
"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya. Bunda mau merapikan penampilan Bunda sebentar. Nggak mungkin Bunda ke bandara dengan penampilan seperti ini. Bisa bisa nanti Ayah kamu lari terbirit birit lagi karena malu jalan dengan Bunda." ujar Vina meminta Deli untuk menunggu dirinya sebentar di kamar karena Vina mau bersiap siap terlebih dahulu sebelum turun ke lantai satu mansion untuk ikut sarapan dengan keluarga Sanjaya yang lainnya.
Sedangkan Danu yang telah selesai bersiap siap, melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Dia mengetuk pintu kamar Vina. Danu ingin memastikan kalau Vina sudah bangun dari tidurnya. Danu tidak mau kalau Vina masih tertidur dan tidak jadi ikut dengan Danu ke bandara.
"masuk" ujar Deli yang mendengar ketukan di pintu kamar Vina..
"Loh kok ada Deli di dalam kamar?" tanya Danu yang merasa heran sendiri dengan keberadaan Deli yang ada di dalam kamar Vina.
Danu membuka pintu kamar Vina. Dia melihat Deli yang sedang duduk dengan cantiknya di sofa. Sedangkan Vina masih sibuk di depan meja rias untuk merapikan penampilannya supaya terlihat sempurna dan bisa di bawa ke Bandara dan tidak membuat malu Danu.
"Kamu kenapa ada di kamar Bunda?" tanya Danu kepada Deli yang sedang duduk di sofa dan menatap ke arah Vina.
"Lah harusnya Deli yang tanya sama Ayah. Kenapa Ayah harus ke kamar Bunda?" ujar Deli membalikkan pertanyaan yang sama kepada Danu.
Danu menatap ke arah Deli. Danu tidak menyangka Deli akan menanyakan hal itu kepada dirinya.
"Lah kamu aneh, Ayah yang tanya kamu malah balik bertanya" ujar Danu kepada Deli.
Danu kemudian duduk di sebelah Deli. Danu dan Deli sama sama melihat ke arah Vina yang sibuk memoles wajahnya agar menjadi lebih cantik lagi. Vina sama sekali tidak menyangka kalau Danu akan ikut ikutan melihat apa yang dilakukan oleh dirinya di depan cermin. Vina yang sudah risih dengan cara Danu menatap dirinya, akhirnya menyelesaikan dengan cepat apa yang sedang dikerjakan oleh Danu.
"Kok udah siap aja Bunda? Pasti gara gara Ayah yang memerhatikan Bunda kan ya? Makanya Bunda menyelesaikannya dengan sangat cepat" ujar Deli menebak kenapa Vina bisa dengan cepat menyelesaikan riasan di wajah cantiknya itu.
"Nggak sayang, memang udah selesai" jawab Vina yang tidak mau Deli dan Danu akan kembali bersitegang, apalagi ini masih pagi hari.
"Oh oke" jawab Deli.
Danu tersenyum ke arah Deli. Dia sangat tahu Vina sengaja mengatakan hal itu supaya tidak ada keributan yang terjadi antara dirinya dengan Deli.
"Sayang, kamu nggak lihat Deli hari ini cantik sekali" ujar Vina yang tahu Danu sama sekali belum memuji penampilan Deli hari ini yang model ikat rambutnya di buat berbeda dengan hari hari kemaren.
Danu menatap Deli. Vina memberikan kode kepada Danu apa yang berubah dari penampilan Deli hari ini. Danu dengan cepat mengerti kode yang diberikan oleh Vina kepada dirinya.
"Sayang, kamu cantik sekali sayang, apalagi dengan model ikat rambut seperti itu. Itu membuat kamu terlihat sangat sangat cantik" ujar Danu memuji kecantikan Deli.
__ADS_1
"Hem baru sadar Ayah kalau Deli cantik. Ayah kemana aja dari kemaren kemaren" ujar Deli menjawab perkataan dari Danu.
Jawaban yang diberikan oleh Deli sukses membuat Danu dan Vina menjadi tertawa ngakak, mereka berdua tidak menyangka Deli akan menjawab seperti itu. Dalam bayangan Danu dan Vina, Deli akan menjawab dengan jawaban khas anak anak seusia Deli.
"Siapa yang bikin ikatan rambut kamu seperti ini sayang?" ujar Danu menanyakan hal yang lebih spesifik lagi kepada Deli.
"Bikin kayak gini ya Bunda lah Ayah. Nggak mungkin Ayah. Ayah mana bisa membuat seperti ini" ujar Deli menjawab perkataan dari Danu.
"Ooo jadi cantik Bunda Vina yang pindah ke kamu" ujar Danu memulai menabuh genderang perang kepada Deli.
"Sayang, jangan mulai" ujar Vina mengingatkan Danu untuk tidak memulai peperangan dengan Deli.
Vina melihat wajah Deli yang sudah memerah menahan semosinya yang sebentar lagi kalau tidak ditahan tahan oleh Vina sudah bisa dipastikan akan meledak dengan sendirinya.
"Ayuk kita ke bawah, Mami dan Papi pasti sudah menunggu kita untuk sarapan" ujar Vina mengalihkan keributan antara Ayah dan anak yang bisa meletus sebentar lagi kalau tidak ada yang berusaha menengahinya.
Mereka bertiga kemudian turun dari lantai dua mansion. Papi dan Mami yang sudah berada di meja makan melihat ke arah tangga. Tiga orang yang baru turun dari lantai dua mansion itu terlihat seperti keluarga yang sangat berbahagia sekali. Tidak ada terlihat seperti orang yang baru saling kenal antara Vina dan Deli.
"Iya Mami, mereka benar benar terlihat seperti keluarga yang lainnya. Papi berharap Danu cepat menyelesaikan urusannya di negara I dan bisa langsung menikahi Vina" ujar Papi berharap Danu cepat menyelesaikan urusannya dengan Ranti.
"Mami juga berharap yang sama Papip. KIta harus mendoakan semoga Danu cepat menyelesaikan permasalahannya dengan Ranti" ujar Mami yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Papi tadi.
Mereka bertiga akhirnya sampai juga di meja makan. Danu melihat apa yang tersaji di meja makan, semua adalah menu sarapan yang paling disukainya. Dengan melihat makanan saja, Danu sudah tahu itu adalah buatan siapa.
"Sayang, makasi banyak. Kamu sudah mau bangun pagi dan bersusah susah membuat semua sarapan ini untuk kami, terutama untuk aku." ujar Danu berkata kepada Vina.
"Ais kamu percaya diri sekali kalau yang masak kali ini adalah Vina. Yang masak sarapan jelas Mami" ujar Mami kepada Danu yang terlalu percaya diri kalau yang memasak menu sarapan adalah Vina.
"Mami nggak bisa berbohong sama aku Mami. Aku sangat tahu kalau yang masak ini adalah Vina bukan Mami" ujar Danu yang tidak mau disalahkan oleh Mami karena terlalu percaya diri mengatakan yang masak sarapan adalah Vina bukan Mami.
"Dari mana kamu tau kalau ini adalah masakan Vina?" tanya Mami kepada Danu yang sangat percaya diri mengatakan kalau masakan untuk sarapan kali ini yang memasak adalah Vina bukan Mami.
"Dari bentuk dan warnanya serta komponen masakan yang lainnya. Semua itu adalah sarapan kesukaan Danu" jawab Danu dengan percaya dirinya berkata kepada Mami.
__ADS_1
Mami melihat ke arah Vina.
"Apa benar Vin, ini adalah menu sarapan kesukaan Danu?" tanya Mami kepada Vina yang duduk tepat di sebelah Danu.
"Bener Mami. Ini adalah sarapan kesukaan Danu" jawab Vina sambil tersenyum ke arah Danu.
Vina sangat bangga kepada Danu karena Danu masih mengingat warna serta komponen makanan hasil buatan Vina.
"Sayang aku mencintaimu" ujar Danu kepada Vina.
Vina tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Danu kepada dirinya.
"Udah, mari kita makan" ujar Danu mengajak mereka semua untuk sarapan.
Mereka kemudian menyantap sarapan yang telah dibuat oleh Vina. Kali ini mereka akan makan sarapan yang berbeda dari pada biasanya bagi Papi, Mami dan Deli. Sedangkan bagi Danu, sarapan kali ini adalah sarapan yang mengulang ingatannya ke beberapa tahun belakang.
Mereka berlima menyantap sarapan itu dengan sangat lahap. Papi dan Mami serta Deli tidak menyangka kalau sarapan yang dibuat oleh Vina bisa seenak itu.
"ini enak sekali sayang" ujar Mami memuji rasa masakan Vina yang sangat enak itu.
"Enak lah masakan Mami dari pada masakan aku" ujar Vina menjawab pujian yang diberikan oleh Mami kepada dirinya.
"Enak ini nak" ujar Papi mengatakan kalau masakan Vina lebih enak dibandingkan masakan yang dimasak oleh Mami.
"Nah Papi bisa aja" ujar Vina menjawab perkataan dari Papi.
Mereka semua akhirnya selesai juga menyantap hidangan sarapan yang dibuat oleh Vina.
"Kita berangkat ke Bandara lagi Danu?" tanya Papi kepada Danu.
"Iya Papi, kita berangkat lagi." jawab Danu.
Seorang maid membantu memasukkan koper milik Danu ke dalam mobil. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak meninggalkan mansion menuju bandara yang terletak di pusat kota.
__ADS_1