
Hari itu tampilan rumah Danu sudah berubah menjadi seperti rumah mini mouse, ya hari itu adalah hari ulang tahun Deli yang keempat tahun. Deli memang meminta kepada Danu untuk membuat acara ulang tahun dengan tema mini mouse. Acara ulang tahun yang akan diadakan jam emlat sore di hari sabtu itu ternyata tidak terjadi sesuai keinginan Deli, dari hari itulah Deli berubah menjadi gadis yang tidak periang lagi.
"Sayang, ayuk udah jam setenga empat, teman teman kamu udah pada datang sayang." kata Danu kepada Deli yang masih bersiap siap dibantu oleh bibik.
"Sebental ayah. Deli sedang siap siap." kata Deli yang masih dikepang rambutnya oleh bibik.
Setelah lima belas menit bibik selesai merapikan tampilan Deli. Deli berubah menjadi mini mouse yang cantik jelita. Deli yang dibantu bibik langsung turun menuju taman belakang rumah, dimana acara ulang tahun akan diadakan di sana.
"Ayah, mana bunda yah?" kata Deli yang tidak melihat bundanya berada.
"Sebentar lagi sampai sayang. Kita mulai dulu acaranya ya sayang. Kata bunda tadi gitu, Deli dimintas memulai acaranya, kasian teman teman Deli yang nanti kelamaan menunggu bunda sampai." kata Danu kembali berbohong kepada Deli.
"Baiklah Ayah, kita mulai saja ulang tahun Deli."
Acara ulang tahun Deli dimulai, semua terlihat bahagia termasuk Deli. Tetapi Deli terlihat bahagia saat bersama teman temannya, sedangkan saat semua orang lengah dari Deli, maka Deli akan terlihat sangat bersedih. Deli sudah tau bundanya tidak akan datang lagi di acara ulang tahunnya.
Bibik yang melihat Deli sedih langsung menemui Danu.
"Tuan, sepertinya Nona muda sedang bersedih." kata bibik.
"Saya tau bik. Tapi biarkan saja dahulu, saya tidak mai merusak pesta Deli bik." kata Danu dengan raut wajah kecewa.
Akhirnya pesta ulang tahun Deli berakhir. Semua teman teman Deli sudah pulang kembali. Pak Ujang dan Danu membawa semua hadiah kedalam rumah. Sedangkan pegawai event organizer yang disewa Danu membersihkan semua perlengkapan pesta ulang tahun itu.
Deli yang sudah tidak terlihat lagi ternyata sedang menangis sesegukan di kamarnya. Bibik yang mendengar lirihan tangis Deli hanya bisa mengurut dada. Bibik yang sudah tidak tahan mendengar lamgsung mencari Danu.
Bibik mencari Danu disetiap tempat. "Pak Ujang lihat Tuan dimana?" tanya bibik yang mulai lelah mencari.
"Sepertinya tadi di ruang kerja bik." jawab Pak Ujang.
"Nggak ada Pak Ujang. Saya sudah dari sana." jawab bibik makin cemas.
"Kenapa bik, kelihatannya cemas sekali?"
"Itu pak Ujang, Nona muda dari tadi tidak berhenti menangis. Saya takut terjadi sesuatu dengan Nona muda." kata bibik dengan cemas.
"Saya akan pergi cari Tuan, bibik temani Nona muda saja." Pak Ujang kemudian mengendarai motornya mencari Danu. Sedangkan bibik langsung menuju kamar Deli.
Pak Ujang setelah muter muter akhirnya menemukan Danu yang sedang duduk di bangku taman sambil menupang dagunua. Danu terlihat sangat sedih bercampur kecewa. Pak Ujang tidak tega melihat Danu, dia langsung menghubungi Iwan.
"Hallo Pak Ujang, ada apa?" kata Iwan.
__ADS_1
"Tuan Iwan, tolong ke rumah sekarang. Nona Deli sedang menangis dari siap pesta ulang tahunnya. Sedangkan Tuan Danu terlihat sangat kecewa dan bersedih di taman." jelas Pak Ujang.
"Apa wanita itu tidak datang lagi di pesta ulang tahun Deli?"
"Iya Tuan." jawab Pak Ujang.
"Oke saya ke rumah sekarang. Pak Ujang bawa saja Danu ke rumah."
"Baik Tuan."
Pak Ujang kemudian menemui Danu yang sedang duduk bersedih itu. Pak Ujang duduk di bangku taman sebelah Danu.
"Tuan. Maafkan saya mengganggu Tuan. Tapi Nona muda sedang membutuhkan tuan sekarang." kata Pak Ujang dengan takutnya.
Danu yang mendengar nama Deli langsung menatap ke arah Pak Ujang." Ada apa dengan Deli, Pak Ujang?"
"Nona semenjak selesai ulang tahun tadi langsung masuk kamar Tuan. Kata bibik tadi Nona tidak henti hentinya menangis tuan." jawab Pak Ujang.
Danu yang mendengar langsung berlari menuju motornya, dia langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Danu takut hal hal buruk terjadi kepada anak semata wayangnya itu. Danu bersedia menukar apapun itu demi kebahagiaan Deli.
Dani sampai di rumah dan langsung berlari ke kamar Deli. Danu kemudian membuka pintu kamar Deli, dia melihat Iwan yang sedang menidurkan Deli. Iwan yang tau Danu datang langsung bangun dan mengajak Danu untuk keluar dari kamar Deli.
"Dan, apa yang terjadi?"
"Dan, kamu harus mengambil sikap Dan. Kasian Deli, aku begitu terpukul melihat Deli tadi." kata Iwan.
Danu termenung mendengar apa yang dikatakan oleh Iwan. "Aku harus bagaimana lagi Wan?" kata Danu.
"Sepertinya kamu harus berbicara dengan Deli, Dan. Gue takut kalau Deli nanti trauma karena bersedih terus." kata Iwan.
"Makasih Wan, atas suport dari loe." kata Danu.
"Gue pamit Dan. Semoga loe bisa mengatasi semua masalah loe dengan kepala dingin. Jangan emosi." kata Iwan mengingatkan Danu.
Iwan kemudian pulang menuju rumahnya. Sedangkan Danu masuk ke dalam kamar putrinya. Danu melihat Deli tertidur dengan mata sembab. Danu kemudian naik ke atas tempat tidur putrinya dan memeluk putrinya itu dengan erat. Danu terus menatap lekat wajah sang putri, tak terasa air mata Danu jatuh dari pelupuk matanya. Danu kemudian mengusap air matanya agar tidak mengenaik anak tercintanya.
Danu yang begitu letih akhirnya terlelap sambil memeluk anak perempuannya. Mereka berdua tidur dengan nyenyak walaupun beban berat mereka pikuk berdua. Sore hari Deli terbangun lebih dahulu, anak kecil itu mengusap muka ayahnya yang terlihat sangat letih dan penuh beban. Danu yang merasa mukanya diusap tangan kecil nan mulus langsung memegang tangan Deli. Danu membuka matanya. Deli memberikan senyum terbaik kepada ayahnya.
"Udah bangun sayang?"
"Udah dali tadi ayah. Ayah udah bangun?" tanya Deli sambil mencium pipi ayahnya.
__ADS_1
"Deli mandi yuk, ayah mandikan." ajak Danu kepada Deli.
"Deli mandi dengan bibik aja ayah. Malu kalau sama ayah" kata Deli dengan sikap dewasanya.
Danu yang mendengar langsung terkejut. Anak perempuannya sudah berubah menjadi anak yang pola pikirnya menjadi dewasa.
"Sayang, Deli masih kecil, jadi Deli masih boleh ayah mandikan. Kamu masih anak kecil ayah sayang." kata Danu dengan suara bergetar. Danu berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Ayah mandikan Deli ya." kata Deli mengalah.
Danu kemudian memandikan anak perempuannya, mereka bercanda di dalam kamar mandi itu. Sejenak Danu dan Deli bisa melupakan kemelutan yang terjadi di keluarganya. Deli kembali ceria saat itu, begitu juga dengan Danu. Selesai mandi Danu memakaikan baju Deli. Setelah itu baru Danu ke kamarnya untuk mandi dan memakai pakaiannya.
Deli yang sudah rapi keluar kamar menuju kamar ayahnya. Deli ingin menanyakan sesuatu kepada ayahnya. Deli duduk di kasur ayah sambil menunggu ayah selesai mandi dan memakai pakaian.
Danu yang keluar dari ruang pakaian kaget dengan adanya Deli yang duduk di kasur. Deli terlihat menyimoan sesuatu. Anak yang berumur empat tahun itu sudah harus bersikap dewasa karena kemelut antara ayah dan bundanya.
"Ada apa sayang?" tanya Danu sambil memeluk kepala anak perempuan yang disayanginya itu.
"Ayah, Deli mau tanya sama ayah. Ayah halus jawabya."
"Iya sayang, ayah akan jawab semua pertanyaan Deli." kata Danu.
"Ayah, apakah Deli anak kandung bunda ayah?" tanya Deli sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa Deli tanya itu sayang?" jawab Danu sambil mengangkat dagu Deli.
"Iya ayah. Bunda ndak sayang Deli. Bunda nggak suka sama Deli." kata Deli sambil menangis.
Danu yang tidak menyangka Deli akan bertanya seperti itu, langsung meraih Deli kedalam pelukannya. Danu kemudian menangis sambil memeluk anaknya.
"Sayang kamu anak ayah dan bunda sayang. Kamu anak kandung kami sayang. Kamu kenapa ngomong kayak gitu sayang." kata Danu sambil menatap wajah putrinya.
"Ayah, kalau memang Deli anak bunda, kenapa bunda tidak pernah mau hadil dalam ulang tahun Deli." kata Deli menatap ayahnya.
"Bunda tidak pelnah ada dalam hidup Deli, yang ada hanya ayah telus. Bunda ndak pelnah ada dalam hidup Deli." kata Deli sambil teriak.
"Deli bukan anak bunda, Deli hanya anak ayah." Deli melanjutkan.
Tanpa diduga ternyata istri Danu sudah berdiri di pintu kamar. Dia hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Deli. Dia masih tanpa ekspresi.
Deli yang melihat bundanya berdiri di pintu langsung berlari keluar kamar ayahnya. Danu yang melihat istrinya berdiri di depan pintu langsung menarik tangan istrinya untuk masuk.
__ADS_1
...****************...
Apa yang akan terjadi dengan sepasang suami istri itu?