
udah jam delapan, apa nggak sebaiknya kita cari penginapan dulu. Gue dan loe udah sama sama lelah kayaknya bang." ujar Ivan yang sebenarnya udah sangat lelah membawa mobil. Ivan merasa kalau dia sudah tidak sanggup lagi kalau masih harus dipaksa membawa mobil. Ivan takut sesuatu akan terjadi kalau dia masih memaksakan dirinya.
"Iya Van. Loe cari penginapan sepanjang jalan. Nanti biar gue yang ngomong sama Danu." balas Iwan yang melihat Danu masih tertidur. Dari raut wajah Danu saat tertidur sangat terlihat jelas beban hidup yang sedang ditanggungnya.
"Udah tidur tu muka masih tetap menggambarkan beban berat yang ditanggungnya. Kapan tu muka bisa kayak.waktu kuliah dulu coba." ujar Iwan ngedumel sendiri saat melihat wajah Danu yang sedang tidur itu.
"Hahahahaha. Lama kali lagi Bang. Sampe tu masalah semua kelar, baru wajah Bang Danu kembali seperti semula." ujar Ivan menjawab dumelan Iwan.
"Huf. Dia yang goblok kita yang mabok" ujar Iwan.
"Damai Bang. Demi kebahagiaan teman. Gue rela kok." ujar Ivan sambil menahan tawanya.
Ivan melajukan mobil dengan pelan, ia dan Iwan melihat di sepanjang jalan penginapan yang bisa mereka tempati untuk malam ini.
"Van di situ aja Van." ujar Iwan yang melihat sebuah penginapan sederhana yang berada di tepi jalan sebelah kiri.
Ivan melihat kemana arah tunjuk Iwan. Dia memberhentikan mobilnya tepat di depan penginapan yang tadi dikatakan oleh Iwan.
"Loe serius Bang mau nginap di situ?" ujar Ivan sambil bergidik ngeri melihat tempat penginapan yang akan mereka tempati.
Iwan menatap penginapan itu.
"Loe nggak nengok bang, nggak ada satupun kendaraan yang parkir. Gue ogah Bang nginap di situ." ujar Ivan yang mulai takut.
"Sama Van, gue juga ogah. Cari yang lain ajalah." jawab Iwan yang setuju dengan pendapat Ivan tentang penginapan yang cukup mengerikan itu.
Ivan kembali melajukan mobilnya. Mereka membatalkan menginap di sana.
"Bang, loe yang bawa mobil lagi ya. Gue udah nggak kuat." kata Ivan yang akhirnya menyerah juga untuk melanjutkan mengendarai mobil.
Danu yang merasakan mobil berhenti terbangun dari tidurnya.
"Apa udah sampe?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
"Belum. Masih jauh. Ivan capek. Gue juga mulai lelah." balas Iwan sedikit menyindir Danu yang dari berangkat dari ibu kota belum sekalipun membawa mobil.
"Sini biar gue yang bawa, sekalian cari penginapan." jawab Danu yang merasa segan dengan kedua sahabatnya itu, dia sadar dari tadi tidak ada sekalipun membawa mobil.
__ADS_1
Danu melajukan kembali mobil tersebut. Ivan duduk di kursi belakang. Dia sudah memejamkan kembali matanya yang sudah lelah dan mengantuk. Sedangkan Iwan yang masih bisa menemani Danu mengemudikan mobil duduk di sebelah Danu.
"Danu, apa loe yakin kalau Vina ada di kampungnya?" tanya Iwan membuka obrolan.
"Gue nggak yakin Wan. Tapi demi kepuasan bathin gue, gue akan memastikan sendiri." ujar Danu.
"Dan, ini seandainya ya. Seandainya Vina nggak ketemu. Apa loe akan berhenti mencarinya?" tanya Iwan selanjutnya.
"Nggak. Tapi gue akan mencari dengan segala cara. Gue akan menyewa beberapa orang untuk melakukan pencarian. Gue butuh dia Wan. Dia yang bisa buat gue untuk menjadi seperti ini." ujar Danu sambil serius menatap jalan di depan mereka.
"Gue setuju Dan. Loe memang harus memperjuangkan dia, loe harus mencari dia sampai dapat." ujar Iwan memberikan semangat kepada Danu.
"Loe akan bantu gue kan Wan?" tanya Danu sambil menatap Iwan.
"Yup. Gue akan terus bantu elo." jawab Iwan dengan pasti.
Danu dan Iwan terdiam sejenak. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
"Wan, loe nggak ada kepikiran mau nikah?" tanya Danu memecah kesunyian.
"Nggak nanyak aja. Dari pada loe nanyak gue terus aja. Gantian sekarang gue nanyak elo." jawab Danu sambil nyengir kuda.
"Sampe sekarang belum ada pikiran mau nikah. Kalau pacar mah ada." jawab Iwan dengan santai.
"Nah loe kapan ngedate atau kencannya coba?" tanya Danu yang makin penasaran.
"Loe kepo Dan." jawab Iwan.
"Dikit." balas Danu.
"Palingan malam minggu saat kerjaan gue dan kerjaan dia nggak banyak." jawab Iwan.
"Oh. Gue kira loe nggak ada pacar Wan. Makanya loe sering jalan sama Ivan." ujar Danu.
"Jadi, loe kira Ivan kasian sama gue gitu. Makanya dia mau jalan sama gue?" tanya Iwan sambil menatap Danu.
"Yoi." jawab Danu.
__ADS_1
"Gile loe. Gini gini gue laku keras juga kali Dan. Malahan ya, waktu gue jadian sama tu cewek ada kok dua cewek lagi banser gue." ujar Iwan dengan bangga.
"Ye. Loe kira gue percaya?" tanya Danu.
"Nggak. Gue aja nggak percaya gue bisa cari dua cewek lain. Hahahahahaha" ujar Iwan
"Ngomong aja belipetan gaya ada dua cewek." ujar Danu mengejek Iwan.
"Hahahahahahahah. Gaya kan boleh Dan. Kapan lagi coba ngegaya." jawab Iwan sambil tertawa ngakak.
Tak terasa mereka sudah masuk ke kota yang lebih besar. Hari juga sudah mau masuk dini hari.
"Kita istirahat di hotel itu aja Wan. Gue udah nggak sanggup lagi bawa mobil.?" ujar Danu sambil membelokkan mobilnya masuk ke parkiran sebuah hotel besar yang cukup ternama itu.
Danu memarkirkan mobilnya.
"Loe bangunin Ivan. Gue ambil kamar." ujar Danu.
Danu berjalan masuk ke dalam hotel. Sedangkan Iwan membangunkan Ivan. Ivan yang baru saja terkejut karena dibangunkan oleh Iwan kehilangan orientasi arahnya. Dia menatap kemana saja saat membuka matanya.
"Loh kok udah di kota aja Bang? Apa nggak jadi menginap di kota kecil tadi?" tanya Ivan.
"Nggak. Danu bawa mobil ngebut. Makanya kita udah sampai kota aja. Ayuk turun. Danu udah ngambil kamar." ujar Iwan.
Ivan meraih ranselnya. Dia dan Iwan masuk ke dalam hotel. Terlihat Danu sudah memegang dua kunci kamar hotel. Dia memberikan satu kepada Iwan.
"Kalian berdua sekamar. Gue sendirian. Kamarnya hadap hadapan. Besok terserah aja mau bangun jam berapanya." ujar Danu sambil masuk ke dalam lift.
Kamar mereka berdua berada di lantai lima hotel besar itu. Saat sampai di lantai lima, mereka menuju kamar masing masing. Danu dan Iwan membuka pintu kamar.
"Akhirnya tidur normal juga." ujar Ivan saat melihat kasur. Dia langsung meloncat dan merebahkan dirinya ke atas kasur empuk itu. Begitu juga dengan Iwan. Dia pu. Meloncat ke atas kasur. Mereka berdua langsung hilang ditelan dunia mimpi.
Sedangkan Danu yang berada di kamar depan. Masih sempat sempatnya mencuci muka dan menukar pakaian untuk tidur. Setelah dirasa semuanya sudah bersih barulah dia merebahkan dirinya ke atas kasur empuk itu.
"Akhirnya tidur juga." ujar Danu.
Danu kemudian memejamkan matanya. Dia perlahan masuk ke alam mimpi.
__ADS_1