Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Marah tanpa Alasan


__ADS_3

Pagi harinya Juan yang sudah bangun pagi pagi sekali harus kembali ke kontrakannya. Juan harus bersiap siap untuk ke kantor. Sedangkan Vina sudah berada di dapur dengan Maya untuk membuat pesanan para pelanggan.


"Kak, aku pulang dulu. Nanti aku jemput untuj berangkat kantor."


"Oke sip"


Juan kemudian pergi dari rumah Vina. Dia harus cepat sampai di kontrakan untuk tukar baju kerja dan kembali ke rumah Vina untuk menjemputnya.


Juan menukar bajunya dengan cepat. Dia juga menyambar berkas yang harus di bawanya ke kantor hari itu. Proposal tentang pembangunan sebuah swalayan. Setelah merasa semua barangnya sudah dia bawa Juan kembali menuju rumah Vina. Juan tidak mau kalau Danu lebih dahulu nyampe daripada dirinya.


Juan yang berkendara dengan ngebut melihatbdari jauh mobil Danu. Juan langsung menambah kecepatan motornya. Juan tidak mau keduluan oleh Danu.


"Ah biarkan aja. Semoga Kak Vina paham dengan maksudku" kata Juan dengan senyum devil nya.


Juan memperlambat jalan motornya. Juan melihat mobil Danu sudah berhenti di depan rumah Vina. Vina keluar karena menyangka yang datang adalah Juan. Dari jauh Juan yang melihat Vina keluar langsung menekan gas motornya untuk sampai di depan rumah Vina. Danu yang akan keluar dari mobilnya menuju ke arah Vina membatalkan niatnya karena Juan sudah terlebih dahulu masuk kedalam pintu pagar rumah Vina.


"Hay Vin" kata Juan menyapa Vina.


"Hay Juan. Bentar ya aku ngambil bekal dulu ke dalam." lanjut Vina sambil melangkahkan kakinya ke dalam.


Danu kemudian turun dari mobilnya. Dia harus melakukan perang terbuka dengan Juan. Kalau dari tampilan mereka imbang menurut Danu. Tapi dari fasilitas tinggian Danu, karena Danu memakai mobil. Vina yang selesai mengambil bekal untuk sarapannya langsung keluar dengan Maya.


"Pak Danu" kata Vina sambil pura pura terkejut.


"Mau ke kantor Vin? Sama saya aja, saya juga mau ke kantor." kata Danu mendahului Juan.


Vina melirik Juan. Juan mengangkat bahunya.


"Maaf Pak. Juan sudah duluan menjemput saya. Maafkan saya pak" kata Vina sambil berlalu menghampiri Juan.


Juan memberikan helm cadangan kepada Vina. Juan memasangkan helm itu dikepala Vina. Vina tersenyum manis kepada Juan sambil melirik sedikit ke arah Danu. Maya yang melihat dari tadi sudah merekam semua kejadian dan akan mengirimkannya kepada Iwan. Maya hanya geleng geleng kepala melihat tingkah tiga makhluk bernama manusia itu.


Danu yang kesal karena Vina tidak memilih untuk berangkat dengan dirinya ke kantor, langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang.


"Hahahhahahahaha. Makan tu cemburu buta" kata Juan sambil mengangkat tangannya ke arah Danu.

__ADS_1


"Udah Juan, kita jalan aja lagi. Nanti kamu telat kantor nya" kata Vina menghentikan kegilaan Juan.


Juan mengemudikan motornya menuju kantor Vina. Saat sampai di sana Juan melihat mobil Danu yang parkir di dekat parkiran motor.


"Emang parkir manager disitu kak?"


"Nggak. Tau kenapa. Dikira kamu akan berhenti disitu kali, makanya dia parkir di situ"


"Hahahaha. Kalau cinta bilang cinta. Kalau sayang bilang sayang" ucap Juan. Juan kemudian membuka helm yang dipakai Vina.


Saat Juan membuka helm Vina, Danu kebetulan lewat


"Cepat ke ruangan Vina, kerjaan banyak" kata Danu dengan dinginnya dan langsung berlalu dari Vina menuju ruangannya.


"Hahaha. Aneh juga tu orng baru jam tujuh lewat lima belas udah kerja aja. Masuk gih mbak nanti jadi horor lo" kata Juan sambil kembali naik ke motornya untuk pergi ke kantornya.


"Juan" kata Iwan.


"Ah kebetulan bang Iwan datang, singa jantan udah ngamuk bang. Tolong amankan" kata Juan.


Juan menceritakan semua kejadian dari yang malam sampai kejadian sebentar ini.


"Hahahahaha, dasar Danu nggak kreatif" ucap Iwan.


"Kak sepertinya nanti siang aku nggak bisa jemput makan siang kak. Aku ada meeting." kata Juan sambil memperluhatkan ponselnya kepada Juan.


"Sip nggak apa. Ini bekal sarapan mu. Makanan favorit mu" kata Vina sambil menyerahkan kotak bekal untuk Juan.


"Makasi kak. Nggak sia sia aku dipromosiin ke sini" ucap Juan.


Setelah puas bercerita kepada Iwan, Juan langsung pergi menuju kantornya sendiri. Hari ini jadwalnya sangat padat sekali.


Iwan dan Vina masuk kedalam ruang kantor mereka. Danu sudah berada di dalam ruangannya. Vina dan Iwan meletakkan tas mereka di atas meja masing masing. Vina kemudian membuat minum untuk dirinya dan Iwan. Setelah selesai Vina meletakkan minum dan sarapan ke atas meja Iwan.


"Makasi Vin."

__ADS_1


"Sama sama bang"


Vina kembali ke tempat duduknya. Dia langsung menyantap sarapannya yang berupa mie nasi goreng itu.


"Kamu keruangan saya" ucap Danu kepada Vina yang sedang mengerjakan sketsanya.


Vina menatap Iwan dan Ivan. Mereka berdua memberikan semangat kepada Vina. Vina menganggukkan kepalanya.


"Permisi pak." kata Vina membuka pintu ruangan Danu.


"Masuk. Duduk" Ucap Danu dengan dinginnya.


"Gini Vin. Saya langsung saja. Saya tidak bisa basa basi. Kamu saya lihat beberapa hari ini sering di jemput pulang kerja oleh kekasih kamu. Saya tidak keberatan kamu dijemput kekasih kamu. Tapi kalau bisa, pulang kantor itu pulang bukan raun raun nggak jelas" kata Danu tanpa bisa mengontrol emosinya.


"Oh begitu. Makasi saya ucapkan atas perhatian Bapak. Tapi maaf sekali lagi pak, ini ranah pribadi saya, jadi walaupun bapak pimpinan saya bapak tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya." Vina terlihat mulai tersulut emosinya. Tapi dia berusaha menekannya.


"Vina saya berhak mengingatkan kamu, karena saya atasan kamu." kata Danu juga tersulut emosinya.


Vina tidak menyangka Danu akan berbicara seperti ini. "Bapak kalau kerjaan saya terganggu gara gara ini, Bapak berhak marah sama saya. Tapi semua pekerjaan saya berjalan dengan baik" kata Vina sambil geleng geleng kepala.


""Saya katakan kepada Anda tuan Danu. Kalau anda cemburu dengan kedekatan saya dan Juan, anda lebih baik jujur. Jangan mencari masalah yang tidak berarti ini." kata Vina dengan berapi api.


"Saya cemburu? Nggak salah kamu? Cewek seperti kamu akan membuat saya cemburu. Hahahahahahaa" kata Danu menutupi perasaannya.


"Baiklah, kalau Anda sudah mengatakan hal yang sangat baik itu. Saya permisi tuan Danu yang terhormat." kata Vina sambil berdiri dan membuka pintu dengan kuat, setelah itu Vina menghempaskan pintu ruangan itu dengan kuat.


Iwan dan Ifan terkejut dengan kelakuan Vina.


"Ada apa Vin?" tanya Iwan.


"Tu pria cemburu dak tau arah. Bikin emosi gue naik aja." kata Vina.


Vina membereskan barang barangnya.


"Gue pulang bang. Terserah loe mau ngomong apaan sama tu makhluk ajaib. Gue pasrah" kata Vina.

__ADS_1


Vina kemudian keluar dari ruangan kantornya. Dia akan pulang ke kontrakan. Hatinya sakit mendengar perkataan Danu tadi.


__ADS_2