
Mereka kemudian masuk ke dalam warung penjual rawon. Ternyata apa yang dikatakan oleh Iwan memang benar. Di dalam masih banyak kursi kosong yang masih belum terisi.
Mereka berlima memilih untuk duduk di sebuah saung lesehan di pinggir kali. Pemandangan yang indah tersaji di depan mata mereka. Mereka bener bener bahagia dengan semua ini.
"Vin, boleh Abang bertanya?" kata Iwan yang sudah tidak sabaran.
"Boleh Bang. Ada apa?" tanya Vina lagi.
"Pasti masalah manager itu kan ya Bang?" ujar Vina yang sudah bisa menebak ke mana arah pertanyaan Iwan.
"Sedikit banyaknya memang ada ke arah sana Vina." jawab Iwan.
Ivan, Maya dan Sari penasaran juga mendengar apa yang akan ditanyakan Iwan kepada Vina dan apa jawaban Vina. Mereka selama ini memang sudah tau penyebab Vina pergi dari kehidupan Danu. Tetapi yang lebih membuat penasaran lagi, keputusan Vina ini benar benar karena tidak ingin mengganggu rumah tangga Danu atau ada hal lain yang pernah terjadi yang sama sekali tidak diceritakan Vina kepada mereka semua.
"Bang sepertinya pertanyaannya akan panjang. Gimana kalau kita makan dulu. Terus kita berbicaranya di hotel aja." kata Vina memberikan usul dia tidak mau semua orang mendengar apa yang akan diceritakannya. Memilih setelah tiba di hotel untuk bercerita merupakan pilihan tepat menurut Vina.
"Oke sip. Setuju." ujar Iwan.
Pelayan datang menghidangkan pesanan mereka. Rawon dengan sahabat sahabatnya sudah terhidang di meja.
"Makan yuk, udah lapar." ujar Sari yang sudah tidak tahan lagi dengan lapar yang mendera perutnya.
Mereka berlima kemudian menyantap rawon yang memiliki wangi menggugah selera dan semakin membuat perut menjadi lapar.
Maya mengambilkan Ivan, sedangkan yang lain ngambil sendiri sendiri makanan yang ingin di santap mereka.
"May, gimana konsep kafe di sana?" tanya Iwan.
"Konsepnya diambil dari tradisi negara kita Bang. Kalau menu, samalah dengan yang di jual waktu buka warung di sini. Bedanya palingan di tampilannya." ujar Maya menjawab pertanyaan Iwan.
"Kalau bisa May, sesuaikan menu makanan dengan musim yang ada. Nggak mungkin kamu jual soto saat hari musim panas. Bisa kering tu orang sana." lanjut Iwan memberikan masukan kepada Maya.
"Rencana memang gitu Bang. Karena di negara itu ada empat musim, jadi ya harus pandai pandai menyesuaikan menu. Apalagi mereka di sana kurang menyukai masakan instan. Jadi, peluang kafe untuk maju lebih besar." kata Maya yang sangat semangat membahas masalah kafe.
__ADS_1
"Sayang, rencana menu apa yang akan dijadikan andalan?"
"Maksud sayang?" tanya Maya yang kurang paham dengan apa yang ditanyakan oleh Ivan.
"Gini sayang, semua kafe harus ada ciri khasnya. Harus ada menu andalannya. Rencananya kafe kamu apa menu andalan?" Ivan menguraikan dengan jelas apa maksud dari pertanyaannya tadi.
"Bener juga ya sayang. Belum kepikir sampe sana. Rencananya jualan dulu, nanti di observasi menu apa yang paling disukai masyarakat sana." kata Maya yang nggak mau berspekulasi tentang masakan apa yang paling di sukai masyarakat negara itu.
"Mana bisa gitu sayang." ujar Ivan.
"Bisa aja Van. Kita nggak tau masyarakat di negara itu sukanya apa. Makanya keputusan Maya untuk melakukan observasi terlebih dahulu sudah tepat." kata Iwan yang setuju dengan ide Maya.
Mereka kemudian melanjutkan dengan obrolan ringan. Tepat jam enam sore mereka keluar dari saung itu. Ivan dan Maya pergi membayar tagihan makan mereka ke kantin. Sedangkan Vina dan Sari lewat pintu samping menuju keluar restoran. Iwan akan menyusul mereka nanti, Iwan ada perlu ke toilet sebentar.
Tiba tiba.
Plak. Seseorang menampar Vina dengan telak di bagian pipinya. Vina yang tidak siap terhunyung ke belakang. Untung saja Sari dengan sigap memegang tangan Vina.
"Elo lagi." ujar Sari saat melihat siapa yang telah berani menampar Vina.
"Loe nggak bosan apa, mengiringi kemana Vina pergi. Heran gue." lanjut Sari.
Iwan dan Ivan serta Maya yang melihat ada rame rame di parkiran dengan langkah cepat menuju ke sana.
Betapa kagetnya Ivan saat melihat Sari sedang bergulat dengan seorang wanita. Vina sedang berusaha melerai pertengkaran tersebut.
"Hentikan" teriak Ivan.
Tetapi Sari tidak mendengar teriakan abangnya itu. Dia masih saja menjambak rambut wanita yang super egois itu.
Iwan menarik tangan wanita yang tadi menggampar Vina. Sedangkan Ivan menarik Sari menjauh dari wanita itu.
"Hah elo?" ujar Iwan dan Ivan bersamaan.
__ADS_1
"Oooo jadi setelah lepas dari laki gue, sekarang pelakor ini pindah kelain hati. Ke sahabat mantan pacarnya sendiri. Kasian banget loe ya." ujar Ranti dengan kecam kembali melempar bom atom ke wajah Vina.
Plak. Maya yang dari tadi berusaha diam, tidak tahan lagi saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti.
"Stop. Jangan pernah katakan kalau sahabat saya adalah pelakor. Suami elo yang keganjenan mengganggu sahabat saya." ujar Maya.
"Alah mana ada asap kalau nggak ada api." jawab Ranti.
Iwan yang sudah tidak sabar lagi mendorong badan Ranti sampai terhuyung huyung. Ranti tidak siap dengan apa yang dilakukan oleh Iwan terhadap dirinya.
"Ranti. Selama ini saya diam karena saya masih memandang Danu sebagai suami kamu. Tetapi sekarang maaf sudah tidak lagi." ujar Iwan.
"Kamu jangan hanya melihat kesalahan Vina. Vina tidak tau apa apa saat Danu mendekatinya. Vina juga tidak tau kalau Danu sudah memiliki istri yang berotak gesrek seperti kamu." lanjut Iwan yang sudah kadung kesal dengan perbuatan Ranti yang berani main gampar dan labrak orang saja.
"Seharusnya kamu berkaca ke diri kamu sendiri. Kenapa Danu bisa berbuat seperti itu. Jangan hanya menyalahkan orang lain, seakan akan kamu adalah korban di sini." lanjut Iwan.
"Satu hal yang harus kamu ingat. Sepandai pandai tupai melompat pasti akan terjatuh agak satu kali." ujar Iwan.
Iwan berjalan menuju empat orang yang berdiri di sana dengan memberikan tatapan tidak suka kepada Ranti.
"Ayuk jalan. Jangan dengerin manusia tidak ada akal itu." ujar Iwan.
Vina memegang lengan Iwan.
" Apa yang tidak aku tahu Bang?" tanya Vina.
"Banyak. Nanti akan aku jelaskan." ujar Iwan.
"Bang tentu tidak. Biarkan Danu yang menjelaskan kepada Vina. Kita tidak ada hak untuk menjelaskan." ujar Ivan yang tidak setuju kalau Vina tau semua dari Iwan atau dirinya.
"Baiklah. Abang setuju dengan pendapat Ivan. Lebih baik kamu tau dari Danu saja." ujar Iwan.
Vina kembali tersenyum. Dia tau kalau sebenarnya semua kejadian bukan kesalahan dari Danu saja. Tapi untuk bertemu dengan Danu hatinya belumlah siap. Dia akan berpikir ulang untuk kembali bertemu dengan cinta pertamanya itu
__ADS_1