
"Nona Vina maaf sebelumnya kalau Pak Hans lancang bertanya kepada Nona Vina. Tapi Pak Hans memang harus bertanya kepada Nona Vina" ujar Pak Hans membuka percakapan antara dirinya dengan Vina selama perjalanan mereka menuju perusahaan.
Mobil mulai bergerak menuju perusahaan. Pak Hans mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang. Vina melihat ke arah Pak Hans yang sedang berkonsentrasi dengan jalan yang ada di depan mereka saat ini.
"Ada apa Pak Hans? Tanyakan saja tidak apa apa" ujar Vina menjawab pernyataan dari Pak Hans yang dia mau bertanya tetapi takut Vina marah dan membuat mereka berdua saling tidak enak hati antara satu dengan yang lainnya.
"Jadi gini Nona Vina. Kami semua karyawan berpikir siapa anak kecil yang Nona Vina bawa dari kemaren ke kafe" ujar Pak Hans yang akhirnya melontarkan pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam obrolan para karyawan kafe dari kemaren malam.
Pak Hans tidak mau ada fitnah yang menerpa bosnya itu. Makanya dari pada mereka menebak nebak siapa anak kecil itu, lebih baik Pak Hans bertanya dan mengkonfirmasi semua berita itu kepada Vina.
"Deli, maksud Pak Hans?" ujar Vina ingin menanyakan anak kecil yang dimaksud oleh Pak Hans dan karyawannya yang lain adalah memang Deli.
"Iya Nona Vina" jawab Pak hans.
Pak Hans dengan karyawan yang lain memang belum mengenal siapa Deli sebenarnya. Mereka ingin bertanya tetapi malu. Mereka sama sekali tidak ingin bertanya takut membuat Vina tersinggung. Tetapi Pak Hans tidak mau membuat para karyawan menjadi suudzon kepada Vina. Makanya Pak Hans memberanikan diri untuk bertanya kepada Vina.
"Pak Hans, nanti tolong Pak Hans katakan juga kepada semua karyawan yang ada di kafe, kalau Deli sebenarnya adalah calon anak saya." ujar Vina memberitahukan kepada Pak Hans siapa Deli sebenarnya dan kenapa dia sudah dua hari ini selalu bersama dengan Vina.
"Maksud Nona Vina bagaimana ya? Pak Hans kurang mengerti Nona" ujar Pak Hans yang bertanya bagaimana maksud perkataan yang disampaikan oleh Vina sebentar ini.
"Jadi gini Pak Hans. Kekasih saya yang bernama Danu itu adalah seorang duda yang memiliki anak satu. Anaknya itu bernama Deli. Nah Deli itulah yang beberapa hari ini ikut dengan aku terus." ujar Vina menceritakan lebih detail maksud perkataannya kepada Pak Hans.
__ADS_1
"Oh jadi Nona kecil itu adalah calon anak tiri Nona Vina?" ujar Pak Hans yang menyimpulkan arti dari pernyataan yang dilontarkan oleh Vina kepada Pak Hans.
"Bahasa kasarnya iya Pak Hans. Tapi bagi Vina nggak ada yang namanya anak tiri. Mereka tetap anak bagi kita. Jadi nggak boleh dikatakan sebagai anak tiri" kata Vina mengoreksi perkataan dari Pak Hans.
Vina tidak mau menggunakan kata ganti anak tiri untuk mengatakan anak yang tidak lahir dari rahimnya sendiri.
"Maafkan saya Nona Vina. Saya sudah memakai kata kata yang tidak pantas untuk Nona Deli" ujar Pak Hans meminta maaf kepada Vina karena dia sudah memakai kata anak tiri untuk menyatakan status Deli.
"Tidak apa apa Pak Hans. Tapi saya mohon di dekat Deli jangan pernah katakan dia anak tiri. Saya tidak bisa melihat dia bersedih lagi" ujar Vina meminta sesuatu hal kepada Pak Hans dan karyawan kafe.
"Tolong sampaikan juga kepada karyawan kafe lainnya ya Pak Hans" ujar Vina berharap Pak Hans bisa menyampaikan hal itu kepada pelayan kafe lainnya.
Pak Hans membelokkan mobil masuk ke parkiran perusahaan. Tak terasa karena sambil mengobrol, mereka telah sampai di perusahaan. Pak Hans memarkir mobilnya di tempat parkir khusus petinggi perusahaan. Vina kemudian turun dari dalam mobil. Vina berjalan masuk ke perusahaan. Vina melihat para karyawan masih sangat ramai di perusahaan. Mereka terlihat lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu cepat.
Vina berjalan menuju ruangannya di lantai paling atas gedung perusahaan itu. Vina kemudian masuk ke dalam ruangannya. Vina melihat begitu tinggi dokumen yang harus dibaca olehnya saat ini.
"Huft tingginya" ujar Vina menatap menyerah melihat semua dokumen dokumen itu.
"Semangat Vina. Cayo Vina semua demi main dengan Deli lusa" ujar Vina menyemangati dirinya untuk bersemangat membaca dan menganalisa dokumen dokumen tersebut.
Vina mulai mengambil satu dokumen. Vina kemudian membaca dokumen itu dengan sangat teliti. Peperangan dengan dokumen sudah akan dimulai.
__ADS_1
Vina membaca setiap kembar dokumen itu dengan teliti. Vina tidak mau ada kesalahan yang mengakibatkan kerugian yang harus ditanggung oleh Perusahaan. Vina membaca dan melihat dengan teliti setiap angka angka yang ada di sana. Selama satu jam membaca dokumen tersebut, Vina baru menyelesaikan satu dokumen saja. Sedangkan dokumen yang ada di atas meja sebanyak lima belas dokumen.
"Huf banyaknya. Satu dokumen aja selama satu jam. Ini lima belas dokumen, ngeri ngeri sedap juga ini" ujar Vina yang menatap ragu ke arah dokumen dokumen yang ada di atas meja itu.
Vina mengambil satu dokumen lagi. Dia mulai membaca dokumen itu dengan seksama.
"Loh kok angkanya besar kali ini" ujar Vina yang melihat ada kejanggalan dari laporan keuangan yang diserahkan oleh bagian keuangan kepada Vina.
Vina mengulang kembali membaca dokumen itu. Vina memang menemukan kendala dan kecurangan dari dokumen tersebut. Vina tetap menemukan kendala dari dokumen itu.
Vina meraih telpon kantor. Vina langsung menekan nomor yang langsung terhubung kepada bagain keuangan.
"Tolong seluruh karyawan bagian keuangan ker ruangan meeting sekarang juga. Saya tunggu" uajr Vina yang masih berusaha sopan berbicara padahal dalam hatinya dia sudah sangat kesal dengan karyawan bagian keuangan itu.
Vina membawa dokumen laporan yang tadi dibaca oleh Vina. Vina berjalan menuju ruang meeting. Vina duduk di sana menunggu setiap karyawan keuangan yang tadi dipanggil oleh Vina untuk menemui dirinya di ruangan meeting itu.
Manager dan Staff bagian keuangan masuk ke dalam ruangan meeting. Mereka melihat Vina duduk di sana dengan memegang sebuah laporan keuangan. Mereka kaget saat melihat Vina memegang dokumen itu.
"Silahkan duduk" ujar Vina mempersilahkan mereka semua untuk duduk di kursi yang ada di ruang meeting tersebut.
Semua karyawan dan Manager keuangan duduk di kursi yang ada di ruangan meeting. Mereka saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka menebak nebak kenapa mereka dikumpulkan oleh Vina di ruangan meeting ki ini.
__ADS_1