
"Ayah" ujar Deli kaget melihat Ayahnya yang tidur di sofa ruang keluarga. Deli tidak menyangka ayahnya akan datang malam tadi. Kalau Deli tahu, pasti Deli akan menunggu kedatangan Ayahnya itu tadi malam.
Mami yang mendengar Deli mengatakan kata Ayah berjalan menyusul Deli ke ruang keluarga itu. Mami juga melihat Danu yang sedang tertidur dengan posisi kaki yang sudah di lantai dan badan yang masih tetap di atas sofa.
"Nenek, kapan ayah datang?" tanya Deli saat melihat Danu yang tertidur di atas sofa.
"Nenek juga tidak tahu. Mungkin sudah larut malam sekali, makanya Nenek tidak tahu akan kedatangan Ayah kamu sayang" ujar Nenek yang melihat Danu tidur dalam posisi mengenaskan seperti saat ini.
"Oh ya, karena ada Ayah, gimana kalau kita masak sarapan spesial untuk ayah?" tanya Nenek mengajak Deli untuk membuat sarapan yang spesial untuk Ayahnya.
"Setuju Nek" jawab Deli dengan semangat.
Nenek dan Deli kemudian berjalan menuju dapur. Saat itulah Nenek bertemu dengan Paman yang baru keluar dari dalam kamarnya.
"Hay Adik kapan datang?" tanya Nenek kepada Paman yang baru keluar dari dalam kamar.
"Pagi kakak ipar. Hay cucu kakek yang cantik" ujar Paman menyapa Deli.
"Nenek siapa kakek tampan itu?" tanya Deli yang baru kali ini melihat kedatangan Paman ke rumah mereka.
"Hay, cucu kakek. Kakek adalah adik dari Atuk kamu. Maafin kakek ya yang nggak pernah nengokin kamu ke sini, sehingga kamu jadi tidak mengenal kakek" ujar Paman sambil berjongkok di depan Deli.
"Ooo ooo jadi Kakek adalah adik atuk" ujar Deli berkata dengan polosnya kepada Paman.
"Iya sayang" ujar Paman sambil menggendong Deli.
"Kakek, turunkan Deli. Deli sudah besar jadi nggak perlu di gendong lagi" ujar Deli kepada Paman.
Paman kemudian menurunkan Deli dari gendongannya. Paman melihat kepada Mami. Paman meminta Mami untuk menjelaskan maksud dari perkataan Deli tadi.
"Dia memang tidak suka di gendong lagi Adik. Deli merasa suda besar dan bisa berjalan sendiri" ujar Mami menjelaskan kepada Paman maksud dari perkataan yang diucapkan oleh Deli.
"Kapan kamu datang?" tanya Mami kepada Paman yang sudah lama tidak bertemu itu.
"Tadi malam sama Danu. Tapi sudah sangat larut malam sekali" Paman menjawab pertanyaan dari Mami.
"Ooo. Baiklah kalau begitu. Aku dan Deli akan memasak sarapan dulu" ujar Mami.
__ADS_1
"Danu ada di ruang keluarga" ujar Mami memberitahukan dimana keberadaan Danu kepada Paman.
Deli kemudian berjalan menuju dapur dengan Mami. Sedangkan Paman menuju ruang keluarga untuk membangunkan Danu. Mereka berkejaran dengan waktu, jangan sampai sebelum mereka meninggalkan rumah ini Ranti keburu datang.
"Danu bangun Dan. Kamu mau Ranti keburu datang baru kamu bangun" ujar Paman membangunkan Danu yang tertidur dalam kondisi mengenaskan itu.
Danu yang mendengar panggilan dari Paman langsung berusaha membuka matanya. Dia melihat Paman sedang duduk sambil menonton televisi.
"Paman sudah tanya ke Papi mau membawa Deli dan Mami kemana hari ini?" tanya Danu kepada Paman.
"Sudah, Papi akan membawa Deli dan Mami ke rumah peristirahatan milik keluarga di daerah waduk" jawab Paman sambil tetap fokus menonton televisi.
"Rumah di waduk? Aku baru denger Paman" tanya Danu yang memang baru kali ini mendengar Papi punya rumah peristirahatan di kawasan waduk tersebut.
"Itu rumah peristirahatan yang dibeli oleh Ayah kami. Kamu memang tidak pernah di bawa Papi ke sana. Kami juga jarang ke sana kok." ujar Paman menjawab pertanyaan dari Danu.
"Apakah aman di situ Paman?" tanya Danu yang ragu mendengar karena rumah peristirahatan itu jarang mereka datangi.
"Kata Papi kamu aman. Nanti kita akan melihat kondisi di sana" jawab Paman.
"Kamu mandi sana, tukar pakaian kamu." ujar Paman meminta Danu untuk membersihkan badannya yang dari kemaren pagi tidak mandi mandi dan tidak berganti pakaian.
"Hay sayang Ayah" ujar Danu yang bermaksud ingin mencium Deli.
"No Ayah, No. Ayah belum mandi, jadi nggak boleh sayang sayang Deli" ujar Deli melarang Danu untuk. mencium dirinya.
"Haha haha haha." ujar Danu tertawa mendengar Deli melarang dirinya untuk mencium wajah Deli.
"Apakah siap mandi boleh mencium kamu?" tanya Danu kepada Deli.
"Boleh tapi sekali" jawab Deli dengan tegas.
"Oke sekali" jawab Danu menyetujui permintaan putri kecilnya itu.
Danu kemudian berjalan menuju kamarnya. Dia akan membersihkan diri terlebih dahulu. Papi yang telah selesai mandi berjalan keluar kamar.
"Mami, mana adik Mi?" Papi bertanya kepada Mami dimana keberadaan adik satu satunya yang baru pulang kembali ke rumah mereka.
__ADS_1
"Di ruang keluarga Papi" jawab Mami memberitahukan dimana Paman berada.
Papi menuju tempat Paman berada. Mereka akan kembali mendiskusikan tempat terbaik untuk mereka pergi mengungsikan Deli.
"Adik, Kakak sudah berpikir dari semalam. Bagaimana kalau kita langsung saja ke negara U dari pada harus ke rumah peristirahatan dulu" uajr Papi yang telah memutuskan untuk langsung saja ke mansion mereka yang berada di negara U.
"Aku setuju setuju saja. Tapi lebih baik kita bicarakan dulu dengan kakak ipar. Aku rasa Deli juga pantas tahu untuk semua permasalahan ini" ujar Paman meminta Papi untuk membicarakan masalah ini juga dengan Deli dan Mami.
Papi terlihat memikirkan apa yang dikatakan oleh Paman kepada dirinya. Paman memang ada benarnya juga, Papi memang harus menceritakan semua permasalahan ini kepada Mami dan Deli.
"Baiklah, aku akan bicarakan dengan Deli dan kakak ipar kamu nanti saat kita sarapan. Aku rasa mereka akan sangat mengerti dengan semua keadaan yang sedang terjadi sekarang ini" ujar Papi yang telah memutuskan untuk membicarakan semuanya kepada Deli dan juga istrinya itu.
Mereka berdua kemudian berbincang bincang tentang berbagai hal termasuk masalah perusahaan. Paman sudah mengatakan kepada Paoi, kalau Paman akan memberikan sepenuhnya gak perusahaan kepada Danu setelah Danu menyelesaikan persoalan perceraiannya dengan Ranti.
Papi setuju dengan apa yang dikatakan oleh Paman. Papi juga berharap setelah ini Danu yang memimpin perusahaan agar Danu mengerti dan paham arti perusahaan bagi keluarga besar Sanjaya.
"Kakek tampan, Atuk ayuk makan. Ayah sudah di meja makan" ujar Deli memanggil kedua kakeknya itu.
"Sayang kamu manggil dia siapa?" tanya Papi kepada Deli yang merasa telinga Papi gatal karena panggilan Deli kepada adiknya itu.
"Kakek tampan. Emang kenapa ya Atuk?" tanya Deli kepada Atuk nya itu.
"Tampan dari mana sayang. Nggak lihat kakek kamu sudah tua seperti itu" ujar Papi sambil meminta Deli melihat sekali lagi kakeknya itu.
"Tampan dari Atuk iya. Muda dari Atuk iya. Tapi dibandingkan Ayah dan Om Ivan, masih gantengan Ayah dan om Ivan" ujar Deli dengan jujur.
"Haha haha. Sudahlah kakak, anak kecil memang selalu jujur" ujar Paman menggoda kakak laki lakinya itu.
"Makasi ya" jawab Papi kepada Paman.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju meja makan. Dimana di sana sudah duduk Danu yang sudah terlihat lebih segar dibandingkan kemaren malam. Mami yang menghidangkan sarapan.
"Sayang duduk dekat Ayah sini" ujar Danu meminta Deli untuk duduk di dekat dirinya.
"Nggak. Deli sekarang mau duduk dekat kakek tampan" ujar Deli yang memilih duduk di dekat Paman dari pada Danu Ayahnya sendiri.
"Haha haha. Kamu memang terbaik Deli" ujar Oaman yang bahagia Deli bisa langsung menerima keberadaannya di dalam keluarga.
__ADS_1
"Karena kakek baik" jawab Deli.
Mereka kemudian menikmati sarapan yang berupa nasi goreng lengkap dengan telur dadar yang dibuat oleh Mami dan Deli. Mereka berlima makan dengan lahap nasi goreng tersebut. Setelah sarapan, Danu akan memberitahukan kepada Mami dan Deli tentang kedatangannya ke rumah tengah malam tadi.