
Ivan dan Frans yang telah selesai menikmati makan siangnya di warung rumah makan padang yang sederhana tetapi memiliki rasa yang luar biasa itu. Frans dan Ivan kemudian kembali pulang menuju kantor tempat Frans bekerja. Ivan mengemudikan motor dalam kecepatan sedang, jalanan yang sedang ramai menghambat Ivan untuk menggeber laju motornya tersebut. Tepat lima belas menit berkendara Frans dan Ivan telah sampai kembali di kantor Frans. Ivan memarkir motornya di tempat khusus parkir motor karyawan. Ivan dan Frans kemudian berjalan masuk ke kantor tempat Frans bekerja.
"Oh ya Bang, berapa banyak pengacara yang berkantor di sini?" ujar Ivan yang sudah bosan dengan keadaan hening saat mereka berdua berjalan dari parkiran menuju ruangan kerja Frans.
"Sekitar dua puluhan lebih ntah berapa Van. Emang kenapa? kamu mau melamar jadi pengacara di sini?" ujar Frans menggoda Ivan dengan pertanyaan yang aneh tersebut.
"Haha haha haha, mana bisa arsitek jadi pengacara Bang. Abang ada ada aja" jawab Ivan yang hanya bisa tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya.
"Yakin kalau kamu hanya bergelar arsitek saja?" kata Frans sambil memicingkan matanya kepada Ivan.
"Yakinlah Bang. Aku nggak pernah kuliah hukum. Gimana mau jadi pengacara" ujar Ivan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Frans tersebut.
Frans membuka pintu ruangannya.
"Mari masuk Van" ujar Frans mempersilahkan Ivan untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya itu.
Ivan kemudian masuk ke dalam ruangan kerja Frans. Ruangan yang bernuansa maskulin, benar benar ruangan laki laki yang tidak ada kesan feminimnya sedikitpun di sana. Ivan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Frans kemudian duduk di sebelahnya.
"Ada apa Bang, ngajak gue untuk bertemu di kantor?" ujar Ivan yang sudah tidak sabaran lagi untuk mendengar apa maksud dari Frans meminta dirinya untuk datang ke kantor Frans.
"Begini Van. Tadi pagi gue sudah ke pengadilan menyerahkan berkas berkas untuk perceraian Danu dan Ranti, Mereka rencananya akan mediasi dalam minggu depan. Menurut kamu, ini menurut kamu dan berdasarkan analisa kamu, apakah mungkin Ranti membuat proses perceraian ini menjadi rumit?" ujar Frans memberi pertanyaan dengan pertanyaan sederhana.
Ivan menatap ke arah Frans.
"Kenapa nanyak ke gue Bang?" ujar Ivan yang tidak mengerti kenapa Frans bertanya kepada dirinya.
"Karena menurut gue yang berpikiran rasional dan tidak pakai emosi hanya loe Van." kata Frans menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ivan kepada dirinya.
"Kita sama tahu sendiri bagaimana Iwan dalam melihat kondisi. Dia selalu mengedepankan emosinya. Itu yang membuat gue nggak bisa bertanya kepada Iwan." kata Frans menjelaskan kenapa dirinya lebih memilih bertanya kepada Ivan dari pada kepada Iwan sahabatnya sendiri.
"Berhubung abang telah meminta pendapat dari gue, maka gue akan memberikan pandangan gue Bang. Menurut pengamatan gue, Ranti akan langsung menerima perceraian ini, karena sudah ada Anggara yang menunggu dirinya Bang" ujar Ivan memberikan pandangannya kepada Frans tentang pendapatnya untuk perceraian antara Danu dengan Ranti.
__ADS_1
Frans melihat ke arah Ivan.
"Ivan kamu tau Anggara siapa?" tanya Frans sambil menatap ke arah Ivan.
"Pengacara sekaligus kekasih Ranti" jawab Ivan dengan santainya.
Ivan memang hanya mengetahui itu tentang siapa Anggara sebenarnya. Ivan tidak mengenal siapa Anggara. Dia hanya tahu kalau Anggara adalah kekasih sekaligus pengacara dari seorang Ranti.
"Benar kalau pengacara dan kekasih Ranti, itu memang benar. Tetapi satu yang harus kamu tahu Van. Anggara bukan dari kalangan biasa. Orang tuanya adalah orang terpandang di daerah A." kata Frans yang memang sangat mengenal dekat Anggara.
"Terus hubungannya gimana Bang dengan hubungan Ranti dan Anggara?" ujar Ivan yang kali ini gagal paham dengan apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya.
Frans menatap ke arah Ivan. Frans sangat tidak yakin kalau Ivan tidak memahami apa yang dikatakan oleh dirinya saat ini. Bagi Frans sekarang Ivan hanya pura pura tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh Frans kepada dirinya.
"Kamu serius nggak paham maksud gue Van?" ujar Frans kembali bertanya kepada Ivan.
"Nggak bang" jawab Ivan.
"Baiklah, abang jelaskan kembali." ujar Frans yang terlihat menyesal telah menilai Ivan dengan penilaian lebih. Ternyata hal itu sama sekali tidak benar keadaannya.
Ivan yang melihat ekspresi Frans, menahan senyumnya. Dia terpaksa harus melakukan itu supaya jati dirinya aman dan tidak ada yang tahu sampai waktu yang ditentukan oleh Ivan.
"Orang tua Anggara adalah orang yang berpengaruh. Dia tidak akan mungkin setuju Anggara menikah atau menjalin hubungan dengan Ranti." kata Frans menjelaskan kepada Ivan, permasalahan yang memaksa Frans untuk mengajak Ivan berbincang bincang di kantornya. Frans berharap Ivan bisa meringankan bebannya, tetapi ternyata tidak sama sekali.
"Apalagi sekarang berita Anggara yang pengacara muda dan sukses sudah masuk ke dalam berita nasional. Foto Anggara dengan Ranti di pasang besar besar oleh media online itu" ujar Frans memberitahukan berita yang baru semalam dilihatnya di media online.
"Hah? Serius loe Bang?" ujar Ivan yang langsung tertarik kembali dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ivan kepada dirinya.
"Serius. Ini beritanya" ujar Frans menunjukkan kepada Ivan berita tentang Anggara dan Ranti yang sudah tersebar di media massa online tersebut.
"Wow, satu media ini kah?" ujar Ivan bertanya kepada Frans.
__ADS_1
Ivan sangat kaget melihat berita itu.
"Garcep banget ya Bang, para wartawan online" ujar Ivan berkomentar.
"Garcep karena mereka tahu siapa Anggara. Coba kalau hanya pengacara biasa aja, mana ada akan garcep kayak gini" Frans menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ivan kepada dirinya
"Jadi menurut abang sekarang kedua orang tua anggara sedang mencari tahu siapa Ranti sebenarnya?" kata Ivan mencoba menebak apa yang ada di dalam pikiran Frans.
"Yup" jawab Frans yang langsung setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ivan kepada dirinya.
Ivan terdiam sesaat, dia terlihat berhitung dengan semua kemungkinan yang ada. Ivan sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Anggara diminta pulang ke negaranya oleh kedua orang tuanya itu. Permasalahan perceraian akan semakin rumit. Ranti yang mengira dirinya akan bisa menikah dengan Anggara selepas bercerai dengan Danu, tentu harus mengubur dirinya dalam dalam.
"Yah ini akan rumit" ujar Ivan.
Frans yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan tersenyum, ternyata Ivan sangat fokus memikirkan apa yang terjadi berikutnya.
"Bang gue balik dulu ya" ujar Ivan.
"Kok cepat Van?" ujar Frans yang kaget saat mendengar Ivan yang ingin langsung pulang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan sebentar ini.
"Ada kerjaan Bang" ujar Ivan
"Oh baiklah"
Frans sama sekali tidak bisa lagi menahan Ivan untuk pulang karena Ivan sudah menyandang tas ranselnya dan mengambil munci motor yang ditaruh Ivan di atas meja.
"Hati hati Van" ujar Frans
"Makasi Bang. Maaf harus bergegas pulang kembali ke kantor" ujar Ivan
Ivan kemudian bergegas untuk pergi meninggalkan kantor Frans. Ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh dirinya sebelum semuanya terlambat. Ivan tidak mau dengan permasalahan baru ini bisa membuat perceraian Danu dan Ranti menjadi ruwet kembali.
__ADS_1