Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Obrolan Ayah dan Ivan


__ADS_3

"Hay bro, kapan pulang?" ujar Ayah saat melihat Ivan sudah berada di panthouse. Padahal saat Ayah pergi kemaren Ivan belum sampai penthouse walaupun sebenarnya Ayah sudah tahu kalau Ivan sudah pulang kembali ke negara I dari negara U.


Ayah yang baru pulang dari perjalanan bisnis ke luar kota. Menatap kepada anak laki laki yang dirindui oleh dirinya tersebut. Anak yang setiap hari selalu ada di dekat Ayah. Tetapi sudah mau dua puluh hari Ivan berada di negara U sehingga membuat Ayah tidak bisa bertemu dengan anak kesayangannya itu


"Udah dua hari di sini" ujar Ivan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ayah.


"Bohong, mana ada dua hari. Ayah saja baru pergi kemaren. Kamu belum sampe" ujar Ayah sambil duduk di sofa sebelah Ivan.


Ayah menaruh oleh oleh yang tadi sempat dibelinya untuk Ivan. Ayah membelikan Ivan makanan kesukaannya. Makanan ciri khas dari daerah J.


"Ayah beli apa?" ujar Ivan yang sudah mengetahui Ayah membeli apa dari tas yang di tarok Ayah di atas meja.


"Pura pura ndak tau, atau memang nggak tahu?" tanya Ayah saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ivan kepada dirinya.


"Haha haha haha, ya tau lah Ayah. Dari kantong nya aja udah tau apa yang Ayah bawa." jawab Ivan


"Kebetulan aku udah masak nasi, jadi makan gudeg dengan nasi panas. Rasanya pasti uwow" lanjut Ivan yang sudah bisa membayangkan bagaimana rasanya makan gudek dengan nasi yang panas.


"Ayuk, tapi panasin gudegnya dulu Van biar enak." kata Ayah yang sangat suka menyantap gudeg dalam suhu yang panas.


Ayah kemudian berjalan menuju kamar untuk membersihkan badannya terlebih dahulu dan mengganti pakaian kerja dengan pakaian santai untuk duduk duduk di rumah.


"Tapi Ayah, aku lebih suka gudegnya nggak panas" jawab Ivan yang memang memiliki selera yang berbeda dengan Ayah.


"Ayah kan beli dua porsi Van. Satu untuk kamu sedangkan yang satu lagi untuk Ayah" ujar Ayah kembali memunculkan kepalanya dari dalam kamar.


"Oh dua. Okelah kalau begitu. Kita makan di balkon ya Ayah, biar bisa lihat lihat keadaan di luar"


"Oke. Kita makan di balkon. Kamu siapin aja semuanya ya. Ayah mandi dulu" jawab Ayah yang masih kepalanya saja yang nampak dari dalam kamar.


"Asiap presiden direktur" jawab Ivan


Ayah kemudian membersihkan dirinya, sedangkan Ivan pergi menyiapkan semua yang diperlukan untuk makan malam dirinya dan Ayah. Makan malam akan dilakukan di balkon penthouse. Ivan memanaskan satu porsi gudeg untuk Ayah. Setelah itu, Ivan memasukkan nasi ke dalam mangkuk, dan menuang gudeg yang untuk Ivan sendiri. Semua dilakukan oleh Ivan dengan ceria, di tambah lagi music yang di stel Ivan dari pemutar music yang tersambung ke dalam semua ruangan yang ada di penthouse.


"Kalau udah ada Ivan maka rumah ini akan penuh dengan instrument" ujar Ayah yang mendengar instrument biola yang sedang distel Ivan dari alat pemutar music.

__ADS_1


"Lain lagi kalau Sari yang datang. Maka rumah akan selalu terdengar music slow. Kakak beradik yang selera music nggak pernah kompak" ujar Ayah yang sangat hafal dengan kesukaan putra putrinya, baik dari segi makanan, warna, mobil sampai dengan selera music, Ayah sangat hafal sekali, sehingga saking hafalnya Ayah sangat mudah membelikan sesuatu untuk anaknya saat pulang dari perjalanan bisnis kemana saja baik perjalanan bisnis dalam negeri atau luar negeri.


Tepat pukul tujuh malam, Ayah telah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian rumahan. Ayah kemudian berjalan menuju balkon penthouse. Ivan sudah duduk di sana sambil melakukan panggilan video dengan Maya.


Ayah yang tahu kalau Ivan sedang melakukan panggilan video dengan Maya, langsung saja berdiri di belakang Maya. Ayah melambaikan tangannya kepada Maya, Maya membalas dengan tersenyum dan melambaikan tangan pula. Ivan yang melihat Maya melambaikan tangan langsung menatap ke belakang, ternyata benar di situ ada Ayah yang telah selesai bersiap siap.


"Sayang, nanti lagi ya aku video call. Aku mau makan malam dulu." ujar Ivan memberitahukan kepada Maya kalau dia dan Ayah akan makan malam.


"Masak apa Ayah sayang?" tanya Maya yang sangat hafal kalau di penthouse itu yang memasak adalah Ayah bukan Ivan.


"Mana ada Ayah masak sayang. Ayah baru pulang perjalanan dinas dari daerah J. Jadi Ayah beli......" ujar Ivan yang sengaja menggantung jawabannya.


"Gudek. Waduh pasti enak itu" ujar Maya yang sudah bisa membayangkan dirinya makan gudeg.


"Enak yang kamu bikin sayang." ujar Ivan yang sangat menyukai gudeg yang dibuat oleh Maya dibandingkan dengan gudeg yang di bawa Ayah dari daerah J.


"Sayang, kamu jangan gitu. Ayah udah capek capek bawa, malahan kamu katakan kurang enak" ujar Maya menegur Ivan yang membandingkan gudeg yang dibuat oleh dirinya dengan gudeg yang dibeli oleh Ayah dari daerah J.


"Bener itu May, masak iya udah dibelikan tetapi dia sama sekali tidak menghargai. Dasar anak aneh" ujar Ayah yang mendapatkan angin dari Maya untuk menyindir kelakukan dari Ivan yang dikatakan oleh Ayah sangat tidak bersyukur karena sudah dibelikan Ayah.


"Sayang udah dulu ya. Nanti siap aku makan, saat aku udah di kamar aku akan video call lagi" ujar Ivan pamit untuk memutuskan panggilan video dengan Maya.


"Oke sayang. Makan yang banyak ya. Jangan ada sisa" kata Maya sambil tersenyum kepada kekasihnya itu.


Ivan kemudian memutus panggilan video dirinya dengan Maya. Ia dan Ayah akan menikmati makan malam mereka yang istimewa tersebut.


Ivan dan Ayah mengisi piring mereka dengan nasi dan juga gudeg kesukaan masing masing. Setelah itu mereka menyantap makan malam dalam diam. Ayah memang tidak suka berbicara di meja makan kalau menu sambalnya adalah makanan kesukaan Ayah. Tetapi kalau tidak, maka Ayah sendirilah yang akan mengajak teman makannya untuk mengobrol.


"Oh ya Van, semalam saat kamu sampai di bandara siapa yang jemput?" ujar Ayah yang tidak tahu kalau Ivan di jemput oleh siapa ke bandara.


"Bang Danu dan Bang Iwan lah Yah., siapa lagi" jawab Ivan sambil mengangkat piring kotor yang telah mereka pakai untuk makan malam tadi.


"Terus kamu tidur dimana?" tanya Ayah saat melihat Ivan sudah di dalam penthouse.


Ivan yang tidak mendengar karena jarak mereka yang jauh tidak menjawab pertanyaan dari Ayah. Ayah hanya bisa menunggu Ivan kembali ke balkon.

__ADS_1


"Apa tadi Yah, yang ayah tanya ke Ivan?" tanya Ivan yang penasaran dengan apa yang ditanyakan oleh Ayah tadi kepada dirinya.


"Kamu nginap dimana, di rumah Danu atau Iwan" ujar Ayah kembali mengulang pertanyaannya yang tadi tidak sempat di jawab oleh Ivan.


"Nginap di rumah Bang Iwan Yah. Kalau ke rumah Bang Danu lumayan jauh, kami bertiga udah sangat mengantuk saat itu. Mana paginya harus masuk kerja karena harus menyiapkan maket yang akan dipresentasikan besok sama Bang Danu" ujar Ivan menceritakan kepada Ayah dimana dirinya menginap semalam saat baru mendarat dari negara U.


"Ooooooo. Terus tadi siang kemana?" tanya Ayah yang penasaran sebenarnya dengan pertemuan antara Danu dengan Frans.


"Ayah pasti tahu bukan kalau Bang Danu mengadakan pertemuan dengan Bang Frans?" ujar Ivan menebak apa yang membuat Ayah bertanya tentang kegiatan Ivan tadi siang.


"yup tau mereka pertemuan iya. Tapi Ayah nggak tau apa hasilnya" ujar Ayah


"Hasilnya ya itu. Ayah tau kalau Deli bukan anak kandung dari Bang Danu?" tanya Ivan kepada Ayah.


Ayah yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan hanya bisa menganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ivan. Ayah benar benar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ivan sebentar ini.


"Kamu serius Van, kalau Deli bukan anak kandung dari Danu?" tanya Ayah yang masih kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ivan kepada dirinya.


"Benar Ayah, Deli bukanlah anak kandung dari Danu" kata Ivan mengatakan kali kedua apa yang diketahui oleh dirinya.


"Bang Danu sendiri yang mengatakan kepada kami kalau Deli bukan anak kandung dari Bang Danu." kata Ivan mengatakan dari mana dirinya mengetahui kalau Deli bukan anak kandung Danu.


"Apa Deli anak angkat dari Ranti dan Danu?" tanya Ayah yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ivan sebentar ini.


"Nggak Ayah. Deli adalah anak kandung Ranti dengan pria lain, bukan dengan Danu" lanjut Ivan.


"Jelaskan sejelas jelasnya Van" ujar Ayah meminta Ivan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Ayah.


Ivan kemudian menjelaskan dan menceritakan kepada Ayah apa kejadian yang tadi diceritakan leh Danu kepada mereka semua.


"Apa? Tu wanita, iblis atau apa coba. Masak tega teganya membohongi suami sendiri" ujar Ayah yang semakin geram dengan apa yang dilakukan oleh Ranti kepada Danu.


"Mana anak kandungnya tetapi tidak menyayangi. Binatang aja sayang sama anaknya. Ini manusia, tetapi," ujar Ayah yang tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Ivan kepada dirinya.


"Ya Tuhan, ada ya manusia kayak dia" lanjut Ayah yang masih belum puas dengan mengata ngatai Ranti.

__ADS_1


__ADS_2