
Jam dinding kantor sudah menunjuk angka tujuh. Semua orang sudah bersiap siap untuk pulang ke rumah. Danu melihat Vina sedang duduk dengan Iwan dan Ifan.
"Pulang dengan apa Vin?" tanya Danu.
"Belum tau pak. Palingan dengan taksi online." ucap Vina.
Mereka semua turun saat ponsel Vina masuk notifikasi kalau sepupunya yang bernama Juan sudah di dekat kantor Vina.
"Hay Vin" kata Juan saat melihat Vina yang baru keluar lobby kantor dengan Danu, Iwan dan Ifan.
"Hay, Juan. Tumben ke sini? Sengaja mau jemput aku?" kata Vina kepada Juan. Sebelumnya Vina sudah mejelaskan semuanya kepada Juan. Juan akhirnya bersedia membantu Vina. Dengan catatan Vina mau mendekatkan Juan dengan Maya.
"Nggak sengaja. Tadi sedang cari makan dekat dekat sini. Iseng iseng aku mampir. Eee kata satpam, karyawan bernama Vina belum pulang. Masih lembur"
"Alah bilang aja kamu sengaja ingin jput aku." kata Vina dengan nada manja sambil melirik Danu
Serah lah ya, ya udah ayuk pulang. aku antar kamu sampe rumah" kata Juan.
"Sip. Ayuk" kata Vina sambil langsung naik ke boncengan motor sport Juan yang keren itu.
Danu terlihat sangat marah. Dia langsung saja pergi ke mobilnya. Danu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Makan tu gengsi" teriak Ifan dengan lantang.
"Hahahahahahahaha" mereka berempat menertawai sikap Danu yang seperti remaja sedang cemburu buta.
"Yuk pulang," kata Vina kepada Juan.
"Permisi bang. Gue bawa dulu pacar pura pura gue" kata Juan.
Vina dan Juan langsung pulang menuju kontrakan mereka. Sedangkan Iwan dan Ifan juga pulang menuju rumah mereka masing masing.
Tiba tiba notifikasi masuk ke dalam ponsel Ifan, sebelum Iwan dan Ifan pergi dari area kantor.
"Bang sepertinya ada permainan lanjutan neh."
"Maksud loe?" Iwan penasaran dengan maksud Ifan.
"Pak Danu mengikuti Vina" kata Ifan sambil melihatkan ponselnya ke Iwan.
"Kok loe?"
"Kalau mau ngerjai orang jangan setengah setengah tapi full. Emang gue Danu yang nyelidiki orang setengah setengah." ucap Ifan dengan bangganya.
"Sekarang mau loe apa?" menatap Ifan curiga.
"Gini aja. Telpon Vina, bilang Vin loe diikutin Danu. Jadi bawa Juan muter muter dulu. Setelah itu kok berenti di tempat makan apa, suruh Vina dan Juan makan disitu. Kita lihat apakah Danu masih memgikuti mereka atau tidak."
"Oke"
Iwan kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia menceritakan semuanya kepada Vina. Vina yang mendengar langsung tertawa ngakak. Vina melihat mobil Danu melalui spion Juan. Vina kemudian memeluk Juan dari belakang.
"Kak, loe kok pake meluk meluk gue. Tadi aja duduknya empat meter jaraknya." kata Juan yang heran dengan tingkah Vina yang tiba tiba memeluk dirinya dari belakang.
"Ada mobil Danu di belakang." kata Vina sambil berbisik di telinga Juan, Vina sengaja membuat kesannya mereka sedang bemesraan di atas motor. Vina sengaja agar Danu menjadi marah dan cemburu buta.
__ADS_1
Juan membawa Vina berkeling keliling ibu kota malam hari. Danu mengikuti dari belakang. Danu sangat terlihat kesal.
"Kemana mereka akan pergi. Aku jadi curiga Vina tidak sebaik yang aku kira" ucap Danu.
Sedangkan di belakang Danu ada motor yang juga dari tadi mengikutinya. Tiga kendaraan yang terhubung dalam satu lingkaran masalah. Mereka saling mengikuti.
"Kak, gimana kalau kita makan di situ dulu. Aku udah lapar kak" kata Juan yang memang manja dari dulu kepada Vina.
"Ya udah, cari warung bakso aja. Kita makan disitu. Nanti kita lihat apakah dia juga mengikuti kita atau nggak"
Juan berkeliling mencari warung bakso yang direkomendedkan kawannya yang sudah lama di Jakarta. Akhirnya setelah berkeliling selama setengah jam, Juan menemukan warung bakso yang ditujunya. Juan memberhentikan motornya. Juan dan Vina masuk ke warung bakso bertenda biru itu yang terlihat sangat ramai.
"Serius makan di sini Juan? Rame gini?"
"Serius kak. Kata teman disini paling enak." kata Juan sambil duduk di meja yang kosong di sudut warung tenda itu.
Juan melihat lihat sekelilingnya.
"Kak" kata Juan sambil menyenggol tangan Vina.
"Tu" kata Juan menunjuk dengan mulutnya mobil Danu yang parkir di seberang jalan.
Vina mengeluarkan ponselnya.
✉️ Vina
Dia di seberang jalan bang. Aku harus ngapain lagi ini?
✉️ Iwan
✉️ Vina
Siap makan aku pulang ya bang
✉️ Iwan
Oke. Kami akan menunggu di warung dekat kontrakan kamu.
✉️ Vina
Oke kak.
Vina dan Juan menikmati makan mereka sambil mengobrol dengan asik.
"Gimana kabar ayah sama ibu di kampung Juan?"
"Baik kak. Oh ya kak, Maya orangnya gimana ya?"
"Cie baru nampak sekali aja udah langsung naksir. Parah kamu"
"Dikit kak."
"Maya baik, tapi dia tua setahun dari kamu"
"Nggak apa apa lah kak"
__ADS_1
Mereka terus saja berbincang berbagai hal. Mulai dari keadaan orang tua Vina serta orang tua Juan, tentang Maya yang ditaksir Juan, sampai dengan masalah Vina yang berencana membangun toko roti dan cafe.
"Kak, ngomong ngomong kenapa Pak Danu nggak ngomong aja ke kakak kalau dia suka sama kakak?"
"Aku juga nggak tau Juan. Ntah dimana kenaknya tu masalah" jawab Vina sambil melihat mobil Danu yang masih berdiri di situ.
"Semoga dengan kita buat dia cemburu, dia bisa mengutarakan isi hatinya sama kakak"
"Semoga aja lah Juan." kata Vina pesimis
"Hello kakak. Optimis jadi orang napa, ini ndak langsung pesimis aja" kata Juan sambil menoyor kepala Vina.
Danu yang melihat dari dalam mobil menyangka kalau Juan membetulkan letak rambut Vina.
"Brengsek. Berani beraninya dia megang megang rambut Vina" teriak Danu sambil memukul stir mobilnya.
Tok tok tok, bunyi kaca jendela mobil Danu di ketuk dari luar orang seorang pemuda. Danu kemudian membuka kaca jendelanya.
"Maaf Tuan. Anda kami perhatikan tadi terus saja berada di sini. Ada apa ya Tuan?" kata perwakilan dari pemuda yang berjumlah empat orang itu.
"Oooo. Nggak ada. Saya sedang memperhatikan kekasih saya yang sedang jalan dengan pria lain" jawab Danu dengan jujurnya.
"Oh. Kalau boleh tau yang mana kekasih Bapak?"
"Tu" tunjuk Danu kepada Vina dan Juan.
"Apakah dia istri Bapak?" lanjut pemuda satu lagi.
"Tidak, dia baru pacar saya" jawab Danu.
"Pak, selama janur kuning belum melengkung, dia masih bebas jalan dengan siapapun pak. Mungkin pacar Bapak mencari terbaik dari yang terbaik" kata pemuda satu lagi.
"Gini aja Pak. Daripada Bapak seperti sedang mengintai seseorang, lebih baik bapak jalan saja muter muter. Kami takutnya nanti warga salah sangka dengan mobil bapak." lanjut pemuda yang mengetok jendela mobil Danu.
"Baiklah. Terimakasih saya jalan dulu" ucap Danu kepda kesemua pemuda itu.
Danu kemudian masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut dengan santai. Juan yang melihat Danu telah diusir beberapa orang pemuda mengajak Vina untuk pulang.
"Kak yok pulang. Danu udah diusir para pemuda itu, karena Danu mencurigakan."
"Oke. Kamu bawa motor ngebut ya. Kakak males lagi diikuti" jawab Vina yang memang udah capek duduk di motor.
"Oke"
Vina membayar bakso mereka, setelah itu 'Juan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Danu yang mengira Juan dan Vina akan makan lama berputar di kompleks sebelah. Sedangkan Juan yang malas diikuti Danu memilih jalan tikus menuju kontrakan Vina.
"Sial. Orangnya kabur" kata Danu sambil memukul strinya.
Vina yang sudah capek berkendara akhirnya sampai di rumah. Juan yang memang sudah capek memilih beristirahat di rumah Vina dari pada dia pulang ke kontrakannya. Danu yang melihat sudah tidak ada motor Juan di rumah Vina, beranggapan kalau Juan sudah pulang.
Vina, Maya dan Juan yang melihat mobil Danu berhenti di muka rumah dan langsung pergi itu tertawa terbahak bahak.
"Hahahahhahahahahaha. Dia kira kita ogeb kali. Untung aja aku langsung masukin motor ke dalam rumah" kata Danu.
"Udah udah, istirahat lagi. Aku juga capek" kata Vina.
__ADS_1
Vina, Maya dan Juan langsung masuk ke dalam kamar masing - masing. Danu yang sampai di rumahnya juga langsung tidur. Dia sudah capek mengikuti Vina dari tadi