Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Negara U


__ADS_3

"Tuan Besar, Tuan Besar, Tuan Besar. Tolong Tuan Muda, Tuan besar" terdengar teriakan memanggil Papi dari arah luar oleh seorang karyawan dengan nada tidak sabaran ingin bertemu dengan Papi.


Paman yang lebih dekat dengan pintu ruangan, berjalan membuka pintu ruangan tempat Papi bekerja dengan tergesa gesa saat mendengar teriakan dari karyawan tersebut.


"Ada apa?" tanya Paman kepada karyawan yang sedang terlihat sangat panik itu.


"Itu itu itu" ujar karyawan yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Paman dengan serius.


"Tarik nafas kamu dulu. Jangan tergesa gesa seperti itu" ujar Paman meminta karyawan untuk tarik nafas terlebih dahulu.


Terlihat karyawan melakukan apa yang diminta oleh Paman. Karyawan menarik nafasnya dalam dalam, dan berusaha menenangkan perasaan dan pikirannya terlebih dahulu.


"Mana Tuan besar Tuan muda?" tanya karyawan kepada Paman yang ingin menyampaikan berita itu langsung kepada Papi.


"Ada di dalam. Saya panggilkan" ujar Paman kepada karyawan.


"Segera Tuan Muda" ujar karyawan kepada Paman.


Paman dengan setengah berlari masuk ke dalam tempat Papi yang sedang menghirup aroma anggur yang baru diantarkan dari pabrik.


"Kakak, karyawan itu mau bertemu dengan kakak. Sepertinya sangat penting sekali" ujar Paman memberitahukan keinginan karyawan yang ingin bertemu dengan Papi langsung menyampaikan apa yang ingin dikatakan oleh dirinya.


"Oke. Mari kita ke sana" ujar Papi mengajak Paman untuk menemui karyawan yang mencari dirinya tadi di depan pintu ruang kerja Papi.


"Tuan besar" teriak karyawan yang sudah tidak sabaran dan akhirnya memilih untuk masuk ke dalam ruangan yang karyawan sendiri tidak boleh masuk berdasarkan SOP perusahaan.


"Ada apa? Bukannya kamu tau kalau menurut SOP perusahaan karyawan tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam ruangan ini" ujar Papi dengan nada tingginya.


Karyawan tau dia salah. Tapi ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa genting nya.


"Saya tau Tuan besar. Maafkan saya. Tapi ini sangat penting dan diujung tanduk sekali." ujar karyawan yang menyadari kesalahan yang telah dibuat oleh dirinya.


"Ada apa?" tanya Papi dengan menatap tajam ke wajah karyawan itu.


"Tuan muda kecelakaan di pabrik" jawab karyawan itu yang berhasil mengeluarkan suaranya.


"Apa?" teriak Papi dan Paman bersamaan.

__ADS_1


"Sekarang dimana dia?" tanya Papi dengan nada tinggi. Papi sangat takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap anak satu satunya itu.


"Sudah di bawa ke rumah sakit oleh manager nanti nyonya besar" jawab karyawan yang kembali sudah berani untuk melihat ke mata Papi.


"Rumah sakit?" ujar Papi setengah berteriak kepada adiknya itu.


"Adik cepat kita ke rumah sakit" jawab Papi memerintahkan Paman untuk gerak cepat menuju arah rumah sakit.


"Ivan dan Sari dimana?" tanya Paman kepada karyawan tersebut.


"Ada di mansion utama bersama maid Tuan Muda" jawab karyawan memberitahukan dimana keberadaan Ivan dan Sari saat ini.


"Oh baiklah. Kalian tolong jaga Ivan dan Sari" ujar Paman memberikan perintah kepada karyawan tersebut untuk menjaga kedua putra putrinya itu.


"Siap Tuan Muda" jawab karyawan.


"Adik cepat" teriak Papi yang suda berada jauh di depan Paman dan karyawan.


Paman bergerak cepat menuju Papi. Paman susah merasa tenang karena kedua anaknya dalam keadaan sehat. Sekarang fokus Paman hanya kepada Danu saja.


Papi dan Paman masuk ke dalam mobil milik Paman yang memang sudah berada di depan mansion. Paman kemudian mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang terletak di kota. Sedangkan mansion milik keluarga sanjaya berada di pinggiran kota.


"Tidak bisa lebih cepat Adik?" tanya Papi kepada Paman yang sudah tidak sabaran ingin cepat sampai di rumah sakit dan memastikan keadaan anak tunggalnya itu dalam keadaan seperti apa saat ini.


Paman menambah dalam sedikit menginjak pedal gas mobilnya. Paman sebenarnya juga tidak sabaran ingin melihat kondisi Danu sekarang.


Setelah berkendara selama satu jam, mobil yang dikemudian oleh Paman memasuki parkiran rumah sakit yang sangat besar itu. Paman memarkirkan mobilnya di tempat parkir depan IGD rumah sakit.


Papi dan Paman kemudian turun dengan bergegas dan berjalan setengah berlari menuju IGD.


"Kakak itu salah satu karyawan kita" ujar Paman menunjuk seorang pria yang sedang berdiri dan terlihat mencari cari seseorang di depan lobby IGD.


"Benar itu dia" ujar Papi


Papi dan Paman kemudian berjalan menuju karyawan tersebut. Karyawan yang terlihat sedang mencari cari seseorang.


"Tuan besar" ujar Karyawan saat melihat Papi dan Paman menuju arahnya.

__ADS_1


"Dimana Danu dan Nyonya besar?" tanya Papi yang sudah tidak sabaran lagi ingin bertemu dengan istri dan anaknya.


"Ada di dalam Tuan. Tuan muda sedang di periksa oleh dokter" jawab karyawan memberitahukan bagaimana keadaan Danu.


"Silahkan ikuti saya Tuan. Saya akan mengantarkan Anda ke ruangan tempat Tuan Muda di periksa" lanjut karyawan sambil berjalan dibagian paling depan.


Mereka bertiga kemudian berjalan dengan sangat cepat. Mereka ingin melihat dan memastikan kondisi Danu dalam keadaan baik baik saja atau harus diberi tindakan lainnya.


Mami yang melihat Papi dan Panah sudah sampai di rumah sakit, langsung berlari menuju Papi. Air mata Mami sudah tidak tertahankan lagi dari tadi Mami selalu saja menangis.


"Papi, anak kita Papi" ujar Mami sambil memeluk Papi dalam keadaan menangis.


"Gimana keadaan Danu, Mami?" tanya Papi kepada istrinya itu.


"Mami belum tahu, mereka masih memeriksa keadaan Danu di dalam sana. Mereka masih belum keluar dari sana" ujar Mami menunjuk ke arah pintu ruangan yang di dalam sana terbaring Danu yang sedang diperiksa oleh semua dokter.


Paman melihat ke arah karyawan yang tadi mengantarkan mereka menuju ruangan tempat Danu di rawat.


"Pakaian kamu kenapa berdarah semua?" tanya Paman yang dari tadi tidak tau bagaimana kondisi Danu saat di bawa ke rumah sakit oleh karyawan dan Kakak iparnya itu.


Karyawan melihat ke arah pakaiannya yang sudah banyak bekas darah tersebut.


"Ini darah Tuan Muda, Tuan" jawab karyawan memberitahukan darah siapa yang ada di pakaiannya itu.


"Apa darah Danu?" teriak Papi saat melihat bekas darah yang begitu banyak di pakaian karyawan tersebut.


Papi sudah bisa membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan oleh putranya itu selama perjalanan menuju rumah sakit. Darah yang begitu banyak membekas di pakaian karyawan.


"Kamu pergi ke toko pakaian, beli pakaian bersih" ujar Paman kepada karyawan.


Paman kemudian memberikan karyawan itu uang untuk membeli pakaian baru untuk dipakainya.


"Pakaian berdarah itu, kamu masukkan ke dalam kantong kemudian minta maid yang berada di mansion utama untuk mencucinya sampai bersih" ujar Paman memberikan perintah selanjutnya kepada karyawan itu.


"Siap Tuan muda" jawab karyawan.


Karyawan kemudian meninggalkan ruangan tempat Danu di rawat. Dia harus menukar pakaiannya terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia akan kembali menuju ruangan tersebut, setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru

__ADS_1


__ADS_2