? Jam saya yang luar biasa cepat atau jam kalian yang mati." ujar Sari menjawab sambil menatap sinis ke arah semua karyawan IT.
"Kami permisi dulu Nona, mau ambil kehadiran. Takut telat." jawab yang lain.
Mereka kemudian menekan tombol kehadiran. Betapa kagetnya mereka saat melihat di layar monitor apa yang terjadi.
"Kenapa nama gue nggak terdaftar di perusahaan ini lagi?" tanya salah satu karyawan IT.
"Masak iya, kemaren masih ada kan ya. Coba sekarang giliran gue." ujar karyawan IT yang lainnya.
Karyawan itu mencoba memencet tombol pengambilan kehadiran. Ternyata masih sama juga, nama dia juga tidak terdaftar lagi di perusahaan.
"Coba loe berdua!!" kata karyawan tadi yang yakin namanya ada di dalam aplikasi.
Dua orang karyawan yang lain mencoba menekan tombol kehadiran tetapi hasilnya tetap sama. Nama mereka juga sudah tidak terdaftar lagi di perusahaan.
Vina dan Sari yang melihat mereka saling menatap, mereka tersenyum dengan samar melihat kepanikan karyawan bagian IT. Dua wanita cantik pimpinan perusahaan itu berjalan masuk menuju lift. Mereka akan menunggu semua karyawan bagian IT di ruangan Vina.
"Kok bisa nama kita hilang bersamaan ya? Apa loe kemaren waktu set waktu tampa sadar mengedit nama kita?" tanya salah satu karyawan kepada teman yang mengedit aplikasi.
"Nggak la. Bodo banget gue kalau ngelakuin itu. Gue cuma rombak jam saja. Nggak ada yang lain." jawabnya dengan sedikit bernada tinggi karena dituduh telah menghapus nama mereka dari aplikasi.
"Sekarang bagaimana lagi ini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya yang lain.
"Kita keruangan wakil direktur saja. Kita coba tanyakan kepada dirinya." salah satu karyawan memberikan ide.
"Setuju." jawab yang lain.
Mereka berempat masuk ke dalam lift. Salah satu dari mereka memencet tombol untuk menuju ruangan Vina. Mereka berempat merasakan was was di hati mereka masing masing.
__ADS_1
Mereka semakin mengkeret saat sudah berada di depan ruangan Vina. Sari yang sudah dapat melihat kedatangan empat karyawan songong itu langsung membukakan pintu ruangan Vina. Keempat karyawan itu lalu masuk ke dalam ruangan.
"Silahkan duduk empat karyawan yang luar biasa pinter sampai sampai mau membodohi saya." ujar Vina menyapa mereka dengan sindiran yang sangat pedih di dengar telinga
"Maaf Ibuk Wakil direktur. Apa kesalahan kami sampai sampai nama kami sudah tidak terdaftar lagi di perusahaan.?" tanya salah satu karyawan memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Kalian masih tidak tau atau pura pura tidak tau? Saya tidak punya waktu lana untuk bercerita kebohongan dengan kalian berempat. Saya sebentar lagi ada meeting. Kalian mau mengaku atau saya yang akan memaksa kalian untuk mengakui perbuatan kalian?" tanya Vina dengan menatap tajam dan dingin kepada empat karyawan tersebut.
Keempat karyawan itu saling pandang pandangan. Mereka sekarang yakin kalau wakil direktur telah mengetahui kecurangan mereka selama ini. Keempat karyawan itu masih saja terdiam. Vina dan Sari sudah tidak sabar lagi menunggu mulut mereka yang selama ini pintar bicara membuka mulutnya dan membicarakan semuanya.
Plak sebuah pukulan keras mendarat di meja kerja Vina. Vina sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Sari dan keempat karyawan yang berada di dalam ruangan Vina menjadi kaget luar biasa saat mendengar bunyi menja yang dipukul dengan keras.
"Anda berempat sekarang tidak bisa ngomong. Kemaren kemaren anda katakan saya dan Sari bodoh. Sekarang yang bodoh sebenarnya siapa? Jawab saya? Apa yang kalian kalukan selama ini benar benar tidak bisa syaa toleransi lagi." ujar Vina dengan murka.
Keempat karyawan bagian IT hanya bisa menekurkan kepala mereka saja lagi. Mereka menunduk dengan sangat dalam.
"Sekarang juga kalian berempat saya pecat tidak hormat." kata Vina mengeluarkan bomnya ke depan empat karyawan IT.
"hahahaha. Kamu mau pecat kami? Data perusahaan bisa kami bajak dan memberikan kepada perusahaan lain." jawab salah satu karyawan yang tidak terima dirinya di pecat.
"Silahkan. Kalau perlu sekarang juga anda sebarkan. Ini laptop saya." ujar Vina sambil memeberikan laptop miliknya.
"Apa taruhannya Nona?" tanya karyawan itu dengan percaya dirinya.
"Kalau kamu bisa, kalian semua akan saya terima kembali bekerja di sini. Dan gaji saya naikin dua kali lipat." ujar Vina dengan percaya dirinya.
"Anda serius dan pemegang janjikan Nona?" tanya karyawan itu.
"Saya tidak perlu kalian ragukan. Tapi saat Anda tidak bisa mengambil datanya, maka anda saya pastikan tidak akan bisa bekerja dimanapun." ujar Vina menatap karyawannya.
"Deal Nona." jawab karyawan itu tanpa pikir panjang.
Karyawan itu dengan percaya dirinya mengambil laptop milik Vina. Dia sudah membayangkan gaji dua kali lipat setiap bulan yang akan mereka terima. Dia membuka database perusahaan. Jangankan untuk melihat isi dari data basa perusahaan untuk login saja dia sudah tidak bisa.
"Gimana?" tanya Vina menatap karyawan yang sudah berkeringat.
"Sebentar lagi Nona." jawab karyawan itu sambil menyeka keringatnya.
"Baiklah saya akan tunggu." jawab Vina.
Ketiga karyawan IT mendekati temannya itu. Mereka melihat temannya tidak bisa login, walaupun passnya sama.
"Kenapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Nggak bisa masuk. Sepertinya ini bukan pengaman yang kita buat." jawab karyawan yang menantang Vina.
"Jadi bagaimana ini?" ujar salah satu karyawan yang sudah terbayang akan menjadi pengangguran.
"Bagaimana? Apa Anda sudah menyerah?" tanya Vina menatap ke empat karyawannya itu.
Mereka berempat hanya bisa menunduk. Mereka hanya bisa menyesali perbuatan mereka kemaren kemaren. Nasi sudah jadi bubur tidak bisa diulang lagi.
"Sekarang tidak usah menyesal lagi, semua sudah terjadi, ambil aja hikmahnya. Saya sebagai wakil direktur mewakili direktur dan perusahaan mengucapkan terimakasih kepada kalian berempat. Maaf saya terpaksa memecat kalian." ujar Vina menatao karyawannya yang hanya bisa menunduk itu.
"Oke. Silahkan keluar. Sebelum pulang singgah dahulu dibagian keuangan, silahkan ambil pesangon kalian." lanjut Vina.
Keempat karyawan itu melangkah dengan gontai. Mereka sekarang hanya bisa menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan.
__ADS_1