
Sari kemudian mengirim video itu kepada Ivan. Ivan yang melihat sebuah pesan video masuk ke dalam ponselnya, melihat isi pesan itu. Betapa kagetnya Ivan saat melihat tingkah lucu Maya.
"Maya maya gengsi pula tadi tuh. Padahal ternyata ekstrim." ujar Ivan.
Ketiga wanita itu sarapan dengan sangat lahap. Udara dingin dan hujan serta bonus badai membuat perut siapapun akan keroncongan. Apalagi ketiga gadis itu terakhir makan saat makan rawon sore hari. Setelah itu mereka tidak ada lagi makan apapun. Jadi, wajar sarapan yang dipesan oleh Ivan berpindah dengan sangat cepat kedalam perut mereka.
"Huf, kalu hujan nggak teduh teduh maka kita akan di kamar terus?" tanya Sari yang mulai tidak betah berada di kamar lama lama.
"Emang mau kemana lagi?" tanya Vina sambil memasukkan kerupuk terakhir kedalam mulutnya. Vina tipe orang makan kalau ada kerupuk, kerupuk terakhir dimakannya.
"Kita ke spa hotel yuk Vin. Gue lihat di televisi ada spa do hotel ini." ujar Sari yang dari tadi melihat iklan promosi hotel yang ditampilkan di televisi.
"Boleh juga ide loe. Tanya Maya sana dia mau atau ndak." ujar Vina.
Maya yang dari tadi sedang curhat mendengar apa yang dikatakan oleh Vina dan Sari.
"Gue setuju" ujar Maya berteriak dari dalam toilet.
"Huft dasar. Pup jalan dengerin omongan orang juga jalan." kata Sari yang nggak habis pikir dengan pola pikiran calon kakak iparnya itu.
"Itulah ajaibnya Maya. Dalam satu pikiran bisa melakukan dua aktifitas. Satunya pup, satunya lagi denger omongan orang." kata Vina sengaja berbicara dengan keras.
"Ghibahin terus." ujar Maya dari dalam kamar mandi
"Hahahahahaha." Vina dan Sari tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Maya dari dalam toilet
Maya akhirnya selesai juga melakukan kegiatan rutin curhatnya dipagi hari. Dia kemudian berjalan ke kasur tempat kedua sahabatnya sesang mengobrol santai.
"Jadi jam berapa mau pergi spa?" tanya Maya yang berharap mereka akan pergi segera.
"Nantilah sekitar jam satuan. Ngapain dari sekarang bener." ujar Sari yang kembali menarik selimut menutupi tubuhnya. Tak berapa lama Sari pun telah menghilang.
"Vin, udah loe telpon tempat kita belanja kemaren kalau kita tidak jadi hari ini pulang ke kampung dan mengambil barang di sana" kata Maya yang teringat dengan belanjaan mereka.
__ADS_1
"Udah. Lagian mereka hari ini tidak buka toko. Ada suatu hal ntah apa itu. Besok baru mereka buka." ujar Vina yang memang sudah menghubungi pihak toko mengatakan kalau mereka tidak jadi kembali ke kampung hari ini.
"Loe emang semen padang." ujar Maya.
Maya kemudian juga melakukan hal yang sama dengan Sari. Maya kembali menarik selimut untuk menutipi tubuhnya dan meredakan rasa dingin yang menerpa tubuhnya.
Vina yang melihat kedua sahabatnya sudah masuk ke alam mimpi, lebih memilih membuka aplikasi tranding. Vina sangat gila dengan hal itu. Sudah ratusan penghasilannya dalam satu hari karena cukup menguasai hal yang dipelajarinya secara otodidak.
Setelah tiga puluh menit melihat tranding saham, Vina menyerah dan juga naik ke atas kasur. Dia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Maya dan Sari.
Sedangkan di kamar sebelah, Ivan dan Iwan sedang sibuk bekerja. Mereka membuat desain beberapa proyek kerjasama. Mereka tidak ingin saat kembali ke ibu kota akan direpotkan oleh pekerjaan yang akhirnya membuat mereka harus lembur.
"Untung hujan ya Van. Jadi, kita berdua bisa mengerjakan tugas kantor. Kalau nggak hujan sudah bisa dipastikan mereka akan meminta kita pergi bermain seharian penuh." ujar Iwan sambil tetap fokus kepada pekerjaannya
"Udah jelas Bang. Loe kayak nggak tau mereka aja. Terlebih Sari. Waduah kalau tiba di daerah baru bawaannya pengen main terus aja." ujar Ivan yang sangat hafal betul tabiat adik semata wayangnya.
Iwan dan Ivan terus saja bekerja. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Ivan memesan makan siang untuk mereka berdua. Ivan memang tidak memesan makan siang untuk kamar sebelah karena Ivan tau mereka sedang terlelap tidur.
Ivan memesan dua porsi steak dan nasi. Serta dua gelas teh hangat. Mereka kemudian makan siang dalam diam. Mereka benar benar menikmati makan siang.
"Mereka nggak makan siang Bang. Mereka sedang tidur siang yang pastinya." jawab Ivan.
"Kok loe tau?"
"Mana ada mereka akan bangun ditengah hujan badai kayak gini Bang. Apalagi Sari dan Maya udah bisa dipastikan mereka sekarang sedang menikmati tidur siangnya." ujar Ivan.
"Kita makan aja dulu Bang. Nati saat mereka bangun kita akan ulang lagi memesan makanannya." ujar Ivan.
iwan dan Ivan kemudian makan siang bersama. Mereka memindahkan dengan cepat steak sebanyak dua piring itu langsung kedalam perut mereka dalam sekejap mata.
Setelah selesai makan Ivan dan Iwan kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi karena agenda mengisi perut yang sudah tidak bisa ditawar tawar lagi.
Tepat pukul lima sore, pintu kamar Ivan di ketuk dari luar. Ivan yang baru selesai mandi membuka pintu kamar. Di depan pintu terlihat Sari, Maya dan Vina yang sudah rapi.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya Ivan menatap ketiga wanita yang sudah rapi dan wangi itu.
"Kita makan di lounge yok Sayang. Laper." ujar Maya sambil mengusap perutnya yang nggak di isi dari tadi siang.
"Bentar, kami siap siap dulu. Kalian tunggu di kamar aja." ujar Ivan.
Ketiga sahabat itu kembali ke kamar mereka. Ivan kemudian masuk kembali ke kamar. Dia melihat Iwan sudah memakai pakaiannya.
"Kemana kata mereka Van?" tanya Iwan yang tidak mendengar sempurna apa yang dikatakan Maya.
"Lounge hotel Bang. Tempat makan paling atas. Lagian denger bunyinya sekarang ada life music di sana." ujar Ivan sambil memasang bajunya.
"Oh oke deh kalau gitu." ujar Iwan.
Mereka berdua telah selesai bersiap siap. Ivan dan Iwan menuju kamar sebelah. Ivan mengetok pintu kamar Maya. Ketiga wanita cantik itu keluar dari dalam kamar. Kelima sahabat itu menuju lounge hotek yang terletak di bagian atas gedung hotel.
Maya memilih duduk di dekat jendela. Sebenarnya di balkon suasana akan lebih bagus. Tetapi karena hujan dan angin yang nggak mau berhenti itu membuat Maya mengurungkan niatnya untuk duduk di balkon. Mereka akhirnya memilih duduk di tepi kaca saja.
Ivan memesan makanan terenak di hotel itu. Ivan yang memang pecinta HS hotel sudah tau makanan apa saja yang enak di sana.
"Jadi besok kalian akan ke kampung Vina?" tanya Ivan sambil menatap satu persatu wanita di depannya itu
"Yup. Kami nggak mau Bapak dan Ibuk cemas memikirkan kami yang lama di luar rumah." ujar Vina yang selalu memikirkan perasaab kedua orang tuanya itu
"Oke, kami akan antar kalian ke kampung. Setelah itu kami akan balik ke Ibu kota. Kalian kapan ke ibu kota?" ujar Ivan memberitahukan rencana mereka besok hari.
"Rencana besoknya langsung ke Ibu kota Bang." jawab Vina yang mulai nggak betah di negara I.
"Kalau begitu sama ajalah." jawab Ivan lagi.
"Terserah abang aja. Kalau mau sama ayok. Kalau nggak juga nggak apa apa." ujar Vina.
"Sama ajalah kalau gitu." akhirnya Ivan memutuskan memundurkan waktu kepulangan mereka berdua. Danu urusan terkahir.
__ADS_1
Pesanan mereka akhirnya datang juga. Vina dan yang lain langsung menikmati makanan yang tersaji itu. Sambil makan mereka juga menikmati hiburan live music yang disajikan pihak hotel.
Mereka berlima akan berada di liunge itu sampai malam menjelang. Mereka tidak ada lagi pilihan mau pergi kemana karena hujan tak kunjung teduh dari pagi. Hujan sepertinya enggan meninggalkan Kota J.