Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Negara U


__ADS_3

Paman dan Mami kaget saat melihat para maid, tukang kebun dan satpam yang sedang tidak dinas malam berdiri sejajar menyambut Paman dan Mami yang datang dari rumah sakit tempat Danu di rawat.


"Ada apa ini?" tanya Mami kaget melihat mereka semua berdiri berjejer seperti menyambut seorang presiden yang datang dari luar negeri.


Ivan kemudian maju ke depan. Dia mewakili semua orang yang ada di sana untuk bertanya kepada Ayah dan juga Bibi


"Ayah, Bibi, bagaimana keadaan kakak Danu?" tanya Ivan mewakili semua orang yang ada di sana saat ini.


Paman melihat ke arah Mami. Mami mengangguk memperbolehkan Paman untuk menceritakan dan memberitahukan kepada Ivan dan semua orang yang ada di mansion tentang keadaan Danu sekarang yang sedang berada di rumah sakit.


"Sayang dan kalian semua, kita sekarang harus berdoa untuk kesembuhan Danu. Jadi, saya mohon kepada kita semua untuk bisa mendoakan Danu setiap selesai melakukan ibadah menurut kepercayaan kita masing masing" ujar Paman memberitahukan apa yang bisa mereka lakukan sekarang ini.


"Ayah, bagaimana dengan keadaan Kakak Danu?" tanya Ivan yang penasaran dengan kondisi Danu.


"Kakak Danu, dalam kondisi koma di rumah sakit sayang. Jadi, Ayah mohon kamu dan yang lain mendoakan kakak Danu untuk lekas sadar dari komanya ya" ujar Ayah berbicara kepada Ivan dan Sari.


"Apa kami bisa melihat kak Danu, Ayah?" tanya Sari yang kali ini membuka suaranya. Sari memang yang paling sayang ke Danu.


"Tidak boleh anak anak ke. bagian itu sayang." ujar Ayah menjawab pertanyaan dari Sari.


"Jadi, kalau kami kangen Kak Danu bagaimana?" tanya Sari kembali.


"Kamu tinggal berdoa aja kepada Tuhan sayang. Kamu minta kesembuhan untuk kak Danu, biar cepat pulih dan bisa kembali lagi bermain sama kalian berdua" ujar Ayah memberikan nasehat dan pesannya kepada Sari.


"Baiklah Ayah, kami akan mendoakan kak Danu" ujar Ivan dan Sari bersamaan.


"Oh ya sayang. Kalian temani bibi di sini ya. Ayah harus temani Paman menjaga kak Danu." ujar Ayah meminta kepada kedua anaknya untuk menemani Mami yang terlihat sangat bersedih itu.


"Kalian berdua mau kan ya menemani Bibi di sini?" tanya Ayah sambil melihat ke dua anaknya itu.

__ADS_1


"Mau Ayah. Kami akan temani Bibi di sini" jawab Ivan dengan semangat.


"Terimakasih anak pintar Ayah" ujar Ayah sambil menciun pucuk kepala Ivan dan Sari.


Mami yang baru selesai mengepak pakaian milik Papi memberikan kepada Paman.


"Adik, kalau terjadi hal apapun kepada Danu, tolong telpon ke kakak ya. Kakak nggak bisa tenang nanti" ujar Mami meminta Paman untuk menghubungi Mami kalau sesutu terjadi kepada Danu.


"Pasti kakak ipar. Aku akan pastikan untuk menghubungi kakak ipar, apabila terjadi sesuatu kepada Danu" ujar Paman meyakinkan Mami untuk percaya kalau ada terjadi sesuatu kepada Danu, Paman akan menghubungi Mami.


"Terimakasih adik. Kamu dan Kakak hati hati di rumah sakit ya" ujar Mami berpesan kepada Paman.


"Sayang, Ayah ke rumah sakit dulu ya. Kalian jaga bibi di mansion oke" ujar Ayah kepada Ivan dan Sari.


"Oke Ayah. Kami akan selalu jaga Bibi, Ayah" ujar Ivan


Paman kemudian berlalu meninggalkan mansion dengan membawa pakaian ganti untuk Papi dan juga makan malam untuk mereka berdua.


Suasana jalanan ibu kota sudah semakin sepi, sehingga Paman bisa mengemudikan mobilnya dalam kecepatan maksimal. Setelah berkendara selama lebih kurang empat puluh lima menit, Paman sampai juga di rumah sakit. Paman memarkir mobilnya di parkiran khusus untuk pasien yang dirawat di ICU.


Paman kemudian bergegas turun dari mobil. Dia membawa semua titipan dari Mami untuk Papi. Paman berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit itu.


"Apa yang terjadi?" ujar Paman melihat dokter dan suster berkerumun di depan kamar rawat Danu.


Paman semakin mempercepat jalannya. Dia tidak mau terlambat sampai di tempat Danu di rawat.


"kenapa Danu, kakak?" tanya Paman saat melihat Papi berdiri melihat ke jendela kamar.


"Bukan Danu, tapi ada pasien lain baru masuk dan langsung kejang kejang" ujar Papi memberitahukan kepada Paman siapa yang dilihat oleh orang ramai itu.

__ADS_1


"huft. Aku kira Danu, Kak. Aku udah luar biasa bergegas ke sini" ujar Paman kepada Papi.


Paman kemudian duduk di kursi tunggu depan Danu. Paman tidak lupa melihat keponakannya yang masih dalam posisi yang sama sejak di tinggalkan tadi.


"Apa yang kamu bawa Adik?" tanya Papi sambil melihat kantong yang di bawa oleh Paman.


"Nasi lengkap dengan sambal dan sayur sop. Ini pakaian kakak. Ganti dulu kak. Siap itu baru kita makan malam" ujar Paman meminta Papi untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Papi kemudian berjalan menuju kamar mandi. Papi berencana untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru di bawa oleh Paman.


"Gimana keadaan kakak ipar kamu sampai di mansion?" tanya Papi kepada Paman.


"Masih sama Kak. Tapi mudah mudahan dengan adanya Ivan dan Sari bisa sedikit lebih membuat Kakak Ipar menjadi lebih nyaman" ujar Paman kepada Papi.


"Semoga sajalah Adik. Kakak takut kalau kakak ipar semakin terguncang karena semua kejadian ini" lanjut Papi sambil menyuap makanan yang dibawa Paman dari mansion.


"Kak, kalau seandainya di sini tidak sukses mengobati Danu, kita bawa saja Danu ke negara lain kak. Biar Danu bisa kembali seperti semula." ujar Paman memberikan usulan untuk mengobati Danu di negara lain saja.


"Aku setuju Adik. Biarlah Danu di rawat dimana saja. Kamu coba cari cari informasi rumah sakit mana yang bisa menyembuhkan orang yang seperti Danu ini" ujar Papi meminta supaya Paman bisa mencari informasi dokter atau rumah sakit terbaik untuk Danu berobat.


"Siap Kakak akan aku cari informasi untuk hal itu" ujar Paman.


Mereka berdua kemudian menyantap makanan yang di bawa dari mansion tadi. Saat mereka makan itulah datang seorang dokter yang akan memeriksa keadaan Danu.


"Permisi Tuan, saya akan memeriksa keadaan Danu" ujar dokter sambil melihat ke arah Papi dan Paman.


"Silahkan dokter, apa kami bisa masuk sebentar dokter. Minimal melihat keadaan Danu sebentar saja" kata Paman yang meminta supaya mereka bisa melihat keadaan Danu dari dekat.


Dokter terlihat berpikir sesaat. Dokter sangat tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua Danu saat ini.

__ADS_1


"Baiklah Tuan, anda berdua saya perkenankan masuk. Tapi tolong dipakai baju steril nya dulu tuan" ujar dokter.


Suster memberikan pakaian steril kepada Papi dan Paman. Mereka berdua kemudian memakai pakaian itu. Mereka dan dokter serta satu orang suster masuk ke dalam ruang rawat Danu.


__ADS_2