
Hubungan mereka telah berjalan selama dua bulan. Selama itu mereka lalui dengan keharmonisan tanpa adanya cekcok apapun. Mereka berdua melalui hari hari dengan penuh keromantisan dan kebahagiaan. Vina termasuk perempuan yang tau dengan posisinya. Danu sangat bahagia mendapatkan Vina sebagai kekasihnya.
Vina hari itu berangkat sendirian ke kantor, Vina kembali membawa motornya, karena Danu tidak akan ke kantor hari ini, Danu ada pekerjaan yang mengharuskannya untuk pergi ke luar kota selama seminggu paling lama. Vina sampai di kantornya, dia memarkirkan motornya di tempat parkiran khusus karyawan kantor. Vina kemudian masuk ke dalam kantor. Kantor masih terluhat sangat sepi. Karyawan belum beberapa yang datang.
"Hay Vin" sapa seorang karyawan.
"Hay" jawab Vina.
Vina kemudian berhenti sebentar. Untuk mengobrol dengan karyawan karyawan yang sedang duduk duduk di pantry besar kantor.
"Vin, emang enak ya kerja di bagian perencanaan itu? Gue lihat orang dibagian itu nggak tanggung sibuknya." kata salah seorang karyawan.
"Mayan sibuk. Apalagi kalau datang detlen sketsa. Waduah alamat nggak pulang cepat kaminya"
"sebegitunya Vin?"
"Yup. Makanya jangan heran kalau masih lihat lampu ruangan kami masih hidup. Hahahahaha" kata Vina sambil menyeruput teh panasnya.
"Pantesan kamu jarang ngumpul ngumpul dengan kami ya Vin. Kiranya kerjaan kamu luar biasa padatnya."
"Ya mau bagaimana lagi. Dinikmati aja." jawab Vina.
"Vin, denger bunyinya, kamu bukak warung kecil kecilan dengan makanan rumahan. Beneran itu?" kata karyawan yang duduk di sebelah Vina.
"Beneran. Kalau mau pesan, pesan aja ke nomor ini. Nanti akan di antar oleh kang ojek setia kami" kata Vina sambil memberikan kartu menu yang ada di dalam tasnya.
Karyawan karyawan kantor langsung membaca daftar menu yang diberikan oleh Vina. Mereka semua sangat tergiur dengan makanan dan harganya yang tidak mencekik leher itu.
"Harganya murah banget Vin"
"Iya. Inikan untuk kalangan seperti kita kita. Enak, banyak dan murah. Kalau mau pesan silahkan, tapi harga diluar ongkir kang ojek ya." kata Vina sambil tersenyum.
Mereka kemudian ngobrol ngalor ngidul tidak jelas. Mulai dari gosip karyawan sampai dengan siapa yang beli tas dan sepatu baru. Itulah kelebihan karyawan kantor selalu menyempatkan diri untuk saling berbagi informasi yang aktual dan update.
"Gue ke atas dulu ya. Kalau ada yang pesan telpon aja nomor itu. Kalau untuk sarapan besok, bisa sekalian gue bawain ke kantor" kata Vina sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Oke Vin" kata mereka kompak.
Vina langsung saja menuju ruangannya. Ternyata di sana sudah ada Iwan dan Ifan yang sedang makan lontong sayur dan secangkir teh hangat.
__ADS_1
"Tumben telat Vin?" tanya Iwan.
"Nggak telat bang. Tadi ngerumpi dulu di pantry. Maklum udah lama nggak ngerumpi" kata Vina.
"Jangan keseringan aja Vin. Nanti ada ada aja lagi gosio yang loe denger." kata Iwan yang takut nanti salah satu dari karyawan membicarakan masalah Danu yang sudah punya istri.
"Nggak lah bang. Gue mana suka ngegosip nggak jelas gitu. Bagi gue yang penting adalah teman nggak kurang aja." jawab Vina sambil duduk di mejanya. Ternyata di meja sudab ada lontong sayur dan teh hijau favorit Vina.
"Wow. Siapa yang beliin neh?" tanya Vina sambil menatap ke arah Iwan dan Ifan.
"Tuh Bang Iwan yang beli. Gue yang bikin minimnya" jawab Ifan sambil memakan lontong sayurnya.
Setelah sarapan mereka bertiga sibuk dengan pekerjaan yang sudah di depan mata. Vina sampai lupa kalau belum sekalipun melihat ponselnya dari pagi. Vina sibuk saja dengan pekerjaannya yang sudah jatuh tempi itu.
Tak terasa waktu makan siang sudah masuk. Vina, Iwan dan Ifan langsung saja keluar dari ruangan mereka. Mereka berencana untuk makan di kantin kantor. Tadinya mereka akan memesan kepada Maya, tetapi Vina sedang ingin makan di kantin kantor. Jadi terpaksalah Iwan dan Ifan setuju dengan ajakan Vina.
Vina yang pergi ke kantin kantor lupa untuk membawa ponselnya. Jadilah dia semakin lama tidak melihat ponselnya. Vina setelah selesai makan siang di kantin langsung saja berlari menuju ruangannya. Dia baru ingat dengan ponsel yang dari tadi tidak dilihat lihatnya.
✉️ Danu
Sayang, udah sampe kantor.
✉️ Danu
✉️ Danu
Sayang jangan macem macem ya. Cukup satu macem saja yaitu mencintaiku selalu.
✉️ Danu
Sayang kenapa tidak balas pesan dan angkat telpon ku
✉️ Danu
Sayang ada apa ini, jangan bikin aku panik sayang.
✉️ Danu
Sayang ini udah tiga jam kamu nggak komen apapun. Aku jadi tidak bisa konsentrasi sayang.
__ADS_1
✉️ Danu
Vina jangan bikin aku terbang kembali ke ibu kota hari ini juga Vina. Aku betul betul panik dengan kamu.
✉️ Danu
Vina dalam tiga puluh menit kamu tidak menelpon aku. Maka aku akan terbang ke ibu kota. Terserah direktur mau marah atau gimana. Kamu lebih penting daripada meeting ini.
Vina yang melihat begitu banyak pesan yang masuk yang mebggambarkan berapa paniknya Danu. Serta begitu banyak panggilan dari Danu yang tidak diangkat oleh Vina. Vina yang mendapati pesan terakhir Danu berisi ancaman langsung saja menekan nomor Danu di ponselnya. Baru pada deringan pertama Danu sudah mebgangkat telpon dari Vina.
"Kamu nggak apa apa kan sayang? Aku udah panik, kamu nggak balas balas pesan dan nggak angkat telpon aku. Kamu kenapa sayang?" Danu menyembur Vina langsung dengan berondongan pertanyaan yang nggak tau akan Vina jawab dari sisi yang mana terlebih dahulu.
"Sayang satu satu pertanyaannya. Aku baik baik saja kalau kamu takut aku kenapa kenapa" jawab Vina sambil membayangkan wajah panik Danu setengah hari ini.
"Terus kenapa nggak angkat telpon dan nggak balas pesan?"
"Aku lupa lihat ponsel sayang. Sketsa aku hari ini harus aku serahkan ke manager. Eeee aku baru ingat manager aku sedang kerja keluar kota" kata Vina sambil mebggoda Danu.
"Ngapain aja kamu sehari ini sayang?"
"Baru datang ngobrol dulu dengan karyawan di pantry. Siap itu kerja, ini baru pulang makan dari kantin bawah, nah saat makan, Bang Iwan mainkan ponselnya, dicitu aku baru ingat tidak ngecek ponsel beberapa jam inu" kata Vina sambil tersenyum.
"Sayang, jangan keseringan ngobrol dengan karyawan karyawan itu. Mulut mereka lemes nanti kamu kena loh sayang"
"Iya sayang, tadi bang Iwan juga udah ngingatin aku. Aku janji nggak akan sering sering ngumpul sama mereka kok" jawab Vina.
"Oh ya sayang kamu seharian ini ngapain aja?" kata Vina kepada Danu.
"Sampe sini tadi jam tujuh, lanjut ke hotel. Jam sembilan meeting sampe sebelum makan siang. Nah selama meeting otak ku di meeting perasaanku cemas mikirin kamu" kata Danu dengan nada manjanya.
"Maaf ya sayang. Aku lupa cek ponselnya" kata Vina sambil merajuk.
"Iya nggak apa apa. Malam nanti kita VC ya. Sekarang aku ada meeting lanjutan. Kamu hati hati pulang dan terus kabari aku ya" kata Danu.
"Oke manager sekaligus kekasih hatiku. Muach" Vina mencium ponselnya.
"Muach. Hati hati sayangku cintaku." kata Danu.
Vina kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia kembali serius bekerja. Akhirnya dia tidak perlu lembur menyelesaikan sketsanya karena managernya yaitu Danu sedang perjalanan dinas keluar kota.
__ADS_1