
Sudah selama tujuh hari Danu berada di ruangan ICU, hari ini dokter akan memeriksa kembali kondisi Danu. Dokter akan melihat apakah Danu sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat biasa atau masih tetap harus di ruangan ICU itu.
Papi dan Paman yang baru saja selesai sarapan langsung berdiri saat melihat dokter dan suster yang datang dari arah luar dengan berjalan bergegas sekali. Paman dan Papi yang melihat mejadi bingung sendiri, tidak biasanya dokter datang sepagi ini, apalagi dengan berjalan cepat seperti itu, seakan akan membawa kabar buruk yang akan disampaikan kepada mereka berdua tentang kondisi Danu yang ada di dalam ruangan ICU.
Papi dan Paman saling pandang pandangan. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
"Dokter kenapa pagi sekali datangnya?" tanya Paman kepada dokter yang datang lebih cepat dari pada biasanya.
"Kami harus memeriksa keadaan Danu sekarang Tuan. Tadi perawat yang berada di dalam mengatakan kalau Danu menunjukkan kesadaran" jawab dokter.
Papi dan Paman langsung kaget mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Ketakutan yang ada saat melihat dokter berjalan cepat dan datang kepagian sekarang sudah sirna. Hanya ada kebahagiaan saat dokter mengatakan kalau Danu sudah menunjukkan tanda tanda kesadaran.
"Saya akan memeriksa kondisi Danu hari ini, kalau Danu dalam kondisi sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa, maka dia akan langsung kami pindahkan, supaya Tuan dan Nyonya bisa menjaga Danu dari dalam, tidak dibatasi lagi oleh dinding kaca seperti ini" ujar dokter yang merasa kasihan melihat keluarga Danu yang harus menunggui Danu dalam keadaan seperti sekarang ini.
Dokter kemudian masuk ke dalam ruangan Danu. Dokter dan perawat memeriksa keadaan Danu dengan sangat serius. Mereka melakukan permeriksaan terhadap Danu sangat lama sekali dibandingkan biasanya. Biasanya mereka memeriksa Danu kurang dari satu jam, sekarang lebih dari satu jam.
"Adik, semoga memang benar tanda tanda yang dilihat oleh perawat itu memang benar kalau Danu akan sadar sebentar lagi" ujar Papi kepada Paman yang berharap apa yang dikatakan dokter tadi adalah sebuah kabar gembira yang memang akan terjadi.
Setelah memastikan keadaan Danu, dokter kemudian keluar dari dalam ruangan ICU.
"Selamat Tuan, Danu sudah bisa kami pindahkan ke ruang rawat. Danu sudah lepas dari masa kritisnya." ujar Dokter kepada Papi dan Paman.
Papi dan Paman saling berpelukan saat mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Kabar gembira yang sudah sangat lama mereka nanti nantikan. Papi kemudian mengambil ponsel miliknya, dia langsung menghubungi Mami dan meminta Mami untuk datang ke rumah sakit sekarang juga. Mami yang sedang bermain dengan Ivan dan Sari langsung bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Ivan dan Sari yang tahu kalau Danu sudah sadar membiarkan saja Mami untuk berangkat ke rumah sakit.
Dokter dan perawat mempersiapkan Danu untuk dipindahkan ke kamar rawat biasa. Paman sudah memesankan kamar VVIP untuk tempat Danu di rawat. Jadi Danu dan juga yang menunggui Danu akan merasa nyaman saat berada di rumah sakit. Dokter dan perawat kemudian mengeluarkan Danu dari dalam ruangan ICU, mata Danu memang sudah terbuka lebar, tetapi masih kosong, seperti tidak ada melihat apapun.
Papi dan Paman membantu perawat mendorong brangkar rumah sakit menuju ruangan VVIP tempat ruang rawat Danu yang baru. Perawat membantu memindahkan Danu ke ranjang rumah sakit.
"Tuan bisa berbicara sebentar?" ujar dokter kepada Papi dan Paman.
Saat itulah Mami masuk dengan bergegas ke dalam ruangan Danu. Mami melihat Papi yang mengobrol dengan dokter langsung berdiri di dekat dokter.
"Ada apa dokter?" tanya Papi kepada dokter.
__ADS_1
"Sepertinya pasien Danu mengalami amnesia. Coba Tuan berdiri di depan Danu, apakah Danu mengenal Tuan atau tidak" ujar dokter meminta Papi untuk berdiri di depan Danu.
Papi melakukan apa yang diminta oleh Danu.
"Danu, siapa dia nak?" tanya dokter kepada Danu.
"Papi" jawab Danu kepada dokter.
Mami kemudian berdiri di depan Papi.
"Itu?" tanya dokter
"Mami" jawab Danu masih dengan jawaban yang benar.
"Kalau aku?" tanya paman kepada Danu.
"Paman" jawab Danu.
Dokter berjalan ke arah keluarga Sanjaya.
"Sepertinya Danu mengingat siapa saja yang menemaninya selama di rumah sakit dan berbicara kepada dia. Apakah ada anggota keluarga lain yang tidak pernah ke rumah sakit tetapi sangat dekat denga Danu?" tanya dokter kepada Papi, Mami dan Paman.
"Ada dokter dua orang sepupu Danu." jawab Papi.
"Namanya Ivan dan Sari" ujar Papi selanjutnya.
"Baiklah kalau begitu, apa bisa mereka di bawa ke sini besok? Kita harus memastikan kondisi Danu, sedini mungkin" ujar dokter kepada Papi, Mami dan Paman.
"Baiklah dokter, besok saya akan menjemput mereka berdua ke mansion" jawab Paman yang akhirnya dapat bertemu lagi dengan kedua anaknya itu..
"Saya permisi dahulu Tuan, kalau Danu nanti terlihat memegang kepalanya dan mengatakan sakit, tolong tekan tombol darurat ini ya Tuan. Kami akan langsung datang ke sini" ujar dokter kepada keluarga Sanjaya.
"Siap dokter, nanti kalau Danu ada keluhan, kami akan menghubungi dokter kembali" ujar Papi kepada dokter.
__ADS_1
Dokter dan suster kemudian meninggalkan ruang rawat Danu. Sedangkan Papi dan Paman, duduk di sofa yang ada di dalam ruang rawat Danu. Mami lebih memilih untuk duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah. Mami terus saja memegang tangan Danu. Danu masih setia dengan tidurnya itu.
"Papi, Mami pulang dulu ya, biar besok Ivan dan Sari ke sini bersama dengan Mami" ujar Mami kepada Papi dan Paman.
"Biar saya antar kakak ipar. Sekalian saya juga mau berganti pakaian ke mansion" ujar Paman yang memang sudah dua hari memakai pakaian yang sama.
"Tolong kamu bawakan juga baju aku sekalian, bawa saja satu tas langsung ke sini" ujar Papi meminta Paman juga membawakan baju untuk Papi.
Mami dan Paman kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan Danu untuk menuju parkiran. Mereka berdua akan kemabli ke mansion untuk mengambil dan menukar pakaian.
Ivan dan Sari yang diberi tahu oleh Mami kalau Ayah mereka akan pulang, sengaja untuk tidak tidur seperti biasanya. Mereka berdua akan menunggu kedatangan Ayah mereka yang sudah dua hari tidak pulang.
"Ayah" ujar Ivan dan Sari saat melihat Ayah dan Mami masuk ke dalam mansion.
"Hai anak Ayah" ujar Paman memeluk kedua anaknya.
Paman membawa Ivan dan Sari menuju sofa ruang tamu. Mereka bertiga kemudian duduk di sana. Sedangkan Mami ke kamar untuk memasukkan pakaian milik Papi ke dalam tas.
"Ayah, tadi Mami ngomong kalau Bang Danu udah sehat, apa benar itu Ayah?" tanya Sari kepada Danu.
"Benar sayang. Oh ya besok kalian datang ke rumah sakit ya sama dengan Mami" ujar Ayah meminta kepada kedua anaknya untuk ke rumah sakit.
"Baik Ayah, kami akan ikut dengan Mami ke rumah sakit besok" ujar Ivan menjawab permintaan Ayahnya.
"Sekarang dua jagoan Ayah tidur sana, Besok akan ke rumah sakit dengan Mami. Ayah akan kembali ke rumah sakit lagi" ujar Ayah meminta Ivan dan Sari untuk beristirahat ke kamar mereka.
Ivan dan Sari kemudian berjalan ke kamar mereka. Sedangkan Mami datang membawa satu tas pakaian milik Papi.
"Kakak ipar, aku langsung ke rumah sakit ya. Aku harus mengambil pakaian aku untuk di bawa ke rumah sakit" ujar Paman kepada Mami.
"Hati hati di jalan Adik" ujar Mami kepada Paman.
Paman kemudian mengemudikan mobilnya menuju mansion miliknya yang ada di tengah kota. Jarak dari rumah sakit ke mansion Paman tidaklah jauh. Paman akan pergi mengambil pakaiannya terlebih dahulu setelah itu baru dia akan kembali ke rumah sakit.
__ADS_1