Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Alergi


__ADS_3

Pesawat mulai meninggalkan landasan pacu bandara Negara UEA, sekarang Juan akan mengarahkan pesawat menuju bandara Negara I, penerbangan akan dilakukan selama lebih kurang enam jam lagi. Vina dan kedua sahabatnya sudah duduk di kursi mereka masing masing. Mereka akan mulai menikmati perjalanan yang cukup lama di tambah dengan perbedaan waktu yang sangat dapat dirasakan. Saat pesawat mulai mengudara dengan tenang, pilot mempersilahkan para penumpang dan kru pesawat untuk membuka sabuk pengaman mereka.


Maya yang dari tadi sudah mulai langsung berlari menuju toilet, dia memuntahkan semua isi perutnya ke dalam kloset. Vina dan Sari yang ingin pergi melihat Maya membatalkan niat mereka saat mereka tau saat ini mereka berada di dalam pesawat dan kamar mandi di pesawat hanya muat untuk satu orang saja. Akhirnya, dengan berat hati mereka menunggu Maya di kursi pesawat. Maya yang telah selesai memindahkan semua isi perutnya ke dalam kloset kembali menuju tempat duduknya tadi.


"Loe kenapa May?" tanya Vina yang terlihat sangat khawatir, apa lagi saat melihat wajah Maya yang sudah sangat pucat itu.


"Kayaknya alergi gue kambuh Vin" jawab Maya sambil menarik selimut menutupi tubuhnya yang sudah sangat lelah itu.


"Apa loe ada membawa obat alergi loe?" tanya Vina yang juga mulai ikut panik.


Vina sangat tau bagaimana mengerikannya kalau alergi Maya sudah kembali kambuh. Tubuh Maya akan ditumbuhi bintik bintik merah, sampai dengan membuat tubuh Maya menggigil padahal dalam kondisi suhu tubuh yang panas.


"Obat alergi gue ada di dalam tas Vin." ujar Maya.


Vina dengan sigap mengambil tas Maya dan mencari keberadaan obat alergi milik sahabatnya itu. Saat sudah menemukan obat yang dicarinya, Vina mengambil beberapa butir dan memberikan obat tersebut kepada Maya. Maya mengambil obat yang telah diberikan oleh Maya, dia langsung meminum obat tersebut. Sari yang sama sekali tidak tau dengan penyakit Maya ini hanya bisa menatap Maya dengan tatapan kasihan. Ingin sekali rasanya Sari menghubungi Abangnya dan menceritakan semua kejadian. Tetapi dia takut nanti Abangnya yang sudah sangat bucin itu tidak bisa menahan diri dan langsung datang menjemput Maya ke bandara. Sari tidak menginginkan semua itu terjadi, sehingga dia menahan dirinya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada Abangnya.


Setelah meminum obatnya, perlahan Maya sudah bisa kembali tenang, dia mulai terlihat memejamkan matanya, tak membutuhkan waktu lama Maya sudah kembali masuk ke alam mimpinya.


"Vin, sejak kapan Maya alergi?" tanya Sari yang dari tadi sudah menyimpan rasa penasarannya.


"Sudah dari kecil Sar." jawab Vina dengan singkat. Vina masih mencemaskan kondisi Maya untuk saat ini.


"Apakah dia alergi seafood?" tanya Sari selanjutnya.


"Nggak, cuma dia alergi dengan semua makanan dan minuman yang terbuat atau berbahan dasar kacang hijau." ujar Vina memberitahukan penyebab alergi Maya kembali kambuh.


"Kacang hijau?" tanya Sari dengan nada tidak percaya.


"Yup bener, kacang hijau." jawab Vina sambil menahan senyumnya.


Dia tau kalau Sari akan ragu dengan jawabannya, seperti saat hari itu dokter mengatakan kepada Maya dan keluarganya kalau Maya mengalami alergi terhadap semua makanan dan minuman yang berbahan dasar kacang hijau.


"Ada ya Vin, orang yang alerginya jacanng hijau?" ujar Sari bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.


"Tu ada buktinya Sar. Loe aja denger sekarang nggak yakinkanya, apalagi gue saat masih bocah. Tapi tu kenyataannya ada." ujar Vina yang sudah kembali rileks saat melihat Maya sudah tidur dengan nyaman.

__ADS_1


Sari mengamati semua kecemasan Vina.


"Loe kelihatan sangat cemas Vin. Emang bagaimana reaksi alergi Maya?" Sari menyuarakan rasa penasarannya atas kecemasan Vina.


"Kalau Maya udah kumat alerginya, sebatang tubuhnya akan merah merah, kemudian dia menggigil padahal suhu tubuhnya sedang tinggi. Dia akan menggigau nggak jelas. Gue cemas akan hal itu, apalagi kita sekarang sedang berada di dalam pesawat." ujar Vina menjawab pertanyaan Sari.


"Tapi bukannya Maya sudah minum obat alerginya?" ujar Sari selanjutnya.


"Bener, tapi gue nggak tau apakah alaerginya akan tetap bereaksi atau tidak karena sudah meminum obat." ujar Vina yang masih menatap ke arah Maya.


"Vin, dingin Vin." ujar Maya yang membuat Vina dan Sari yang berada di sebelah dirinya langsung bergerak mendekat ke arah Maya.


Vina menyibak selimut yang dipakai oleh Maya, betapa terkejutnya Vina dan Sari saat melihat sebatang tubuh Maya yang terlihat sudah mengalami merah merah. Maya juga sudah mulai menggigil, padahal suhu badannya sudah naik.


"Sari apa kita tidak bisa mendarat di bandara terdekat. Gue sangat cemas dengan Maya." ujar Vina yang dari tadi terus saja mengompres kepala Maya dengan air yang diberikan oleh kru pesawat.


Sari kemudian mengangguk. " Gue akan ke ruangan pilot dulu, minta ke Juan untuk mendarat di bandara terdekat karena ada yang sakit." ujar Sari menjawab permintaan Vina.


Sari juga tidak mau terjadi sesuatu kepada kakak iparnya itu, kalau sampai sesuatu terjadi dengan Maya, maka Sari akan menjadi sasaran empuk Daddy dan juga Abangnya, karena tidak bisa menjaga Maya dengan baik. Sari kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan cokpit.


"Eh Nona Sari, ada apa?" tanya Juan kepada Sari yang sudah berada di ruang cokpit.


"Oh baiklah, kita akan mendarat di Negara J. Perkiraan waktu hanya empat puluh lima menit penerbangan lagi. Saya akan memberikan tanda ada yang sakit kepada pengawas ATC di sana, dan akan meminta tempat untuk melakukan pendaratan." ujar Juan menjelaskan rencana pendaratan darurat.


Juan kemudian memberikan informasi kepada menawa pengawas di Bandara Negara J, Juan meminta untuk melakukan pendaratan darurat karena ada penumpang yang membutuhkan bantuan medis. Juan langsung menerima kalau dia bisa melakukan pendaratan darurat di Bandara Negara J dan pihak Bandara juga akan menyediakan ambulance untuk membawa penumpang yang sakit ke rumah sakit yang terletak tidak jauh dari bandara.


Setelah mendapatkan kepastian dari pihak Bandara, Juan memberikan informasi kepada seluruh penumpang dan kru pesawat kalau mereka akan melakukan pendaratan darurat ke Bandara Negara J. Semua penumpang dan kru duduk di kursi mereka masing masing. Mereka kemudian memakai sabuk pengaman.


Vina terus saja memanggil manggil nama Maya, Maya masih menjawab dengan gerakan matanya. Maya bener bener sudah terlalu letih. Juan berhasil melakukan pendaratan dengan mulus tanpa adanya troubel dan gunjangan yang berarti.


Salah seorang pramugari membuka pintu pesawat, beberapa orang suster dan seorang dokter masuk ke dalam pesawat melakukan pemeriksaan awal kepada Maya. Dokter memeriksa kondisi Maya dengan seksama. Setelah yakin dengan analisanya Dokter mengatakan kapada Vina dan Sari kalau Maya harus di rawat di rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Gimana Vin?" tanya Sari kepada Vina.


"Kita ikutin dokter aja Sar. Gue cemas kalau menunggu sampai ke negara I, Maya akan semakin parah. Jadi lebih baik kita rawat di sini aja sampai Maya bener bener sembuh. Gue nggak mau dia kenapa kenapa Sar." jawab Vina yang sudah dengan keputusannya.

__ADS_1


"Baiklah dokter, kami setuju untuk merawat Maya di rumah sakit." jawab Sari kepada dokter yang tadi melakukan pemeriksaan terhadap Maya.


Suster memindahkan Maya ke atas sebuah tandu, mereka akan memindahkan Maya ke mobil ambulance yang sudah terparkir dengan rapi di tangga pesawat. Vina dan Sari juga masuk ke dalam ambulance yang membawa Maya. Sedangkan Juan akan mengantarkan koper milik tiga Nonanya itu ke rumah sakit saat dia sudah memarkir pesawatnya di tempat yang semestinya, karena mereka tidak akan melakukan penerbangan lagi hari ini.


Ambulance bergerak cepat membelah jalanan Bandara Negara J, mereka akan langsung menuju rumah sakit yang jaraknya tidak begitu jauh dari Bandara. Ambulance merauang raung, semua pengendara menepi karena mendengar sirine ambulance yang meminta jalan itu. Setelah sampai di rumah sakit, Maya langsung dimasukkan ke ruang rawat, dokter yang tadi memeriksa di bandara di dampingi oleh salah satu dokter rumah sakit kembali melakukan pemeriksaan terhadap Maya.


Mereka mengambil sampel darah dari dalam tubuh Maya. Mereka sangat penasaran dengan penyakit yang dialami oleh Maya. Sari dan Vina hanya bisa melihat dokter melakukan tindakan kepada sahabat mereka dari balik kaca. Dari balik kaca itu pulalah Vina dan Sari melihat suster memasangkan infus dan oksigen kepada Maya. Mereka berdua sontak langsung berdoa kepada Tuhan agar Maya cepat sembuh, sehingga mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan ke negara I.


Dua orang dokter di tambah dengan pasien yang tadi berada di dalam ruangan Vina berjalan menuju pintu keluar. Vina dan Sari langsung menunggu dokter di depan pintu ruangan.


"Bagaimana dengan sahabat kami dokter?' tanya Sari dengan cepat.


"Hasil sementara menyatakan kalau Nona Maya menderita alergi, tetapi kami akan melakukan pemeriksaan terhadap darah Nona Maya menyangkut alergi yang di deritanya." ujar dokter memberitahukan kondisi Maya.


"Berarti sahabat kami tidak apa apa kan dokter?" tanya Vina yang memang sangat takut dan khawatir dengan kondisi Maya.


"Tidak apa apa, pasien hanya alergi saja. Jadi saat kita tau apa alerginya, usahakan agar dia tidak memakan atau berdekatan dengan penyebab alerginya itu." ujar dokter menjawab pertanyaan Vina sambil tersenyum.


"Kami permisi dulu, hasil labor akan keluar besok." ujar dokter memberitahukan kapan hasil labor Maya akan keluar.


"Baiklah Dokter, terimakasih banyak atas bantuan dokter." ujar Vina


Setelah memastikan dokter dan suster tidak terlihat lagi, Vina dan Sari masuk ke dalam ruangan rawat Maya. Maya terlihat tidur nyenyak, merah merah yang tadi banyak, sekarang sudah tidak banyak terlihat lagi. Vina dan Sari kemudian memilih untuk beristirahat di sofa yang ada diruang rawat Maya. Mereka juga lelah, mereka membutuhkan istirahat.


Pagi harinya, saat matahari menerobos jendela kamar rawat Maya, Vina dan Sari langsung terbangun. Mereka merasakan kalau cahaya matahari sudah masuk ke dalam kamar. Vina melihat jam yang berada di dinding kamar, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Vina dan Sari kemudian bergantian masuk ke dalam kamar mandi. Mereka semalam sudah menerima pakaian dari Juan.


Selesai Sari membersihkan badannya, dua orang dokter dan suster yang merawat Maya masuk ke dalam ruangan. Mereka akan melakukan chekup kepada Maya. Kedua dokter bekerja dengan sangat teliti, mereka tidak ingin merusak reputasi rumah sakit hanya karena kesalahan mereka dalam melakukan diagnosa penyakit pasien.


"Bagaimana dengan sahabat kami dokter?" tanya Vina


"Nona Maya sudah dalam kondisi stabil Nona, Siang ini sudah boleh keluar dari rumah sakit, tapi kami harap perjalanan menuju negara I dilakukan bersok saja. Biarkan Nona Maya kembali sehat terlebih dahulu." ujar dokter kepada Vina dan Sari.


"Baiklah dokter kami akan kembali terbang besok. Terimakasih atas semua bantuan dokter dan juga suster." ujar Vina yang menyetujui untuk melanjutkan penerbangan besok saja.


"Ini hasil dari tes darah kemaren. Nona Maya dinyatakan positif alergi kacang hijau. Kami harap Nona Maya tidak lagi mengkonsumsi segala makanan atau minuman yang berbahan dasar atau yang mengandung kacang hijau." uajr dokter.

__ADS_1


"Baiklah dokter, kami akan memastikan dia tidak lagi menyentuh segala yang mengandung kacang hijau." jawab Sari dengan sangat yakin. Dia akkan memberitahukan semua ini kepada abangnya. Agar kejadian ini tidak lagi terulang.


Saat sudah siang. Vina dan Sari melakukan pembayaran rumah sakit. Mereka bertiga kemudian meninggalkan rumah sakit dan menuju hotel yang masih berada di dekat Bandara. Mereka sudah memberitahukan kepada Juan kalau penerbangan akan dilanjutkan besok saja. Kondisi Maya masih belum memungkinkan untuk melakukan penerbangan jarak jauh. Juan yang paham dengan kondisi Maya, memilih menginap di hotel yang sama dengan co pilot dan kru pesawat yang lainnya.


__ADS_2