Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
RANTI


__ADS_3

Sepertinya dia sudah jadi simpanan sugar daddy. Lihat aja bajunya mewah banget dan dari desaigner ternama." ujar wanita itu dengan nada menghina.


Wanita tersebut sengaja menabrakan badannya ke arah badan Vina. Vina yang sedang ingin memasukkan sushi kedalam mulutnya langsung tersedak. Dia langsung melihat wanita tersebut. Vina sangat terkejut saat melihat siapa wanita yang sengaja menjatuhkan badannya ke arah Vina.


"Hay wanita penggoda laki orang, sepertinya sekarang udah jadi simpanan sugar daddy loe ya. Lihat noh gaya loe udah wow. Semua pakaian loe mewah dan bermerk." ujar Ranti mencaci maki Vina di depan orang ramai.


Vina hanya diam saja. Dia sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap Ranti. Dia membiarkan saja apa yang dikatakan oleh Ranti kepada dirinya. Vina sama sekali tidak melakukan pembelaan diri.


"Ngapain loe diam?" ujar Ranti dengan semangatnya


"Karena nggak dapat suami gue, sekarang loe rela jadi simpanan pria lebih kaya dari dia hanya untuk memuaskan keinginan loe memakai barang barang mewah." ujar Ranti dengan semua tuduhannya kepada Vina yang tanpa ada landasan kebenarannya itu.


"Dasar wanita pelakor loe. Pelakor. Rumah tangga siapa lagi yang akan loe rusak." ujar Ranti dengan menggebu gebu mencaci maki Vina.


Sari dan Maya yang sudah tidak tahan mendengar semua cacian yang diterima oleh Vina langsung berdiri dari kursi mereka. Mereka ingin rasanya menjambak rambut Ranti. Wanita yang merasa sok suci.


Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Ranti. Maya dan Vina terpana melihat apa yang dilakukan oleh Sari.


"Beraninya loe menampar gue dan membela wanita penggoda itu. Atau loe juga sama kualutasnya dengan dia." ujar Ranti dengan emosi.


"Loe yang wanita kurang akal ngatain orang. Punya otak nggak loe." ujar Sari dengan nada tinggi.


"Wanita aneh teriakin orong pula." ujar Sari dengan emosi yang sudah sangat sulit dikendakikannya. Ingin rasanya dia membongkar siapa dirinya sebenarnya. Tetapi Sari masih memiliki kesadaran.


Ranti mengangkat tangannya ingin menampar balik Sari. Tapi Sari yang sudah siap menahan tangan Ranti yang sudah diangkat itu.


"Jangan pernah tangan kotor loe menyentuh wajah gue." ujar Sari dengan penuh penekanan.


Sari memelintir ke belakang tangan Ranti. Dia benar benar sudah emosi dengan semuanya.


"Lepasin tangan gue." teriak Ranti sambil menahan sakit di tangannya akibat ulah Sari.


Sari semakin memelintir tangan Ranti. Dia benar benar panas saat dikata katai sebagai ******.


"Minta maaf dulu loe sama sahabat gue baru gue lepasin. Kalau tidak perusahaan loe akan gue hancurin." ujar Sari berbisik di telinga Ranti.


"Hahahahahahaha. Siapa elo yang bisa ngancurin perusahaan gue." ujar Ranti dengan pongahnya.

__ADS_1


"Gue kasih loe kesempatan sampai hitungan ke sepuluh. Atau loe mau CT Grub mencabut kerjasamanya dengan perusahaan loe?" ujar Sari.


Vina dan Maya yang mendengar langsung terdiam. Ternyata perusahaan mereka menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Ranti. Vina sama sekali tidak mengetahui akan hal itu


Ranti terdiam sejenak. Dia terlihat berpikir.


"Oh jadi loe bertiga simpanan para petinggi perusahaan CT Grub? Makanya bisa terbang dengan pesawat perusahaan itu??? Ooooo baru tau gue." ujar Ranti yang sama sekali bukannya mengalah malah makin menjadi jadi mengata ngatai Vina dan dua sahabatnya.


Sari melepaskan peluntiran tangannya. Tetapi satu kejadian yang tidak terbayangkan oleh Vina dilakukan oleh Sari. Sari mengambil piring yang berisi pasta miliknya yang belum sama sekali di jamah oleh Sari. Sari menamplokkan piring pasta tersebut ke wajah Ranti. Semua pengunjung di sana bertepuk tangan melihat apa yang dilakukan oleh Sari terhadap wanita pongah tak tau diri itu


"Loe sudah melewati batas. Loe ingin tau gue dan dia siapa. Oke fine. Sekarang gue akan kasih tau." ujar Sari.


"Sar, No" ujar Vina yang tidak mau Sari memberitahukan pekerjaannya.


Vina takut nanti Ranti akan memberitahukan kepada Danu tentang dimana Vina bekerja sekarang. Seorang wanita saat emosional bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukannya saat akal sehat bersemayam diotaknya.


Sari kemudian hanya mengambil kartu identitas perusahaannya. Sari memberikan ke Ranti dengan cara memukulkan kartu identitas tersebut ke dada Ranti.


Ranti mengambil kartu identitas tersebut, betapa kagetnya Ranti saat melihat siapa Sari sebenarnya. Sari yang melihat Ranti syok saat membaca tanda pengenalnya, hanya bisa geleng geleng kepala.


"Hay Nyonya terhormat. Di atas langit masih ada langit. Loe akan membayar semua yang telah loe lakuin ke gue dan dua sahabat gue. Loe cam kan itu." ujar Sari.


"Nona maafin saya." ujar Ranti berusaha memagang tangan Sari.


"Saya udah kasih anda kesempatan dalam hitungan sepuluh untuk meminta maaf, tetapi Anda sudah menyianyiakan hal itu. Jadi maaf terima aja nasib Anda." lanjut Sari dengan tatapan dingin dan penuh aura kematian kepada Ranti.


"Vina tolong maafin saya Vina. Saya terbawa emosi." ujar Ranti kepada Vina.


Vina hanya berjalan mengikuti Sari. Dia sama sekali tidak menatap ke arah Ranti. Hati Vina sangat sakit saat Ranti memfitnah dirinya dengan kata kata yang sama sekali tidak pernah dilakukannya sekarang ini.


"Sahabat gue emang pernah punya salah sama elo. Tetapi semua itu bukan salah dia. Tapi laki loe yang ngejer ngejer dia." ujar Maya dengan menunjuk Ranti.


"Tapi satu hal yang pasti. Gue juga tau siapa dan apa kelakuan elo. Makanya lakik elo jadi ngejer sahabat gue." ujar Maya sambil menekan nekan kening Ranti.


"Maya udah May. Lawan orang nggak ada malu akan membuat loe juga berakhir nggak ada malu." ujar Vina saat melihat Maya masih ingin mengata ngatai Vina.


Mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan restoran tersebut. Mereka sebenarnya masih lapar, tetapi karena kejadian yang membuat emosi tadi membuat rasa lapar itu hilang dari perut mereka bertiga.

__ADS_1


"Kita beli roti aja yuk, mana tau nanti lapar lagi." ujar Vina mengajak kedua sahabatnya masuk ke gerai roti yang ada di bandara.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam gerai roti. Sari yang suasana hatinya tidak dalam keadaan baik hanya mengambil roti yang diambilkan oleh Maya. Setelah selesai memilih roti yang mana, mereka menuju kasir untuk membayar roti roti pilihan itu.


"Sari." panggil Vina.


Sari yang termenung tidak menjawab panggilan dari Vina.


"Sari" ujar Vina sekali lagi dengan menepuk pundak Sari.


"Eh apa Vin?" jawab Sari dengan nada kaget.


"Udahlah nggak usah dipikirin lagi. Semuanya oke, jadi biarkan aja ya." ujar Vina kepada Sari.


"Tapi Vin" Sari ingin protes.


"Sar, gue nggak mau nanti dia ngadu lagi ke pria itu. Gue masih belum sanggup bertemu dengan dia lagi. Gue mohon Sar." ujar Vina kepada Sari.


Sari terlihat berpikir sesaat. Ingin rasanya dia menolak keinginan dari Vina, tetapi setelah dia berpikir sesaat apa yang dikatakan oleh Vina ada benarnya juga.


"Oke gue akan biarkan dia untuk kali ini." jawab Sari.


Vina mengangguk setuju dengan ucapan Sari.


"Tapi kalau sekali lagi dia berbuat hal yang sama, aku tidak akan tinggal diam lagi Vina. Apapun permohonan kamu, aku tidak akan kabulkan lagi. Cukup sudah dia menghina kamu. Dia yang gila malah nuduh orang. Dasar wanita gila." ujar Sari masih dengan sumpah serapahnya.


"Hahahahahahaha. Katanya udah nggak marah, eeee tapi masih tetap sumpah serapah mengalir dengan lancar dan derasnya." ujar Maya mengejek Sari.


"Kesal aja gue. Lagian ini makhluk malaikat banget jiwanya." ujar Sari sambil melirik Vina.


"Biar gue bisa bantu loe berdua masuk syurga." jawab Vina dengan entengnya.


"Hem ya lah." jawab Sari dan Maya berbarengan.


Suasana tang tadi sempat tegang, sekarang sudah kembali mencair sepertu semula. Mereka bertiga melanjutkan makan dan minum coffe di kafe tersebut.


Ponsel milik Sari bergetar di atas meja. Sari melihat Juan menghubunginya.

__ADS_1


"Ayuk kita berangkat. Pesawat sudah siap." ujar Sari memberitahukan perihal Juan menghubungi dirinya.


Mereka bertiga berdiri dari kursinya masing masing. Mereka kemudian berjalan menuju pesawat. Mereka akan melanjutkan penerbangan selama enam jam lagi


__ADS_2